Sabtu, 27 Februari 2010

Hidup Ini Indah

Menurut hadist Nabi SAW yang artinya:
Dunia ini dibuat indah bagi orang-orang yang tak beriman, sementara bagi orang-orang yang beriman dunia ini laksana tempat yang tak mengenakkan, tempat bersusah payah untuk menabung yang akan di tuai hasilnya di surga kelak

Hidup akan terasa indah dan menyenangkan jika hati selalu merasa di dekat sang Tuhan. Sebuah perasaan senang yang tak dapat tergambarkan dan tak dapat diberi padanan dengan apapun yang ada didalam alam ini. Hingga muncul perasaan dalam hati tak ada yang lain di dunia ini, yang ada hanyalah kau dan aku saja. Kita berdua yang hakikatnya satu.

Namun disisi lain yakni pandangan tasawuf sebenarnya surga itu sudah dapat dinikmati di dunia. Bukan harta benda bukan kenikmatan makanan atau bahkan wanita, surga di dunia dapat dinikmati ketika seseorang sudah merasa menyatu dengan sang kekasih, yakni Tuhan dalam naungan cinta Ilahi.

Para ahli bijak sering memberi petuah untuk merengkuh kebahagiaan abadi, kebahagiaan yang tak terpengaruh oleh materi dunia, namun bersumber dari hati yang tercerahkan oleh nur ketuhanan, ya hidup ini indah bila tahu jalannya dan mampu melaluinya!

Kerinduannya pada Tuhan sang peniup ruh hingga jasadnya menjadi hidup, meski hidup kedunia ini hanyalah kefanaan saja. Namun akan lebih bermakna manakala sudah dapat merasakan kedekatan yang sangat dengan-Nya.

Gemerlap dunia memang mempesona dan menggoda. Raga akan senang manakala dapat menikmati keindahan duniawi, namun segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti ada batas akhirnya kesenangan yang bersumber dari dunia hanya sesaat saja. Lain halnya jika kenikmatan tersebut muncul dari perasaan ang mendalam pada yang kekal. Inilah yang diidam-idamkan para orang-orang bijak dalam menempuh perjalanan ruhaninya.

Selasa, 23 Februari 2010

Alam Barzah

Barzah yaitu sesuatu yang berada diantara dua barang atau penghalang. Dan alam barzah juga bisa berarti masa dimana semua manusia berada pada masa menunggu untuk menghadapi atau mempertanggungjawabkan perbuatan manusia pada masa hidup di dunia. Dan alam barzah juga bisa diartikan masa menunggu datangnya yaumul ba,ats atau hari kebangkitan setelah mengalami kematian untuk menuju ke kahirat. Yang mana pada masa itu baru disadari oleh seluruh manusia (ruh manusia) akan kebenaran janji-janji Allah seperti dalam Surat Al-Mu’minun ayat 99-100 yang artinya:
Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:" Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan

Dalam surat Ar-Rum ayat 55-56 juga disebutkan bahwa yang artinya:
Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; "mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)". Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran), Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini (nya).
Pada alam barzah tersebut seluruh manusia akan diberikan beberapa pertanyaan mengenai keimanan dan perbuatan apa saja yang telah dilakukan didunia. Dan di alam barzah pula semua manusia akan berkata jujur dengan sujujurnya dan tidak akan bisa berbohong layaknya berbohong pada masa waktu hidup di dunia. Di alam barzah pula seluruh organ tubuh manusia akan berbicara dan menjawab apa saja yang telah mereka lakukan ketika hidup didunia, jika mereka jahat akan diperlihatkan kejahatanya dan jika mereka baik mereka juga akan diperlihatkan kebaikanya. Menurut syariat Islam, dengan kata lain jika mereka berbuat jahat maka akan mendapatkan siksa yang amat pedih sepedih-pedihnya di alam barzah kelak dan jika mereka baik maka akan mendapatkan nikmat dengan senikmat-nikmatnya. Seperti dalam beberapa Hadits Muhammad menyebutkannya sebagai "azab kubur."
Hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib berkata: "Sesungguhnya pada hari kiamat ada lima puluh tempat perhentian (stasiun), dan setiap stasiun lamanya seribu tahun. Stasiun pertama adalah saat manusia keluar dari kuburnya, di sini mereka ditahan selama seribu tahun dalam keadaan hina, lapar dan haus. Barangsiapa yang keluar dari kuburnya dalam keadaan beriman kepada Tuhannya, mempercayai surga dan neraka-Nya, mempercayai hari kebangkitan, hari hisab dan hari kiamat, meyakini Allah dan membenarkan Nabi-Nya saw serta ajaran yang dibawanya dari sisi Allah azza wa jalla, ia akan selamat dari kelaparan dan kehausan.
Kehidupan esok pada akhirnya di sana ada yang masuk sebagai penghuni neraka. Dan ada yang masuk sebagai penghuni surga karena semua tergantung pada amal dan perbuatan masing-masing selama hidup di dunia.

Itulah sekelumit gambaran tentang dimana kita akan menjalani kehidupan lagi dan apa yang akan kita terima pada kehidupan di alam barzah kelak. Dan kiranya kita bisa lebih bijak dan arif l agi untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Dan alam baarzah pula jangan dijadikan sebuah beban dalam mengarungi kehidupan ini melainkan sebagai motivasi supaya kita bisa berlomba-lomba dalam kebaikan tidak malah sebaliknya, Supaya kita tidak tergolong dalam umat manusia yang mendapatkan siksa di alam barzah kelak. Amin.........amin..........amin ya Robbal ’alamin.........

Kamis, 18 Februari 2010

Kehidupan adalah Cinta dan Ibadah

dimalam yang sunyi seorang anak yang sedang merenung dan matanya menerawang di cakrawala yang hitam nan luas yang di taburi oeh bintik-bintik cahaya gemerlap bak lampu kota yang dilihat dri kejauhan. Lalu anak itu mendengar alunan suara merdu yang dibawa oleh angin malam yang mulai menusuk kulit menambah semakin menggigil badanya, lalu merseap ke dalam kalbunya yang paling dalam.
Alunan itu berbunyi: “Negeri akhirat itu kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
Lelaki itu lantas berguman “Maha suci Engkau, oh Tuhanku! Engkau selalu mengirimkan cahaya petunjuk-Mu setiap aku sedang dilanda keraguan”.
Lelaki itu adalah Hujjatul Islam, Imam Al-Ghozali. Siapapun mengenal Imam Ghozali, karena beliau adalah tokoh dan pemuka para sufi. Ulama yang mempunyai nama asli Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghozali dan dilaqobi Abu Hamid ini bisa menempuh derajat tinggi dan meninggalkan beberapa buku buah pikiran bukanlah hasil pikiran yang begitu saja keluar dari jiwa. Ia merupakan intisari dari perjuangan hati dan akal, wahyu dan ilham, serta karunia dan cahaya dari sumbernya yang tersembunyi.
Imam Ghozali adalah orang yang sedang mencari-cari petunjuk dan keyakinan. Dia telah menghabiskan umurnya sejak muda untuk menutut ilmu dan pengetahuan sampai akhirnya beliau mencapai tingkat yang paling tinggi. Kemudian dia pun dicari oleh para raja, dan para ulama pun menghormatinya. Namun hatinya sedih dan bimbang, ia merasakan masih ada yang kurang pada dirinya, ia mencari sesuatu yang lebih tinggi dari perhiasan dan kesenangan dunia, cahaya yang lebih tinggi dari pengetahuan manusia. Ia mencari petunjuk dan keyakinan yang tetap dan mantap.
Dalam rangka mencari petunjuk dan cahaya Ilahi, ia sering mengurangi jam tidurnya, hingga matanya sembab dan sakit karena mencari kebenaran. Dia merenung dan berpikir, dia merasakan kekosongan iman telah memenuhi kehidupannya. Ia merasakan hidupnya bagaikan tanpa tujuan dan keyakinan. Lantas iapun mencari ilmu dengan gigihnya, pertama yang dipelajari adalah ilmu fiqih. Dia adalah termasuk orang yang sangat cerdas dan berpikiran kritis, namun dia tidak menyukai perdebatan dan adu mulut.
Selanjutnya dia belajar ilmu kalam dengan semua dalil-dalinya. Setelah puas kemudian beliau mempelajari filsafat, ilmu kebangaan akal manusia. Ia ingin memuaskan akalnya dengan teori-teori filsafat. Akan tetapi filsafat dirasakannya justru semakin menambah keraguan dan kebimbangan, bahkan mengajaknya lari dari pertimbangan akal.
Dalam keadaan seperti itu, Imam Ghozali memutuskan untuk lari dari manusia dan ilmu pengetahuan, ia berharap dapat menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Akhirnya beliau bertemu dengan seorang waliyullah, bernama Syekh Yusuf An-Nassaj. Ia lalu berguru dengannya, menyertainya untuk dibersihkan hatinya melalui riyadloh dan mujahadah hingga masuk kedalam keyakinan dan cahaya Ilahi. “Dahulu, aku tidak mempercayai “tingkah” orang-orang soleh, juga derajat para ‘arifin, hingga akhirnya aku berkenalan dengan guruku Syekh Yusuf An-Nassaj”, kata Imam Ghozali setelah menjadi murid Syeh Yusuf.
Menurut Imam Ghozali, Syekh Yusuf lah yang telah menggemblengnya dengan latihan-latihan jiwa (mujahadah) sampai dia mencapai suatu tingkatan dimana dia bisa berkomunikasi dengan Allah Ta’ala.
Dalam pengembaraan mimpinya, ia melihat Allah Ta’ala. Allah ta’ala berkata kepadanya: “Hai Abu Hamid!,
Imam Ghozali menjawab; “Syetankah yang berbicara denganku?”,
“Tidak, tetapi Aku-lah Allah yang meliputi enam arahmu”, Jawab-Nya. Kemudian Allah Swt melanjutkan, “Hai Abu Hamid, bersahabatlah dengan kaum yang Aku jadikan sebagai obyek pandangan-Ku di bumi-Ku. Mereka adalah orang-orang yang telah menjual dua alamnya (dunia dan akhirat) dengan kecintaan kepada-Ku”.
“Demi Izzah-Mu oh Tuhan, tanamkanlah prasangka baik dalam hatiku terhadap mereka”, kata Imam Ghozali.
Allah menjawab, “Sudah Aku lakukan. Sebenarnya yang memisahkan engkau dan mereka adalah karena kesibukanmu mencintai dunia. Maka keluarlah engkau dengan pilihanmu sendiri sebelum engkau keluar darinya dalam keadaan terhina. Aku telah menganugerahkan kepadamu cahaya dari sisi Qudus-Ku”.
Kemudian Imam Ghozali terbangun dari tidurnya dengan perasaan senang dan gembira, lalu dia pergi menemui gurunya, Syekh Yusuf An-Nassaj dan menceritakan tentang mimpinya semalam. Syekh Yusuf tersenyum sambil berkata, “Wahai Abu Hamid, itu hanyalah permulaan. Seandainya engkau terus menerus menemaniku, akan aku celaki matamu dengan celak ta’yid, sehingga engkau dapat memandang ‘arsy dan hal-hal yang berada di sekelilingnya. Kemudian engkau tidak rela sampai engkau dapat menyaksikan hal-hal yang tidak dapat dicapai dengan mata. Maka akhirnya tabiat (watak)-mu menjadi jernih, naik ke atas kekuasaan akalmu, lalu engkau akan mendengar ucapan Allah ta’ala, seperti ucapan-Nya kepada Nabi Musa as.
Kesibukan dunia adalah penghalang yang harus dihilangkan oleh Imam Ghozali, dan cintanya kepada Allah serta menyatu dalam ibadah-Nya adalah tetesan cahaya pertama dalam anugerah ini. Karena itulah kemudian Imam Ghozali menempuh jalan tasawwuf dan berjuang keras hingga akhirnya menjadi salah seorang tokoh dan pemukanya yang terkenal.
“Semua syahwat (kesenangan) dunia bergantung pada nafsu, dan nafsu akan lenyap bersama kematian. Sebaliknya, kelezatan ma’rifat kepada Allah bergantung pada kalbu, dan kalbu tidak akan rusak bersama kematian. Bahkan, kelezatannya akan lebih banyak dan cahayanya akan lebih besar, sebab ia keluar dari kegelapan menuju cahaya”.
Imam Ghozali telah menjelaskan dengan yakin dan pasti bahwa kehidupan yang utama dan bahagia adalah ma’rifatullah (mengenal Allah) dan mahabbatullah (cinta Allah). Sedangkan ibadah kepada Allah merupakan tujuan yang paling tinggi dan mulia. Sebab semua kenikmatan selain dari ibadah adalah fana (tidak kekal). Semua tujuan selain ibadah adalah sia-sia. Karena itulah, risalah Al-Ghozali teringkas dalam kalimat yang pendek: “Kehidupan adalah cinta dan ibadah”.
Pikirannya senantiasa terfokus pada pencarian hidayah-Nya dari langit. Semua amalnya selalu berstempelkan iman. Dakwahnya terang dan jelas, tanpa dicampuri oleh perdebatan dan riya’ (mengharap sanjungan), hanya iman kepada Sang Pencipta yang mengetahui segala bisikan hati dan perbuatan manusia. (m.muslih albaroni)

contact me


*

*

*

*
*
contact form faqverification image





Web form generated by 123ContactForm



Kamis, 11 Februari 2010

12 GOLONGAN YANG BANGKIT SETELAH HARI HARI KEMATIAN

Besok pada hari dimana manusia dibangkitkan lagi setelah kematian. Hari tersebut dinamakan dengan hari kebangkitan yang didahului oleh peniupan terompetnya malaikat Isrofil. Dan malaikat tersebut hanya meniupkan terompetnya hanya tiga kali peniupan yaitu: yang pertama adalah tiupan keterkejutan, tiupan yang kedua adalah tiupan kematian dan tiupan yang ketiga adalah tiupan kebangkitan. Dari sekian banyak umat yang tercipta di dunia hanya dijadikan 12 golongan saja untuk dimintai pertanggungjawaban atas prilaku yang telah dibuatnya pada masa masih hidup di dunia. Dan dari 12 golongan tersebut tidak akan ada yang masuk surga kecuali 1 golongan yaitu orang-orang yang melakukan amal sholeh kebajikan. Menjauhi segala kemaksiatan. Rajin memenuhi panggilan sholat dan mati setelah bertobat. Dan kedua belas golongan tersebut adalah:
Kelompok pertama : Dibangkitkan tanpa kaki dan tangan, seraya terdengar suara dari sisiNya,
"Mereka adalah orang-orang yang mengganggu tetangganya. Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kedua : Dibangkitkan dalam bentuk babi, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah balasan bagi orang-orang yang bermalas-malasan melakukan sholat dan nerakalah tempatnya".

Kelompok ketiga : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan perutnya besar menggunung yang dipenuhi ular dan kalajengking, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran orang-orang yang menahan zakat dan nerakalah tempatnya".

Kelompok keempat : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan darah mengalir dari mulut, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang berdusta dalam perkara jual beli dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kelima : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan bau busuk, lebih busuk dari bau bangkai. seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang melakukan maksiat (perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat islam) secara sembunyi karena takut terlihat orang tapi tidak takut dari pengawasan Allah dan nerakalah tempatnya".

Kelompok keenam : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan terputus lehernya, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang memberikan kesaksian palsu dan nerakalah tempatnya".

kelompok ketujuh : Dibangkitkan dari kuburnya tanpa memiliki lidah dan dari mulutnya keluar darah dan nanah. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang tidak mau memberikan kesaksian dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kedelapan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan tertunduk dan kedua kakinya berada diatas kepala, seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang suka melakukan zina dan terlanjur mati sebelum bertobat dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kesembilan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berwajah hitam dan matanya biru serta perutnya penuh api, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang memakan harta dan merampas hak anak-anak yatim secara zalim dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kesepuluh : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan sakit kusta dan sopak, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang mendurhakai orang tuanya dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kesebelas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan buta hati, buta mata. Giginya seperti tanduk kerbau. Bibir dan lidahnya bergelantungan mencapai dada, perut dan paha. Dan dari perutnya keluar kotoran. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang meminum khamr (yang memabukan/alkohol) dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kedua belas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan wajah bercahaya, seperti bulan purnama. Melewati Shirath Al-Mustaqim secepat kilat menyambar angin. Seraya terdengar suara dari sisiNya "Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal sholeh kebajikan. Menjauhi segala kemaksiatan. Rajin memenuhi panggilan sholat dan mati setelah bertobat. Maka ganjaran mereka adalah Pengampunan, Rahmat, dan Ridho serta Surga dari ALLAH SWT".
Kedua belas golongan tersebut di terangkan Nabi ketika Sahabat Ma’adz bin Jabal bertanya kepada Rosulallah: tentang Firman Allah yang berbunyi: ”Ketika ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok”. Lalu Nabi menjawab dengan diawali Cucuran Airmata yang membasahi pakaianya lalu berkata: ”Engkau telah menanyakan sesuatu yang dahsyat. Umatku akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam 12 kelompok-kelompok tabiat”.
Dan semoga saja kita masuk dalam golongan yang kedua belas.....
AMIENNNNNNNNNNNNN,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

yasin dan tahlil

Inilah beberapa hadist Nabi yang menerangkan tentang keutamaanya surat yasin:
Rasululloh saw. bersabda:"segala sesuatu memiliki hati, dan hati al-Quran itu adalah surat yasin siapa saja yang membaca surat yasin maka Alloh akan mencatat pahala baginya sama dengan membaca al-Quran sepuluh kali
(H.R.Darimi,tirmizi,dari anas)
Rasululloh saw. bersabda:"siapa saja yang membaca surat yasin setiap malam, niscaya dosa dosanya di ampunin."
(H.R.Baihaqi,dari abu hurairah).

Rasululloh saw. bersabda:"setiap mayat yang di bacakan disampingnya surat yasin,Alloh akan memberikan keringanan (azab) kepadanya."
( H.R.Abu nu'aim dan Abu Dzar).
.

Minggu, 07 Februari 2010

Julukan Semar untuk Gus Dur

Tidak terasa, Ahad besok adalah 40 hari wafatnya almaghfurllah KH Abdurrahman Wahid Ad Dakhil alias Gus Dur. Hingga hari ini, ribuan pelayat masih terus berdatangan ke makam beliau di Tebuireng, Jombang. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Juga beberapa tokoh dari luar negeri. Penghormatan juga diberikan tokoh lintas agama.
Semua itu menjadi bukti bahwa Gus Dur adalah tokoh besar, disayang semua kalangan, yang ide-ide dan pemikirannya terus hidup dan berkembang. Almaghfurllah KH Chamim Jazuli (Gus Miek), tokoh sentral semaan Alquran Mantab, menyebut Gus Dur sebagai tokoh langka yang nyeleneh, kaya ide, dan mengabdikan sepenuh hidupnya untuk rakyat. Gus Miek menjuluki Gus Dur sebagai Semar, tokoh pewayangan berbadan tambun, berkulit hitam, perut buncit, dan berkuluk di kepala.

''Gus, panjenenangan kedah dados Semar. Indonesia butuh tokoh yang bisa menjadi pengayom dan melindungi segenap tumpah darah rakyat.'' Begitu pesan Gus Miek berkali-kali setiap bertemu Gus Dur pada 1991-1992.

Saya sempat bertanya kepada Gus Miek, mengapa harus jadi Semar? Kan Gus Dur sudah menjadi ketua umum PB NU yang notabene adalah pemimpin umat yang mengabdikan diri untuk bangsa dan negara? Gus Miek menjawab, ''Gus Dur harus menjadi sesepuh bangsa, guru bangsa, bapak bangsa, pejuang rakyat jelata dan kaum tertindas. Gus Dur itu milik semua orang, bukan hanya warga NU. Karena itu, dia harus menjadi Semar.''

Filosofi Semar

Dari berbagai literatur, Semar digambarkan sebagai lambang dunia nyata, mahadewa di dunia bawah. Batara Guru itu mahadewa di dunia atas, penguasa kosmos. Batara Semar penguasa keos. Batara Guru penuh etiket sopan santun tingkat tinggi, Batara Semar sepenuhnya urakan.

Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik. Seolah-olah dia merupakan simbol penggambaran jagat raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.

Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembap. Penggambaran itu merupakan simbol suka dan duka. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan tapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan. Semar adalah seorang hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam.

Namun, di balik wujud lahir tersebut, tersimpan sifat-sifat mulia. Yakni, mengayomi, melayani umat tanpa pamrih, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, serta penuh humor. Semar adalah pengejawantahan ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni ''manunggaling kawula-Gusti'' (menyatunya hamba-raja).

Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat Semar. Pemimpin di Indonesia harus memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, serta kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum.

Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa pemimpin itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tapi kerjanya membuang kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan kewajibannya.

Semar itu hakikatnya di atas, tapi eksistensinya di bawah. Seorang pemimpin adalah sebuah paradoks (Kitab Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa). Dia majikan sekaligus pelayan, kaya tapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah, namun tetap berkasih sayang.

Ajaran tua tentang kekuasaan politik dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks tersebut. Etika kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Dia dewa tua, tapi menjadi hamba. Dia berkuasa, tapi melayani. Dia kasar di kalangan atas, tapi halus di kalangan bawah. Dia kaya raya penguasa semesta, tapi memilih memakan nasi sisa. Dia marah kalau kalangan atas bertindak tidak adil. Dia menyindir dalam bahasa metafora bila yang dilayani berbuat salah.

Tokoh Semar itulah yang mengejawantah ke diri Gus Dur sebagaimana yang diinginkan Gus Miek. Budayawan Dr Sindhunata dalam sebuah seminar di Jogjakarta (Kompas-Online, 1997) juga dengan sangat serius mengasosiasikan tokoh wayang Semar dengan Gus Dur, baik dari sikap-sikap politik maupun fisik.

Menjangkau Masa Depan

Gus Miek memang sejak lama bersahabat dengan Gus Dur, terutama ketika menjelang dan saat berlangsungnya Muktamar NU di Situbondo pada 1984. Bahkan juga dengan almaghfurlah KH Achmad Shiddiq, mantan rais aam PB NU. Saat Munas Ulama NU 1993, tiga tokoh yang juga dikenal sebagai waliyullah itu sering terlibat aktif berdiskusi soal masa depan bangsa.

Pemikiran spektakuler yang mereka hasilkan, antara lain, bentuk negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. Indonesia harus utuh menjadi negara kesatuan yang wajib dipertahankan eksistensinya oleh setiap muslim. Hasil ijtihad lainnya yang kemudian diputuskan dalam muktamar ke-27 NU adalah Pancasila sebagai satu-satunya asas, yang diikuti dengan kembalinya NU ke khitah 26.

Karena dianggap sukses memimpin NU pada masa peralihan, dari politik praktis menjadi jam'iyah diniyah, Gus Miek kemudian meminta agar Gus Dur menjadi pengayom bangsa. Kelak, kata Gus Miek, bangsa ini mengalami problem besar yang menyentuh seluruh sendi dan aspek kehidupan. Saat itu, diperlukan tokoh yang mampu membawa bangsa keluar dari kemelut multidimensional.

Diperlukan tokoh yang punya pikiran kritis dan cerdas untuk mencari solusi. Gus Dur dianggap mampu oleh Gus Miek seperti halnya Semar. Itu juga diakui Greg Barton. Pemikiran Gus Dur bisa merambah jalan menuju masa depan. Mungkin, Gus Dur masih baru meletakkan dasar-dasar pemikiran di bidang kenegaraan, demokrasi, HAM, keagamaan, dan sebagainya. Kitalah yang harus meneruskan pikiran-pikiran besar itu.

Namun, ada satu keinginan Gus Miek kepada Gus Dur dan Kiai Shiddiq yang tidak terlaksana. Yakni, agar mereka bertiga menempati makam yang sama di Makam Aulia Desa Tambak, Ploso, Kediri. Namun, Gus Dur akhirnya dimakamkan di Tebuireng, dekat makam ayah dan kakeknya. Allahummagfir lahum warhamhum.

Oleh: Sholihin Hidaya Sholihin Hidayat,
mantan Pemred Jawa Pos, kini direktur Ko Hin Institute