Sabtu, 23 Oktober 2010

ISTRI BISA MEMBAWA DIRI DIHADAPAN SUAMI


Wanita yang akan mendapatkan tiket masuk ke surga yaitu wanita yang bisa membuat suami ridha kepadanya. Ridha, suka, cinta dan sayang tumpah pada diri istri seorang, dikarenakan pembawaannya yang senantiasa menyenangkan. Menyenangkan karena apa yang dibutuhkan suami semuanya ada disitu, sehingga suami tidak perlu membayangkan wanita lain, untuk mencari yang tidak ada pada istrinya. Memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Namun setidak-tidaknya, semua kebutuhan suami, lahir dan batin bisa ditemukan pada dirinya.

Diantaranya adalah; mempunyai kesadaran dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya dan senantiasa taat kepada suaminya. tanpa sedikitpun membantahnya, berbakti kepadanya, dan berusaha untuk mencari keridhaannya serta memberikan kebahagiaan pada dirinya, meskipun dia hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Ketaatan wanita kepada suaminya terletak setelah ketaatannya kepada Allah SWT. Bahkan ketaatan kepada Allah diukur seberapa jauh dia dapat menyelesaikan kewajibannya terhadap suami nya. Rasulullah SAW.bersabda:

“Sesungguhnya seorang isteri belum dikatakan menu naikan kewajibannya terhadap Allah sehingga menunai kan kewajibannya terhadap suaminya seluruh nya.Dan andaikata (suaminya) me merlukannya,dan dia diatas kendaraan tidak boleh meno laknya”.

Wanita yang merindukan surga-Nya, hendaknya tidak bermalas-malasan dalam mengurus dan menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, serta mengingat sejumlah wanita terhormat dalam sejarah Islam menjadi teladan dalam hal kesabaran, kebajikan, kedewasaan dan benar-benar mengabdi bagi suami dan rumah tangganya, meski pun mereka hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Dalam sebuah hadits diterangkan, bahwa siapa saja isteri yang dengan penuh keikhlasan dalam melaksanakan tugasnya sebagai istri dan beriman kepada Allah maka akan mem peroleh surga. Rasulullah saw bersabda:

”Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu,berpuasa dibulan Ramadhan,dan menjaga kema luannya dari pada (mengerjakan) perbuatan ha ram dan taat kepada suaminya,maka akan dipersilahkan,”Ma suklah kesurga dari pintu mana saja ya g kamu mau.”
(HR. Ahmad dan Thabrani).

Dalam Hadits yang lain diterangkan:
”Setiap istri yang mati diridhai oleh suaminya, maka ia akan masuk surga”.

Maksudnya, bahwa jika seorang istri yang mati dan ketika hidupnya tidak membuat hati suaminya itu kecewa, maka ketika mati itu akan memperoleh balasan surga. Tetapi bagi istri yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik berdasarkan ajaran Allah, maka akan memperoleh kehinaan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Siapa saja diantara istri yang durhaka terhadap sua minya,maka ia memperoleh kutukan dari Allah, dan Malaikat,dan segenap manusia.

Wanita Muslimah yang berada di bawah bimbingan Islam akan senantiasa mengetahui bahwa Islam yang memerikan pahala yang besar atas ketaatannya kepada suami ya dan memasukkan dirinya ke dalam surga.

Istri Tidak Merendahkan Suami


Wanita yang dirindukan surga selalu bersenang-senang degan kepandaian khusus yang memberinya pemahaman bahwa mengatur dan merendahkan suami setiap saat akan menanamkan duri dalam diri sang suami. Sebab,ia mengetahui bahwa jika ia melakukan hal tersebut, maka apa lagi yang dapat dilakukan oleh suaminya? Dan apa yang dapat dikerjakannya untuk kebaikan dan kemaslahatan mereka berdua? Mana kesempatan yang diberikan kepa da suaminya untuk me nuntutnya?

Dengan tegas dapat dikatakan, bahwa seorang suami tidaklah menginginkan istrinya menjadi penghalang dan melarangnya melakukan segala sesuatu. Seorang suami akan menghindari semuanya itu agar istrinya menjadi penyeimbang dan bukan mengatur dan mengendalikannya seakan-akan dirinya adalah pelindung suaminya.

Sebagai contoh, ketika ia merasakan bahwa suaminya menghendaki kesendirian, maka ia akan memberikan kesempatan kepada suaminya tanpa berusaha mengusiknya. Sebab, tidak jarang manusia mempunyai keinginan untuk menyendiri, meski hanya sebentar. Ada seorang bujangan, ketika ditanyakan kepadanya ihwal mengapa ia tidak segera menikah, ia menjawab:“Saya akan menikah sesegera mungkin begitu saya menemukan wanita yang mau memberi kan kepada saya kebaikan dan menghormati semua hak untuk menyendiri setiap kali saya menginginkannya”.

Tidak jarang seorang wanita sulit memahami mengapa suaminya menginginkan kesendirian! Kesalah pahaman ini akan segera berakhir jika ia mengetahui bahwa keinginan suaminya itu bukan berarti bahwa sang suami ingin benar-benar sendiri atau ingin lari darinya, tetapi berarti bahwa ia ingin melepaskan diri dari kekangan dunia luar dan tekanannya, yang diantaranya adalah kekangan dan tekanan dari istrinya sendiri. Dengan demikian, ia benar-benar menemukan jati dirinya dan memungkinkan dirinya mengumpulkan kembali kekuatan jiwa dan mentalnya yang jauh dari semua pengaruh luar.

Meskipun ada penafsiran psikologis tentang karakter beberapa kesempatan yang dikehendaki seorang suami untuk menyendiri, toh wanita yang senantiasa merindukan surga, ia akan selalu memberikan kesempatan kepada suaminya untuk merealisasikan apa yang diinginkannya dari kesendiriannya ini. Sebab, wanita yang pandai membawa diri dihadapan suami, bukan-lah wanita yang selalu mengatur dan merendahkannya seakan-akan ia adalah pelindung suami nya.

Wanita Tidak Melupakan Dirinya Sebagai Wanita


Sebagai seorang wanita yang merindukan surga-Nya, para wanita muslimah pasti akan senantiasa menjaga jati diri kewanitaannya. Mereka tetap tampil sebagai wanita yang anggun sesuai dengan kodrat kewanitaannya. Pantang melakukan hal-hal yang dapat merusak jati diri kewanitaannya.

Karena wanita yang shalihah dalam pandangan pria adalah wanita yang tidak lupa bahwa ia adalah seorang wanita. Secara fungsional, maksudnya kewanitaan berarti kelembutan, daya tarik dan keindahan. Sekarang ini ,kita sering menyaksikan seruan-seruan yang menyeleweng dan para penyerunya berkeyakinan bahwa daya tarik, kelembutan, dan kegenitan memperburuk kemandirian wanita, dan semuanya itu tidak memberikan manfaat, selain hanya berfungsi membangkitkan semangat superioritas dan tipu dayanya atas pria.

Adapun hal-hal yang dapat merusak jati diri kewanitaannya seseorang itu dan sekaligus dilarang dalam Islam :
Berpenampilan menyerupai Pria (Tomboi)
Berpakaian ala pria
Mempercantik diri dengan Merubah bentuk Aslinya

Tidak diragukan lagi bahwa pandangan semacam ini benar-benar salah dan bertentangan dengan logika sebagaimana diisyaratkan oleh para sosiolog dan psikolog. Dengan demikian, kewanitaan yang tersembunyi di balik kecantikan memiliki peranan yang sangat dominan dalam mempertahankan keseimbangan natural menjadi madu. Pada saat yang sama, lebah memindah kan sari bunga dari satu kelain bunga agar terjadi penyerbukan, pembuahan dan akhirnya jadilah kehidupan.

Sosok wanita sangat membutuhkan penampilan fisik. Ia juga mesti bertingkah laku wanita dan berusaha menampakkan kelembutan, kehalusan budi pekerti dan daya tariknya .Wanita seperti ini menunjukkan penghormatan pada kewanitaannya dan memperlihatkan keinginannya untuk menarik perhatian suaminya.

Kecantikan Istri Hanya untuk Suami


Al-Barquni mengatakan,
“Kecantikan seorang wanita dan keindahan dirinya adalah landasan kecenderungan laki-laki dan keterpika tannya. Pilar keindahan adalah kebersihan, maka seharusnya istri mewaspadai pandangan suaminya tertuju pada sesuatu yang menjijikkan dan memuakkan, baik itu berupa kotoran, kekusutan, bau busuk atau lainnya”.


Mungkin pertama kali yang menjadikan pria tertarik kepada wanita adalah kecantikan dan penampilannya yang manis. Tetapi sayangnya, sebagian wanita melupakan kenyataan ini, sehingga mereka mengabaikan dirinya sedikit demi sedikit. Akibatnya,sang suami melihatnya dirumah dengan penampilan yang tidak enak dipandang, dalam keadaan rambut acak-acakan, atau bersikap cuek, dan juga mencium “aroma dapur” dari badannya, selalu mengenakan pakaian yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tidak memperhatikan insting, etika,sisi-sisi psikologis, dan kecantikan .Bahkan mereka masih saja mengabaikan setelah dikaruniai beberapa orang anak, karena pada saat itu ia menyangka telah mengikat suaminya, dan meyakini bahwa suaminya tidak akan bisa lari darinya.

Ini adalah kesalahan fatal, karena bisa merusak penampilan yang telah digambarkan oleh seorang pria tentang wanita disaat menikahinya.Tidak diragukan lagi bahwa hi langnya kecantikan seorang istri dari pandangan suaminya akan mengakibatkan dampak yang sangat buruk. Misalnya, kita sering menemukan ada seorang wanita cantik yang diabaikan suaminya. Bahkan, sang suami lebih cenderung mencari wanita lain. Sementara itu, disisi lain kita menemukan wanita lain yang kurang begitu cantik tetapi dapat menarik hati dan perasaan suaminya dengan memelihara kelembutannya, menjaga kebersihan, perhiasan dan pakaiannya .Kehancuran mayoritas rumah tangga bisa di pastikan berawal dari permasalahan ini.

Oleh sebab itu,Tanggung jawab seorang wanita muslimah adalah menyediakan segala faktor ketenangan, kenyamanan, ketentraman, dan kasih sayang bagi suami, sementara tanggung jawab suami adalah berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, peralatan dan barang-barang yang diperlukan istrinya.

Sudah seharusnya seorang istri berhias berharum-haruman, dan mempercantik dirinya di rumah khusus, untuk suaminya saja, berapa banyak wanita yang tidak begitu cantik bisa memiliki hati dan perasaan suaminya dengan menjaga kebersihan, pakaian, keindahan penampilan dan tutur kata yang manis.

Seorang wanita Muslimah pasti ingin menjadi penghuni surga-Nya, dengan menyadari bahwa sesungguhnya keindahan merupakan ajakan yang kuat bagi rangsangan seksual laki-laki dan memenuhi keinginannya menjadi lebih baik untuk penampilan seorang wanita, serta akan lebih mengekalkan kasih dan sayang.Abul Al-Faraj berkata:

“Sesungguhnya istri akan mendapat perhatian suaminya setelah sempurna penampilan dan kecantikannya seharusnyalah istri membiasakan diri dalam hal menjaga kebersihan dan penampilan yang indah, memakai segala sesuatu yang menabah kecantikannya, baik itu perhiasan ataupun pakaian, bentuk-bentuk perhiasan ini harus disesuaikan dengan persetujuan dan yang disukai oleh suaminya. Hendaklah ia mewaspadai pandangan suaminya tertuju kepada sesuatu yang tidak di sukainya seperti kotoran, bau yang tidak enak,a tau perubahan yang dibenci pada dirinya. Bahaya yang muncul saat ia mengabaikan hal tersebut akan menimpa dirinya sendiri. Sangat ditakutkan apabila suaminya mengetahui peremehan tersebut, dan kemudian ia melayangkan pandangan pada wanita lain”.

Tujuan menyuruh kaum wanita mempercantik diri untuk suaminya bukanlah untuk menghabiskan waktu di depan cermin sambil mengagumi kecantikan dirinya, atau panjang rambutnya atau tinggi badannya. Sesungguhnya membanggakan diri sendiri merupakan tanda kelemahan akal seseorang, tujuan sebenarnya adalah membiasakan diri dalam kebersihan dan kerapian, hal itu termasuk menertibkan rambut, merapikan pakaian tanpa ada tanda-tanda di buat-buat atau terbebankan.

Alangkah mulianya seorang wanita ketika suaminya akan datang ,ia segera bersiap-siap untuk menemuinya dengan penampilan yang sebaik-baiknya mulai dari kebersihan pakaian, keceriaan wajah dan senyum simpulnya, karena istri manapun jika menyambut suaminya dengan penampilan begini pasti suaminya akan merasakan kehormatan dan kedudukan yang mulia.

Sejumlah ahli hikmah mengatakan,“Kehidupan yang panjang ini akan terasa pendek oleh istri yang ceria, berseri-seri, terpercaya,dan shalihah, sedangkan penderitaan banyak disebabkan oleh istri kasar yang tidak memberikan ketenangan jiwa saat bergaul dengannya, tidak memberikan keteduhan saat melihatnya”. Sebuah peribahasa mengatakan :

“Kasih sayang adalah badan; sedangkan wajahnya adalah muka yang berseri-seri”.
Merupakan kewajiban istri untuk memperindah diri bagi sang suami dengan membersihkan badan yang juga men cakup pakaian,karena tidak diragukan lagi bahwa istri ya ng mengabaikan keindahan dirinya berarti ia sedang beru saha untuk menjauhkan suaminya dengan tangannya sen diri dan bisa saja akhirnya suaminya terlempar dipangku an wanita lain.Hendaklah ia membersihkan diri sebelum kedatangan suaminya dari kesibukan kerja dan memakai pakaian yang pantas seakan-akan ia sedang menunggu pangeran yang tampan.

Istri Memahami Keinginan Suami dan Berusaha Menyesuaikan Diri Dengannya



Wanita yang ingin tampil sesempurna mungkin dihadapan suaminya haruslah bisa memahami suami dan berusaha menyesuaikan diri dengannya, sehingga dapat tercipta kebahagiaan keluarga, selalu bersenang-senang dengan gambaran realitas sejak awal kehidupan rumah tangganya dan menyadari bahwa kecocokan dan kerekatan dengan suami itu tidak akan terjadi secara drastis dan bersamaan, tetapi terbetik dalam pikirannya bahwa kecocokan perasaan harus-lah di mulai dari beberapa tahapan,entah membutuhkan waktu lama maupun relatif singkat dari “us aha dan kesalahan”.

Dan pelajaran yang bisa dipetik dari sini tidak berarti bahwa ia harus menjauhi setiap percobaan atau menghindari segala sesuatu yang dapat menyebabkannya berbuat salah, melainkan menyelami semua percobaan dan mengambil manfaat/ hikmah darinya serta tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya.

Sebelum ini, seorang Istri memiliki keinginan tulus untuk memahami keinginan suaminya, dan berusaha secara terus-menerus untuk merealisasikan kecocokan dan keharmonisan dengan suaminya sedikit demi sedikit, dibarengi dengan kesabaran, kelembutan, kehalusan budi pekerti dan ketekunan dalam menghindari berbagai sebab permusuhan, serta menjauhi sebab-sebab perselisihan, dan men ciptakan suasana yang sesuai dengan perkembangan semangat kasih sayang dan cinta kasih.

Hubungan suami istri tidak akan terjalin erat kecuali dengan menghormati ,memahami semua keinginan dan berusaha menyesuaikan diri dari masing-masing pihak.

Sulit bagi kita menggambarkan bahwa suami-istri akan benar-benar selaras dalam pemikiran, pendapat dan keinginannya. Yang demikian itu merupakan suatu hal yang tidak mudah terjadi dalam satu waktu.

Oleh karena itu, usaha saling mendekatkan dalam hal-hal di atas sangatlah penting. Sebab, melakukan dan mewujud kan keadaan di atas secara persis benar-benar tidak mudah. Jika keselarasan ini sulit direalisasikan, maka seorang wanita harus-lah memahami semua keinginan, perasaan dan berusaha menyesuaikan diri dengan suaminya dan juga sebaliknya. Sangat mustahil bila kerekatan dan keharmonisan dapat diraih tanpa kemauan dari pihak suami maupun istri untuk menghilangkan sebagian tingkah laku dan beberapa kebiasaannya yang lalu. Wanita yang bisa menciptakan keharmonisan keluarga harus memiliki kemampuan besar untuk melakukan hal ini agar ia dapat bersatu dengan suaminya dan sebaliknya. Jika ia bisa menjalankan itu semua Insya Allah Kunci masuk kesurgapun bisa ia peroleh dengan mudah. Amin!

Itulah beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh se orang wanita yang ingin memasuki surga Allah,sebagai bukti ketulusannya dalam berbakti kepada suami.

ISTRI BERUPAYA MENGENAL & MEMAHAMI SUAMI



Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala). Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.

Berkata sang suami kepada temannya: “Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”
Maka berkata temannya dengan heran : “Bagaimana hal itu bisa terjadi.”


Berkata sang suami : “Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’ Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah...Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”

Berkata sang suami kepada temannya: “Demi Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan: ‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluar ganya. Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’ Istri berkata: ‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi keluargaku?’ Aku menjawab: ‘Aku tidak suka kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering berkunjung). Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’ Aku katakan: ‘Bani Fulan adalah kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum yang jelek.’”

Berkata sang suami kepada temannya: “Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku .Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku:‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’”
Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”
Ibu mertuaku berkata: “Wahai Abu Umayyah.. Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya sesuai dengan kehendakmu.”

Berkata sang suami: “Maka ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali sekali ,itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”
Alangkah bahagia kehidupannya…! Demi Allah, aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya? Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap sang suami dan hikmah yang dimilikinya? Itu adalah keutamaan Allah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki

Selasa, 12 Oktober 2010

LAYANILAH SUAMIMU DENGAN NIAT IBADAH


Sebagian isteri sangat taat kepada suaminya, akan tetapi kurang pandai melayani suami dengan sebaik-baiknya. Maka jika taat kepada suami dan pandai melayaninya, hal itu merupakan kemuliaan tersendiri yang mengangkat derajatnya meraih keselamatan di dunia dan akhirat.

Ummu Salamah ra berkata,Rasulullah SAW bersabda :
“Tiap-tiap isteri yang mati diridhai oleh suaminya, maka ia akan masuk surga.”
(HR.at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).


Dari Abdullah bin Abi Aufa ia berkata Mu'adz di-utus ke Yaman atau Syam dan dia melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada pembesar-pembesar dan kepada pendeta-pendetanya. Maka beliau berkata dalam hatinya sesungguhnya Rasulullah lebih layak untuk diagungkan (dari pada mereka). Maka tatkala ia datang kepada Rasulullah ia berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya aku melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada pembesar-pembesar dan kepada pendeta-pendetanya,dan aku berkata dalam hatiku sesungguhnya engkaulah yang lebih layak untuk diagungkan (daripada mereka) lalu beliau bersabda
Andaikata aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada seseorang, maka sungguh akan kuperintahkan isteri bersujud kepada suaminya dan seorang isteri belum dikatakan menunaikan kewajibannya terhadap Allah sehingga menunaikan kewajibannya terhadap suami seluruhnya, sehingga andaikan (suaminya) memerlukannya di atas kendaraan, sungguh ia tidak boleh menolaknya.

jadi bila kita mengerjakan sesuatu kalau diniatkan dengan ibadah itu seberat apapun dan sesulit apapun akan menjadikan sesuatu itu lebih ringan demikian juga Jika kita melayani seorang suami dengan niat ibadah maka akan terasa lebih ringan dan yang pasti surga adalah imbalanya di akhirat kelak.

MEMPERSEMBAHKAN PENAMPILAN HANYA SE MATA-MATA UNTUK MENYENANGKAN SUAMI


Apabila diperintah oleh suaminya,seorang istri diwajibkan untuk mentaati. Dan apabila suaminya tidak ada dirumah, istri harus pandai menjaga dirinya dan kehormatannya serta menjaga amanah harta suaminya.Wanita yang demi kian ini akan dijaga oleh Allah sebagaimana Firman-Nya :
“ ..Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara(mereka)
(An-Nisa’: 34)
Adapun kriteria dan ciri-ciri wanita shalihah adalah “Menyenangkan bila dipandang itu artinya indahnya penampilan secara dzahir serta akhlaq yang mulia.J uga terus menerus menyibukkan diri dalam taat dan bertaqwa kepada Allah.”

Banyak hal yang dapat menyenangkan hati suami di antaranya : penampilan diri agar enak dipandang, berbicara dengan menggunakan tutur yang menyenangkan serta dalam hal pengaturan rumah, sehingga mampu menciptakan suasana bersih, nyaman dan mampu memberikan kesejukan bagi keluarganya. Sehingga terciptalah keluarga yang harmonis.


Penampilan Diri
Ingin selalu tampil cantik dihadapan lawan jenisnya, memang sudah menjadi kesenangan tersendiri bagi setiap kaum wanita. Namun pada kenyataan sekarang ini yang ada sering sang istri berpikir terbalik. Didalam rumah dan dihadapan suaminya istri merasa tidak begitu perlu untuk tampil dengan dandanan yang cantik dan memikatnya namun jika keluar rumah segalanya dipakai baju yang bagus, aksesoris indah, make-up yang mencolok dan parfum yang semerbak turut melengkapi agar dapat tampil sempurna.

Lalu bagaimana cara menyelamatkan keadaan yang terbalik ini?
Dengan penuh kemantapan dan tanpa ragu sedikitpun, jawabanya adalah kembali kepada ketentuan syari’ah Islam dan tidak ada alternatif lain.Agama Islam telah memberikan bimbingan, bagaimana menjadi wanita shalehah, sebagaimana ciri-cirinya telah disebutkan dalam sabda Rasulullah saw :
“Apabila diperintah ia taat,apabila dipandang menyena ngkan hati suaminya,dan apabila suaminya tidak ada dirumah,ia menjaga diri dan harta suaminya.”

Kalau kita lihat tuntunan Islam diatas ternyata bukanlah suatu yang sulit untuk dilaksanakan. Siapapun bisa melakukannya .Disamping itu istri yang mempunyai tiga ciri di atas memiliki kedudukan yang tinggi dihadapan Allah, dan diibaratkan sebagai perhiasan dunia yang terbaik sebagai mana yang dinyatakan Rasulullah SAW :
“Dunia adalah perhiasan (kesenangan) dan sebaik-baik perhiasan (kesenangan) dunia adalah wanita (istri) shalihah.”

Pada umumnya suami lebih sering keluar rumah untuk menunaikan tugasnya apakah itu bekerja mencari nafkah ataukah berdakwah, sementara kita tahu keadaan diluar, sangat mudah sekali pandangan mata menjumpai wanita yang berpakaian minim dan menyebarkan aroma wewangian. Sekalipun seorang istri percaya suaminya akan berusaha memalingkan wajah dan menundukkan pandangannya karena takut dosa, namun laki-laki yang normal mungkin dapat tergoda melihat aurat yang haram tersebut. Diakui atau tidak hal ini sangat mungkin terjadi.

Bagaimana seandainya seorang istri merasa tidak perlu untuk tampil cantik dihadapan suami dengan alasan tidak adanya waktu karena telah tersibukkan dengan anak dan urusan rumah, apalagi bila tidak ada pembantu. Sehingga dengan penampilan seenaknya dan terkadang menyebarkan aroma yang kurang sedap ketika menyambut suaminya yang baru datang dari luar.

Berpakaian model apapun yang diingini dan disenangi suami dibolehkan dalam syariat Islam dan tidak ada batasan aurat antara istri dan suaminya. Dandanan yang memikat dan aroma parfum yang harum akan menjaga dan memagari suami dari maksiat. Mata suami akan tertutup dari melihat pemandangan haram di luar rumah bila mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam rumah. Jika istri tidak dapat memuaskan atau menyenangkan suami sehingga suaminya sampai jatuh dalam kemaksiatan (tertarik melihat pemandangan haram diluar rumah) maka berarti si istri turut berperan membantu suaminya bermaksiat kepada Allah.

Berbicara Dengan Tutur Kata Yang Baik.
Pada saat suami istri duduk-duduk sambil berbincang tentang barbagai hal, hendaknya istri memlilih ucapan yang baik dengan tutur kata yang indah dan penuh kelembutan serta sedapat mungkin menghindari pembicaraan yang tidak disukai oleh suami. Demikian pula ketika suami berbi cara istri sebaiknya mendengarkan dengan penuh perha tian dan tidak memotong pembi caraan suami.

Pandai Mengatur Rumah dan Isinya
Seorang wanita harus pandai mengurus dan mengatur ru mah dan seisinya serta menyimpan harta ditempatnya de ngan cara yang baik.
Pandai mengurus dan mengatur rumah ini tidak berarti hanya memiliki kemampuan untuk menggunakan uang saja, tetapi mencakup semua hal yang berkaitan dengan urusan rumah. Kepandaiannya mengurus, menjaga pakaian dan perkakas rumah tangga. Sehingga menjadikannya awet dan tidak cepat rusak. Sangat Penting sekali jika seorang wanita bisa memperhatikan penataan rumah yang baik, bersih dari najis dan terhindar dari aroma yang kurang sedap. Walhasil, ciptakan suasana rumah yang menjadikan suami betah berada didalamnya.Untuk membuat penampilan lebih menarik tidak harus dengan wajah yang cantik, demikian juga untuk membuat rumah bersih, indah dan rapih tidak harus dengan harga yang mahal. Karena yang demikian itu, ia akan meringankan beban suami dan jelas akan berpengaruh baik pada kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga. Rasulullah SAW.Bersabda :
“…..Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga nya (rumah tangganya secara keseluruhan) dan akan dimin tai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.Dan se orang istri adalah pemimpin dirumah (dari rumah tang ga) suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…..
”(Muttafaq ‘alaih).

Berdasarkan hadits ini jelas bahwa seorang istri adalah pemimpin rumah tangga di dalam rumah yang dihuninya beserta isi dan perabotannya. Dan harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya itu terhadap suami dan anak-anaknya serta terhadap Allah SWT.

Sehubungan dengan itu maka seorang wanita muslimah hendaknya pandai-pandai menata perabot rumah tangganya sesuai dengan tempatnya secara apik, pandai menjaga kebersihan dan keindahan rumah pandai menyajikan jamuan makan suami dan anak-anak secara baik, pandai menata dan menjaga kebersihan serta keindahan rumahnya dengan aneka hiasan yang bermakna.

Semua itu tentunya memerlukan kesadaran dan keterampilan tersendiri yang harus dimiliki oleh setiap wanita muslimah. Ia perlu belajar dan berlatih dengan baik. Akan lebih baik jika kepandaian dan ketrampilan itu di pelajari semenjak dini sebelum melewati jenjang perni kahan.

Insya Allah semuanya bisa dilaksanakan dengan mu dah selama ada keinginan dan diniatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah.Bukankah segala sesuatu yang ba ik itu akan bernilai ibadah bila diniatkan hanya untuk Allah.

Penyejuk Kasih Sayang Bagi Keluarganya
Sosok seorang wanita merupakan sumber cinta dan kasih sayang di dalam sebuah rumah tangga. Karena seorang wanita merupakan inspirasi atas kasih sayang dilingkungan sekitar rumah, dimana kelestarian dari kasih sayang tersebut sangat bergantung kepadanya. Seorang wanita yang baik harus mampu memberikan kasih sayangnya ke pada suami berikut seluruh anggota keluarganya.

Untuk suaminya, wanita memberikan kasih sayangnya berupa sikap dan tindakan yang akan menyebabkan suaminya merasa senang lagi tenang berada disampingnya. Ia akan selalu berhias untuk suaminya semata agar suaminya merasa senang disaat memandangnya. Ia akan menunaikan hak-hak suaminya dengan sikap ikhlas. Seorang wanita akan menuruti setiap perintah suaminya selama perintah tersebut tidak mengandung keburukan atau mengajak ke arah yang tidak diridhai-Nya. Wanita juga akan menjaga kehormatan suaminya dan segala yang telah menjadi tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya karena ia sadar bahwa dirinya adalah pemimpin didalam rumah tangganya selama suaminya sedang tidak berada di rumah. Seorang wanita akan menunaikan amanat Allah swt tersebut karena ia sadar bahwa kelak ia pasti akan di mintai pertanggung jawaban perihal apa yang dilakukannya selama hidup tersebut.

Untuk anak-anaknya, seorang wanita juga harus mencurahkan segenap kasih sayangnya hingga anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh dan shalehah yang menjadi permata nan tak ternilai harganya bagi diri dan keluarganya.

Untuk bayi-bayinya, ia akan memberikan air susunya secara ikhlas lagi ridha, karena seorang wanita pasti akan sadar bahwa tugas menyusui bayi-bayinya tersebut merupakan tanggung jawab Allah SWT yang telah dibebankan padanya .Ia tidak ingin terjebak dalam pembicaraan atau rumor konyol yang menyebutkan bahwa jika ia menyusui bayi-bayinya, maka bentuk payudaranya akan rusak dan tidak lagi mempunyai keindahan.

Penanganan terhadap seorang anak memerlukan cara tersendiri sehingga keberadaan anak-anak, terutama pada saat mereka masih kecil, tidak menimbulkan suasana gaduh dan tegang. Untuk itu, seorang wanita harus memiliki kiat yang bijaksana dan tepat sehingga anak-anak yang masih kecil tidak merasa terkekang atau kehilangan kebebasan untuk bermain-main karena disiplin sepihak yang ditetapkan oleh ibunya.

Disamping itu, wanita yang senantiasa merindukan surga-Nya, harus-lah pandai menciptakan suasana yang penuh kebahagiaan dan ketenangan bagi suaminya. Wanita harus pandai mengelola uang suaminya yang sedikit sekalipun untuk keperluan rumah tangga sehingga suami tidak merasa selalu dibebani belanja keluarga, yang menjadikan dirinya tertekan dan kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang dengan keluarga.

Wanita selalu berusaha memberikan kesan kepada suaminya bahwa jerih payah suami mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga cukup memberi kesejahteraan. Di saat suami bisa menghasilkan uang banyak ia mempergunakannya dengan penuh hati-hati dan amanat, bukan untuk berfoya-foya dan besenang-senang. Wanita berusaha menabung uang kelebihan belanja guna membiayai kehidupan masa depan anak-anaknya agar tidak hidup terlantar atau untuk berjaga-jaga bilamana kelak suaminya tidak lagi bisa mendapatkan uang yang cukup. Ia akan memberikannya sebagai modal usaha suami merintis kegiatan bisnis baru yang di harapkan bisa mencukupi kebutuhan ke luarga.

Dengan kata lain, wanita selalu berwawasan kedepan, sekaligus menjadi pengawal keluarga untuk menyelamatkan harta kekayaan suaminya untuk kebutuhan keluarga pada masa depan. Wanita selalu berhemat dan memperbanyak tabungan. Dia juga akan selalu menumbuhkan kegembiraan dan semangat hidup yang tinggi dalam mengendalikan urusan rumah tangga dan selalu mendorong kemajuan suaminya agar dapat memikul tanggung jawab keluarga dengan rasa suka cita. Bila suatu saat suami merasakan beratnya beban menghidupi keluarga, wanita tampil meniupkan semangat keberanian dan jiwa besar sehingga suami tidak akan pernah merasa terbebani melaksanakan kewajiban tersebut. Ia berusaha membantu suaminya dalam berbagi kesenangan dan penderitaan sehingga suami merasa mendapatkan pengayoman pada saat sedih dan semangat pada saat kesulitan.Rasulullah bersabda :
“Wanita yang paling baik yaitu yang pandai mengendarai unta. Wanita Quraisy yang terbaik yaitu yang besar kasih sayangnya kepada anak kecil, pandai memelihara (harta) dan melayani suaminya, serta pandai membelanjakan harta suaminya yang sedikit.”
(HR. Ahmad,Bukhari dan Muslim)

Mengendarai unta maksudnya menunggang dan mengendalikan unta sehingga mau berjalan dengan baik menuju tujuan yang dikehendaki penunggangnya. Di gunakannya unta sebagai lambang oleh Rasulullah karena unta merupakan hewan paling banyak dipadang pasir.

Tipe wanita seperti ini dapat kita temukan pada diri khadijah, istri Rasulullah, yang sejak awal selalu membantu kehidupan beliau dan mengasuh putra-putri yang didapat dari Rasulullah dengan baik. Bahkan Khadijah tampil sebagai orang yang selalu membantu perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam ditengah permusuhan kaumnya.

Selasa, 05 Oktober 2010

ISTRI SHALIHAH KEKAYAAN YANG PALING BERHARGA DI DUNIA


Seorang wanita muslimah tidak mungkin digelari sebagai wanita shalihah manakala ia tidak ikhlas berbakti kepada suami, selain tentunya beribadah kepada Allah. Hanya istri-istri yang taat kepada Allah dan berbakti kepada suami secara tulus dan ikhlas yang pantas memasuki surga-Nya dan memperoleh predikat wanita shalihah. Sebagaimana Firman Allah swt :
“... Maka istri-istri shalihah adalah istri-istri yang taat (kepada Allah dan setia berbakti) kepada suami ....
“(Surat An-Nisa : 34)


Seseorang bertanya kepada Nabi saw.,”Ya Rasulullah, wanita manakah yang lebih baik?”Rasulullah bersabda:
“Wanita yang menyenangkan suaminya sewaktu suaminya memandangnya, juga taat kepadanya ketika suaminya menyuruhnya, dan tidak menentangnya baik terhadap diri maupun harta suaminya dengan hal-hal yang tidak disukai suaminya”
(HR.Ash-Habus Sunan)

Oleh karena itu, maka menjadi suatu ketetapan yang harus dimiliki oleh setiap wanita muslimah yang pantas memasuki surga Allah ialah sikap tulus ikhlas berbakti kepa da suami. Sebagai bukti ketulusannya dalam berbakti kepada suami, seorang wanita yang pantas dirindukan surga haruslah wanita yang menaati setiap perintah suami, menjauhi setiap larangannya, selama perintah suami tidak melanggar hukum agama, maka istri wajib mematuhinya. Akan tetapi ,jika perintah suami itu menerjang batas haram, maka si istri haruslah menolak mentah-mentah.

Setiap orang yang memerintahkan sesuatu kepada orang lain pasti ia menghendaki agar perintahnya itu ditaati dan dilaksanakan dengan baik. Demikian halnya dengan seorang suami Tatkala ia memerintahkan sesuatu kepada istrinya, pasti ia berharap agar perintahnya itu ditaati dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin oleh istrinya.

Betapa kesalnya seorang suami manakala perintahnya tidak ditaati oleh istrinya. Jangankan tidak ditaati perintahnya dilaksanakan tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki atau dikerjakan tetapi tidak beres mengerjakannyapun tak urung akan menimbulkan kekesalan tersendiri bagi sang suami. Apalagi jika perintahnya tak diindahkan diremehkan atau bahkan dibantah. Maka hanya istri-istri tidak berbudi sajalah yang enggan menta’ati perintah suaminya!

Kalaupun ada seorang istri yang memiliki prestasi duniawi yang cukup tinggi maka sama sekali tak dibenarkan prestasinya ini dijadikan saran untuk menentang suami merendahkan martabat suamimelecehkan atau melanggar perintah suami selama perintahnya itu tidak bertentangan dengan ketentuan agama.

Ketaatan dan kebaktian terhadap perintah suami adalah ketaatan mutlak yang harus dimiliki oleh setiap pribadi wanita yang merindukan surga tanpa kecuali selama perintah itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kemudian hendaklah para wanita muslimah mengingat akan besarnya hak suami atas dirinya, sampai-sampai seandainya dibolehkan sujud kepada selain Allah maka istri diperintahkan untuk sujud kepada suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
”Seandainya aku diperbolehkan memerintahkan seseorang agar bersujud kepada orang lain pasti kuperintahkan kepada istri agar bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami yang dianegerahkan Allah atas mereka.”
(HR.At-Tirmidzi).

Hadits tersebut mengingatkan kita agar para wanita muslimah selalu taat dan ikhlas dalam menjalankan segala perintah suami. Ia pantang ditawar-tawar lagi! Sampai-sampai baginda Rasul mengandaikan agar bersujud kepada suami. Padahal sujud hanyalah perbuatan yang diperuntukkan bagi Allah swt, selain kepada-Nya adalah perbuatan musyrik dan kufur. Hal ini menggambarkan betapa mutlaknya keharusan seorang wanita muslimah mentaati segala perintah suami, selama perintah itu tidak menyimpang dari garis ketentuan agama. Jika menyimpang dari ajaran Agama, memang hal itu wajib ditolak. Karena ini jelas-jelas menjadi keharusan bagi setiap mukmin, Sebagai mana sabda Rasulullah SAW :
“Tidaklah ketaatan seseorang terhadap perbuatan maksiat kepada Allah! Keta’atan hanya ada dalam kebajikan semata.”
(HR.Al-Bukhari,Muslim,Abu Dawud,An-Nasai)

Namun demikian kalaupun harus menolak perintah suami yang isinya bertentangan dengan agama, sebaiknya penolakan itu dilakukannya secara arif dan bijaksana. Sedapat mungkin suami tidak kecewa atas penolakannya atau bahkan menyadari bahwa perbuatannya itu melanggar tuntunan agama.Seorang wanita yang baik dan ingin menjadi penghuni surga-Nya, ia senantiasa akan berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun terkadang timbul perasaan malas atau berat untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi kewajibannya, tetapi hendaknya diingat bahwa keridhaan suami lebih diutamakan diatas perasaannya.Lihatlah apa yang dikatakan Rasulullah ketika Aisyah ra. bertanya :
“Siapa diantara manusia yang paling besar haknya atas (seorang) istri?” Beliau menjawab,“Suaminya..“
(HR. Hakim dan Al -Bazzar)

Dengan taat kepada suami dan tentunya dengan menjalankan kewajiban agama lainnya, dapat mengantarkan seorang wanita kepada surga-Nya.

Terlalu banyak peluang bagi seorang wanita untuk beribadah kepada Allah dalam rumah tangganya dan terlalu mudah dalam memperoleh pahala dalam kehidupan suami istri. Namun sebaliknya, terlalu mudah pula seorang wanita terjerumus kepada dosa besar kalau melanggar ketentuan yang telah digariskan Allah.Yang perlu diingat oleh seorang wanita yang senantiasa merindukan surga-Nya ialah agar berupaya mengikhlaskan niat hanya untuk Allah dalam melaksanakan kewajibannya sepanjang waktu.