Senin, 22 November 2010

PENGORBANAN SEORANG IBU


Rasulullah SAW bersabda :
“Surga berada di bawah te lapak kaki ibu.”
Menjadi seorang ibu adalah suatu yang sangat luar biasa. Ibu mengandung anaknya selama kurang lebih sembilan bulan dalam kondisi yang semakin melemah setelah itu, ibu akan melahirkan anak yang telah dikandungnya dengan susah payah. namun begitu mendengar jerit tangis seorang bayi yang keluar dari mulut rahimnya, seorang ibu akan tersenyum bahagia. Segala keletihan yang dia rasakan disaat mengandung dan melahirkan serasa hilang. Dengan penuh kasih sayang seorang ibu akan menyusui bayinya, membelai dan menciumnya. Seorang ibu akan selalu siap menenangkan bayinya. Di saat bayinya menangis, seorang ibu akan selalu siap merawat bayinya. Ibu akan selalu siap menggendongnya. Seiring dengan berjalannya waktu, usia bayipun bertambah. bayi akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak kecil yang membutuhkan bimbingan dan arahan untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Disinilah di butuhkan peran seorang ibu dalam mengasuh dan mendidik anaknya.

Tak di ragukan lagi, bagi anak-anak, seorang ibu merupakan sosok hidup dari nilai-nilai kelembutan, kejernihan, kasih sayang, dan cinta. Mengingat struktur, ukuran, dan kelembutannya, seorang anak tentu memerlukan cinta dan belaian lembut penuh kasih. Dirinya amat memerlukan cinta, bimbingan, serta pengorbanan yang ikhlas dari seseorang. Makhluk yang rela mencintai dan berkorban untuknya tak lain dari ibunya sendiri.

Setiap wanita yang telah mengandung dan melahir kan anak kemudian merawatnya hingga tumbuh dewasa baik secara fisik maupun secara psikologis oleh masyarakat ki ta umumnya telah mendapatkan predikat sebagai ibu.Pre dikat sebagai ibu ini juga sering berlaku bagi wa nita yang tidak dapat menjalankan fungsi mengandung dan melahir kan namun memiliki anak yang diasuhnya dan mereka bi asanya disebut sebagai ibu angkat.Memang predikat se bagai ibu berkaitan dengan fungsi reproduksi wanita un tuk mengandung,melahirkan,dan merawat anak-anak.Da lam struktur masyarakat yang primitif sekali pun,telah dikenal pengenalan nilai tentang seorang wanita yang seperti apa yang harus disebut sebagai ibu.

PERAN WANITA SEBAGAI SOSOK SEORANG IBU


Bagi seorang wanita, tidak ada peran yang lebih mengagumkan dan mengesankan selain peran ibu. Peran sebagai ibu menciptakan kehidupan yang baru sejak pertama kali wanita mengandung dan melahirkan bayinya kemudian merawat anak-anaknya. Peran ibu menyediakan kepuasan batin yang besar dan memperkaya kekayaan hati wanita karena peran ibu memenuhi naluri wanita untuk mencintai anak-anaknya Banyak sekali hal dan pengetahuan yang dibutuhkan bagi seorang wanita untuk dapat menjadi dan memahami makna peran seorang ibu.

Dr.Ali Qaimi dalam kitabnya “Buaian Ibu” mengatakan bahwa Sosok seorang ibu adalah sumber mata air terpenting yang mengalirkan ketenangan, kebahagian, dan kecintaan dalam keluarga. Sosok seorang ibu sangat berperan penting dalam melahirkan ketentraman, kedamiaan, kemampuan, kekuatan, dan kebebasan dalam jiwa anaka-anak. Aspek keilmuan seorang anak terbentuk dari gen ayah maupun ibunya.

Bukan sebatas persiapan fisik untuk mengandung dan melahirkan. Tetapi perjuangan untuk menjadi manusia yang melahirkan manusia-manusia baru yang shaleh, cerdas, dan memakmurkan bumi dengan kalimat La illah Ha illahallah.

IBU ADALAH PERJUANGAN CINTA


Yang kemudian menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah hanya dengan fungsi mengandung, melahirkan dan merawat yang memiliki kecenderungan kepada perawatan fisik telah cukup untuk mengukuhkan wanita sebagai seorang ibu yang baik. Apakah dengan semua fungsi tersebut wanita telah mampu membanggakan dirinya sebagai wanita yang sempurna karena telah memenuhi panggilan kodratinya melangsungkan keturunan.

Apabila demikian adanya maka manusia dalam menghargai ibu tidak ada bedanya dengan hewan dalam menghargai fungsi ibu. Hewan mengenal fungsi ibu sebagai peran betina untuk melangsungkan keturunan dan merawatnya sampai saat yang tepat untuk melepasnya. Setelah tugas untuk melepas anak selesai maka selesai pula tugas menjadi ibu.

Hakikat ibu adalah kisah tentang perjuangan cinta, luasnya bentangan kasih sayang dan penghormatan manusia terhadap kelangsungan hidup spesiesnya. Kecintaan yang tulus membuat seorang ibu rela menempatkan diri dalam berbagai situasi baik yang senang dan susah dalam memperjuangkan kehidupan buah hatinya dan keluarganya walaupun terkadang pengorbanan tersebut menuntut pengorbanan nyawanya. Ibu adalah sosok wanita yang telah mengerti arti kewanitaannya dan memberikan sifat khasnya dalam bentuk karakter diri yang agung dan mulia di mata manusia dan Allah. Ibu bermakna cinta yang hangat, ketakwaan kepada Allah, kedamaian saat memandangnya.

Ikatan yang dibangun oleh ibu dengan anaknya adalah ikatan antara fisik, psikis dan sosial. Permulaaan ikatan tersebut sudah dimulai sejak dimulainya kehidupan janin dalam rahim ibu mulai berdetak hingga kelahiran anak kemudian merawatnya hingga tumbuh dewasa. Ikatan ini membuat hubungan antara ibu dan anaknya berjalan naik turun sesuai dengan situasi yang dialami oleh ibu dan keadaan buah hatinya. Keadaan yang naik turun diantara ke duanya mempengaruhi nilai-nilai keibuan yang berkem bang dalam diri ibunya.

CINTA SEJATI SEORANG IBU


Ibu adalah nilai positif dari sisi kehidupan seorang wanita yang berkembang bertalian dengan banyak sisi kehidupan lain wanita tersebut. Makna keibuan secara umum adalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya namun nilai-nilai keibuan adalah pengalaman pribadi seorang wanita yang dapat saja berbeda antara wanita satu dengan wanita yang lain sehingga setiap wanita dapat memiliki pengertian yang berbeda tentang nilai keibuan dirinya

Tingkat pemahaman wanita terhadap nilai keibuan dirinya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu kepribadian dan karakter wanita yang bersangkutan dan faktor ketidak berdayaan anak yang sangat membutuhkan kehadiran dan perawatan ibunya. Perbedaan dalam bentuk kepribadian dan jalinan interaksi yang terjadi selama ibu berhubungan dengan anaknya inilah yang membuat setiap wanita mengembangkan perbedaan nilai-nilai keibuan yang melekat pada dimilikinya.

Wanita yang memiliki sifat dasar keibuan seperti keseimbangan antara kepentingan cinta kasih terhadap kelangsungan keturunannya dengan kepentingannya sendiri maka akan mampu mengembangkan sifat keibuan yang lebih besar dalam dirinya yang terwujud dalam kesungguhan melindungi dan menyayangi anak-anaknya. Cinta sejati ibu memberikan pengaruh kepada perasaan wanita untuk membaktikan kehidupannya untuk membanggun kehi dupan anaknya.Apapun yang akan dihadapi perjuangan membesarkan dan mendidik anak akan di hadapi dengan ketegaran dan segala kesulitan yang di hadapi tidak akan membuatnya mundur bahkan memacu kemampuan lain dalam diri wanita tersebut yang sebelumnya tersembu nyi.Semua muara dari perjuangannya adalah kebahagia an dan keselamatan hidup anak-anak nya.

Apabila wanita memiliki sifat keibuan yang tidak berkem bang dengan baik karena tertekan oleh sifat narsis (men cintai diri sendiri secara berlebihan) maka secara perla han-lahan wanita tersebut akan mencintai anak-anaknya sebatas sebagai hubungan yang kaku dan dingin.Ikatan yang dibangun bersama anaknya akan semakin memu dar saat anak-anaknya mulai tumbuh menjadi dewasa dan tidak lagi membutuhkan perawatan diri nya sebagai ibunya.

Kita harus dapat membedakan antara sifat dasar ke ibuan dengan cinta kasih keibuan yang dikembangakn oleh wa nita.Sifat dasar keibuan wanita ada dalam diri setiap wani ta yang memang merupakan sifat alamiah yang diberikan oleh Allah seperti wanita yang tampak menyukai anak-an ak saat mereka tumbuh menjadi gadis remaja.Sedangkan cinta kasih keibuan adalah proses yang dijalani dan terus berkembang seiring interaksi antara ibu dan anaknya.

Sifat dasar keibuan memiliki bagian-bagian yang menyatu dan terkait satu sama lain .Masing-masing bagian mendukung bagian yang lain dan tidak dapat dipisahkan dengan hanya memilliki sebagain saja.
Bagian-bagian tersebut adalah altruisme(mendahulukan kepentingan orang lain atau perasaan cinta terhadap manusia yang lain), kelembutan, kasih sayang dan aktivitas. Perpaduan antara keempat bagian diatas memberikan warna yang khas dari sifat dasar keibuan wanita.

IBU ADALAH MATA AIR KEBAHAGIAAN


Sifat altruisme yang dimiliki oleh ibu mendorongnya untuk senatiasa mementingkan kepentingan anak-anaknya daripada kepentingannya sendiri. Dasar cinta altruisme adalah tidak pernah menuntut adanya imbalan dari perbuatan baik, bersedia berkorban tanpa tendesi apa-apa dan memberikan cinta yang tulus. Cinta model ini dieperlukan oleh bayi karena ketidakberdayaan bayi. Adanya sifat altruisme membuat ibu selalu terikat dengan anak-anaknya baik secara fisik ataupun secara emosional.

Bagaimanapun baiknya cinta altruisme, tetap perlu ada keseimbangan yang baik sebab apabila gagal membuatnya seimbang maka akan memunculkan sifat cinta kasih yang kebablasan kepada anak dan akan memiskinakan ego wanita. Ketika wanita telah kehilangan egonya maka hal itu berarti wanita akan selalu menuruti setiap kehendak anak nya tanpa pernah bersifat mandiri secara kepribadian.

Disisi lain, kita harus memberikan penghargaan kepada para ibu yang melahirkan anak-anak yang mulia serta mengetahui kewajiban sucinya terhadap anak-anaknya itu. Mereka adalah mata air kebahagiaan yang tak pernah kering bagi kehidupan keluarga dan masyarakat.

Sifat dasar keibuan yang sudah ada akan mendapatkan pengaruh dari lingkungan namun apakah berkembang menjadi sifat keibuan yang penuh cinta kasih atau malah tidak berkembang, hal tersebut sangat tergantung kepada wanita itu sendiri