Soalan; apa hukum mengucapkan “Selamat menyambut Hari Krismas”, “Selamat menyambut Depavali” dan sebagainya kepada penganut-penganut agama lain apabila tiba musim perayaan mereka?
Jawapan;
Hendaklah dibezakan di antara dua perkara;
Pertama; Sama-sama merayakan perayaan tersebut dengan mereka.
Kedua; Hanya sekadar mengucapkan selamat.
Perkara pertama telah disepakati atas pengharamannya oleh ulamak-ulamak muktabar hari ini.[1] Diharamkan ke atas orang Islam untuk sama merayakan perayaan-perayaan agama orang bukan Islam. Maksud sama-sama merayakan ini ialah turut sama melakukan upacara ibadah atau tradisi khusus yang dibuat oleh penganut agama terbabit sebagai menandakan sambutan bagi hari perayaan mereka. Sila baca jawapan saya tentang kongsi raya (http://ilmudanulamak.blogspot.com/2006/12/kongsi-raya-harus-atau-tidak.html).
Adapun perkara kedua, iaitu mengucapkan selamat kepada mereka bersempena perayaan mereka, terdapat khilaf di kalangan para ulamak semasa/kontemporari hari ini;
Golongan pertama; mengharamkannya kerana ia menyerupai orang bukan Islam, seolah-olah mengiktiraf agama mereka dan membantu mempromosi agama mereka. Pandangan ini dikeluarkan ulamak-ulamak aliran Salafi terutamanya dari Arab Saudi seperti Syeikh Bin Baz, Syeikh Ibnu Uthaimin dan Lujnah Fatwa Arab Saudi sendiri. Sabda Nabi -sallallahu 'alaihi wasallam-: "Sesiapa menyerupai satu kaum, dia adalah dari kalangan mereka". Firman Allah (bermaksus): "Dan janganlah kamu saling membantu dalam perkara dosa dan permusuhan".
Golongan kedua; mengharuskannya kerana ia termasuk dalam pengertian berbuat baik dan mengucapkan ucapan yang baik yang tidak pernah ditegah oleh Allah untuk dilakukan atau diucapkan oleh orang Islam kepada orang-orang bukan Islam yang tidak memusuhi umat Islam. Pandangan ini dikeluarkan oleh Syeikh Mustafa az-Zarqa, Syeikh Dr. Ali Jum’ah (Mufti Mesir), Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Syeikh Mahmud ‘Akkam (Mufti Halab, Syiria) dan lain-lain. Firman Allah (bermaksud);
“Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang (kafir) yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu) dan tidak mengusir kamu keluar dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil” (Surah al-Mumtanahah, ayat 8)
“Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu” (Surah an-Nisa’, ayat 86). Berdasarkan ayat ini, jika seorang muslim mempunyai kawan atau saudara-mara dari kalangan orang bukan Islam yang biasa mengucapkan selamat untuknya pada hari raya Islam atau hari kegembiraan lainnya, haruslah ia membalas ucapan selamat itu bila tiba hari perayaan atau kegembiraannya sebagai bermuamalah dengan yang serupa sebagaimana yang dianjurkan oleh ayat. Berkata Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu-; “Sesiapa dari kalangan makhluk Allah yang mengucapkan salam/selamat untuk kamu, balaslah ucapannya sekalipun ia seorang Majusi kerana firman Allah tadi” (Tafsir Ibnu Kathir).
Menolak hujjah ulamak-ulamak yang melarang tadi, golongan kedua ini menjawab; sekadar mengucap selamat dan tahniah tidaklah boleh dikatakan kita telah menyerupai penganut agama lain atau merestui agama mereka atau membantu mempromosi agama mereka. Ia tidak lebih dari sekadar menzahirkan penghargaan dan penghormatan sesama manusia, bukan penghormatan kepada agama atau aqidah penganutnya.[2] Diceritakan dalam hadis bahawa pada satu hari lalu di depan Nabi jenazah seorang Yahudi. Nabi lalu bangun menghormati jenazah itu. Para sahabat yang bersama baginda lantas menegur; "Itu jenazah seorang Yahudi, wahai Rasulullah". Baginda lantas menjawab; "Bukankah ia jenazah seorang manusia" (HR Imam al-Bukhari, Muslim dan an-Nasai dari Sahl bin Hunaif dan Qies bin Sa'd). Nabi bangun menghormati jenazah Yahudi itu bukan kerana agamanya, tetapi atas dasar sesama manusia. Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan dalam fatwanya; "Ucapan-ucapan tahniah dan selamat yang biasa diucapkan bersempena perayaan-perayaan agama lain itu tidaklah terkandung di dalamnya sebarang pengakuan terhadap aqidah mereka atau kita meredhai agama mereka. Ia hanya sekadar ucapan-ucapan mujamalah (ucapan untuk menzahirkan kemesraan) yang telah menjadi adat sesama manusia".[3]
Kesimpulannya, sama-sama merayakan perayaan orang bukan Islam hukumnya adalah haram mengikut hukum yang disepakati semua ulamak. Adapun sekadar ucapan selamat atau penghargaan sebagai tanda kejiranan atau persahabatan sesama insan, para ulamak berikhtilaf. Ada ulamak mengharuskannya dan ada yang melarangnya. Dalam masalah khilaf, sesama umat Islam hendaklah saling menghormati antara satu sama lain.
Rujukan
1. Fatawa al-Lujnah ad-Daimah, 1/437, 1/439, 1/452 (al-Maktabah as-Syamilah)
2. Fatawa wa Istisyaraat al-Islam al-Yaum, 4/31 (al-Maktabah as-Syamilah)
3. Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Uthaimin, 3/45 (al-Maktabah as-Syamilah)
4. Fatawa Mustafa az-Zarqa' (Dar al-Qalam)
5. Fatawa Mu'ashirah, Dr. Yusuf al-Qaradhawi (Dar al-Qalam, Kuwait dan Qahirah).
Nota hujung
[1] Termasuk yang mengharamkannya ialah Dr Yusuf al-Qaradhawi dan Dr. Mustafa az-Zarqa.
[2] Lihat; Fatawa Mustafa az-Zarqa', hlm. 356 (Dar al-Qalam, Dimasyq)
[3] Fatawa Mu'ashirah, jil. 3, hlm. 672 (Dar al-Qalam, Kuwait dan Qahirah).
Wanita adalah sumber mata air terpenting yang mengalirkan ketenangan, kebahagian, dan Kelembutan, diciptakan dengan keindahan dan tampil sebagai makhluk terindah
Senin, 27 Desember 2010
Sabtu, 18 Desember 2010
ISTRI MENDO’AKAN KESUKSESAN SUAMI
Mendo’akan kesuksesan suami adalah salah satu ciri dari wanita yang pantas dirindukan surga Allah. Kepandaian seorang wanita muslimah dalam mensyukuri pemberian nafkah suami, akan lebih baik apabila disertai dengan do’a. Artinya, mendo’akan suami agar mendapat kemudahan dalam mengupayakan nafkah keluarga, diberi kesehatan fisik dan mentalnya, diberi kemampuan dan kemauan kerja yang optimal dan diberi penghasilan yang maksimal, barakah, halal, dan baik. (halalan-thayyiba). Kita telah memaklumi bahwa do’a dalam Islam mendapat tempat yang sedemikian terhormat. Sebagaimana firman Allah swt.:...
.
Rabu, 15 Desember 2010
PENUH KEIKHLASAN DAN BERSIKAP QANA’AH
Agama Islam memberikan tuntunan khusus tentang sikap ikhlas ini kepada wanita shalehah, karena dialah yang lebih dibutuhkan untuk menghias diri dengan akhlak karimah dalam membahagiakan suami.
Sikap ikhlas adalah sesuatu yang sangat mahal nilai harganya, yang dapat menjadikan kehidupan suami istri sebagai taman surga. Sikap ridha dan ikhlas menerima ketentuan dan pemberian Allah, adalah kunci dari kebahagiaan dalam mengarungi kehidupan berumahtangga, kesusahan berganti dengan kegembiraan, kesempitan berganti dengan kelapangan, dan kelelahan berganti dengan kegairahan yang membara.
Seorang Wanita yang merindukan surga, tentu akan merasa ikhlas dan ridha terhadap apa saja yang telah diberikan Allah kepadanya lewat pemberian suami. Barang kali suami memang orang yang sederhana, baik kekayaan maupun rupa wajahnya.J auh dari derajat bangsawan dan penguasa, sederhana dalam tingkat prestasi ilmiah maupun wibawa, dan yang lain. Semua itu bila diterima dengan penuh keridhaan dan keikhlasan ,justru akan mendatangkan kebahagiaan. Bila hal tersebut tidak disikapi dengan ikhlas ,justru akan mendatangkan keretakan dan musibah dalam rumah tangga. Oleh Karena itu, setiap wanita yang ingin memasuki surga-Nya harus-lah sadar dan menyadari, bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan dalam rumah tangga hanya dapat diperoleh dengan mengamalkan tuntunan agama secara maksimal, bukan dengan melimpahnya harta kekayaan, kedudukan, kebangsawanan, maupun prestasi ilmiah yang dicapai.
Seorang suami shaleh, tentu akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, agar kehidupan senantiasa menjadi mudah dalam segala aspeknya. Hanya saja seringkali dia tidak mampu merealisasikan semua yang menjadi keinginannya. Namun, ketika mendapatkan istrinya bersikap ikhlas dan ridha menerima apa adanya, memaklumi hal materi, tidak menunjukkan kesedihan dan kekecewaan, maka dia akan merasakan sebagai orang yang paling bahagia didunia. Merasa lebih bahagia dari pada orang-orang yang kehilangan keseimbangan dalam mengarungi kehidupan, dan yang kehilangan penyelamat dalam ketaatan beribadah kepada Allah, sekalipun mereka diberi kekayaan yang melimpah. Merasa lebih bahagia daripada kehidu pan para konglomerat, para penguasa, bintang film, dan pemilik prestasi yang tinggi, yang diombang-ambing oleh istri yang tidak pernah puas dengan keduniaan yang dimiliki suaminya
Sikap ikhlas adalah sesuatu yang sangat mahal nilai harganya, yang dapat menjadikan kehidupan suami istri sebagai taman surga. Sikap ridha dan ikhlas menerima ketentuan dan pemberian Allah, adalah kunci dari kebahagiaan dalam mengarungi kehidupan berumahtangga, kesusahan berganti dengan kegembiraan, kesempitan berganti dengan kelapangan, dan kelelahan berganti dengan kegairahan yang membara.
Seorang Wanita yang merindukan surga, tentu akan merasa ikhlas dan ridha terhadap apa saja yang telah diberikan Allah kepadanya lewat pemberian suami. Barang kali suami memang orang yang sederhana, baik kekayaan maupun rupa wajahnya.J auh dari derajat bangsawan dan penguasa, sederhana dalam tingkat prestasi ilmiah maupun wibawa, dan yang lain. Semua itu bila diterima dengan penuh keridhaan dan keikhlasan ,justru akan mendatangkan kebahagiaan. Bila hal tersebut tidak disikapi dengan ikhlas ,justru akan mendatangkan keretakan dan musibah dalam rumah tangga. Oleh Karena itu, setiap wanita yang ingin memasuki surga-Nya harus-lah sadar dan menyadari, bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan dalam rumah tangga hanya dapat diperoleh dengan mengamalkan tuntunan agama secara maksimal, bukan dengan melimpahnya harta kekayaan, kedudukan, kebangsawanan, maupun prestasi ilmiah yang dicapai.
Seorang suami shaleh, tentu akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, agar kehidupan senantiasa menjadi mudah dalam segala aspeknya. Hanya saja seringkali dia tidak mampu merealisasikan semua yang menjadi keinginannya. Namun, ketika mendapatkan istrinya bersikap ikhlas dan ridha menerima apa adanya, memaklumi hal materi, tidak menunjukkan kesedihan dan kekecewaan, maka dia akan merasakan sebagai orang yang paling bahagia didunia. Merasa lebih bahagia dari pada orang-orang yang kehilangan keseimbangan dalam mengarungi kehidupan, dan yang kehilangan penyelamat dalam ketaatan beribadah kepada Allah, sekalipun mereka diberi kekayaan yang melimpah. Merasa lebih bahagia daripada kehidu pan para konglomerat, para penguasa, bintang film, dan pemilik prestasi yang tinggi, yang diombang-ambing oleh istri yang tidak pernah puas dengan keduniaan yang dimiliki suaminya
Sabtu, 11 Desember 2010
TIPE WANITA SEBAGAI SEORANG ISTRI
Seseorang akan merasa senang lagi bangga jika dapat memberikan sesuatu yang menurutnya berharga kepada orang lain. Kebanggaannya akan semakin bertambah jika orang yang diberinyapun menghargai pemberiannya.
Demikian pula dengan seorang suami. Apapun yang diberikan suami pada istrinya adalah usahanya untuk menyenangkan hatinya. Untuk itu apa saja yang di berikan terima saja dengan senang hati, meskipun umpamanya kurang pas dengan seleranya. Sebab itulah kemampuan suami. Menuntut lebih dari itu, bisa dikenakan “pasal” pemberatan. Yakni menuntut nafkah diluar kemampuan suami. Apa bila suami sampai susah dibuatnya, maka berdosalah istri nya.
Seorang wanita pasti akan senantiasa berupaya secara optimal untuk membahagiakan suami tercintanya. Padahal satu tindakan yang dapat membahagiakan suami ialah di syukurinya nafkah yang ia terimakan dan kemudian dapat dinikmati secara maksimal. Maka jelaslah bahwa kebiasaan bersyukur, termasuk didalamnya mensyukuri nafkah yang diterimakan oleh suami; adalah cerminan nyata dari ke pribadian wanita muslimah yang pantas mendapatkan kunci surga-Nya.
Type wanita memang macam-macam. Ada yang sudah merasa cukup dengan kenyang minum dan pakaian seadanya. Ada wanita yang suka bergaya macam selebritis, yang menuntut uang belanja banyak, hingga diluar batas kemampuan suaminya. Hingga yang tadinya diajak hidup bersama untuk saling memberi dan menerima, tetapi ternyata justru menjadi beban hidup yang berat. Type wanita seperti ini biasanya adalah wanita yang panasan (bukan cacing kepanasan).
Maksudnya, gampang panas hatinya jika melihat kenikmatan yang diperoleh orang lain, dan berfikir dirinyapun harus mendapatkan kenikmatan yang sama, dalam soal harta benda. Tetangganya punya apa, ia ingin juga memilikinya. Maka dia menekan suami untuk segera mendapatkan benda-benda yang dimilikinya. Yang demikian tentu bukan lah wanita yang dirindukan surga. Jangan sampai istri meminta dibelikan pakaian, perhiasan atau yang lainnya, dengan cara memaksa. Seorang suami tanpa dimintapun akan memberikannya jika memang mampu.
Dan wanita yang pantas memasuki surga Allah,pasti jauh dari sifat wanita diatas. Ia memiliki tingkah laku yang lembut, penuh rasa syukur, tidak banyak mengajukan permintaan, dan tidak pernah mendesak. Kalau toh, ia terus-menerus mengajukan permintaan atau keinginannya, hal itu di sebab kan karena tidak ada nya rasa syukur atas segala apa saja yang dimiliki,sehingga mengakibatkan banyak kekurangan. Padahal, dengan banyak bersyukur pasti semua segala kebutuhan dapat tercukupi.
Demikian pula dengan seorang suami. Apapun yang diberikan suami pada istrinya adalah usahanya untuk menyenangkan hatinya. Untuk itu apa saja yang di berikan terima saja dengan senang hati, meskipun umpamanya kurang pas dengan seleranya. Sebab itulah kemampuan suami. Menuntut lebih dari itu, bisa dikenakan “pasal” pemberatan. Yakni menuntut nafkah diluar kemampuan suami. Apa bila suami sampai susah dibuatnya, maka berdosalah istri nya.
Seorang wanita pasti akan senantiasa berupaya secara optimal untuk membahagiakan suami tercintanya. Padahal satu tindakan yang dapat membahagiakan suami ialah di syukurinya nafkah yang ia terimakan dan kemudian dapat dinikmati secara maksimal. Maka jelaslah bahwa kebiasaan bersyukur, termasuk didalamnya mensyukuri nafkah yang diterimakan oleh suami; adalah cerminan nyata dari ke pribadian wanita muslimah yang pantas mendapatkan kunci surga-Nya.
Type wanita memang macam-macam. Ada yang sudah merasa cukup dengan kenyang minum dan pakaian seadanya. Ada wanita yang suka bergaya macam selebritis, yang menuntut uang belanja banyak, hingga diluar batas kemampuan suaminya. Hingga yang tadinya diajak hidup bersama untuk saling memberi dan menerima, tetapi ternyata justru menjadi beban hidup yang berat. Type wanita seperti ini biasanya adalah wanita yang panasan (bukan cacing kepanasan).
Maksudnya, gampang panas hatinya jika melihat kenikmatan yang diperoleh orang lain, dan berfikir dirinyapun harus mendapatkan kenikmatan yang sama, dalam soal harta benda. Tetangganya punya apa, ia ingin juga memilikinya. Maka dia menekan suami untuk segera mendapatkan benda-benda yang dimilikinya. Yang demikian tentu bukan lah wanita yang dirindukan surga. Jangan sampai istri meminta dibelikan pakaian, perhiasan atau yang lainnya, dengan cara memaksa. Seorang suami tanpa dimintapun akan memberikannya jika memang mampu.
Dan wanita yang pantas memasuki surga Allah,pasti jauh dari sifat wanita diatas. Ia memiliki tingkah laku yang lembut, penuh rasa syukur, tidak banyak mengajukan permintaan, dan tidak pernah mendesak. Kalau toh, ia terus-menerus mengajukan permintaan atau keinginannya, hal itu di sebab kan karena tidak ada nya rasa syukur atas segala apa saja yang dimiliki,sehingga mengakibatkan banyak kekurangan. Padahal, dengan banyak bersyukur pasti semua segala kebutuhan dapat tercukupi.
Kamis, 09 Desember 2010
ISTRI YANG MENSYUKURI PEMBERIAN SUAMI
Para wanita muslimah pasti menyadari betul akan kewajibannya mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan, termasuk didalamnya nikmat berupa nafkah yang mereka terima melalui perantaraan suami. Maka para wanita muslimah pasti menyadari pula bahwa kebiasaan mensyukuri pemberian nafkah suami adalah salah satu bentuk ketaatan wanita.
Bersyukur kepada suami merupakan bagian dari syukur kepada Allah. Seorang wanita muslimah pasti pantang meremehkan pemberian suami. Ia dengan Ikhlas dan tulus menerima pemberian nafkah suami, tidak menuntut nafkah diluar kemampuan suami dan bahkan selalu mendorong suami agar giat bekerja mencari nafkah yang halal dan baik serta giat mendo’akannya.
Seorang wanita muslimah, pastilah bertunduk kepada segala perintah Allah. Tunduk kepada segala perintah-Nya merupakan salah satu dari kriteria wanita shalihah. Termasuk salah satu dari perintah-Nya ialah bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang dia berikan.
Allah SWT.Berfirman :
“Dan syukurilah nikmat-nikmat Allah,jika kalian benar -benar menghambakan diri secara total kepada-Nya!”.
(QS. An-Nahl :114)
Secara lahiriah, nafkah yang kemudian diatur penggunaan atau pembelanjaannya oleh seorang istri,memang diteri ma dari suami. Sehingga nampaklah bahwa nikmat berupa nafkah itu berasal dari suami. Tetapi pada hakikatnya, semua nikmat itu tiada lain datangnya hanyalah dari sisi Allah yang maha memberi Nikmat lagi Maha Memberi Nafkah. Sebagaimana dalam Firman-Nya :
”Dan semua nikmat yang kalian rasakan,pastilah dari Allah (datangnya) .....”.
(Surat An-Nahl : 53).
Berdasarkan ayat ini jelaslah bahwa nafkah yang secara lahiriah diterima dari suami itu pada hakikatnya adalah pemberian Allah swt.yang diberikan melalui perantaraan suami.Sehingga pada hakikatnya,seorang istri menerima nafkah itu dari sisi Allah jua.Maka dengan mensyukuri pemberian nafkah suami,berarti ia pada hakikatnya men syukuri nikmat yang Allah berikan.Dan dengan mensyuku ri nikmat-Nya,berarti ia termasuk insan muslimah yang bertunduk kepada perintah-Nya. Dalam hal ini bertunduk kepada perintah yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 114 sebagaimana tersebut diatas.
Bersyukur kepada suami merupakan bagian dari syukur kepada Allah. Seorang wanita muslimah pasti pantang meremehkan pemberian suami. Ia dengan Ikhlas dan tulus menerima pemberian nafkah suami, tidak menuntut nafkah diluar kemampuan suami dan bahkan selalu mendorong suami agar giat bekerja mencari nafkah yang halal dan baik serta giat mendo’akannya.
Seorang wanita muslimah, pastilah bertunduk kepada segala perintah Allah. Tunduk kepada segala perintah-Nya merupakan salah satu dari kriteria wanita shalihah. Termasuk salah satu dari perintah-Nya ialah bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang dia berikan.
Allah SWT.Berfirman :
“Dan syukurilah nikmat-nikmat Allah,jika kalian benar -benar menghambakan diri secara total kepada-Nya!”.
(QS. An-Nahl :114)
Secara lahiriah, nafkah yang kemudian diatur penggunaan atau pembelanjaannya oleh seorang istri,memang diteri ma dari suami. Sehingga nampaklah bahwa nikmat berupa nafkah itu berasal dari suami. Tetapi pada hakikatnya, semua nikmat itu tiada lain datangnya hanyalah dari sisi Allah yang maha memberi Nikmat lagi Maha Memberi Nafkah. Sebagaimana dalam Firman-Nya :
”Dan semua nikmat yang kalian rasakan,pastilah dari Allah (datangnya) .....”.
(Surat An-Nahl : 53).
Berdasarkan ayat ini jelaslah bahwa nafkah yang secara lahiriah diterima dari suami itu pada hakikatnya adalah pemberian Allah swt.yang diberikan melalui perantaraan suami.Sehingga pada hakikatnya,seorang istri menerima nafkah itu dari sisi Allah jua.Maka dengan mensyukuri pemberian nafkah suami,berarti ia pada hakikatnya men syukuri nikmat yang Allah berikan.Dan dengan mensyuku ri nikmat-Nya,berarti ia termasuk insan muslimah yang bertunduk kepada perintah-Nya. Dalam hal ini bertunduk kepada perintah yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 114 sebagaimana tersebut diatas.
Jumat, 03 Desember 2010
Peningkatan Kualitas Ibu

Mengingat besar dan pentingnya peran ibu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, perlu diupayakan peningkatan kualitas ibu. Karena tinggi rendahnya para ibu sangat mempengaruhi kualitas anak. Untuk itu terwujudnya figur ibu ideal merupakan langkah awal untuk mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Mencetak ibu yang berkualitas bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Menjadi ibu yang berkualitas dapat dicapai apabila ada kesadaran dari para ibu akan arti penting peran dan fungsinya. Para ibu yang sadar, tidak akan meninginginkan anaknya kelak ketika menempuh masa remaja terlibat dan terjerumus dalam kenakalan remaja yang jauh dari syar’i agama.
.
Senin, 22 November 2010
PENGORBANAN SEORANG IBU

Rasulullah SAW bersabda :
“Surga berada di bawah te lapak kaki ibu.”
Menjadi seorang ibu adalah suatu yang sangat luar biasa. Ibu mengandung anaknya selama kurang lebih sembilan bulan dalam kondisi yang semakin melemah setelah itu, ibu akan melahirkan anak yang telah dikandungnya dengan susah payah. namun begitu mendengar jerit tangis seorang bayi yang keluar dari mulut rahimnya, seorang ibu akan tersenyum bahagia. Segala keletihan yang dia rasakan disaat mengandung dan melahirkan serasa hilang. Dengan penuh kasih sayang seorang ibu akan menyusui bayinya, membelai dan menciumnya. Seorang ibu akan selalu siap menenangkan bayinya. Di saat bayinya menangis, seorang ibu akan selalu siap merawat bayinya. Ibu akan selalu siap menggendongnya. Seiring dengan berjalannya waktu, usia bayipun bertambah. bayi akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak kecil yang membutuhkan bimbingan dan arahan untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Disinilah di butuhkan peran seorang ibu dalam mengasuh dan mendidik anaknya.
Tak di ragukan lagi, bagi anak-anak, seorang ibu merupakan sosok hidup dari nilai-nilai kelembutan, kejernihan, kasih sayang, dan cinta. Mengingat struktur, ukuran, dan kelembutannya, seorang anak tentu memerlukan cinta dan belaian lembut penuh kasih. Dirinya amat memerlukan cinta, bimbingan, serta pengorbanan yang ikhlas dari seseorang. Makhluk yang rela mencintai dan berkorban untuknya tak lain dari ibunya sendiri.
Setiap wanita yang telah mengandung dan melahir kan anak kemudian merawatnya hingga tumbuh dewasa baik secara fisik maupun secara psikologis oleh masyarakat ki ta umumnya telah mendapatkan predikat sebagai ibu.Pre dikat sebagai ibu ini juga sering berlaku bagi wa nita yang tidak dapat menjalankan fungsi mengandung dan melahir kan namun memiliki anak yang diasuhnya dan mereka bi asanya disebut sebagai ibu angkat.Memang predikat se bagai ibu berkaitan dengan fungsi reproduksi wanita un tuk mengandung,melahirkan,dan merawat anak-anak.Da lam struktur masyarakat yang primitif sekali pun,telah dikenal pengenalan nilai tentang seorang wanita yang seperti apa yang harus disebut sebagai ibu.
PERAN WANITA SEBAGAI SOSOK SEORANG IBU

Bagi seorang wanita, tidak ada peran yang lebih mengagumkan dan mengesankan selain peran ibu. Peran sebagai ibu menciptakan kehidupan yang baru sejak pertama kali wanita mengandung dan melahirkan bayinya kemudian merawat anak-anaknya. Peran ibu menyediakan kepuasan batin yang besar dan memperkaya kekayaan hati wanita karena peran ibu memenuhi naluri wanita untuk mencintai anak-anaknya Banyak sekali hal dan pengetahuan yang dibutuhkan bagi seorang wanita untuk dapat menjadi dan memahami makna peran seorang ibu.
Dr.Ali Qaimi dalam kitabnya “Buaian Ibu” mengatakan bahwa Sosok seorang ibu adalah sumber mata air terpenting yang mengalirkan ketenangan, kebahagian, dan kecintaan dalam keluarga. Sosok seorang ibu sangat berperan penting dalam melahirkan ketentraman, kedamiaan, kemampuan, kekuatan, dan kebebasan dalam jiwa anaka-anak. Aspek keilmuan seorang anak terbentuk dari gen ayah maupun ibunya.
Bukan sebatas persiapan fisik untuk mengandung dan melahirkan. Tetapi perjuangan untuk menjadi manusia yang melahirkan manusia-manusia baru yang shaleh, cerdas, dan memakmurkan bumi dengan kalimat La illah Ha illahallah.
IBU ADALAH PERJUANGAN CINTA

Yang kemudian menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah hanya dengan fungsi mengandung, melahirkan dan merawat yang memiliki kecenderungan kepada perawatan fisik telah cukup untuk mengukuhkan wanita sebagai seorang ibu yang baik. Apakah dengan semua fungsi tersebut wanita telah mampu membanggakan dirinya sebagai wanita yang sempurna karena telah memenuhi panggilan kodratinya melangsungkan keturunan.
Apabila demikian adanya maka manusia dalam menghargai ibu tidak ada bedanya dengan hewan dalam menghargai fungsi ibu. Hewan mengenal fungsi ibu sebagai peran betina untuk melangsungkan keturunan dan merawatnya sampai saat yang tepat untuk melepasnya. Setelah tugas untuk melepas anak selesai maka selesai pula tugas menjadi ibu.
Hakikat ibu adalah kisah tentang perjuangan cinta, luasnya bentangan kasih sayang dan penghormatan manusia terhadap kelangsungan hidup spesiesnya. Kecintaan yang tulus membuat seorang ibu rela menempatkan diri dalam berbagai situasi baik yang senang dan susah dalam memperjuangkan kehidupan buah hatinya dan keluarganya walaupun terkadang pengorbanan tersebut menuntut pengorbanan nyawanya. Ibu adalah sosok wanita yang telah mengerti arti kewanitaannya dan memberikan sifat khasnya dalam bentuk karakter diri yang agung dan mulia di mata manusia dan Allah. Ibu bermakna cinta yang hangat, ketakwaan kepada Allah, kedamaian saat memandangnya.
Ikatan yang dibangun oleh ibu dengan anaknya adalah ikatan antara fisik, psikis dan sosial. Permulaaan ikatan tersebut sudah dimulai sejak dimulainya kehidupan janin dalam rahim ibu mulai berdetak hingga kelahiran anak kemudian merawatnya hingga tumbuh dewasa. Ikatan ini membuat hubungan antara ibu dan anaknya berjalan naik turun sesuai dengan situasi yang dialami oleh ibu dan keadaan buah hatinya. Keadaan yang naik turun diantara ke duanya mempengaruhi nilai-nilai keibuan yang berkem bang dalam diri ibunya.
CINTA SEJATI SEORANG IBU

Ibu adalah nilai positif dari sisi kehidupan seorang wanita yang berkembang bertalian dengan banyak sisi kehidupan lain wanita tersebut. Makna keibuan secara umum adalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya namun nilai-nilai keibuan adalah pengalaman pribadi seorang wanita yang dapat saja berbeda antara wanita satu dengan wanita yang lain sehingga setiap wanita dapat memiliki pengertian yang berbeda tentang nilai keibuan dirinya
Tingkat pemahaman wanita terhadap nilai keibuan dirinya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu kepribadian dan karakter wanita yang bersangkutan dan faktor ketidak berdayaan anak yang sangat membutuhkan kehadiran dan perawatan ibunya. Perbedaan dalam bentuk kepribadian dan jalinan interaksi yang terjadi selama ibu berhubungan dengan anaknya inilah yang membuat setiap wanita mengembangkan perbedaan nilai-nilai keibuan yang melekat pada dimilikinya.
Wanita yang memiliki sifat dasar keibuan seperti keseimbangan antara kepentingan cinta kasih terhadap kelangsungan keturunannya dengan kepentingannya sendiri maka akan mampu mengembangkan sifat keibuan yang lebih besar dalam dirinya yang terwujud dalam kesungguhan melindungi dan menyayangi anak-anaknya. Cinta sejati ibu memberikan pengaruh kepada perasaan wanita untuk membaktikan kehidupannya untuk membanggun kehi dupan anaknya.Apapun yang akan dihadapi perjuangan membesarkan dan mendidik anak akan di hadapi dengan ketegaran dan segala kesulitan yang di hadapi tidak akan membuatnya mundur bahkan memacu kemampuan lain dalam diri wanita tersebut yang sebelumnya tersembu nyi.Semua muara dari perjuangannya adalah kebahagia an dan keselamatan hidup anak-anak nya.
Apabila wanita memiliki sifat keibuan yang tidak berkem bang dengan baik karena tertekan oleh sifat narsis (men cintai diri sendiri secara berlebihan) maka secara perla han-lahan wanita tersebut akan mencintai anak-anaknya sebatas sebagai hubungan yang kaku dan dingin.Ikatan yang dibangun bersama anaknya akan semakin memu dar saat anak-anaknya mulai tumbuh menjadi dewasa dan tidak lagi membutuhkan perawatan diri nya sebagai ibunya.
Kita harus dapat membedakan antara sifat dasar ke ibuan dengan cinta kasih keibuan yang dikembangakn oleh wa nita.Sifat dasar keibuan wanita ada dalam diri setiap wani ta yang memang merupakan sifat alamiah yang diberikan oleh Allah seperti wanita yang tampak menyukai anak-an ak saat mereka tumbuh menjadi gadis remaja.Sedangkan cinta kasih keibuan adalah proses yang dijalani dan terus berkembang seiring interaksi antara ibu dan anaknya.
Sifat dasar keibuan memiliki bagian-bagian yang menyatu dan terkait satu sama lain .Masing-masing bagian mendukung bagian yang lain dan tidak dapat dipisahkan dengan hanya memilliki sebagain saja.
Bagian-bagian tersebut adalah altruisme(mendahulukan kepentingan orang lain atau perasaan cinta terhadap manusia yang lain), kelembutan, kasih sayang dan aktivitas. Perpaduan antara keempat bagian diatas memberikan warna yang khas dari sifat dasar keibuan wanita.
IBU ADALAH MATA AIR KEBAHAGIAAN

Sifat altruisme yang dimiliki oleh ibu mendorongnya untuk senatiasa mementingkan kepentingan anak-anaknya daripada kepentingannya sendiri. Dasar cinta altruisme adalah tidak pernah menuntut adanya imbalan dari perbuatan baik, bersedia berkorban tanpa tendesi apa-apa dan memberikan cinta yang tulus. Cinta model ini dieperlukan oleh bayi karena ketidakberdayaan bayi. Adanya sifat altruisme membuat ibu selalu terikat dengan anak-anaknya baik secara fisik ataupun secara emosional.
Bagaimanapun baiknya cinta altruisme, tetap perlu ada keseimbangan yang baik sebab apabila gagal membuatnya seimbang maka akan memunculkan sifat cinta kasih yang kebablasan kepada anak dan akan memiskinakan ego wanita. Ketika wanita telah kehilangan egonya maka hal itu berarti wanita akan selalu menuruti setiap kehendak anak nya tanpa pernah bersifat mandiri secara kepribadian.
Disisi lain, kita harus memberikan penghargaan kepada para ibu yang melahirkan anak-anak yang mulia serta mengetahui kewajiban sucinya terhadap anak-anaknya itu. Mereka adalah mata air kebahagiaan yang tak pernah kering bagi kehidupan keluarga dan masyarakat.
Sifat dasar keibuan yang sudah ada akan mendapatkan pengaruh dari lingkungan namun apakah berkembang menjadi sifat keibuan yang penuh cinta kasih atau malah tidak berkembang, hal tersebut sangat tergantung kepada wanita itu sendiri
Sabtu, 23 Oktober 2010
ISTRI BISA MEMBAWA DIRI DIHADAPAN SUAMI

Wanita yang akan mendapatkan tiket masuk ke surga yaitu wanita yang bisa membuat suami ridha kepadanya. Ridha, suka, cinta dan sayang tumpah pada diri istri seorang, dikarenakan pembawaannya yang senantiasa menyenangkan. Menyenangkan karena apa yang dibutuhkan suami semuanya ada disitu, sehingga suami tidak perlu membayangkan wanita lain, untuk mencari yang tidak ada pada istrinya. Memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Namun setidak-tidaknya, semua kebutuhan suami, lahir dan batin bisa ditemukan pada dirinya.
Diantaranya adalah; mempunyai kesadaran dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya dan senantiasa taat kepada suaminya. tanpa sedikitpun membantahnya, berbakti kepadanya, dan berusaha untuk mencari keridhaannya serta memberikan kebahagiaan pada dirinya, meskipun dia hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Ketaatan wanita kepada suaminya terletak setelah ketaatannya kepada Allah SWT. Bahkan ketaatan kepada Allah diukur seberapa jauh dia dapat menyelesaikan kewajibannya terhadap suami nya. Rasulullah SAW.bersabda:
“Sesungguhnya seorang isteri belum dikatakan menu naikan kewajibannya terhadap Allah sehingga menunai kan kewajibannya terhadap suaminya seluruh nya.Dan andaikata (suaminya) me merlukannya,dan dia diatas kendaraan tidak boleh meno laknya”.
Wanita yang merindukan surga-Nya, hendaknya tidak bermalas-malasan dalam mengurus dan menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, serta mengingat sejumlah wanita terhormat dalam sejarah Islam menjadi teladan dalam hal kesabaran, kebajikan, kedewasaan dan benar-benar mengabdi bagi suami dan rumah tangganya, meski pun mereka hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Dalam sebuah hadits diterangkan, bahwa siapa saja isteri yang dengan penuh keikhlasan dalam melaksanakan tugasnya sebagai istri dan beriman kepada Allah maka akan mem peroleh surga. Rasulullah saw bersabda:
”Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu,berpuasa dibulan Ramadhan,dan menjaga kema luannya dari pada (mengerjakan) perbuatan ha ram dan taat kepada suaminya,maka akan dipersilahkan,”Ma suklah kesurga dari pintu mana saja ya g kamu mau.”
(HR. Ahmad dan Thabrani).
Dalam Hadits yang lain diterangkan:
”Setiap istri yang mati diridhai oleh suaminya, maka ia akan masuk surga”.
Maksudnya, bahwa jika seorang istri yang mati dan ketika hidupnya tidak membuat hati suaminya itu kecewa, maka ketika mati itu akan memperoleh balasan surga. Tetapi bagi istri yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik berdasarkan ajaran Allah, maka akan memperoleh kehinaan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Siapa saja diantara istri yang durhaka terhadap sua minya,maka ia memperoleh kutukan dari Allah, dan Malaikat,dan segenap manusia.
Wanita Muslimah yang berada di bawah bimbingan Islam akan senantiasa mengetahui bahwa Islam yang memerikan pahala yang besar atas ketaatannya kepada suami ya dan memasukkan dirinya ke dalam surga.
Istri Tidak Merendahkan Suami

Wanita yang dirindukan surga selalu bersenang-senang degan kepandaian khusus yang memberinya pemahaman bahwa mengatur dan merendahkan suami setiap saat akan menanamkan duri dalam diri sang suami. Sebab,ia mengetahui bahwa jika ia melakukan hal tersebut, maka apa lagi yang dapat dilakukan oleh suaminya? Dan apa yang dapat dikerjakannya untuk kebaikan dan kemaslahatan mereka berdua? Mana kesempatan yang diberikan kepa da suaminya untuk me nuntutnya?
Dengan tegas dapat dikatakan, bahwa seorang suami tidaklah menginginkan istrinya menjadi penghalang dan melarangnya melakukan segala sesuatu. Seorang suami akan menghindari semuanya itu agar istrinya menjadi penyeimbang dan bukan mengatur dan mengendalikannya seakan-akan dirinya adalah pelindung suaminya.
Sebagai contoh, ketika ia merasakan bahwa suaminya menghendaki kesendirian, maka ia akan memberikan kesempatan kepada suaminya tanpa berusaha mengusiknya. Sebab, tidak jarang manusia mempunyai keinginan untuk menyendiri, meski hanya sebentar. Ada seorang bujangan, ketika ditanyakan kepadanya ihwal mengapa ia tidak segera menikah, ia menjawab:“Saya akan menikah sesegera mungkin begitu saya menemukan wanita yang mau memberi kan kepada saya kebaikan dan menghormati semua hak untuk menyendiri setiap kali saya menginginkannya”.
Tidak jarang seorang wanita sulit memahami mengapa suaminya menginginkan kesendirian! Kesalah pahaman ini akan segera berakhir jika ia mengetahui bahwa keinginan suaminya itu bukan berarti bahwa sang suami ingin benar-benar sendiri atau ingin lari darinya, tetapi berarti bahwa ia ingin melepaskan diri dari kekangan dunia luar dan tekanannya, yang diantaranya adalah kekangan dan tekanan dari istrinya sendiri. Dengan demikian, ia benar-benar menemukan jati dirinya dan memungkinkan dirinya mengumpulkan kembali kekuatan jiwa dan mentalnya yang jauh dari semua pengaruh luar.
Meskipun ada penafsiran psikologis tentang karakter beberapa kesempatan yang dikehendaki seorang suami untuk menyendiri, toh wanita yang senantiasa merindukan surga, ia akan selalu memberikan kesempatan kepada suaminya untuk merealisasikan apa yang diinginkannya dari kesendiriannya ini. Sebab, wanita yang pandai membawa diri dihadapan suami, bukan-lah wanita yang selalu mengatur dan merendahkannya seakan-akan ia adalah pelindung suami nya.
Wanita Tidak Melupakan Dirinya Sebagai Wanita

Sebagai seorang wanita yang merindukan surga-Nya, para wanita muslimah pasti akan senantiasa menjaga jati diri kewanitaannya. Mereka tetap tampil sebagai wanita yang anggun sesuai dengan kodrat kewanitaannya. Pantang melakukan hal-hal yang dapat merusak jati diri kewanitaannya.
Karena wanita yang shalihah dalam pandangan pria adalah wanita yang tidak lupa bahwa ia adalah seorang wanita. Secara fungsional, maksudnya kewanitaan berarti kelembutan, daya tarik dan keindahan. Sekarang ini ,kita sering menyaksikan seruan-seruan yang menyeleweng dan para penyerunya berkeyakinan bahwa daya tarik, kelembutan, dan kegenitan memperburuk kemandirian wanita, dan semuanya itu tidak memberikan manfaat, selain hanya berfungsi membangkitkan semangat superioritas dan tipu dayanya atas pria.
Adapun hal-hal yang dapat merusak jati diri kewanitaannya seseorang itu dan sekaligus dilarang dalam Islam :
Berpenampilan menyerupai Pria (Tomboi)
Berpakaian ala pria
Mempercantik diri dengan Merubah bentuk Aslinya
Tidak diragukan lagi bahwa pandangan semacam ini benar-benar salah dan bertentangan dengan logika sebagaimana diisyaratkan oleh para sosiolog dan psikolog. Dengan demikian, kewanitaan yang tersembunyi di balik kecantikan memiliki peranan yang sangat dominan dalam mempertahankan keseimbangan natural menjadi madu. Pada saat yang sama, lebah memindah kan sari bunga dari satu kelain bunga agar terjadi penyerbukan, pembuahan dan akhirnya jadilah kehidupan.
Sosok wanita sangat membutuhkan penampilan fisik. Ia juga mesti bertingkah laku wanita dan berusaha menampakkan kelembutan, kehalusan budi pekerti dan daya tariknya .Wanita seperti ini menunjukkan penghormatan pada kewanitaannya dan memperlihatkan keinginannya untuk menarik perhatian suaminya.
Kecantikan Istri Hanya untuk Suami

Al-Barquni mengatakan,
“Kecantikan seorang wanita dan keindahan dirinya adalah landasan kecenderungan laki-laki dan keterpika tannya. Pilar keindahan adalah kebersihan, maka seharusnya istri mewaspadai pandangan suaminya tertuju pada sesuatu yang menjijikkan dan memuakkan, baik itu berupa kotoran, kekusutan, bau busuk atau lainnya”.
Mungkin pertama kali yang menjadikan pria tertarik kepada wanita adalah kecantikan dan penampilannya yang manis. Tetapi sayangnya, sebagian wanita melupakan kenyataan ini, sehingga mereka mengabaikan dirinya sedikit demi sedikit. Akibatnya,sang suami melihatnya dirumah dengan penampilan yang tidak enak dipandang, dalam keadaan rambut acak-acakan, atau bersikap cuek, dan juga mencium “aroma dapur” dari badannya, selalu mengenakan pakaian yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tidak memperhatikan insting, etika,sisi-sisi psikologis, dan kecantikan .Bahkan mereka masih saja mengabaikan setelah dikaruniai beberapa orang anak, karena pada saat itu ia menyangka telah mengikat suaminya, dan meyakini bahwa suaminya tidak akan bisa lari darinya.
Ini adalah kesalahan fatal, karena bisa merusak penampilan yang telah digambarkan oleh seorang pria tentang wanita disaat menikahinya.Tidak diragukan lagi bahwa hi langnya kecantikan seorang istri dari pandangan suaminya akan mengakibatkan dampak yang sangat buruk. Misalnya, kita sering menemukan ada seorang wanita cantik yang diabaikan suaminya. Bahkan, sang suami lebih cenderung mencari wanita lain. Sementara itu, disisi lain kita menemukan wanita lain yang kurang begitu cantik tetapi dapat menarik hati dan perasaan suaminya dengan memelihara kelembutannya, menjaga kebersihan, perhiasan dan pakaiannya .Kehancuran mayoritas rumah tangga bisa di pastikan berawal dari permasalahan ini.
Oleh sebab itu,Tanggung jawab seorang wanita muslimah adalah menyediakan segala faktor ketenangan, kenyamanan, ketentraman, dan kasih sayang bagi suami, sementara tanggung jawab suami adalah berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, peralatan dan barang-barang yang diperlukan istrinya.
Sudah seharusnya seorang istri berhias berharum-haruman, dan mempercantik dirinya di rumah khusus, untuk suaminya saja, berapa banyak wanita yang tidak begitu cantik bisa memiliki hati dan perasaan suaminya dengan menjaga kebersihan, pakaian, keindahan penampilan dan tutur kata yang manis.
Seorang wanita Muslimah pasti ingin menjadi penghuni surga-Nya, dengan menyadari bahwa sesungguhnya keindahan merupakan ajakan yang kuat bagi rangsangan seksual laki-laki dan memenuhi keinginannya menjadi lebih baik untuk penampilan seorang wanita, serta akan lebih mengekalkan kasih dan sayang.Abul Al-Faraj berkata:
“Sesungguhnya istri akan mendapat perhatian suaminya setelah sempurna penampilan dan kecantikannya seharusnyalah istri membiasakan diri dalam hal menjaga kebersihan dan penampilan yang indah, memakai segala sesuatu yang menabah kecantikannya, baik itu perhiasan ataupun pakaian, bentuk-bentuk perhiasan ini harus disesuaikan dengan persetujuan dan yang disukai oleh suaminya. Hendaklah ia mewaspadai pandangan suaminya tertuju kepada sesuatu yang tidak di sukainya seperti kotoran, bau yang tidak enak,a tau perubahan yang dibenci pada dirinya. Bahaya yang muncul saat ia mengabaikan hal tersebut akan menimpa dirinya sendiri. Sangat ditakutkan apabila suaminya mengetahui peremehan tersebut, dan kemudian ia melayangkan pandangan pada wanita lain”.
Tujuan menyuruh kaum wanita mempercantik diri untuk suaminya bukanlah untuk menghabiskan waktu di depan cermin sambil mengagumi kecantikan dirinya, atau panjang rambutnya atau tinggi badannya. Sesungguhnya membanggakan diri sendiri merupakan tanda kelemahan akal seseorang, tujuan sebenarnya adalah membiasakan diri dalam kebersihan dan kerapian, hal itu termasuk menertibkan rambut, merapikan pakaian tanpa ada tanda-tanda di buat-buat atau terbebankan.
Alangkah mulianya seorang wanita ketika suaminya akan datang ,ia segera bersiap-siap untuk menemuinya dengan penampilan yang sebaik-baiknya mulai dari kebersihan pakaian, keceriaan wajah dan senyum simpulnya, karena istri manapun jika menyambut suaminya dengan penampilan begini pasti suaminya akan merasakan kehormatan dan kedudukan yang mulia.
Sejumlah ahli hikmah mengatakan,“Kehidupan yang panjang ini akan terasa pendek oleh istri yang ceria, berseri-seri, terpercaya,dan shalihah, sedangkan penderitaan banyak disebabkan oleh istri kasar yang tidak memberikan ketenangan jiwa saat bergaul dengannya, tidak memberikan keteduhan saat melihatnya”. Sebuah peribahasa mengatakan :
“Kasih sayang adalah badan; sedangkan wajahnya adalah muka yang berseri-seri”.
Merupakan kewajiban istri untuk memperindah diri bagi sang suami dengan membersihkan badan yang juga men cakup pakaian,karena tidak diragukan lagi bahwa istri ya ng mengabaikan keindahan dirinya berarti ia sedang beru saha untuk menjauhkan suaminya dengan tangannya sen diri dan bisa saja akhirnya suaminya terlempar dipangku an wanita lain.Hendaklah ia membersihkan diri sebelum kedatangan suaminya dari kesibukan kerja dan memakai pakaian yang pantas seakan-akan ia sedang menunggu pangeran yang tampan.
Istri Memahami Keinginan Suami dan Berusaha Menyesuaikan Diri Dengannya

Wanita yang ingin tampil sesempurna mungkin dihadapan suaminya haruslah bisa memahami suami dan berusaha menyesuaikan diri dengannya, sehingga dapat tercipta kebahagiaan keluarga, selalu bersenang-senang dengan gambaran realitas sejak awal kehidupan rumah tangganya dan menyadari bahwa kecocokan dan kerekatan dengan suami itu tidak akan terjadi secara drastis dan bersamaan, tetapi terbetik dalam pikirannya bahwa kecocokan perasaan harus-lah di mulai dari beberapa tahapan,entah membutuhkan waktu lama maupun relatif singkat dari “us aha dan kesalahan”.
Dan pelajaran yang bisa dipetik dari sini tidak berarti bahwa ia harus menjauhi setiap percobaan atau menghindari segala sesuatu yang dapat menyebabkannya berbuat salah, melainkan menyelami semua percobaan dan mengambil manfaat/ hikmah darinya serta tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya.
Sebelum ini, seorang Istri memiliki keinginan tulus untuk memahami keinginan suaminya, dan berusaha secara terus-menerus untuk merealisasikan kecocokan dan keharmonisan dengan suaminya sedikit demi sedikit, dibarengi dengan kesabaran, kelembutan, kehalusan budi pekerti dan ketekunan dalam menghindari berbagai sebab permusuhan, serta menjauhi sebab-sebab perselisihan, dan men ciptakan suasana yang sesuai dengan perkembangan semangat kasih sayang dan cinta kasih.
Hubungan suami istri tidak akan terjalin erat kecuali dengan menghormati ,memahami semua keinginan dan berusaha menyesuaikan diri dari masing-masing pihak.
Sulit bagi kita menggambarkan bahwa suami-istri akan benar-benar selaras dalam pemikiran, pendapat dan keinginannya. Yang demikian itu merupakan suatu hal yang tidak mudah terjadi dalam satu waktu.
Oleh karena itu, usaha saling mendekatkan dalam hal-hal di atas sangatlah penting. Sebab, melakukan dan mewujud kan keadaan di atas secara persis benar-benar tidak mudah. Jika keselarasan ini sulit direalisasikan, maka seorang wanita harus-lah memahami semua keinginan, perasaan dan berusaha menyesuaikan diri dengan suaminya dan juga sebaliknya. Sangat mustahil bila kerekatan dan keharmonisan dapat diraih tanpa kemauan dari pihak suami maupun istri untuk menghilangkan sebagian tingkah laku dan beberapa kebiasaannya yang lalu. Wanita yang bisa menciptakan keharmonisan keluarga harus memiliki kemampuan besar untuk melakukan hal ini agar ia dapat bersatu dengan suaminya dan sebaliknya. Jika ia bisa menjalankan itu semua Insya Allah Kunci masuk kesurgapun bisa ia peroleh dengan mudah. Amin!
Itulah beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh se orang wanita yang ingin memasuki surga Allah,sebagai bukti ketulusannya dalam berbakti kepada suami.
ISTRI BERUPAYA MENGENAL & MEMAHAMI SUAMI

Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala). Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.
Berkata sang suami kepada temannya: “Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”
Maka berkata temannya dengan heran : “Bagaimana hal itu bisa terjadi.”
Berkata sang suami : “Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’ Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah...Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Demi Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan: ‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluar ganya. Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’ Istri berkata: ‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi keluargaku?’ Aku menjawab: ‘Aku tidak suka kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering berkunjung). Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’ Aku katakan: ‘Bani Fulan adalah kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum yang jelek.’”
Berkata sang suami kepada temannya: “Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku .Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku:‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’”
Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”
Ibu mertuaku berkata: “Wahai Abu Umayyah.. Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya sesuai dengan kehendakmu.”
Berkata sang suami: “Maka ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali sekali ,itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”
Alangkah bahagia kehidupannya…! Demi Allah, aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya? Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap sang suami dan hikmah yang dimilikinya? Itu adalah keutamaan Allah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki
Selasa, 12 Oktober 2010
LAYANILAH SUAMIMU DENGAN NIAT IBADAH

Sebagian isteri sangat taat kepada suaminya, akan tetapi kurang pandai melayani suami dengan sebaik-baiknya. Maka jika taat kepada suami dan pandai melayaninya, hal itu merupakan kemuliaan tersendiri yang mengangkat derajatnya meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
Ummu Salamah ra berkata,Rasulullah SAW bersabda :
“Tiap-tiap isteri yang mati diridhai oleh suaminya, maka ia akan masuk surga.”
(HR.at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Dari Abdullah bin Abi Aufa ia berkata Mu'adz di-utus ke Yaman atau Syam dan dia melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada pembesar-pembesar dan kepada pendeta-pendetanya. Maka beliau berkata dalam hatinya sesungguhnya Rasulullah lebih layak untuk diagungkan (dari pada mereka). Maka tatkala ia datang kepada Rasulullah ia berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya aku melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada pembesar-pembesar dan kepada pendeta-pendetanya,dan aku berkata dalam hatiku sesungguhnya engkaulah yang lebih layak untuk diagungkan (daripada mereka) lalu beliau bersabda
Andaikata aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada seseorang, maka sungguh akan kuperintahkan isteri bersujud kepada suaminya dan seorang isteri belum dikatakan menunaikan kewajibannya terhadap Allah sehingga menunaikan kewajibannya terhadap suami seluruhnya, sehingga andaikan (suaminya) memerlukannya di atas kendaraan, sungguh ia tidak boleh menolaknya.
jadi bila kita mengerjakan sesuatu kalau diniatkan dengan ibadah itu seberat apapun dan sesulit apapun akan menjadikan sesuatu itu lebih ringan demikian juga Jika kita melayani seorang suami dengan niat ibadah maka akan terasa lebih ringan dan yang pasti surga adalah imbalanya di akhirat kelak.
MEMPERSEMBAHKAN PENAMPILAN HANYA SE MATA-MATA UNTUK MENYENANGKAN SUAMI

Apabila diperintah oleh suaminya,seorang istri diwajibkan untuk mentaati. Dan apabila suaminya tidak ada dirumah, istri harus pandai menjaga dirinya dan kehormatannya serta menjaga amanah harta suaminya.Wanita yang demi kian ini akan dijaga oleh Allah sebagaimana Firman-Nya :
“ ..Maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara(mereka)
(An-Nisa’: 34)
Adapun kriteria dan ciri-ciri wanita shalihah adalah “Menyenangkan bila dipandang itu artinya indahnya penampilan secara dzahir serta akhlaq yang mulia.J uga terus menerus menyibukkan diri dalam taat dan bertaqwa kepada Allah.”
Banyak hal yang dapat menyenangkan hati suami di antaranya : penampilan diri agar enak dipandang, berbicara dengan menggunakan tutur yang menyenangkan serta dalam hal pengaturan rumah, sehingga mampu menciptakan suasana bersih, nyaman dan mampu memberikan kesejukan bagi keluarganya. Sehingga terciptalah keluarga yang harmonis.
Penampilan Diri
Ingin selalu tampil cantik dihadapan lawan jenisnya, memang sudah menjadi kesenangan tersendiri bagi setiap kaum wanita. Namun pada kenyataan sekarang ini yang ada sering sang istri berpikir terbalik. Didalam rumah dan dihadapan suaminya istri merasa tidak begitu perlu untuk tampil dengan dandanan yang cantik dan memikatnya namun jika keluar rumah segalanya dipakai baju yang bagus, aksesoris indah, make-up yang mencolok dan parfum yang semerbak turut melengkapi agar dapat tampil sempurna.
Lalu bagaimana cara menyelamatkan keadaan yang terbalik ini?
Dengan penuh kemantapan dan tanpa ragu sedikitpun, jawabanya adalah kembali kepada ketentuan syari’ah Islam dan tidak ada alternatif lain.Agama Islam telah memberikan bimbingan, bagaimana menjadi wanita shalehah, sebagaimana ciri-cirinya telah disebutkan dalam sabda Rasulullah saw :
“Apabila diperintah ia taat,apabila dipandang menyena ngkan hati suaminya,dan apabila suaminya tidak ada dirumah,ia menjaga diri dan harta suaminya.”
Kalau kita lihat tuntunan Islam diatas ternyata bukanlah suatu yang sulit untuk dilaksanakan. Siapapun bisa melakukannya .Disamping itu istri yang mempunyai tiga ciri di atas memiliki kedudukan yang tinggi dihadapan Allah, dan diibaratkan sebagai perhiasan dunia yang terbaik sebagai mana yang dinyatakan Rasulullah SAW :
“Dunia adalah perhiasan (kesenangan) dan sebaik-baik perhiasan (kesenangan) dunia adalah wanita (istri) shalihah.”
Pada umumnya suami lebih sering keluar rumah untuk menunaikan tugasnya apakah itu bekerja mencari nafkah ataukah berdakwah, sementara kita tahu keadaan diluar, sangat mudah sekali pandangan mata menjumpai wanita yang berpakaian minim dan menyebarkan aroma wewangian. Sekalipun seorang istri percaya suaminya akan berusaha memalingkan wajah dan menundukkan pandangannya karena takut dosa, namun laki-laki yang normal mungkin dapat tergoda melihat aurat yang haram tersebut. Diakui atau tidak hal ini sangat mungkin terjadi.
Bagaimana seandainya seorang istri merasa tidak perlu untuk tampil cantik dihadapan suami dengan alasan tidak adanya waktu karena telah tersibukkan dengan anak dan urusan rumah, apalagi bila tidak ada pembantu. Sehingga dengan penampilan seenaknya dan terkadang menyebarkan aroma yang kurang sedap ketika menyambut suaminya yang baru datang dari luar.
Berpakaian model apapun yang diingini dan disenangi suami dibolehkan dalam syariat Islam dan tidak ada batasan aurat antara istri dan suaminya. Dandanan yang memikat dan aroma parfum yang harum akan menjaga dan memagari suami dari maksiat. Mata suami akan tertutup dari melihat pemandangan haram di luar rumah bila mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam rumah. Jika istri tidak dapat memuaskan atau menyenangkan suami sehingga suaminya sampai jatuh dalam kemaksiatan (tertarik melihat pemandangan haram diluar rumah) maka berarti si istri turut berperan membantu suaminya bermaksiat kepada Allah.
Berbicara Dengan Tutur Kata Yang Baik.
Pada saat suami istri duduk-duduk sambil berbincang tentang barbagai hal, hendaknya istri memlilih ucapan yang baik dengan tutur kata yang indah dan penuh kelembutan serta sedapat mungkin menghindari pembicaraan yang tidak disukai oleh suami. Demikian pula ketika suami berbi cara istri sebaiknya mendengarkan dengan penuh perha tian dan tidak memotong pembi caraan suami.
Pandai Mengatur Rumah dan Isinya
Seorang wanita harus pandai mengurus dan mengatur ru mah dan seisinya serta menyimpan harta ditempatnya de ngan cara yang baik.
Pandai mengurus dan mengatur rumah ini tidak berarti hanya memiliki kemampuan untuk menggunakan uang saja, tetapi mencakup semua hal yang berkaitan dengan urusan rumah. Kepandaiannya mengurus, menjaga pakaian dan perkakas rumah tangga. Sehingga menjadikannya awet dan tidak cepat rusak. Sangat Penting sekali jika seorang wanita bisa memperhatikan penataan rumah yang baik, bersih dari najis dan terhindar dari aroma yang kurang sedap. Walhasil, ciptakan suasana rumah yang menjadikan suami betah berada didalamnya.Untuk membuat penampilan lebih menarik tidak harus dengan wajah yang cantik, demikian juga untuk membuat rumah bersih, indah dan rapih tidak harus dengan harga yang mahal. Karena yang demikian itu, ia akan meringankan beban suami dan jelas akan berpengaruh baik pada kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga. Rasulullah SAW.Bersabda :
“…..Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarga nya (rumah tangganya secara keseluruhan) dan akan dimin tai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.Dan se orang istri adalah pemimpin dirumah (dari rumah tang ga) suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…..
”(Muttafaq ‘alaih).
Berdasarkan hadits ini jelas bahwa seorang istri adalah pemimpin rumah tangga di dalam rumah yang dihuninya beserta isi dan perabotannya. Dan harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya itu terhadap suami dan anak-anaknya serta terhadap Allah SWT.
Sehubungan dengan itu maka seorang wanita muslimah hendaknya pandai-pandai menata perabot rumah tangganya sesuai dengan tempatnya secara apik, pandai menjaga kebersihan dan keindahan rumah pandai menyajikan jamuan makan suami dan anak-anak secara baik, pandai menata dan menjaga kebersihan serta keindahan rumahnya dengan aneka hiasan yang bermakna.
Semua itu tentunya memerlukan kesadaran dan keterampilan tersendiri yang harus dimiliki oleh setiap wanita muslimah. Ia perlu belajar dan berlatih dengan baik. Akan lebih baik jika kepandaian dan ketrampilan itu di pelajari semenjak dini sebelum melewati jenjang perni kahan.
Insya Allah semuanya bisa dilaksanakan dengan mu dah selama ada keinginan dan diniatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah.Bukankah segala sesuatu yang ba ik itu akan bernilai ibadah bila diniatkan hanya untuk Allah.
Penyejuk Kasih Sayang Bagi Keluarganya
Sosok seorang wanita merupakan sumber cinta dan kasih sayang di dalam sebuah rumah tangga. Karena seorang wanita merupakan inspirasi atas kasih sayang dilingkungan sekitar rumah, dimana kelestarian dari kasih sayang tersebut sangat bergantung kepadanya. Seorang wanita yang baik harus mampu memberikan kasih sayangnya ke pada suami berikut seluruh anggota keluarganya.
Untuk suaminya, wanita memberikan kasih sayangnya berupa sikap dan tindakan yang akan menyebabkan suaminya merasa senang lagi tenang berada disampingnya. Ia akan selalu berhias untuk suaminya semata agar suaminya merasa senang disaat memandangnya. Ia akan menunaikan hak-hak suaminya dengan sikap ikhlas. Seorang wanita akan menuruti setiap perintah suaminya selama perintah tersebut tidak mengandung keburukan atau mengajak ke arah yang tidak diridhai-Nya. Wanita juga akan menjaga kehormatan suaminya dan segala yang telah menjadi tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya karena ia sadar bahwa dirinya adalah pemimpin didalam rumah tangganya selama suaminya sedang tidak berada di rumah. Seorang wanita akan menunaikan amanat Allah swt tersebut karena ia sadar bahwa kelak ia pasti akan di mintai pertanggung jawaban perihal apa yang dilakukannya selama hidup tersebut.
Untuk anak-anaknya, seorang wanita juga harus mencurahkan segenap kasih sayangnya hingga anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh dan shalehah yang menjadi permata nan tak ternilai harganya bagi diri dan keluarganya.
Untuk bayi-bayinya, ia akan memberikan air susunya secara ikhlas lagi ridha, karena seorang wanita pasti akan sadar bahwa tugas menyusui bayi-bayinya tersebut merupakan tanggung jawab Allah SWT yang telah dibebankan padanya .Ia tidak ingin terjebak dalam pembicaraan atau rumor konyol yang menyebutkan bahwa jika ia menyusui bayi-bayinya, maka bentuk payudaranya akan rusak dan tidak lagi mempunyai keindahan.
Penanganan terhadap seorang anak memerlukan cara tersendiri sehingga keberadaan anak-anak, terutama pada saat mereka masih kecil, tidak menimbulkan suasana gaduh dan tegang. Untuk itu, seorang wanita harus memiliki kiat yang bijaksana dan tepat sehingga anak-anak yang masih kecil tidak merasa terkekang atau kehilangan kebebasan untuk bermain-main karena disiplin sepihak yang ditetapkan oleh ibunya.
Disamping itu, wanita yang senantiasa merindukan surga-Nya, harus-lah pandai menciptakan suasana yang penuh kebahagiaan dan ketenangan bagi suaminya. Wanita harus pandai mengelola uang suaminya yang sedikit sekalipun untuk keperluan rumah tangga sehingga suami tidak merasa selalu dibebani belanja keluarga, yang menjadikan dirinya tertekan dan kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang dengan keluarga.
Wanita selalu berusaha memberikan kesan kepada suaminya bahwa jerih payah suami mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga cukup memberi kesejahteraan. Di saat suami bisa menghasilkan uang banyak ia mempergunakannya dengan penuh hati-hati dan amanat, bukan untuk berfoya-foya dan besenang-senang. Wanita berusaha menabung uang kelebihan belanja guna membiayai kehidupan masa depan anak-anaknya agar tidak hidup terlantar atau untuk berjaga-jaga bilamana kelak suaminya tidak lagi bisa mendapatkan uang yang cukup. Ia akan memberikannya sebagai modal usaha suami merintis kegiatan bisnis baru yang di harapkan bisa mencukupi kebutuhan ke luarga.
Dengan kata lain, wanita selalu berwawasan kedepan, sekaligus menjadi pengawal keluarga untuk menyelamatkan harta kekayaan suaminya untuk kebutuhan keluarga pada masa depan. Wanita selalu berhemat dan memperbanyak tabungan. Dia juga akan selalu menumbuhkan kegembiraan dan semangat hidup yang tinggi dalam mengendalikan urusan rumah tangga dan selalu mendorong kemajuan suaminya agar dapat memikul tanggung jawab keluarga dengan rasa suka cita. Bila suatu saat suami merasakan beratnya beban menghidupi keluarga, wanita tampil meniupkan semangat keberanian dan jiwa besar sehingga suami tidak akan pernah merasa terbebani melaksanakan kewajiban tersebut. Ia berusaha membantu suaminya dalam berbagi kesenangan dan penderitaan sehingga suami merasa mendapatkan pengayoman pada saat sedih dan semangat pada saat kesulitan.Rasulullah bersabda :
“Wanita yang paling baik yaitu yang pandai mengendarai unta. Wanita Quraisy yang terbaik yaitu yang besar kasih sayangnya kepada anak kecil, pandai memelihara (harta) dan melayani suaminya, serta pandai membelanjakan harta suaminya yang sedikit.”
(HR. Ahmad,Bukhari dan Muslim)
Mengendarai unta maksudnya menunggang dan mengendalikan unta sehingga mau berjalan dengan baik menuju tujuan yang dikehendaki penunggangnya. Di gunakannya unta sebagai lambang oleh Rasulullah karena unta merupakan hewan paling banyak dipadang pasir.
Tipe wanita seperti ini dapat kita temukan pada diri khadijah, istri Rasulullah, yang sejak awal selalu membantu kehidupan beliau dan mengasuh putra-putri yang didapat dari Rasulullah dengan baik. Bahkan Khadijah tampil sebagai orang yang selalu membantu perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam ditengah permusuhan kaumnya.
Selasa, 05 Oktober 2010
ISTRI SHALIHAH KEKAYAAN YANG PALING BERHARGA DI DUNIA

Seorang wanita muslimah tidak mungkin digelari sebagai wanita shalihah manakala ia tidak ikhlas berbakti kepada suami, selain tentunya beribadah kepada Allah. Hanya istri-istri yang taat kepada Allah dan berbakti kepada suami secara tulus dan ikhlas yang pantas memasuki surga-Nya dan memperoleh predikat wanita shalihah. Sebagaimana Firman Allah swt :
“... Maka istri-istri shalihah adalah istri-istri yang taat (kepada Allah dan setia berbakti) kepada suami ....
“(Surat An-Nisa : 34)
Seseorang bertanya kepada Nabi saw.,”Ya Rasulullah, wanita manakah yang lebih baik?”Rasulullah bersabda:
“Wanita yang menyenangkan suaminya sewaktu suaminya memandangnya, juga taat kepadanya ketika suaminya menyuruhnya, dan tidak menentangnya baik terhadap diri maupun harta suaminya dengan hal-hal yang tidak disukai suaminya”
(HR.Ash-Habus Sunan)
Oleh karena itu, maka menjadi suatu ketetapan yang harus dimiliki oleh setiap wanita muslimah yang pantas memasuki surga Allah ialah sikap tulus ikhlas berbakti kepa da suami. Sebagai bukti ketulusannya dalam berbakti kepada suami, seorang wanita yang pantas dirindukan surga haruslah wanita yang menaati setiap perintah suami, menjauhi setiap larangannya, selama perintah suami tidak melanggar hukum agama, maka istri wajib mematuhinya. Akan tetapi ,jika perintah suami itu menerjang batas haram, maka si istri haruslah menolak mentah-mentah.
Setiap orang yang memerintahkan sesuatu kepada orang lain pasti ia menghendaki agar perintahnya itu ditaati dan dilaksanakan dengan baik. Demikian halnya dengan seorang suami Tatkala ia memerintahkan sesuatu kepada istrinya, pasti ia berharap agar perintahnya itu ditaati dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin oleh istrinya.
Betapa kesalnya seorang suami manakala perintahnya tidak ditaati oleh istrinya. Jangankan tidak ditaati perintahnya dilaksanakan tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki atau dikerjakan tetapi tidak beres mengerjakannyapun tak urung akan menimbulkan kekesalan tersendiri bagi sang suami. Apalagi jika perintahnya tak diindahkan diremehkan atau bahkan dibantah. Maka hanya istri-istri tidak berbudi sajalah yang enggan menta’ati perintah suaminya!
Kalaupun ada seorang istri yang memiliki prestasi duniawi yang cukup tinggi maka sama sekali tak dibenarkan prestasinya ini dijadikan saran untuk menentang suami merendahkan martabat suamimelecehkan atau melanggar perintah suami selama perintahnya itu tidak bertentangan dengan ketentuan agama.
Ketaatan dan kebaktian terhadap perintah suami adalah ketaatan mutlak yang harus dimiliki oleh setiap pribadi wanita yang merindukan surga tanpa kecuali selama perintah itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kemudian hendaklah para wanita muslimah mengingat akan besarnya hak suami atas dirinya, sampai-sampai seandainya dibolehkan sujud kepada selain Allah maka istri diperintahkan untuk sujud kepada suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
”Seandainya aku diperbolehkan memerintahkan seseorang agar bersujud kepada orang lain pasti kuperintahkan kepada istri agar bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami yang dianegerahkan Allah atas mereka.”
(HR.At-Tirmidzi).
Hadits tersebut mengingatkan kita agar para wanita muslimah selalu taat dan ikhlas dalam menjalankan segala perintah suami. Ia pantang ditawar-tawar lagi! Sampai-sampai baginda Rasul mengandaikan agar bersujud kepada suami. Padahal sujud hanyalah perbuatan yang diperuntukkan bagi Allah swt, selain kepada-Nya adalah perbuatan musyrik dan kufur. Hal ini menggambarkan betapa mutlaknya keharusan seorang wanita muslimah mentaati segala perintah suami, selama perintah itu tidak menyimpang dari garis ketentuan agama. Jika menyimpang dari ajaran Agama, memang hal itu wajib ditolak. Karena ini jelas-jelas menjadi keharusan bagi setiap mukmin, Sebagai mana sabda Rasulullah SAW :
“Tidaklah ketaatan seseorang terhadap perbuatan maksiat kepada Allah! Keta’atan hanya ada dalam kebajikan semata.”
(HR.Al-Bukhari,Muslim,Abu Dawud,An-Nasai)
Namun demikian kalaupun harus menolak perintah suami yang isinya bertentangan dengan agama, sebaiknya penolakan itu dilakukannya secara arif dan bijaksana. Sedapat mungkin suami tidak kecewa atas penolakannya atau bahkan menyadari bahwa perbuatannya itu melanggar tuntunan agama.Seorang wanita yang baik dan ingin menjadi penghuni surga-Nya, ia senantiasa akan berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun terkadang timbul perasaan malas atau berat untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi kewajibannya, tetapi hendaknya diingat bahwa keridhaan suami lebih diutamakan diatas perasaannya.Lihatlah apa yang dikatakan Rasulullah ketika Aisyah ra. bertanya :
“Siapa diantara manusia yang paling besar haknya atas (seorang) istri?” Beliau menjawab,“Suaminya..“
(HR. Hakim dan Al -Bazzar)
Dengan taat kepada suami dan tentunya dengan menjalankan kewajiban agama lainnya, dapat mengantarkan seorang wanita kepada surga-Nya.
Terlalu banyak peluang bagi seorang wanita untuk beribadah kepada Allah dalam rumah tangganya dan terlalu mudah dalam memperoleh pahala dalam kehidupan suami istri. Namun sebaliknya, terlalu mudah pula seorang wanita terjerumus kepada dosa besar kalau melanggar ketentuan yang telah digariskan Allah.Yang perlu diingat oleh seorang wanita yang senantiasa merindukan surga-Nya ialah agar berupaya mengikhlaskan niat hanya untuk Allah dalam melaksanakan kewajibannya sepanjang waktu.
Kamis, 30 September 2010
MAKNA WANITA SEBAGAI SEORANG ISTRI

Diantara sekian banyak hikmah dan tujuan yang terkandung dalam sebuah perkawinan, salah satunya adalah memperoleh anak atau keturunan Anaklah yang akan merubah status seorang wanita menjadi seorang ibu, yakni ibu rumah tangga dan ibu dari anak-anak suaminya. Seorang wanita akan dianggap sempurna apabila ia telah menikah, dapat melahirkan anak-anaknya dan menjadi ibu bagi mereka. Untuk itu jadi seorang ibu itu tidaklah mudah, karena seorang wanita di tuntut dapat melayani anak-anak dan suaminya.
Sebab ketika seorang wanita yang sebelumnya berstatus gadis atau janda maka dengan mempunyai suami dengan sendirinya statusnya telah berubah menjadi seorang istri yang seharusnya bisa tampil sebagai istri shalihah. Dengan demikian ia telah terikat oleh aturan hukum pernikahan .Ia tidak bisa bertindak semaunya tanpa seizin dan ridha suaminya. Begitu pula dengan tingkah lakunya tidak sebebas semasa ia masih melajang.
Untuk mencapai keharmonisan yang sempurna, wanita ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia harus berubah menjadi wanita yang taat dan tunduk pada suaminya, menjadi pelayan seks suami, pengatur ekonomi keluarga, penata rumah tangga suami, penjaga kehormatan suami, pendamping tegaknya keimanan suami, pendidik anak, penyejuk pergaulan keluarga dan juga menjadi lawan dialog suami, sebatas bukan perintah kemaksiatan. Kata "tunduk"nya seorang istri dalam rumah tangga bukanlah sebagaimana tunduknya seorang budak pada tuannya.
Suami istri bisa membuat pergaulan dalam rumah tangganya dengan luwes tanpa mengabaikan hakikat ketaatan pada suami. Sedangkan tunduknya seorang budak pada tuannya adalah ketundukan yang penuh dengan keterpaksaan, disebabkan status budak yang melekat. Jadi pergaulan antara budak dengan tuan adalah pergaulan yang kaku dan monoton. Tidak sama halnya dengan suami istri dalam rumah tangga. Ketaatan istri dalam rumah tangga adalah ketaatan yang penuh dengan kesadaran, cinta kasih dan sayang. Didalam ketaatan ada kesadaran bahwa itulah memang kewajiban istri, serta ketakutan ada dosa jika tidak melakukannya. Apalagi seorang istri telah menyadari sepenuhnya bahwa ada hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra akan begitu besarnya hak suami untuk mendapat penghormatan dari istrinya :
Andaikan saya dapat menyuruh seseorang bersujud ke pada orang lain,niscaya saya akan menyuruh istri ber sujud kepada suaminya.
Inilah kewajiban yang paling inti dari para istri, yakni merawat, memelihara, mengasuh, dan menjadi guru yang patut diteladani oleh anak-anaknya. Sebuah tugas yang sungguh berat, meskipun luhur dan mulia sekaligus menyenangkan. Istrilah yang bertanggung jawab dalam rumah terhadap anak-anak nya ketika suaminya keluar mencarikan nafkah buat mereka. Suatu harmoni yang membahagiakan. Oleh sebab itulah terkadang anak cenderung lebih dekat kepada ibunya. Karena kedekatan itulah bisa dikatakan ibulah yang merupakan kunci kesuksesan bagi sang anak. Baik dalam hal aqidah maupun akhlaknya. Demikian juga didalam pendidikan formalnya. Ibulah biasanya yang menjadi pendorong utama keberhasilan pendidikannya. Sehingga bisa dikatakan bahwa biaya adalah nomor selanjutnya. Yang pertama adalah doa restu dan dorongan dari orang tua, terutama ibu kandungnya.
Selain itu,ada pula yang perlu dicamkan oleh para wanita ketika berperan sebagai istri, berkaitan dengan tugas dan kewajibannya memenuhi hak-hak suami dalam rumah tangga.
Betapa bangga seorang suami jika memiliki istri yang bisa memuliakannya, karena paham betul dengan kewajiban-kewajiban rumah tangga yang mesti dijalankan. Karena ketika wanita berumah tangga ia mengemban dua amanat Allah, pertama ia harus mengabdi kepada suami sebagai istri dan ke dua ia harus menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya.
Kedua peran tersebut harus ia lakukan bersamaan da lam kehidupan rumah tangganya.Oleh sebab itu, tak mungkin ia menjadi ibu yang baik bila sebagai istri ia tidak baik pula kepada suami. Maka wanita yang berhasil adalah wanita yang sukses pula sebagai istri. Karena, keharmonisan sebagai suami istri sangat berpengaruh sekali bagi perkembangan mental anak. Istri yang shalihah akan dapat memenuhi segala kewajiban kepada suami dan suami yang baik juga akan memenuhi kewajibannya kepada istri. Kemudian kedua-duanya sama-sama bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka. Sama-sama berjuang mewujudkan rumah tangga sakinah dan melahirkan generasi yang tang guh,yang shaleh dan shalihah
Semua status baru yang mesti disandang oleh setiap istri muslimah itu seharusnya disadari betul-betul dan kemudian dilaksanakan sebaik mungkin dengan penuh tanggung jawab. Karena semua itu akan dipertanggung jawabkan kepada suaminya, kepada anak-anaknya, kepada masyarakat sekitar dan yang paling esensial adalah dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt.
Senin, 30 Agustus 2010
MENJAGA KEHORMATAN DIRI SENDIRI BERAR TI MENJAGA KEHORMATAN SUAMI.

Rasa malu adalah salah satu dari bagian sifat seorang wanita yang merupakan sifat yang baik dan merupakan ciri wanita yang mengerti serta memahami bagaimana men jaga kehormatan dan martabatnya sebagai wanita.Hilang nya rasa malu dalam diri wanita akan berakibat buruk ba gi kehidupan keluarga dan jatuhnya nama baik seorang suami
Sesungguhnya dibalik besarnya rasa malu yang ditanam kan oleh Allah dalam diri wanita tersimpan banyak kebai kan bagi wanita maupun bagi laki-laki yang menjadi suaminya. Adanya rasa malu dalam diri wanita akan membuat wanita berusaha untuk menjaga kehormatannya dengan sebaik-baiknya di saat hawa nafsunya sebagai manusia bergejolak.
Rasa malu adalah benteng terakhir seorang wanita yang membuat wanita berpikir berulang kali apabila ingin melaksanakan keinginan untuk menuruti hawa nafsunya.Deng an adanya rasa malu, seorang wanita berusaha menjaga dirinya sebagai wanita tahu bagaimana menjaga kehorma tannya sehingga tidak terjebak perbuatan yang menistakannya ke dalam kehinaan di hadapan manusia apalagi Allah.
Kita tentu masih ingat dengan kisah bagaimana seorang wanita muslim di zaman Umar bin Khathab yang di ting gal suaminya pergi berjihad di medan peperangan merin tih dalam kesedihan ditinggal suaminya sehingga mendendangkan sebait puisi yang berisi kerinduannya kepada suami dan di dalamnya dia menumpahkan segenap keluh kesahnya apabila tidak ada rasa malu di dalam dirinya maka posisi suaminya akan tergantikan laki-laki lain.
Itulah wanita muslim yang mengerti bagaimana menjaga kehormatannya dengan rasa malu.Malu kepada Allah ya ng telah membuatkan tempat perlindungan terbaik bagi wanita di bawah kepemimpinan suaminya.Juga malu kepada manusia yang telah menghargainya sebagai wanita baik-baik yang menjaga kepercayaan suaminya. Mengkhianati suami tidak saja berarti pengkhianatan terhadap kepemimpinan suami namun berarti juga menghancurkan martabatnya sebagai wanita yang patut dihormati karena kesetiaannya menjaga kehormatan dirinya sendiri dan kehormatan suaminya.
Ada kisah yang terkenal yang tertulis dalam Al-Qur’an tentang bagaimana kehilangan rasa malu dalam diri seorang wanita yang bersuami membuatnya berani berbuat kurang senonoh yang berbuah hilangnya kehormatannya sebagai wanita baik-baik dan tentu saja suaminya merasa sangat malu karena mempunyai istri dengan ahlak tidak baik.
Kisah yang terbentang dari ayat 23 – 32 memberikan pelajaran yang berharga tentang makna menjaga rasa malu. Zulaikah,istri pembesar Mesir,telah mencampakkan rasa malunya sehingga berani mengajak Yusuf untuk berseling kuh di belakang suaminya demi kecintaannya kepada Yu suf dan Allah berkehendak untuk menunjukkan keburu kan ahlak Zulaikah sehingga menjadi bahan gunjingan para wanita di zamannya karena berani mengoda Yusuf. Lihatlah perkataan yang diabadikan oleh Al-Qur’an berikut:
“Dan perempuan-perempuan di kota berkata,” Istri Al-Aziz mengoda dan merayu pelayannya untuk menun dukkan dirinya,pelayannya benar-benar membuatnya mabuk cinta.Kami pasti memandang dia dalam keada an yang nyata.”
(Yusuf:30)
Sungguh hina jalan yang telah ditempuh oleh Zulaikah demi memuaskan hawa nafsunya dan mencampak kan rasa malunya sebagai wanita yang sudah bersuami. Sudah menjadi bahan gunjingan wanita dan dimata suaminya menjadi wanita yang dipandang rendah karena perbuatan nya mengoda Yusuf untuk berselingkuh dengannya di be lakang suaminya setelah diketahui bukti-buktinya.
Jika baju gamisnya koyak di muka,maka wanita itu be nar,dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.Dan jika baju gamisnya koyak di belakang,maka wanita itu lah yang dusta,dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.Maka tatkala suami wanita itu melihat baju ga mis Yusuf koyak di belakang,berkatalah dia:“Sesung guhnya (kejadian) itu adalah dianta ra tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.(Hai)Yu suf:”Berpalinglah dari ini ,dan (kamu hai istriku) mo hon ampunlah atas dosamu itu,karena kamu sesungguh nya termasuk orang-orang yang berbuat sa lah.”
(QS.Yusuf:28-29)
Demikianlah kisah tentang wanita yang tidak mampu men jaga martabatnya sendiri sehingga membuat suaminya malu terhadap tingkah istrinya yang kelewat batas.Alang kah baiknya seorang wanita yang bersuami memahami dengan baik apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw.
“Jika kamu tidak merasa malu,maka kerjakanlah apa yang kamu kehendaki.”
Rasa malu yang ada pada seorang wanita akan menghalanginya untuk berbuat keji atau melakukan perbuatan tercela karena wanita menyadari akibat dari mencampakkan rasa malunya dari hatinya. Rasa malu yang besar dalam hati wanita juga merupakan indikasi bahwa wanita terse but sebagai wanita beriman.Sebab besarnya rasa malu wanita sebanding dengan besarnya iman yang ada dalam hatinya.
“Perasaan malu termasuk sebagian dari iman. Iman ha nya akan mendorong seseorang berbuat baik.”
Bagi wanita yang sudah bersuami, kehidupan yang di jala ninya adalah pertarungan apakah dia mampu menjaga amanah keluarga untuk menjaga kehormatan dirinya sen diri sebagai wanita yang patut dihormati harga dirinya sen diri dengan berusaha sungguh-sungguh menjaga kehor matan suaminya saat ada di rumah ataukah saat suami nya tidak ada di rumah.Sesungguhnya kemulyaan seora ng wanita yang sudah menikah ditentukan dengan persya ratan bahwa ia adalah wanita yang tahu bagaimana ber buat demi menjaga kehormatan keluarganya.
Rabu, 25 Agustus 2010
Doa akan masuk dan ketika berada ditempat yang anker
Penjelasan:
Ayat Al-Quran sekaligus doa ini dibaca ketika akan atau sedang berada ditempat yang menurut kita anker (tempat yang menyeramkan). Insya Allah kita akan terjaga dari syaithan-syithan atau makhluk-makhluk yang ada di tempat tersebut
Artinya: "Apakah engkau mencari agama selain agama Allah ? Padahal semua yanga da di langit dan di bumi telah tunduk kepada-Nya, baik secara sukarela maupun secara paksa. Dan kepada-Nyalah mereka akan dikembalikan
Ayat Al-Quran sekaligus doa ini dibaca ketika akan atau sedang berada ditempat yang menurut kita anker (tempat yang menyeramkan). Insya Allah kita akan terjaga dari syaithan-syithan atau makhluk-makhluk yang ada di tempat tersebut
Artinya: "Apakah engkau mencari agama selain agama Allah ? Padahal semua yanga da di langit dan di bumi telah tunduk kepada-Nya, baik secara sukarela maupun secara paksa. Dan kepada-Nyalah mereka akan dikembalikan
Selasa, 24 Agustus 2010
IKATAN SUCI PERNIKAHAN

Allah Swt menggambarkan ikatan yang terjadi dalam ak ad nikah adalah sebuah (mitsaqan ghalizha) perjanjian yang kuat.Akad nikah bukanlah sekadar kata-kata yang terucap dari mulut laki-laki,atau sekadar acara formal un tuk mengesahkan hubungan suami isteri,atautun adat yang menjadi kebiasaan dalam pernikahan. Sama sekali tidak. Akad nikah adalah sebuah perjanjian sakral yang ikatan nya amat kukuh dan kuat.
Akad nikah yang mengikat suami dan isteri dalam sebuah perjanjian syar’i,di mana perjanjian itu wajib dipenuhi hak-haknya. Perjanjian agung yang menyebabkan halalnya kehormatan diri untuk dinikmati pihak lainnya.Perjanjian kukuh yang tidak boleh dicederai dengan ucapan dan perbuatan yang menyimpang dari hakikat perjanjian itu sendiri.Allah Swt berfirman:
“Dan jika kamu ingin menggantiakan isterimu deng an isteri yang lain,sedang kamu telah memberikan kepada seseorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan dusta dan dengan (menanggung) dosa yang besar? Bagaimana kamu akan mengambil nya kembali padahal sebahagian kamu telah ber gaul dengan yang lain sebagai suami isteri? Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari ka mu perjanjian yang kuat?”
(An-Nisaa’ 4:20-21)
Thabari dalam kiatb tafsirnya menukilkan penjelasan Qa tadah mengenai ayat di atas,“Perjanjian kuat yang diam bilkan Allah untuk para wanita,rujuk kembali dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang bijak, dan perjanjian yang kuat itu terdapat dalam akad kaum Muslimin tatkala melaksana kan akad nikah:Demi Allah kamu harus menjaganya dengan cara yang makruf dan menceraikan (jika menceraikan) dengan cara yang bijak.”
Mujahid menjelaskan perjanjian yang kuat, “yaitu kalimat nikah untuk menghalalkan (farji) kemaluan mereka.” Mujahid dan Ikrimah menjelaskan ;
“Kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan faraj mereka dengan kalimat Allah.” Ath Thabari berkata,“Pendapat yang paling mendekati takwilnya itu ialah pendapat orang yang mengatakan bahawa perjanjian yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah perjanjian yang diterima oleh wanita dari suaminya pada waktu akad nikah,yaitu janji untuk menjaga de ngan cara yang makruf atau menceraikannya,jika menceraikan,dengan cara bijak; yang diikrarkan oleh laki-laki, kerana dengan begitu Allah telah berwasiat kepada kaum laki-laki mengenai isteri-isteri mereka.”
Rasulullah SWT bersabda ;
“Takutlah kamu sekalian kepada Allah mengenai wanita (isteri) kerana kamu telah mengambil me reka dengan amanat Allah.”
(HR Muslim)
Ibnul Qayyim Al-Jauzi berpendapat mengenai akad nikah ini dengan meninjaunya dari segi (ihdad) berkabung tatkala suami meninggal dunia. Kata beliau,“Tujuan ihdad atas suami yang meninggal dunia itu adalah untuk mengagungkan akad nikah dan untuk menunjukkan penting dan mulianya akad itu,dan bahwa ia di sisi Allah memilki kedudukan tersendiri.Masa iddah dijadikan haram bagi nya untuk menikah dengan orang lain,dan iddah dimak sudkan untuk mengukuhkan,dan menambahkan perhatian terhadapnya, sehingga isteri dijadikan sebagai pihak yang lebih utama untuk melakukan ihdad terhadap suami dibandingkan dengan ayah,anak,saudara dan semua ke rabatnya.”



