Jumat, 09 April 2010

EMPAT WANITA PENGHUNI NERAKA


Sebagaimana yang telah di jelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya :”Ada empat wanita yang menjadi penghuni neraka, yaitu:
1.Wanita yang sering menyakiti suaminya dengan lisannya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak bisa menjaga dirinya. Bila suaminya ada disisinya selalu disakiti dengan ucapannya (lisannya).
2.Wanita yang memberi beban suaminya diluar batas kemampuannya.
3.Wanita yang tidak menutupi dirinya (auratnya) dari pandangan lelaki lain dan (senang) keluar dari rumahnya dengan bertabarruj (memamerkan dirinya, kecantikannya atau pakaiannya).
4.Wanita yang hidupnya tidak mempunyai tujuan lain, kecuali hanya untuk makan, minum dan tidur. Ia tidak mempunyai keinginan (dan kesenangan) untuk melakukan shalat, taat pada Allah, taat pada rasul-Nya, juga tidak punya keinginan untuk taat pada suaminya.

Dalam hadist Nabi diriwayatkan oleh HR.Imam Ahmad, Thabrani,Al-Hakim dan Al-Baihaqi.: beliau bersabda:
“Wanita mana saja yang melepas pakaiannya selain rambutnya sampai kelihatan lelaki lain, maka Allah akan membakar tabirnya. Maksudnya, Allah tidak akan mengampuni dosa-dosanya.

Abu Said Al-Khudri ra. berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Wanita mana saja yang melepaskan pakaiannya di selain rumah suaminya, kecuali ia mendapat sepuluh dosanya orang yang telah mati, Allah pun tidak menerima ibadah fardlu dan sunahnya. ”

Di dalam hadits Isra’nya yang panjang, Rasulullah SAW menceritakan tentang aneka macam siksaan wanita didalam neraka, diantaranya beliau bersabda :
“… …Ada pun wanita yang digantung dengan rambutnya, lantaran ia tidak menutupi rambutnya dimuka lelaki lain…. . ). ”Untuk lengkapnya hadits tersebut di atas lihatlah“Irsyadul Ibad.”hal : 89.

Itulah diantara ancaman siksa bagi wanita yang senang menyakiti atau tidak taat kepada suaminya, dan wanita yang senang mengumbar aurat didepan orang lain. Walapun sekarang wanita seperti ini sudah menjamur, bahkan sudah menjadi pemandangan umum. Justru wanita-wanita yang taat kepada suaminya dan wanita yang masih BERJILBABnya, yang masih membatasi pergaulannya, yang jarang keluar rumah dianggap sebagai wanita kolot, ortodog, ketinggalan zaman dan tidak modern alias jadul (jaman dulu).

Itulah sebenarnya salah satu penjagaan agama terhadap para wanita muslimah, agar lebih terjaga. Sedangkan tujuan utamanya tentunya tetap saja sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.

PERAN SERTA KAUM BERJILBAB DALAM MASYARAKAT


Secara social, kewajiban berjilbab juga tak akan menghalangi seorang muslimah dalam melakukan interaksi social dengan orang lain ataupun melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat di masyarakat. Dalam hal ini, banyak sekali riwayat yang yang menunjukkan bagaimana peran sosial wanita muslimah pada masa Rasulullah SAW. Mereka terlibat shalat jama’ah di masjid, bersillaturrahmi, menghadiri resepsi sampai merawat orang yang terluka dalam peperangan. Seperti yang dilakukan oleh Rufaidah al Islamiyah yang merawat salah seorang sahabat yang terluka parah dalam perang Khandak di dalam tendanya

Menanggapi hal ini, Dr. M. Said Ramadhan Al Buthi mengatakan bahwa berjilbab sama sekali tidak menghalangi kebebasan seorang muslimah baik secara fisik maupun sosial. Al Buthi berpendapat bahwa perhiasan perempuan yang biasa tampak menurut pendapat mayoritas ulama adalah muka dan telapak tangan. Adapun batasan hijab semacam ini tidak menghalangi muslimah untuk aktif dalam melakukan berbagai kegiatan. Karenanya, bagian tubuh yang harus di tutup memang bagian yang tidak akan menggangu aktifitas fisik seorang. Bagian tubuh yang jika ditutupakan menggangu aktifitas dalam hal ini muka dan kedua telapak tangan boleh ditam pakkan

Selain itu, berjilbab, mengutip pendapat Al Maududi, dalam bukunya, Al Hijab, juga menunjukkan ketinggian peradaban suatu bangsa. Bangsa yang sebagian besar anggota tubuh atau auratnya terbuka biasanya dianggap sebagai bangsa yang terbelakang. Sebaliknya, bangsa yang berbusana rapi dan sopan biasanya dianggap memiliki peradaban yang lebih maju.

Ingatlah, tubuh wanita bukanlah komoditi yang diperjualkan. Tidakpula diobral dan dijual murah-murahan, tak juga di gratiskan dan ditawar-tawarkan seperti software bajakan. Bukankah tubuh wanita dan segala keindahannya adalah sebuah anugerah Allah yang sangat mahal nilainya. Karenanya setiap kali kita melihat wanita yang bekerja di perkotaan, tak sedikit dari mereka yang mempertontonkan lekuk tubuhnya bahkan bila hal ini ditanyakan langsung kepada mereka, jawabnya, ”Ini hanyalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan keprofesionalisme sebagai karyawan”.

Itulah mereka yang mengartikan kebebasan yang salah kaprah sehingga anggapan bahwa berjilbab hanya akan mempersulit ruang gerak mereka, khususnya wanita karier.

Meski demikian, wanita muslimah terkadang bisa terpengaruh oleh lingkungan dimana tempat ia tinggal bahkan keadaan atau kondisi keluarga yang tidak menunjang seperti broken home, dapat melunturkan keimanan dan kepercayaannya yang selama ini ditanamkan orang tua padanya. Misalkan seorang wanita yang sejak kecil mendapatkan pendidikan agama dari orang tua, ia senantiasa memakai pakaian muslimah. Bahkan memakai celana ketat atau jeans pun tak pernah. Suatu ketika dalam keluarganya terjadi perpecahan, orang tua tak lagi peduli terhadap anak-anaknya. Kurangnya kasih sayang orang tua membuat sang anak berlaku seenaknya. Dikarenakan rasa frustasi, bingung dan bete berada dirumah, wanita tersebut bergaul dengan teman yang kurang baik bagi dirinya. Pada dasarnya, dia sendiri menyadarinya, namun ia berprinsip asalkan agama selalu ia pegang maka tidak akan mengarah yang tidak-tidak. Meski demikian, cara berpakaiannyapun sekarang berubah. Mesti ia tetap memakai jilbab dan berpakain muslimah tapi pakaian yang ia pakai terlalu mempertontonkan bentuk lekuk tubuhnya. Lihatlah remaja jaman sekarang, berpakaian muslimah namun cenderung mengumbar keindahan dan kemontokan tubuhnya. Seperti pakaian yang menonjolkan buah dadanya bahkan ketika ia membungkuk sedikit saja maka akan terlihat bagian celana dalam yang ia kenakan. Percuma saja mereka memakai kerudung jika pakaian yang mereka kenakan tak ubahnya wanita jalang. Bedanya mereka lebih terselubung sedangkan wanita jalang secara terang-terangan dalam mengekploitasi bentuk tubuhnya.

Rasulullah SAW bersabda :
“Wanita itu merupakan tali setan yang dipakai untuk mengikat kaum lelaki, jika Allah tidak membuat syahwat (pada hamba-Nya), maka wanita tidak akan bisa menguasai (memperdaya kaum lelaki). ”
Iblis menjadikan wanita sebagai alat untuk menebarkan fitnah dan kemaksiatan di tengah umat. Juga sebagai penggoda utama bagi kaum lelaki untuk ditelanjangi keimanannya dan dirusak akhlaqnya. Banyak kaum lelaki yang terjerumus dalam lumpur kemaksiatan dan kemungkaran yang disebabkan oleh wanita, bahkan ada yang sampai rela melepaskan keimanannya dengan wanita yang dicintainya. Na’udzubillah Min Dzalik.

DOA ISTRI RAJA FIR’AUN DAN KERAPUHAN PARA WANITA


Kerapuhan kaum wanita adalah kelemahan, yang sekaligus kelebihan mereka. Kerapuhan itu menjadi titik lemah, saat harus berhadapan dengan "kompetisi" dalam menunaikan ajaran syari’at, secara ketat dan berkesinambungan. Pencapaian konsistensi secara optimal, menjadi sebuah keniscayaan yang cukup berat meski bukan berarti mustahil. Namun karena kerapuhan itu pula, Islam memberikan hak-hak perlindungan serba lebih, bagi kaum wanita. Walaupun terkesan lebih mengikat, namun sebenarnya lebih merupakan penjagaan yang sangat ketat. Tak ubahnya merawat botol-botol kaca. Seorang Sopir truk, yang melalui perjalanan dalam hitungan ribuan kilo meter, dengan mengangkut tumpukan ribuan botol-botol kaca, mungkin termasuk orang yang memahami, betapa riskannya merawat botol-botol kaca tersebut. Banyak ajaran Syari’at, atau tugas-tugas yang disahkan dalam syari’at, yang dengan santun ‘dibebaskan’ dari kaum wanita. Semua itu berpangkal dari fenomena kerapuhan wanita, dan semua itu merupakan rahmat dan kasih sayang Islam, terhadap kaum wanita.
Wanita, terlahir dengan sifat dan watak unik yang menonjolkan dasar kepribadiannya yang ‘bengkok’. Nuansa kepribadiannya bak gelas-gelas kaca, sebuah keindahan yang rapuh, lagi mudah pecah. Secara bijak, Rasulullah SAW menegur shahabatnya, Anjasyah, saat ia sedang mengiringi kaum wanita, dalam sebuah perjalanan haji.
"Pelan-pelan saja wahai Anjasyah! Jagalah botol-botol kaca itu dengan penuh kelembutan. " (Riwayat Abu Dawud)
Itulah sebenarnya salah satu penjagaan agama terhadap para wanita muslimah, agar lebih terjaga. Sedangkan tujuan utamanya tentunya tetap saja sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.

Dalam perwujudan upaya menggali potensi dirinya, melalui penerapan ajaran-ajaran syari’at, tanpa disadari seorang wanita muslimah pada hakikatnya sedang menuju upaya menutupi kekurangan-kekurangan pada watak dasar dan prilakunya. Watak dan prilaku alamiah yang secara naluri biasa mereka lakukan. Gelar wanita shalihah, tak ubahnya seperti sebuah acara pelantikan, legitimasi atau wisuda yang menetapkan keputusan final, "wanita, dengan tingkat kerapuhan paling rendah. "

Oleh sebab itu, wanita shalihah adalah wanita yang memiliki kesempatan terbanyak untuk menjadi wanita paling bahagia. Allah berfirman :
"Sebab itu, wanita shalihah, ialah wanita yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karena Allah telah memelihara mereka. " (An-Nisa: 34)

Mereka memelihara diri, karena sadar, bahwa Allah telah memberikan pemeliharaan kepada mereka. Perwujudan rasa syukur dirinya adalah dengan memproses dirinya menjadi wanita yang shalihah.

Dimana tentunya berbuah manis berupa pencapaian nikmat kebahagiaan tertinggi. Setara dengan upaya berat yang selama ini telah mereka lakukan. Dengarkan dan camkan apa yang telah diungkapkan Asiyah, istri Fir’aun yang durjana. Dalam kehidupan secara lahir, penuh dengan penderitaan, wanita ini telah berhasil menunjukkan gelombang kebahagiaan yang bersinar di dalam jiwa nya. ,
" Ya Rabb-ku, Bangunkanlah untukku sebuah rumah disisi-Mu dalam surga nanti, dan selamatkanlah diriku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah diriku dari kaum yang zhalim. . " (At-Tahrim:11)

Sungguh indahnya, betul-betul sebuah ucapan indah yang teduh lagi penuh makna. Sama sekali bukanlah ucapan yang mencerminkan seorang wanita yang panik, khawatir, dan terlilit rasa takut yang mencekam. Padahal, pantas saja bila sewajarnya ia khawatir dan takut, karena yang dihadapinya adalah Fir’aun, suaminya, diktator nomor wahid sepanjang masa. Namun sekali lagi, dia tidak menunjukkan rasa gelisah perasaannya. Ia hanya berpulang kepada Allah dan meminta sebuah imbalan (upah) kecil dibandingkan dengan segala karunia yang akan Allah janjikan sebagai hiburannya di surga, yaitu sebuah rumah idaman. Sebuah permohonan yang muncul dari lubuk hati wanita paling bahagia di dunia!

Darimana kebahagiaannya itu muncul? tidak lain dari dasar keimanan yang mendalam. Dari sentuhan demi sentuhan amal shalih, yang mengikat kuat aktivitas hidupnya, yang telah menyatu dengan denyut nadi, hembusan nafas dan aliran darahnya. keberadaannya sebagai seorang wanita, tidak menghalangi dirinya dalam menembus batas-batas kewajaran, menyejajarkan diri dengan para tokoh besar. Bukan dalam panggung politik atau perebutan kursi kekuasaan. Bukan pula dalam ajang pengesahan diri melalui pengakuan orang banyak, namun dengan meludahi tembok syari’at. Tidak, sama sekali tidak. Kemuliaannya dia peroleh melalui rentetan amal ibadah yang benar dan ikhlas, sehingga mampu mendulang rahmat Allah dan ‘memberi izin’ turunnya rahmat Allah.
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim , laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah akan menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. " (Al Ahzab:35)

Itulah realitas kebahagiaan yang bersejarah. Kebahagiaan seorang wanita yang telah membuka mata kaum muslimin melalui keteguhan sikap, pendirian dan imannya yang terpintal kuat, dalam lubuk hatinya yang paling mendalam. Realitas itulah yang mengangkat Asiyah hingga pada tataran kesempurnaan yang mungkin hanya bisa diraih oleh para tokoh agung dari kalangan lelaki. Rasul ullah SAW bersabda ;
" Di antara kaum lelaki, banyak yang sempurna. Namun di antara kaum wanita yang sempurna, hanyalah Asiyah Fir’aun dan Maryam binti Imran. " (Riwayat Al Bukhari, muslim, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dan Ibnu Hibban)