Sabtu, 23 Oktober 2010

ISTRI BISA MEMBAWA DIRI DIHADAPAN SUAMI


Wanita yang akan mendapatkan tiket masuk ke surga yaitu wanita yang bisa membuat suami ridha kepadanya. Ridha, suka, cinta dan sayang tumpah pada diri istri seorang, dikarenakan pembawaannya yang senantiasa menyenangkan. Menyenangkan karena apa yang dibutuhkan suami semuanya ada disitu, sehingga suami tidak perlu membayangkan wanita lain, untuk mencari yang tidak ada pada istrinya. Memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Namun setidak-tidaknya, semua kebutuhan suami, lahir dan batin bisa ditemukan pada dirinya.

Diantaranya adalah; mempunyai kesadaran dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya dan senantiasa taat kepada suaminya. tanpa sedikitpun membantahnya, berbakti kepadanya, dan berusaha untuk mencari keridhaannya serta memberikan kebahagiaan pada dirinya, meskipun dia hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Ketaatan wanita kepada suaminya terletak setelah ketaatannya kepada Allah SWT. Bahkan ketaatan kepada Allah diukur seberapa jauh dia dapat menyelesaikan kewajibannya terhadap suami nya. Rasulullah SAW.bersabda:

“Sesungguhnya seorang isteri belum dikatakan menu naikan kewajibannya terhadap Allah sehingga menunai kan kewajibannya terhadap suaminya seluruh nya.Dan andaikata (suaminya) me merlukannya,dan dia diatas kendaraan tidak boleh meno laknya”.

Wanita yang merindukan surga-Nya, hendaknya tidak bermalas-malasan dalam mengurus dan menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, serta mengingat sejumlah wanita terhormat dalam sejarah Islam menjadi teladan dalam hal kesabaran, kebajikan, kedewasaan dan benar-benar mengabdi bagi suami dan rumah tangganya, meski pun mereka hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Dalam sebuah hadits diterangkan, bahwa siapa saja isteri yang dengan penuh keikhlasan dalam melaksanakan tugasnya sebagai istri dan beriman kepada Allah maka akan mem peroleh surga. Rasulullah saw bersabda:

”Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu,berpuasa dibulan Ramadhan,dan menjaga kema luannya dari pada (mengerjakan) perbuatan ha ram dan taat kepada suaminya,maka akan dipersilahkan,”Ma suklah kesurga dari pintu mana saja ya g kamu mau.”
(HR. Ahmad dan Thabrani).

Dalam Hadits yang lain diterangkan:
”Setiap istri yang mati diridhai oleh suaminya, maka ia akan masuk surga”.

Maksudnya, bahwa jika seorang istri yang mati dan ketika hidupnya tidak membuat hati suaminya itu kecewa, maka ketika mati itu akan memperoleh balasan surga. Tetapi bagi istri yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik berdasarkan ajaran Allah, maka akan memperoleh kehinaan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Siapa saja diantara istri yang durhaka terhadap sua minya,maka ia memperoleh kutukan dari Allah, dan Malaikat,dan segenap manusia.

Wanita Muslimah yang berada di bawah bimbingan Islam akan senantiasa mengetahui bahwa Islam yang memerikan pahala yang besar atas ketaatannya kepada suami ya dan memasukkan dirinya ke dalam surga.

Istri Tidak Merendahkan Suami


Wanita yang dirindukan surga selalu bersenang-senang degan kepandaian khusus yang memberinya pemahaman bahwa mengatur dan merendahkan suami setiap saat akan menanamkan duri dalam diri sang suami. Sebab,ia mengetahui bahwa jika ia melakukan hal tersebut, maka apa lagi yang dapat dilakukan oleh suaminya? Dan apa yang dapat dikerjakannya untuk kebaikan dan kemaslahatan mereka berdua? Mana kesempatan yang diberikan kepa da suaminya untuk me nuntutnya?

Dengan tegas dapat dikatakan, bahwa seorang suami tidaklah menginginkan istrinya menjadi penghalang dan melarangnya melakukan segala sesuatu. Seorang suami akan menghindari semuanya itu agar istrinya menjadi penyeimbang dan bukan mengatur dan mengendalikannya seakan-akan dirinya adalah pelindung suaminya.

Sebagai contoh, ketika ia merasakan bahwa suaminya menghendaki kesendirian, maka ia akan memberikan kesempatan kepada suaminya tanpa berusaha mengusiknya. Sebab, tidak jarang manusia mempunyai keinginan untuk menyendiri, meski hanya sebentar. Ada seorang bujangan, ketika ditanyakan kepadanya ihwal mengapa ia tidak segera menikah, ia menjawab:“Saya akan menikah sesegera mungkin begitu saya menemukan wanita yang mau memberi kan kepada saya kebaikan dan menghormati semua hak untuk menyendiri setiap kali saya menginginkannya”.

Tidak jarang seorang wanita sulit memahami mengapa suaminya menginginkan kesendirian! Kesalah pahaman ini akan segera berakhir jika ia mengetahui bahwa keinginan suaminya itu bukan berarti bahwa sang suami ingin benar-benar sendiri atau ingin lari darinya, tetapi berarti bahwa ia ingin melepaskan diri dari kekangan dunia luar dan tekanannya, yang diantaranya adalah kekangan dan tekanan dari istrinya sendiri. Dengan demikian, ia benar-benar menemukan jati dirinya dan memungkinkan dirinya mengumpulkan kembali kekuatan jiwa dan mentalnya yang jauh dari semua pengaruh luar.

Meskipun ada penafsiran psikologis tentang karakter beberapa kesempatan yang dikehendaki seorang suami untuk menyendiri, toh wanita yang senantiasa merindukan surga, ia akan selalu memberikan kesempatan kepada suaminya untuk merealisasikan apa yang diinginkannya dari kesendiriannya ini. Sebab, wanita yang pandai membawa diri dihadapan suami, bukan-lah wanita yang selalu mengatur dan merendahkannya seakan-akan ia adalah pelindung suami nya.

Wanita Tidak Melupakan Dirinya Sebagai Wanita


Sebagai seorang wanita yang merindukan surga-Nya, para wanita muslimah pasti akan senantiasa menjaga jati diri kewanitaannya. Mereka tetap tampil sebagai wanita yang anggun sesuai dengan kodrat kewanitaannya. Pantang melakukan hal-hal yang dapat merusak jati diri kewanitaannya.

Karena wanita yang shalihah dalam pandangan pria adalah wanita yang tidak lupa bahwa ia adalah seorang wanita. Secara fungsional, maksudnya kewanitaan berarti kelembutan, daya tarik dan keindahan. Sekarang ini ,kita sering menyaksikan seruan-seruan yang menyeleweng dan para penyerunya berkeyakinan bahwa daya tarik, kelembutan, dan kegenitan memperburuk kemandirian wanita, dan semuanya itu tidak memberikan manfaat, selain hanya berfungsi membangkitkan semangat superioritas dan tipu dayanya atas pria.

Adapun hal-hal yang dapat merusak jati diri kewanitaannya seseorang itu dan sekaligus dilarang dalam Islam :
Berpenampilan menyerupai Pria (Tomboi)
Berpakaian ala pria
Mempercantik diri dengan Merubah bentuk Aslinya

Tidak diragukan lagi bahwa pandangan semacam ini benar-benar salah dan bertentangan dengan logika sebagaimana diisyaratkan oleh para sosiolog dan psikolog. Dengan demikian, kewanitaan yang tersembunyi di balik kecantikan memiliki peranan yang sangat dominan dalam mempertahankan keseimbangan natural menjadi madu. Pada saat yang sama, lebah memindah kan sari bunga dari satu kelain bunga agar terjadi penyerbukan, pembuahan dan akhirnya jadilah kehidupan.

Sosok wanita sangat membutuhkan penampilan fisik. Ia juga mesti bertingkah laku wanita dan berusaha menampakkan kelembutan, kehalusan budi pekerti dan daya tariknya .Wanita seperti ini menunjukkan penghormatan pada kewanitaannya dan memperlihatkan keinginannya untuk menarik perhatian suaminya.

Kecantikan Istri Hanya untuk Suami


Al-Barquni mengatakan,
“Kecantikan seorang wanita dan keindahan dirinya adalah landasan kecenderungan laki-laki dan keterpika tannya. Pilar keindahan adalah kebersihan, maka seharusnya istri mewaspadai pandangan suaminya tertuju pada sesuatu yang menjijikkan dan memuakkan, baik itu berupa kotoran, kekusutan, bau busuk atau lainnya”.


Mungkin pertama kali yang menjadikan pria tertarik kepada wanita adalah kecantikan dan penampilannya yang manis. Tetapi sayangnya, sebagian wanita melupakan kenyataan ini, sehingga mereka mengabaikan dirinya sedikit demi sedikit. Akibatnya,sang suami melihatnya dirumah dengan penampilan yang tidak enak dipandang, dalam keadaan rambut acak-acakan, atau bersikap cuek, dan juga mencium “aroma dapur” dari badannya, selalu mengenakan pakaian yang digunakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tidak memperhatikan insting, etika,sisi-sisi psikologis, dan kecantikan .Bahkan mereka masih saja mengabaikan setelah dikaruniai beberapa orang anak, karena pada saat itu ia menyangka telah mengikat suaminya, dan meyakini bahwa suaminya tidak akan bisa lari darinya.

Ini adalah kesalahan fatal, karena bisa merusak penampilan yang telah digambarkan oleh seorang pria tentang wanita disaat menikahinya.Tidak diragukan lagi bahwa hi langnya kecantikan seorang istri dari pandangan suaminya akan mengakibatkan dampak yang sangat buruk. Misalnya, kita sering menemukan ada seorang wanita cantik yang diabaikan suaminya. Bahkan, sang suami lebih cenderung mencari wanita lain. Sementara itu, disisi lain kita menemukan wanita lain yang kurang begitu cantik tetapi dapat menarik hati dan perasaan suaminya dengan memelihara kelembutannya, menjaga kebersihan, perhiasan dan pakaiannya .Kehancuran mayoritas rumah tangga bisa di pastikan berawal dari permasalahan ini.

Oleh sebab itu,Tanggung jawab seorang wanita muslimah adalah menyediakan segala faktor ketenangan, kenyamanan, ketentraman, dan kasih sayang bagi suami, sementara tanggung jawab suami adalah berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, peralatan dan barang-barang yang diperlukan istrinya.

Sudah seharusnya seorang istri berhias berharum-haruman, dan mempercantik dirinya di rumah khusus, untuk suaminya saja, berapa banyak wanita yang tidak begitu cantik bisa memiliki hati dan perasaan suaminya dengan menjaga kebersihan, pakaian, keindahan penampilan dan tutur kata yang manis.

Seorang wanita Muslimah pasti ingin menjadi penghuni surga-Nya, dengan menyadari bahwa sesungguhnya keindahan merupakan ajakan yang kuat bagi rangsangan seksual laki-laki dan memenuhi keinginannya menjadi lebih baik untuk penampilan seorang wanita, serta akan lebih mengekalkan kasih dan sayang.Abul Al-Faraj berkata:

“Sesungguhnya istri akan mendapat perhatian suaminya setelah sempurna penampilan dan kecantikannya seharusnyalah istri membiasakan diri dalam hal menjaga kebersihan dan penampilan yang indah, memakai segala sesuatu yang menabah kecantikannya, baik itu perhiasan ataupun pakaian, bentuk-bentuk perhiasan ini harus disesuaikan dengan persetujuan dan yang disukai oleh suaminya. Hendaklah ia mewaspadai pandangan suaminya tertuju kepada sesuatu yang tidak di sukainya seperti kotoran, bau yang tidak enak,a tau perubahan yang dibenci pada dirinya. Bahaya yang muncul saat ia mengabaikan hal tersebut akan menimpa dirinya sendiri. Sangat ditakutkan apabila suaminya mengetahui peremehan tersebut, dan kemudian ia melayangkan pandangan pada wanita lain”.

Tujuan menyuruh kaum wanita mempercantik diri untuk suaminya bukanlah untuk menghabiskan waktu di depan cermin sambil mengagumi kecantikan dirinya, atau panjang rambutnya atau tinggi badannya. Sesungguhnya membanggakan diri sendiri merupakan tanda kelemahan akal seseorang, tujuan sebenarnya adalah membiasakan diri dalam kebersihan dan kerapian, hal itu termasuk menertibkan rambut, merapikan pakaian tanpa ada tanda-tanda di buat-buat atau terbebankan.

Alangkah mulianya seorang wanita ketika suaminya akan datang ,ia segera bersiap-siap untuk menemuinya dengan penampilan yang sebaik-baiknya mulai dari kebersihan pakaian, keceriaan wajah dan senyum simpulnya, karena istri manapun jika menyambut suaminya dengan penampilan begini pasti suaminya akan merasakan kehormatan dan kedudukan yang mulia.

Sejumlah ahli hikmah mengatakan,“Kehidupan yang panjang ini akan terasa pendek oleh istri yang ceria, berseri-seri, terpercaya,dan shalihah, sedangkan penderitaan banyak disebabkan oleh istri kasar yang tidak memberikan ketenangan jiwa saat bergaul dengannya, tidak memberikan keteduhan saat melihatnya”. Sebuah peribahasa mengatakan :

“Kasih sayang adalah badan; sedangkan wajahnya adalah muka yang berseri-seri”.
Merupakan kewajiban istri untuk memperindah diri bagi sang suami dengan membersihkan badan yang juga men cakup pakaian,karena tidak diragukan lagi bahwa istri ya ng mengabaikan keindahan dirinya berarti ia sedang beru saha untuk menjauhkan suaminya dengan tangannya sen diri dan bisa saja akhirnya suaminya terlempar dipangku an wanita lain.Hendaklah ia membersihkan diri sebelum kedatangan suaminya dari kesibukan kerja dan memakai pakaian yang pantas seakan-akan ia sedang menunggu pangeran yang tampan.

Istri Memahami Keinginan Suami dan Berusaha Menyesuaikan Diri Dengannya



Wanita yang ingin tampil sesempurna mungkin dihadapan suaminya haruslah bisa memahami suami dan berusaha menyesuaikan diri dengannya, sehingga dapat tercipta kebahagiaan keluarga, selalu bersenang-senang dengan gambaran realitas sejak awal kehidupan rumah tangganya dan menyadari bahwa kecocokan dan kerekatan dengan suami itu tidak akan terjadi secara drastis dan bersamaan, tetapi terbetik dalam pikirannya bahwa kecocokan perasaan harus-lah di mulai dari beberapa tahapan,entah membutuhkan waktu lama maupun relatif singkat dari “us aha dan kesalahan”.

Dan pelajaran yang bisa dipetik dari sini tidak berarti bahwa ia harus menjauhi setiap percobaan atau menghindari segala sesuatu yang dapat menyebabkannya berbuat salah, melainkan menyelami semua percobaan dan mengambil manfaat/ hikmah darinya serta tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukannya.

Sebelum ini, seorang Istri memiliki keinginan tulus untuk memahami keinginan suaminya, dan berusaha secara terus-menerus untuk merealisasikan kecocokan dan keharmonisan dengan suaminya sedikit demi sedikit, dibarengi dengan kesabaran, kelembutan, kehalusan budi pekerti dan ketekunan dalam menghindari berbagai sebab permusuhan, serta menjauhi sebab-sebab perselisihan, dan men ciptakan suasana yang sesuai dengan perkembangan semangat kasih sayang dan cinta kasih.

Hubungan suami istri tidak akan terjalin erat kecuali dengan menghormati ,memahami semua keinginan dan berusaha menyesuaikan diri dari masing-masing pihak.

Sulit bagi kita menggambarkan bahwa suami-istri akan benar-benar selaras dalam pemikiran, pendapat dan keinginannya. Yang demikian itu merupakan suatu hal yang tidak mudah terjadi dalam satu waktu.

Oleh karena itu, usaha saling mendekatkan dalam hal-hal di atas sangatlah penting. Sebab, melakukan dan mewujud kan keadaan di atas secara persis benar-benar tidak mudah. Jika keselarasan ini sulit direalisasikan, maka seorang wanita harus-lah memahami semua keinginan, perasaan dan berusaha menyesuaikan diri dengan suaminya dan juga sebaliknya. Sangat mustahil bila kerekatan dan keharmonisan dapat diraih tanpa kemauan dari pihak suami maupun istri untuk menghilangkan sebagian tingkah laku dan beberapa kebiasaannya yang lalu. Wanita yang bisa menciptakan keharmonisan keluarga harus memiliki kemampuan besar untuk melakukan hal ini agar ia dapat bersatu dengan suaminya dan sebaliknya. Jika ia bisa menjalankan itu semua Insya Allah Kunci masuk kesurgapun bisa ia peroleh dengan mudah. Amin!

Itulah beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh se orang wanita yang ingin memasuki surga Allah,sebagai bukti ketulusannya dalam berbakti kepada suami.

ISTRI BERUPAYA MENGENAL & MEMAHAMI SUAMI



Hendaknya seorang istri berupaya memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya. Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala). Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya memahami suaminya.

Berkata sang suami kepada temannya: “Selama dua puluh tahun hidup bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”
Maka berkata temannya dengan heran : “Bagaimana hal itu bisa terjadi.”


Berkata sang suami : “Pada malam pertama aku masuk menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan tanganku, maka ia berkata: ‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’ Lalu ia berkata: ‘Segala puji bagi Allah dan shalawat atas Rasulullah...Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”

Berkata sang suami kepada temannya: “Demi Allah, ia mengharuskan aku untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut. Maka aku katakan: ‘Segala puji bagi Allah dan aku mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluar ganya. Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya) jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu. Aku menyukai ini dan itu, dan aku benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’ Istri berkata: ‘Apakah engkau suka bila aku mengunjungi keluargaku?’ Aku menjawab: ‘Aku tidak suka kerabat istriku bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering berkunjung). Ia berkata lagi: ‘Siapa di antara tetanggamu yang engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’ Aku katakan: ‘Bani Fulan adalah kaum yang shaleh dan Bani Fulan adalah kaum yang jelek.’”

Berkata sang suami kepada temannya: “Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat kecuali apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku .Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku:‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’”
Aku jawab: “Ia sebaik-baik istri.”
Ibu mertuaku berkata: “Wahai Abu Umayyah.. Demi Allah, tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya sesuai dengan kehendakmu.”

Berkata sang suami: “Maka ia tinggal bersamaku selama dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali sekali ,itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”
Alangkah bahagia kehidupannya…! Demi Allah, aku tidak tahu apakah kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya? Ataukah tertuju pada sang ibu dan pendidikan yang diberikan untuk putrinya? Ataukah terhadap sang suami dan hikmah yang dimilikinya? Itu adalah keutamaan Allah yang diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki