Kamis, 13 Januari 2011

Benturan-Benturan Dalam Rumah Tangga


Dalam kehidupan berumah tangga, sering terjadi benturan-benturan yang disebabkan oleh ketidak mampuan sang istri bergaul dengan keluarga sang suami. Mungkin salah satu dari mereka kurang bisa menggunakan kata-kata yang baik, atau menampakkan tingkah laku yang kurang baik. Bila seorang istri bersikap buruk terhadap keluarga suami, lebih-lebih terhadap kedua orang tua dan saudara-saudara iparnya, maka akan muncul fitnah dan petaka dalam rumah tangga. Boleh jadi kehancuran menimpa keluarganya, baik didunia maupun diakhirat. Sikap buruk yang di miliki sang istri, dapat membuat bingung sang suami dalam menghadapi sebuah dilema dalam keluarga. Bila dia bersikap baik terhadap kedua orang tua dan saudara-saudaranya, istri tentu tidak bisa menerima. Dan bila terlalu membela istri, dimata keluarga dianggap dan dinilai sebagai lelaki tak punya ketegasan, hingga berani mengorban kan keluarga demi sang istri.
.

HUTANG BAPA KEPADA ANAK

Soalan; Salam, seorang bapa semasa hidupnya telah berhutang dengan salah seorang anaknya. Apabila meninggal dunia si bapa tidak meninggalkan apa-apa harta untuk dibayar hutang tersebut. Si anak itu telah menuntut hutang tersebut daripada adik, abang dan kakak yang sebapa dengan nya. Adakah wajib anak-anak yang lain membayar hutang tersebut?

Jawapan;

Bapa yang berhutang dari anak, ia wajib membayarnya kecuali jika si anak menggugurkan hutang itu darinya. Jika ia meninggal, hutang itu hendaklah ditolak dari harta peninggalannya sebelum diagih kepada ahli-ahli warisnya. Jika ia tidak meninggalkan harta, adalah amat baik jika anak-anak dapat mengambil alih tanggungjawab membayar hutangnya itu supaya gugur tanggungan si mati dan perbuatan mereka itu termasuk dalam pengertian berbuat baik dan bersyukur (berterima kasih) kepada ibu-bapa. Namun jika mereka enggan, tidaklah berdosa kerana Syariat tidak mewajibkan ahli-ahli waris (termasuk anak-anak) untuk menanggung hutang orang yang mewariskan harta kepada mereka (yakni si mati). Kata ulamak; "Sebagaimana ahli-ahli waris tidak wajib menanggung hutang seseseorang ketika ia masih hidup, begitu juga mereka tidak wajib menanggungnya selepas ia mati" (Fiqh al-Mu'amalaat al-Maliyah, Syeikh Hasan Ayyub).

Dalam kes di atas, si anak yang memberi hutang itu boleh memohon ihsan dari adik, abang atau kakaknya untuk mengambil alih membayar hutang si mati kepadanya. Namun ia tidak berhak memaksa mereka kerana Syariat tidak mewajibkan mereka membayarnya. Dan ada baik juga ia sendiri berkorban menggugurkan hutang itu dari si mati dan pengorbanan itu adalah tanda kebaikan dan terima kasihnya kepada bapa yang telahpun meninggal.

Wallahu a'lam.