Sabtu, 11 Juni 2011

Berkah Sedekah Buah Delima

Sahabat Ali bin Abi Thalib sangat dikenal sebagai ahli sedekah.
Pada suatu hari ia pernah memberi setengah buah delima kepada orang miskin.
Tidak lama kemudian Allah SWT mengganti sedekah itu menjadi sepuluh kali lipat.


Dikisahkan Ka'ab bin Akhbar
Ketika Fatimah binti Rasulullah SAW sedang sakit, ia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.
"Wahai istriku, engkau ingin buah apa?" tanya Ali dengan penuh kasih sayang.
"Suamiku, aku ingin buah delima," jawab Fatimah.

Ali terdiam sejenak, sebab ia merasa tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli buah delima. Ali ini memang menantu dari Rasulullah, namun kehidupannya sangat sederhana.
Kemudian Ali berusaha mencari pinjaman uang satu dirham dan setelah mendapatkan pinjaman, ia pergi ke pasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.


Bersedekah
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya.
"Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?" tanya Ali.
"Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima," jawab orang sakit itu.

Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati.
"Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah," katanya dalam hati.
Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT,
"Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya."
(QS. Ad Dhuha:10).

Kemudia Ali memutuskan untuk membelah buah delima itu menjadi dua bagian. Setengahnya untuk istrinya dan setengahnya lagi untuk orang sakit itu.
Sesampainya di rumah, ia menceritakan peristiwa itu kepada istrinya. Setelah mendengar penuturan suaminya, Fatimah merangkul serta mendekap suaminya.
"Demi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang tua itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu," kata Fatimah.

Mendapat Ganti
Dengan wajah yang cerah, Ali merasa sangat gembira dengan penuturan istrinya.
Dan tak lama kemudian, datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu.
"Siapakah Tuan?" tanya Ali.
"Aku Salman Al Farisi," jawab orang yang mengetuk pintu itu.
Setelah dibuka, Ali melihat Salman membawa sebuah nampan tertutup dan diletakkan di depan Ali.

Dari manakah nampan ini, wahai Salamn?" tanya Ali lagi.
"Dari Allah SWT untukmu melalui perantaraan Rasulullah SAW," jawab Salman.
Setelah penutup nampan tersebut dibuka, terlihat di dalamnya sembilan biji buah delima. Tetapi Ali langsung memprotes.
"Hai Salman, jika ini memang untukku, pasti jumlahnya sepuluh," protes Ali.


Kemudian Ali membacakan firman Allah SWT,
"Barang siapa berbuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali lipat amalnya (balasnya)."
(QS. Al An'am).

Salman pun langsung tertawa sambil mengembalikan sebuah delima yang masih di tangannya.
"Wahai Ali, Demi Allah, sandiwaraku ini hanya sekedar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang engkau bacakan tadi," ucap Salman yang lantas mohon pamit pulang.

Begitulah, janji Allah selalu akan ditepati.

Kisah 70 Orang Mati Hidup Lagi

Kisah Islamiah kali ini akan menceritakan kisah tentang 70 orang yang sudah mati, namun kemudian hidup lagi. Kisah ini diambil dari ayat Al Qur'an Surat Al A'raf ayat 149, 151, 154, 155 dan Surat Al Baqarah ayat 55, 56, 63 dan 64.

Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Musa a.s.
Kala itu ada 70 umatnya mati hangus karena tersambar halilintar. Kemudian atas doa Nabi Musa a.s serta izin dari Allah SWT, mereka pun hidup lagi dan menyatakan tobat.

Setelah lolos dari kejaran Raja Fir'aun dengan membelah lautan, umat Nabi Musa a.s menjadi kaum yang taat dan ahli ibadah. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
Petaka terjadi ketika Nabi Musa a.s pergi ke bukit Thursina, umatnya berulah dan murtad, padahal kepergian Nabi Musa a.s itu untuk menerima wahyu dari Allah SWT berupa kitab Taurat selama 40 malam.
Bahkan sebelum Nabi Musa pergi, ia telah menitipkan umatnya kepada saudaranya Nabi Harun a.s.

Kepergian Nabi Musa itu digunakan berbuat jahat oleh Samiri. Ia menyebarkan benih syirik dengan membuat patung anak lembu untuk disembah sebagai Tuhan. Patung itu dibuatnya dari emas dan untuk meyakinkannya, Samiri memasukkan tanah bekas Malaikat Jibril ke dalam perut patung tersebut.
Ajaib, patung anak lembu tersebut bisa bersuara.

Murtad
Tanah bekas Malaikat Jibril itu diambil Samiri ketika melintasi lautan yang terbelah. Sebagaimana diketahui, bahwa meskipun lautan sudah menjadi jalan, rombongan kuda jantan umat Nabi Musa tidak mau melintasi laut tersebut. Saat itulah Malaikat Jibril turun ke bumi dan mengendarai kuda betina.
Melihat kuda betina masuk laut, maka kuda jantan pun berusaha mengejar dari belakang, sehingga sampailah ke seberang dengan selamat. Bekas debu kuda Jibril inilah yang diambil oleh bangsa Samiri dan dimasukkan ke dalam patung anak lembu.




Pada hari yang ditunggu, Nabi Musa pun kembali setelah selesai bermunajat. Nabi Musa sangat marah tatkala melihat kaumnya sedang berpesta mengelilingi anak patung lembu emas, menyembahnya dan memuji-mujinya.

"Hai Samiri, apakah yang mendorongmu untuk menyesatkan kaumku, sehingga mereka kembali murtad menyembah patung yang engkau buat dari emas itu. Akibat perbuatanmu itu, engkau harus dikucilkan.
Ini adalah ganjaranmu di dunia, sedang di akhirat, nerakalah tempatmu, dan Tuhanmu yang engkau buat ini akan kami bakar dan campakkan ke dalam laut," ujar Nabi Musa.

Kemudian Nabi Musa menasehati kaumnya. Akan tetapi kaumnya bukannya bertobat, kaum tersebut justru memperlihatkan kebodohannya.
Mereka terberdaya oleh patung anak lembu yang bisa bersuara.
"Sesungguhnya kamu telah berbuat dosa besar dan menyia-nyiakan dirimu sendiri, maka bertobatlah kamu kepada Allah," ucap Nabi Musa a.s.


Bertobat.
Allah kemudian memerintahkan kepada Nabi Musa agar membawa sekelompok dari kaumnya untuk meminta ampun atas dosa mereka. Maka dipilihlah 70 orang dari kaumnya untuk pergi bersama ke Thursina. Selama bepergian itu, mereka diperintahkan untuk berpuasa, menyucikan diri.

Setiba mereka di Thursina, turunlah awan yang tebal menelimuti seluruh bukit itu,kemudian masuklah Nabi Musa diikuti oelh para pengikutnya ke dalam awan gelap itu dan segera mereka bersujud.
Dalam keadaan bersujud tersebut, tiba-tiba terdengarlah percakapan Nabi Musa dan Allah SWT. Pada saat itulah, timbul dalam hati mereka untuk melihat zat Allah dengan mata kepala mereka sendiri.

"Kami tidak akan beriman kepdamu sebelum kami melihat Allah dengan terang," ucap salah seorang kaumnya.
Sebagai jawaban atas keinginan mereka yang menunjukkan kesombongan itu, seketika itu juga Allah mengirimkan halilintar yang menyambar dan merenggut nyawa mereka.
Nabi Musa merasa sedih melihat nasib yang menimpa kelompok 70 orang itu dan ia memohon kepada Allah agar diampuni dosa mereka dan dihidupkan kembali.

Allah SWT mengabulkan doa Nabi Musa, dan Allah menghidupkan kembali kelompok 70 orang. Ketika terbangun, mereka seakan-akan seperti orang yang baru sadar dari pingsannya.
Kemudian pada kesempatan itu pula, Nabi Musa membaiat kaumnya untuk berpegang teguh kepada kitab Taurat sebagi pedoman hidup.
Demikian kira-kira kisahnya, Wallahu A'lam.

MEMBINA PREMIS DI ATAS TANAH ORANG LAIN

Soalan; Assalammualaikum. Saya ada kemuskilan, bapa saudara saya telah mendirikan rumah di atas sebidang tanah milik aruah nenek saya atas kebenaran secara lisan oleh aruah nenek. Sebelum aruah nenek meninggal dia telah menukar hak milik tanah tersebut ke atas nama bapa saya. Anak bapa saudara saya juga telah mendirikan bengkel membaiki motosikal di atas tanah tersebut tanpa sebarang kebenaran daripada bapa saya sebagai pemilik tanah. Masalahnya sekarang bapa saya ingin menjual tanah tersebut memandangkan tanah tersebut tidak diusahakan dan bapa memerlukan wang bagi menyara anak-anak yang masih belajar dan dirinya dan emak yang tidak berapa sihat. Malangnya bapa saudara dan anak-anaknya telah melemparkan kata-kata yang kesat kepada bapa saya dan masih berpegang kepada kata-kata aruah nenek yang membenarkan beliau membina rumah dan tinggal di atas tanah tersebut biarpun nenek telah tiada pada mereka itu adalah tanah pusaka dan bapa tidak berhak meminta mereka keluar biarpun bapa telah mengatakan beliau akan memberikan sejumlah wang atas ihklas beliau tetapi bapa saudara telah berkeras dan meminta pampasan berlebihan yang boleh dikirakan separuh daripada jualan tanah tersebut. Tanpa pampasan sebanyak yang dipohon mereka tidak akan keluar daripada rumah dan bengkel yang telah didirikan. Soalannya;
- Apakah bapa saya berhak untuk tidak keluar daripada tanah tersebut dan meminta sejumlah pampasan yang tinggi.
- Adakah bapa saya berhak untuk tidak memberikan sebarang pampasan
- Apakah hukum menjalankan perniagaan di atas milik orang tanpa kebenaran dan memakan duit hasil perniagaan tersebut.
                
Jawapan;

1. Selesaikanlah masalah tersebut dengan baik tanpa menjejaskan tali persaudaraan (silaturrahmi). Menjaga tali persaudaraan terutamanya antara saudara yang ada pertalian darah amat-amat dituntut oleh Syariat Islam.

2. Penyelesaian secara sepakat dan saling bertolak ansur adalah yang terbaik. Jika tidak dapat dilakukan, maka penyelesaiannya mengikut hukum Fiqh adalah seperti berikut;

A) Rumah bapa saudara; oleh kerana ia membinanya dengan kebenaran pemilik asal (nenek saudara), apabila tanah itu berpindah milik, pemilik baru perlulah membayar nilai rumah di atas tanah tersebut (dengan harga semasa) jika ia ingin mengambil kembali tanah tersebut. Ini kerana rumah itu dibina dengan kebenaran dari pemilik tanah yang asal.

B) Bengkel anak saudara; oleh kerana bengkel itu dibina tanpa kebenaran pemilik tanah, pemilik tanah berhak merobohnya tanpa sebarang pampasan. Ini kerana ia membina bangunan di atas tanah orang lain tanpa kebenarannya, maka itu termasuk dalam menceroboh dan merampas hak orang lain. Sabda Nabi; "Sesiapa menghidupkan tanah mati (yakni tanah yang tidak berpemilik) tanah itu miliknya. Tidak ada sebarang hak bagi orang yang membina/menanam secara zalim (di atas tanah orang lain)" (HR Imam at-Tirmizi dari Said bin Zaid. Kitab al-Ahkam 'an Rasulillah, bab Ma Zukira Fi Ihya' Ardhi al-Mawat, no. 1378. Turut diriwayatkan oleh Abi Daud dari 'Urwah yang meriwayatkan dari bapanya. Lihat; Sunan Abi Daud, kitab al-Kharaj wa al-Imarah wa al-Fai', bab Fi Ihya' al-Mawat, no. 3073).

Berkata Imam al-Khattabi; "Maksud hadis ini ialah seorang lelaki menanam pokok di atas tanah yang bukan tanahnya tanpa keizinan tuan tanah atau ia membina suatu binaan di atas tanah orang lain tanpa izin tuannya, maka ia diperintahkan supaya mencabutnya kecualilah jika tuan tanah meredhainya, maka dibiarkan" ('Aunul-Ma'bud, Syarah Sunan Abi Daud).       

C) Perniagaan di atas tanah orang lain; jika perniagaan yang dijalankan adalah halal (yakni menjual produk atau perkhidmatan yang halal) pendapatan yang terhasil darinya juga halal, namun ia berdosa kerana menjalankan perniagaan di atas tanah orang lain tanpa keizinanannya. Wajib ia memohon ampun kepada Allah dan menyerahkan harta yang bukan haknya kepada pemiliknya atau memohon keizinannya untuk terus berniaga di situ. Tuan tanah berhak mengadu kepada pihak berkuasa untuk menuntut dikembalikan haknya dan bayaran sewa dari tanah tersebut sepanjang ia dicerobohi.  

Wallahu a'lam.

Rujukan;

1. Tuhfah al-Ahwazi (Syarah Sunan at-Tirmizi), Kitab al-Ahkam 'an Rasulillah, bab Ma Zukira Fi Ihya' Ardhi al-Mawat, no. 1378. 
2. Aunul-Ma'bud (Syarah Sunan Abi Daud), kitab al-Kharaj wa al-Imarah wa al-Fai', bab Fi Ihya' al-Mawat, no. 3073.