Jumat, 17 Juni 2011

Dialog Raja dan Malaikat Maut

Sahabat Yazid Arruqasyu meriwayatkan, pada masa Bani Israil ada seorang penguasa zalim.
Dalam berkuasa, raja tersebut menindas rakyat dan tidak perbah berbuat kebajikan. Pada suatu hari raja tersebut duduk di singgasananya dan tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki masuk melalui pintu istana.

Orang asing itu bertampang keji, berbadan besar dan menakutkan.
Raja sangat ketakutan dengan kehadirannya, dia khawatir laki-laki itu akan menyerangnya. Wajahnya pucat pasi dan bergetar,
"Siapakah engkau ini? Siapa yangtelah menyuruhmu masuk ke istanaku?" tanya raja ketakutan.

"Pemilik rumah ini yang menyuruhku ke sini. Ketahuilah bahwa tak ada dinding yang dapat menghalangiku, dan aku tidak memerlukan izin untuk masuk ke manapun," kata laki-laki asing itu dengan suara agak kasar.

"Apakah engkau tidak takut dengan para sultan di kerajaanku ini?" tanya raja dengan gemetar.
"Aku tidak takut oleh kekuasaan para sultan. Dan ketahuilah, tidak ada seorangpun yang dpat lari dari jangkauanku," kata laki-laki itu dengan bengisnya.



MALAIKAT MAUT DATANG
Setelah mendengar perkataan orang itu, wajah raja menjadi pusat pasi dan badannya menggigil, ia amat ketakutan dengan situasi ini.
"Apakah engkau Malaikat Maut?" tanya raja menebak.
"Benar, akulah Malaikat Maut yang diutus untuk mencabut nyawamu," kata malaikat maut tanpa tersenyum sedikitpun.
"Aku bersumpah demi Allah, berilah aku penangguhan satu hari saja agar dapat bertobat dari segala dosaku. Aku akan memohon keringanan dari Tuhanku. Aku akan menginfakkan harta benda yang aku miliki, hingga tak terbebani oleh azab akibat harta itu di akhirat kelak," pinta raja.

"Bagaimana aku dapat menangguhkan, padahal umurmu sudah habis dan waktu sudah ditetapkan tertulis," kata Malaikat Maut.
"Aku mohon tangguhkanlah sesaat saja," rayu raja sekali lagi.

"Sesungguhnya jangka waktu itu telah diberikan, tetapi engkau lalai dan menyia-nyiakannya. Jatah nafasmu sudah habis, tidak tersisa satu nafaspun untukmu," ujar Malaikat Mautyang mendekat seolah henadak mencabut nyawa raja.

MATI BELUM BERTOBAT
Raja semakin ketakutan dengan kata-kata Malaikat Maut itu. Namun ia tetap bersikeras ingin meminta penangguhan kematian.
"Jika aku mati sekarang, siapa yang akan menyertaiku di alam kubur?" tanya raja zalim itu.
"Tidak ada yang menyertaimu kecuali amalmu," jawab Malaikat Maut.
"Aku tidak mempunyai amal kebaikan. Selama ini aku lalai kepada Allah SWT," jelas raja zalim itu.

"Jika demikian, neraka dan murka Allah adalah tempat yang layak untukmu," tegas Malaikat Maut.
Kemudian Malaikat Maut mencabut nyawanya, sehingga raja itu terjatuh dari singgasananya. Dan sang raja akhirnya mati sebelum bertobat.

Datangnya maut tidak dapat ditunda sedetik pun, apapun jabatan seseorang. Permintaan penangguhan ditolak mentah-mentah oleh Malaikat Maut yang langsung mencabut nyawanya.

Mimpi Neraka

Kisah Islamiah mencoba menceritakan tentang mimpi neraka yang dialami oleh sahabat Rasulullah SAW.
Setelah mimpi masuk neraka dan ditolong oleh Nabi Muhammad SAW, Khalid bin Sa'id langsung bersyahadat, langsung bertobat dan mengimani agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Khalid bin Sa'id bin Ash adalah salah satu sahabat Nabi SAW yang dilahirkan dari keluarga yang kaya raya. Keluarganya tergolong kepala suku Quraisy yang terkemuka dan memegang pimpinan. Memang sebenarnya dalam hati nuraninya, ia mengaku bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW itu adalah benar dan yang diterima Rasulullah SAW do Gua Hira' itu telah membuat hatinya tertarik.

"Sebetulnya aku sangat tertarik dengan agama yang dibawa Muhammad, tapi aku belum berani dan belum memungkinkan ikut agama beliau," katanya dalam hati.

Orang-orang yang memandang Khalid waktu itu,melihatnya sebagai seorang pemuda yang bersikap tenang, pendiam tak banyak bicara, tapi sebenarnya pada batin dan dalam lubk hatinya bergelora dengan hebatnya gerakan dan kegembiraan.
Di dalam hantinya menggelegar bunyi gendang yang ditabuh,nyanyi-nyanyian yang memanjatkan doa serta lagu-lagu pujian yang mengagungkan Tuhan.


API NERAKA
Pemuda ini menyimpan kegembiraan di dalam dadanya tapi ditutupinya rapat-rapat, karena seandainya diketahui oleh bapaknya bahwa batinnya sedang bersuka cita dengan dakwah Rasulullah SAW, maka dia akan dibunuh dan tubuhnya akan dipersembahkan sebagi korban untuk Tuhan-Tuhan mereka.

Tetapi jiwa dan kesadaran batin seseorang, bila ia telah penuh sesak dengan segala suatu masalah dan meluap sampai ke permukaan, maka limpahannya tak dapat dibendung lagi.
Pada suatu hari, Khalid bin Sa'id bermimpi,ia berdiri di bibir nyala api yang besar (neraka), sedang ayahnya dari belakang hendak mendorongnya dengan kedua tangannya ke arah api itu, malah ia bermaksud hendak melemparkan ke dalam nayala api itu.

Kemudian dilihatnya Rasulullah SAW datang ke arahnya, lalu menariknya ke belakang dengan tangan kanannya yang penuh berkah, hingga tersingkirlah ia dari bahaya jilatan api.
Ia tersadar dari mimpinya,
"Alhamdulillah, aku masih hidup. Berarti aku tadi barusan bermimpi," katanya dalam hati.



BERIMAN
Kemudian Khalid segera pergi ke rumah Abu Bakar, lalu menceritakan mimpinya itu. mimpi itu sepertinya tidak memerlukan tabir lagi.
"Sesungguhnya yang kuinginkan untukmu, selain dari kebaikan. Nah, dialah utusan Allah. Ikutilah dia karena sesungguhnya Islam akan menghindarkanmu dari api neraka," kata Abu Bakar.
"Terima kasih atas sarannya. Sekarang juga aku akan mencari Muhammad," tutur Khalid.

Khalid pun akhirnya pergi mencari Rasulullah SAW, dan di suatu tempat, dia bertemu dengan beliau. Lalu ia menumpahkan isi hatinya dan menanyakan tentang dakwahnya.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda,
"Hendaknya engkau beriman kepada Allah Yang Maha Esa semata, jangan mempersekutukannya dengan sesuatu pun. Dan engkau beriman kepada Muhammad sebagai hama-Nya dan Rasul-Nya.
Dan engkau tinggalkan menyembah berhala yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat melihat, tidak memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat."

Khalid lalu mengulurkan tangan kanannya disambut oleh tangan kanan Rasulullah SAW dengan penuh kemesraan dan Khalid pun mengucapkan,
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW itu utusan Allah."

Insafnya Perampok

Kisah ini terjadi padapimpinan perampok, sebut saja namanya Qais bin Malik saat hendak mengambil paksa barang-barang milik Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani. Ia mengurungkan niatnya sekaligus tobat setelah terpesona dengan kejujuran calon korbannya.

Qais bin Malik dikenal sebagai pimpinan perampok yang kejam dan tak kenal kompromi. Ia merajai hampir seluruh wilayah yang menuju ke Baghdad, pusat peradaban Islam waktu itu.
Sudah banyak musyafir dan para kafilah yang dirampas hartanya tanpa bisa melawan sedikitpun karena Qais juga memiliki anak buah yang banyak.

Namun pada suatu hari Qais mengalami kejanggalan dalam menjalankan aksi jahatnya. Saat itu ia hendak merampok semua barang bawaan para kafilah yang di dalamnya terdapat Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani berusia kala itu masih 18 tahun, ia berniat menimba ilmu agama di negeri Baghdad. Dalam perjalanan, para khalifah itu diserang oleh 60 orang perampok.
Seluruh harta kafilah tersebut dirampasnya tetapi anehnya tak ada satu perampok pun yang mengusik Abdul Qadir.
Nampaknya mereka tertipu dengan pakaian lusuh yang dikenakan ulama sufi itu dan mengira Syeikh Abdul Qadir tak punya harta berharga.

Perampok Tobat.
Namun demikian, akhirnya ada seorang perampok yang menghampiri Syeikh Abdul Qadir.
"Berilah kepada kami apa saja yang kamu bawa," kata Qais sambil memegang pedangnya.
"Aku hanya memiliki 40 dirham yang tersimpan di dalam pakaianku," katanya jujur.

Mendapat penjelasan pasrah, seolah tanpa perlawanan itu, Qais justru menjadi heran. Selama bertahun-tahun merampok, ia tak menemukan orang sejujur yang ia temui itu.
Biasanya calon korbannya akan mengaku tidak punya barang berharga atau berusaha kabur.



Untuk membuktikan perkataan calon korbannya itu, Qais pun menyuruh anak buahnya untuk memotong baju yang dikenakan Syeikh Abdul Qadir dan ditemukanlah 40 dirham itu.
"Wahai pemuda, mengapa engkau begitu mudahnya menyebut barang berhargamu, padahal engkau tahu jika kami hendak merampasnya," tanya perampok itu.
"Aku telah berjanji kepada ibuku akan meninggalkan ucapan bohong dan selalu berkata jujur, kapanpun dan dimanapun," jawab Syeikh Abdul Qadir.

Begitu mendengar penjelasan itu, kepala perampok itu langsung menangis dan menginsyafi kesalahannya. Ia bersujud dan bersimpuh di hadapan Syeikh Abdul Qadir AL-Jaelani.
Ketua penyamun bersumpah tidak akan merampok lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Qadir dan diikuti oleh semua pengikutnya.


Pesan Ibu.
Sebelum berangkat merantau, Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani memnag meminta izin kepada ibunya. Niat yang mulia itu pun direstui oleh ibunya. Ibunya tak bisa menghalang-halangi cita-cita murni anaknya meskipun sebenarnya ia berat melepas anaknya berjalan sendirian melewati bebatuan yang tajam dan terik matahariyang panas.

"Ibu tidak akan menahan keinginanmu, tetapi sebelum berangkat, berjanjilah sesuatu kepada ibu," kata Ibunda Syekh Abdul Qadir.
"Apakah itu wahai ibu," tanya Syeikh Abdul Qadir.
"Janganlah kamu berkata bohong sedikitpun, pegang penuh kejujuran," kata ibu.

Berkat kejujuran Syeikh Abdul Qadir itu, Qais pun bertaubat dan ia mendalami ilmu agama Islam dengan berguru kepada Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani.