Minggu, 19 Juni 2011

Sembuh dari Buta Berkat Wudhu

Kisah Islamiah kali ini akan menceritakan tentang sesuatu yang pertama kali dimuat di blog ini, yaitu tentang kisah dari beberapa orang sufi, wali Allah, yang memiliki banyak karomah.

Dan kali ini akan bercerita tentang kisahnya seorang ulama sufi dan wali Allah yang bernama Imam Junaid Al- Baghdadi. Beliau ini bisa sembuh dari kebutaan setelah berwudhu.


BERIKUT KISAHNYA...
Selain dikenal sebagai ulama sufi, Imam Junaid Al Baghdadi termasuk orang pertama yang menyusun dan membahas tentang ilmu tasawuf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang menerangkan tentang ilmu tasawuf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi.

Pada mulanya Imam Junaid merupakan seorang ahli perniagaan yang sukses. Ia memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Bgahdad yang ramai pelanggannya. Sebagi seorang guru sufi, ia tidak disibukkan dengan mengurus perniagaan itu, seperti peniaga lain yang yang kaya raya di Baghdad.

Ia lebih mengutamakan menghabiskan waktunya untuk mengisi pengajian bagi para muridnya. Setiap malam Imam Junaid berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan tausiyah. Penduduk Baghdad banyak yang berdatangan ke masjid untuk mendengar tausiyahnya sehingga masjid penuh sesak.

RIDHA KEPADA ALLAH SWT.
Imam Junaid hidup dalam keadaan zuhud. Ia ridha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya. Termasuk kala ia mendapatkan cobaan berupa kebutaan di kedua matanya.

Pada suatu hari Imam Junaid Al-Bgahdadi mengalami sakit pada kedua matanya. Setelah sekian lama mencoba pengobatan, bertemulah ia pada seorang tabib yang beragama Nasrani.
"Sakit mata ini bisa sembuh, asal tidak sampai terkena air, jadi jangan dulu membasuh matamu dengan air," pesan tabib itu.

Mendapat penjelasan itu, Imam Junaid mengambil kesimpulan bahwa sang tabib tengah berupaya mencegahnya untuk beribadah kepada Allah SWT.
"Jika mataku tak terkena air, maka bagaimana aku bisa berwudhu untuk menghadap Rabb-ku," katanya dalam hati.

Akhirnya, Imam Junaid pulang ke rumah, dan dia langsung menuju tempat air dan berwudhu dengan sempurna. Kemudian ia menjalankan shalat sunnah dua rakaat lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur untu beristirahat.


SEMBUH DARI BUTA.
Subhanallah...ketika terbangun, matanya telah sembuh seperti sedia kala. Saat itu juga ada suara yang membisikkan kepada Imam Junaid.
"Imam Junaid sembuh karena memilih ridha Allah dibandingkan dengan matanya sendiri," ujar suara gaib itu.

Keesokan harinya, tabib Nasrani mendengar kabar kesembuhan kebutaan mata Imam Junaid. Dia pun menanyakan kepada Imam Junaid perihal kesembuhannya. Akan tetapi sang tabib terkejut setengah mati, karena obat sakit mata Imam Junaid bukannya menghindari air seperti yang dia sarankan, tapi justru berwudhu yang artinya membasuh wajah beserta mata dengan air.

Karena takjub dengan hal itu, sang tabib pun menyatakan keimanannya, berpindah dari agama Nasrani ke agama Islam.
"Penyakit ini dari Allah, bukan dari makhluk, maka obatnya pun dari-Nya," kata Imam Junaid kepada tabib Nasrani itu.

Rasulullah Bisa Menghilang

Kisah Islamiah selalu hadir mengisi ruang hati setiap pembaca blog kisah islami teladan ini. Dan kali ada kisah yang menarik lain untuk disimak, dimana Nabi kita, Rasulullah SAW tiba-tiba saja menghilang saat hendak dibunuh oleh orang Quraisy.

Rasulullah SAW senantiasa dilindungi oleh Allah SWT melalu banyak mukjizat dan salah satunya Beliau bisa menghilang lenyap dari pandangan.


BERIKUT KISAHNYA...
Memasuki tahun ke sembilan hijriyah, keagungan agama Islam telah terdengar ke seluruh pelosok negeri. Rentetan kemenangan dalam setiap peperangan membuat kaum muslimin begitu disegani saat itu.
Oleh karena itu, tahun ke 9 Hijriyah itu sering disebut sebagai "Tahun Utusan" atau "Amul Wufud".

Keadaan yang berada di puncak telah membuat para pemimpin negara tetangga ramai mengirimkan utusannya untuk mendengarkan ajaran yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Namun demikian diantara mereka ada yang berniat jahat dengan bermaksud membunuh Rasulullah SAW.
Salah satunya adalah Amir bin Thufail yang bersekongkol bersama temannya yang bernama Ibad bin Qays.




SIASAT BURUK AMIR dan IBAD.
Amir bin Thufail ini merupakan utusan dari Bani Amir yang telah lama tidak suka dengan ajaran Rasulullah SAW. Rencana busuk tersebut dilaksanakan keduanya dalam sebuah majelis yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Kala itu Nabi Muhammad SAW tengah membicarakan ajaran Islam yang RAHMATAN LIL ALAMIN.

Pada saat yang telah ditentukan, Amir memberi sebuah kode kepada Ibad untuk merampungkan misinya. Ibad pun mulai bergerak memutar menuju ke bagian belakang Rasulullah SAW.

Ketika berada tepat di belakang Rasulullah SAW, Ibad mengeluarkan pedang tajam dari sarung pedangnya dan siap membacokkan ke tubuh Rasulullah SAW. Namun seketika itu juga Ibad hanya diam tercengang.
Ia nampak bingung dengan pandangan mata yang penuh ketidakpercayaan.

Beberapa detik sebelumnya, ia melihat tubuh Rasulullah SAW, namun di detik-detik berikutnya tubuh Rasulullah SAW itu pun menghilang. Di sudut lain, Amir juga bingung dengan sikap Ibad yang tak kunjung menghunuskan pedangnya.
Maka gagallah rencana busuk itu. Ketika mereka berada di luar majelis, Amir memarahi Ibad.

"Hai Ibad, mengapa engkau tidak membunuhnya hai penakut," kata Amir berang.
"Hai Amir, bukannya aku takut seperti apa yang kau tuduhkan, bukankah selama ini engkau mengakui keberanianku?" kata Ibad yang tak mau disebut penakut.

"Lalu mengapa engkau tak jadi membunuh Muhammad," ucap Amir dengan kesal.
"Hai Amir, sesungguhnya aku telah mengalami keajaiban yang jelas, setiap kali aku akan mengayunkan pedangku, tidak terlihat orang lain kecuali kamu di depanku, aku tidak melihat Muhammad," jelas Ibad.


RASULULLAH BISA MENGHILANG.
Amir semakin marah dengan alasan Ibad yang tidak masuk akal itu, karena dari sudut lain tadi, Amir dapat melihat dengan jelas bahwa Rasulullah SAW masih berada di tempatnya dan tidak beranjak sedikitpun.
"Hai Ibad, Muhammad itu tepat berada di depanmu," sergah Amir dengan kesal.
"Benar, Muhammad di depanku, namun setiap hendak kuayunkan pedangku, yang terlihat hanya kamu," tanda Ibad.

"Engkau telah dibutakan oleh Muhammad, padahal ia berada di depanmu," kata Amir lagi.
"Hai Amir, ketahuilah bahwa daripada pedangku akan mengenai tubuhmu, maka aku urungkan niatku untuk membunuh Muhammad," jawab Ibad yang terlihat syok dengan pengalaman itu.

Begitulah cara Allah SWT dalam menjaga utusan-Nya, Rasulullah SAW.
Sebagai balasan atas rencana jahat keduanya, Nabi Muhammad SAW meminta kepada Allah SWT agar melaknat keduanya.
Allah SWT pun akhirnya mengabulkan permintaan Nabi Muhammad SAW, Amir meninggal dunia tak lama kemudian setelah terkena suatu penyakit, sedangkan Ibad akhirnya juga mati setelah tersambar petir.

Jadi Saudara Setan dengan 50 Dinar

Kisah Islamiah kali ini akan menceritakan tentang kisah saudara kembarnya setan yang berupa manusia, dimana saudaranya setan itu ada yang mau bertobat dan ada yang malah makin menjadi zalimnya.

Saudaranya setan adalah, pemabuk, pezina, penjudi, anak yang durhaka kepada orang tuanya, dan orang yang pelit yang akan dikisahkan dalam cerita ini.
Namun diantara semua saudara setan yang disebutkan di atas, hanya si pelit lah yang tidak mau bertobat kepada Allah SWT.

BERIKUT KISAHNYA.
Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang sudah lama menikah, namun belum dikarunia anak, sebut saja namanya Fulan. Entah putus asa atau karena nekat atau jengkel, si Fulan suatu hari bernazar,
"Seandainya aku dikarunia anak oleh Allah, aku akan bersedekah kepada saudara-saudaranya setan masing-masing 50 dinar."

Wallahu A'lam, apakah karena nazarnya atau memang sudah menjadi kehendak Allah SWT, tak lama kemudian istrinya hamil dan melahirkan seorang putra. Betapa gembiranya si Fulan dan istrinya mendapatkan karunia tersebut.

SETAN INGATKAN NAZARNYA
Pada suatu malam, Fulan bermimpi bertemu dengan setan di dalam tidurnya, setan berkata,
"Wahai Fulan, jangan lupakan nazarmu untuk bersedekah kepada saudara-saudaraku."
"Siapakah saudara-saudaramu?" tanya Fulan.
"Carilah pezina, pemabuk, penjudi, anak yang durhaka kepada orang tuanya dan orang yang pelit serta serakah, mereka itulah saudara-saudaraku," jawab setan.

Setelah terbangun dari tidurnya, tanpa pikir panjang ia langsung mengambil uangnya dan melangkah mencari saudara-saudara setan yang disebutkan dalam mimpi itu. Awalnya si Fulan mencari saudara setan di kampungnya, namun dia tidak menemukan seorang pun.
Akhirnya ia berjalan menuju desa sebelah.

Orang pertama yang dijumpai adalah seorang pezina.
Ketika disodorkan uang sebanyak 50 dinar, pezina heran dan bertanya,
"Dalam rangka apa engkau memberiku uang ini?".
Si Fulan kemudian menceritakan mimpi yang dia alami.
Mendengar cerita mimpi itu, sang pezina langsung saja bersujud dan menangis serta bertobat kepada Allah SWT.
Sang pezina tidak mau kalau dirinya dikatakan saudarnya setan, dan uangnya ditolak mentah-mentah.

Si Fulan berjalan lagi mencari saudaranya setan, dan orang kedua yang ditemui adalah sang pemabuk. Langsung saja si Fulan menyodorkan uang 50 dinar kepada pemabuk itu. Sang pemabuk bertanya,
"Kenapa engkau meberiku uang sebanyak ini, padahal aku adalah pemabuk yang suka menhambur-hamburkan uang untuk membeli minuman keras?"
Si Fulan menjawab,
"Justru itulah aku memberimu uang 50 dinar ini agar kamu bisa membeli minuman keras."
Lalu si Fulan menceritakan mimpinya.

Uang 50 Dinar
Mendengar penuturan si Fulan, pemabuk itu pun jatuh tersungkur, langsung sujud mohon ampun kepada Allah SWT, istighfar diucapkannya berulang kali dan si pemabuk tak mau menjadi saudara kembarnya setan sedikitpun. Dan ia pun tidak mau menerima uang itu.

Penolakan yang sama juga dialami oleh penjudi dan anak yang durhaka kepada orang tuanya.
Dengan langkah lemas si Fulan mencari satu lagi orang yang dianggap saudaranya setan ini. Lama dia mencari dan akhirnya bertemulah dia dengan si pelit bakhil. Tak menunggu lama, si Fulan langsung menuju rumah si pelit ini.
Dalam hati, si Fulan terbersit rasa kekhawatiran, si pelit juga pasti akan menolak pemberian 50 dinar yang dibawanya.


"Assalamu'alaikum...," ucap si Fulan.
"Ada keperluan apa?" jawab si pelit.
"Aku ingin memberimu uang 50 dinar," kata si Fulan dari dalam rumahnya.

Begitu mendengar kata uang, si pelit langsung saja membuka pintu rumahnya dan segera menyambar kantong uang yang ada di tangan si Fulan.
"Mengapa engkau memberiku uang sebanyak ini, apa kau pernah punya hutang kepadaku?" tanya si pelit.

Lalu si Fulan menceritakan nazar serta mimpi yang dialaminya, dan tak lupa dia ceritakan juga pertemuannya dengan pezina, pemabuk, penjudi dan anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Mendengar kisah yang disampaikan si Fulan, Si Pelit ini langsung saja memegang tangan si Fulan sambil berkata,
"Kalau mereka tidak mau menerima uangnya, berikan saja kepadaku," bisik si pelit.

Dengan mata terbelalak, si Fulan yang bernazar itu menyerahkan uangnya dan beranjak pergi dari rumah si pelit seraya berkata,
"ENGKAU BENAR-BENAR SAUDARA KEMBARNYA SETAN."

SUJUD TANPA KAKI MENYENTUH LANTAI (CARA SUJUD)

Soalan: Ustaz, 1. Adakah sah sujud sembahyang fardu, jika tidak ada perut jari sebelah kaki mengenai tempat sujud? 2. Adakah perut kedua-dua tangan mesti menyentuh tempat sujud sebagai syarat sah sujud sembahyang?

Jawapan;

Sabda Nabi s.a.w.; “Aku diperintahkan supaya sujud di atas tujuh tulang (yakni tujuh anggota) iaitu; dahi –baginda menunjukkan dengan tangannya ke atas hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan jari-jari dari dua kaki…” (Riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas r.a.). Berdasarkan hadis ini, anggota sujud hendaklah merangkumi;
1. Dahi dan hidung
2. Dua tangan
3. Dua lutut
4. Dua kaki

Ketika sujud, wajib ke semua tujuh anggota di atas diletakkan di atas lantai. Bagi dahi, memadai meletakkan sebahagian dahi sahaja di atas lantai. Bagi tangan yang dikira ialah tapak tangan dan bagi kaki pula ialah perut-perut anak jari kaki. Memadai dengan meletakkan sebahagian sahaja dari perut-perut anak jari kaki itu. Jika seseorang itu sujud di atas belakang tangan atau belakang anak-anak jari kakinya, tidak sah sujudnya.

Anggota-anggota sujud selain dahi telah sepakat para ulamak menyatakan tidak wajib didedahkan. Yang dituntut hanyalah meletakkannya di atas tanah/lantai. Oleh itu, harus seseorang menunaikan solat dengan memakai sarung tangan atau stokin. Adapun dahi, maka ia terdapat khilaf di kalangan ulamak;

Pertama; pandangan ulamak-ulamak mazhab Syafi’ie; dahi wajib didedahkan dan mengenai secara lansung tempat sujud (tanpa ada penghadang). Tidak sah sujud jika semua bahagian dahi berlapik sehingga tidak ada sedikitpun darinya yang terdedah dan mengenai tempat sujud secara langsung. Termasuk tidak sah ialah lapik dari pakaian yang dipakai ketika solat. Oleh demikian, tidak harus seseorang sujud di atas kain serban yang dipakainya atau di atas lengan bajunya atau di atas kain telekungnya atau benda-benda lain di badannya yang mengikuti pergerakan badannya. 

Kedua; pandangan jumhur ulamak (termasuk Imam Malik, Abu Hanifah dan Imam Ahmad); dahi sama seperti anggota-anggota sujud yang lain iaitu tidak wajib didedahkan. Yang dituntut hanyalah meletakkannya di atas tempat sujud. Oleh itu, bagi jumhur ulamak, tidak menjadi kesalahan jika seseorang itu sujud di atas kain serbannya atau kain telekungnya. Mereka berdalilkan hadis dari Anas bin Malik r.a. yang menceritakan; “Kami mengerjakan solat bersama Rasulullah s.a.w. ketika panas yang bersangatan. Apabila sesiapa dari kami tidak dapat meletakkan dahinya di atas tanah kerana panas, ia bentangkan pakaiannya dan sujud di atasnya”. (Riwayat Imam Muslim).
(Dalail al-Ahkam, 1/ 298-299).

Wallahu a'lam.