Kisah Islami Teladan di blog Kisah Islamiah malam ini yang tidak kalah seru adalah mukjizat. Ya mukjizat Rasulullah SAW yang mampu menaklukkan bumi.
Musuh Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam sangatlah banyak, namun, tiap kali akan dibunuh, Beliau selalu bisa menyelamatkan diri dengan berbagai keajaiban yang diberikan Allah SWT.
BERIKUT KISAHNYA.
Kaum kafir Quraisy tidah henti-hentinya melakukan penyerangan dan membuat strategi untuk membunuh Rasulullah SAW. Mereka pun mengumpulkan para gembong kafir Quraisy untuk bermusyawarah di Darun Nadwah.
Dan akhirnya pemuka Quraisy mengambil keputusan dengan mengambil sayembara, yaitu barang siapa yang berhasil menangkap Rasulullah hidup-hidup atau mati maka akan diberi hadiah 100 ekor unta. Pengumuman pun disebarkan ke seluruh kaum kafir Quraisy.
Mendengar pengumuman itu, salah seorang dari kaum kafir Quraisy yang bernama Suraqah langsung angkat bicara dan berkata,
"Akulah yang sanggup menangkap Muhammad dan menyeretnya ke hadapan kalian, bahkan aku tak segan-segan untuk menebas batang lehernya," ucapnya dengan lantang.
Dalam golongan Quraisy, Suraqah terkenal sebagai jagoan menunggang kuda. Setelah berkata demikian, Suraqah keluar dan mempersiapkan kuda yang paling bagus untuk mengejar Nabi Muhammad yang diperkirakan belum begitu jauh dari kota Makkah.
Semangat Suraqah untuk mendapatkan 100 ekor unta menjadikan ia sangat giat mencari jejak-jejak Rasulullah yang akhirnya ditemukan. Suraqah menjadi lebih bersemangat dan lebih kencang lagi memacu kudanya dan akhirnya ia melihat dua bayangan yang ternyata adalah Rasulullah dan Abu Bakar.
MALAIKAT JIBRIL DATANG.
Rasulullah SAW dan Abu Bakar melihat pula kedatangan Suraqah yang mengendarai kuda dengan kencangnya. Ketika Suraqah telah semakin dekat dengan mereka, Abu Bakar berkata,
"Ya Rasulullah, kita telah ditemukan oleh Suraqah dan Suraqah adalah orang Arab yang pemberani."
Rasulullah menjawab,
"Engkau jangan takut, sesungguhnya Allah bersama dengan kita."
Jarak Suraqah telah begitu dekat dengan Rasulullah dan Abu Bakar, dan Suraqah hendak menghunus pedangnya.
"Wahai Muhammad, Siapakah yang bisa menghalangiku untuk membunuhmu pada hari ini," kata Suraqah.
"Allah lah yang bisa menolongku," jawab Rasulullah dengan tegas.
Lalu, datanglah Malaikat Jibril untuk mengabarkan bahwa bumi ini ditundukkan kepada perintah Rasulullah SAW. Maka Malaikat Jibril menyuruh Rasulullah untuk mengendalikan bumi.
Begitu diberitahu oleh Malaikat Jibril, Rasulullah SAW langsung memerintahkan kepada bumi agar menarik kaki kuda Suraqah ke dalam bumi.
"Wahai bumi, ambillah Suraqah dan kudanya sampai sebatas lutut," perintah Rasul.
TAK PERNAH JERA.
Suraqah pun terpelanting jatuh tersungkur, ia terkejut dan langsung memohon kepada Rasulullah untuk menyelamatkan dirinya dari bumi yang hendak menelannya. Kemudian Rasulullah berdoa kepada Allah dan selamatlah Suraqah beserta kudanya.
Setelah Suraqah selamat, ia bukannya menepati janji, malah justru sebaliknya, ia malah mengulangi perbuatannya hendak membunuh Rasulullah dengan pedangnya. Namun, setiap kali Suraqah mengarahkan pedangnya kepada Rasulullah, ia dan kudanya selalu terperosok ke dalam tanah. Suraqah belum jera juga, ia terus menerus bangkit hingga kejadian itu berlangsung sebanyak 7 kali.
Hingga ke 8 kalinya, akhirnya ia bertobat dan jera atas perbuatannya.
"Wahai Muhammad, aku ini mempunyai beberapa unta dan binatang ternak lainnya yang bisa dipakai bekal dalam perjalananmu, maka penggembala nanti akan mengambil semua itu untuk engkau pakai sekehandak hatimu," kata Suraqah.
"Wahai Suraqah, jika engaku tidak suka pada agama Islam, aku pun tidak menyukai harta dan binatang ternakmu," jawab Rasulullah.
Suraqah akhirnya masuk Islam dan ia meyakini kerasulan Nabi Muhammad dan mengimani Allah SWT.
Wanita adalah sumber mata air terpenting yang mengalirkan ketenangan, kebahagian, dan Kelembutan, diciptakan dengan keindahan dan tampil sebagai makhluk terindah
Rabu, 22 Juni 2011
Tobatnya Pembunuh Paman Nabi
Kisah Islamiah malam ini tentang kisah tobatnya Wasyi yang telah membunuh paman Nabi yang bernama Hamzah.
Karena terhasut akan paksaan kaum Quraisy, Wasyi ini akhirnya membunuh paman Rasulullah SAW, dan dia mengaku bersalah di hadapan Nabi dan ingin bertobat. Jalan tobatnya pun cukup panjang.
BERIKUT KISAHNYA.
Wasyi pada awalnya adalah budak berkulit hitam dari Habsyi. Di sepanjang hidupnya, ia terus menerus dihasut oleh kafir Quraisy untuk membunuh majikannya yang tak lain adalah paman Rasulullah SAW yang bernama Hamzah.
Jika Hamzah mati, maka Wasyi akan merdeka sebagai budak.
Maka akhirnya Wasyi pun berhasil membunuh Hamzah. Namun demikian dirinya belum menemukan ketenangan meskipun tidak lagi menjadi budak. Hal itu karena Rasulullah bersama kaum muslimin berhasil membebaskan kota Makkah dari tangan Quraisy.
HASUTAN KAFIR QURAISY.
Melihat keadaan yang dianggap membahayakan nyawanya, Wasyi akhirnya melarikan diri ke Thaif, namun demikian, tak lama kemudian petinggi Thaif juga menyatakan keislamannya. Wasyi kembali bingung dan ia berencana lari ke Syiria atau ke Yaman untuk menghindari Rasulullah SAW.
Ketika ia masih bingung, seseorang datang kepadanya.
"Hai Wasyi, Rasulullah SAW tak akan membunuh seseorang yang masuk Islam," kata orang itu.
Mendengar kata orang itu dan atas petunjuk Allah SWT, Wasyi akhirnya memberanikan diri menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya.
"Apakah kamu yang bernama Wasyi?" tanya Rasulullah SAW.
"Benar, ya Rasulullah," jwab Wasyi.
"Ceritakan kepadaku bagaimana kamu membunuh pamanku Hamzah," pinta Rasulullah.
"Semua itu karena paksaan kafir Quraisy dan hasutan Hindun binti Utbah, sekarang aku menyesal dan rela menerima hukumannya ya Rasulullah," kata Wasyi yang berlinang air mata.
Hati Rasulullah SAW bahagia menerima penyesalan Wasyi.
Namun demikian Beliau menolak untuk didekati oleh Wasyi.
"Pergilah dari sisiku, wahai Wasyi, wajahmu selalu mendatangkan ingatanku kembali kepada pamanku tercinta," kata Rasul.
WASYI MEMBUNUH NABI PALSU.
Wasyi kembali menangis hebat dan ia berusaha tetap ingin menebus segala dosa yang telah diperbuatnya. Ia ingin memberikan bukti kepada Rasulullah SAW atas penyesalannya.
Maka pada suatu saat ia bergabung dengan pasukan muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid untuk memberantas nabi palsu yang bernama Musailamah Al-Kadzdzab, Nabi palsu yang telah memalsukan Al Qur'an.
"Tanganku sendiri yang harus mengakhiri hidup Musailamah, nabi palsu itu," demikian sumpah Wasyi.
Akhirnya setelah pertempuran tiba, Wasyi dengan gesitnya maju dalam perang dan memainkan tombaknya hingga akhirnya tombak beracun itu menembus dada Musailamah, hingga nabi palsu itu mati.
Belum puas dengan itu, Wasyi memenggal leher nabi palsu itu kemudian mengangkat bagian kepalanya tinggi-tinggi.
"Aku telah berhasil menebus dosaku, aku telah berhasil menebus segala dosa yang pernah aku lakukan," teriaknya dengan gembira.
Perasaan puas telah menghiasi hati Wasyi yang selama ini was-was dan ragu. Ia ingin menunjukkan keislamannya dengan sungguh-sungguh kepada Rasulullah SAW.
Karena terhasut akan paksaan kaum Quraisy, Wasyi ini akhirnya membunuh paman Rasulullah SAW, dan dia mengaku bersalah di hadapan Nabi dan ingin bertobat. Jalan tobatnya pun cukup panjang.
BERIKUT KISAHNYA.
Wasyi pada awalnya adalah budak berkulit hitam dari Habsyi. Di sepanjang hidupnya, ia terus menerus dihasut oleh kafir Quraisy untuk membunuh majikannya yang tak lain adalah paman Rasulullah SAW yang bernama Hamzah.
Jika Hamzah mati, maka Wasyi akan merdeka sebagai budak.
Maka akhirnya Wasyi pun berhasil membunuh Hamzah. Namun demikian dirinya belum menemukan ketenangan meskipun tidak lagi menjadi budak. Hal itu karena Rasulullah bersama kaum muslimin berhasil membebaskan kota Makkah dari tangan Quraisy.
HASUTAN KAFIR QURAISY.
Melihat keadaan yang dianggap membahayakan nyawanya, Wasyi akhirnya melarikan diri ke Thaif, namun demikian, tak lama kemudian petinggi Thaif juga menyatakan keislamannya. Wasyi kembali bingung dan ia berencana lari ke Syiria atau ke Yaman untuk menghindari Rasulullah SAW.
Ketika ia masih bingung, seseorang datang kepadanya.
"Hai Wasyi, Rasulullah SAW tak akan membunuh seseorang yang masuk Islam," kata orang itu.
Mendengar kata orang itu dan atas petunjuk Allah SWT, Wasyi akhirnya memberanikan diri menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya.
"Apakah kamu yang bernama Wasyi?" tanya Rasulullah SAW.
"Benar, ya Rasulullah," jwab Wasyi.
"Ceritakan kepadaku bagaimana kamu membunuh pamanku Hamzah," pinta Rasulullah.
"Semua itu karena paksaan kafir Quraisy dan hasutan Hindun binti Utbah, sekarang aku menyesal dan rela menerima hukumannya ya Rasulullah," kata Wasyi yang berlinang air mata.
Hati Rasulullah SAW bahagia menerima penyesalan Wasyi.
Namun demikian Beliau menolak untuk didekati oleh Wasyi.
"Pergilah dari sisiku, wahai Wasyi, wajahmu selalu mendatangkan ingatanku kembali kepada pamanku tercinta," kata Rasul.
WASYI MEMBUNUH NABI PALSU.
Wasyi kembali menangis hebat dan ia berusaha tetap ingin menebus segala dosa yang telah diperbuatnya. Ia ingin memberikan bukti kepada Rasulullah SAW atas penyesalannya.
Maka pada suatu saat ia bergabung dengan pasukan muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid untuk memberantas nabi palsu yang bernama Musailamah Al-Kadzdzab, Nabi palsu yang telah memalsukan Al Qur'an."Tanganku sendiri yang harus mengakhiri hidup Musailamah, nabi palsu itu," demikian sumpah Wasyi.
Akhirnya setelah pertempuran tiba, Wasyi dengan gesitnya maju dalam perang dan memainkan tombaknya hingga akhirnya tombak beracun itu menembus dada Musailamah, hingga nabi palsu itu mati.
Belum puas dengan itu, Wasyi memenggal leher nabi palsu itu kemudian mengangkat bagian kepalanya tinggi-tinggi.
"Aku telah berhasil menebus dosaku, aku telah berhasil menebus segala dosa yang pernah aku lakukan," teriaknya dengan gembira.
Perasaan puas telah menghiasi hati Wasyi yang selama ini was-was dan ragu. Ia ingin menunjukkan keislamannya dengan sungguh-sungguh kepada Rasulullah SAW.
Perjalanan Nabi Musa Mencari Nabi Khidir
Kisah Islamiah kali ini hadir dengan kisah menarik lainnya yang berhubungan dengan sosok setan yang banyak menyebabkan lupa kepada manusia.
Lupa ini bisa membawa petaka. Setan pun sering memanfaatkan titik lemah ini dari manusia. Betapa banyak mereka yang dibuat lupa dalam urusan dunia apalagi agama.
BERIKUT KISAHNYA.
Pada suatu waktu Nabi Musa pernah bertanya kepada kaumnya, siapa manusia yang lebih pintar dan berilmu lebih dari yang ia miliki.
"Wahai kaumku, adakah manusia di muka bumi ini yang kepandaiannya melebihi aku? Yang ilmunya lebih banyak daripada aku?"
(Red: Nabi Musa bertanya demikian semata pasti ingin mempelajari ilmu biar tambah berilmu, bukan bermaksud sombong sedikitpun di hadapan manusia).
Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab, dan akahirnya Nabi Musa membawa pertanyaan pada Allah SWT, pencipta alam semesta.
"Ada. Di muka bumi itu masih ada yang lebih dari dirimu Musa," Allah berfirman.
"Lalu dimanakah tempat orang itu berada, Ya Allah?" tanya Nabi Musa.
"Dia berada di antara pertemuan dua laut," Allah berfirman lagi.
"Dalam perjalananmu nanti, bawalah seekor ikan. Nantinya ikan itu akan meninggalkanmu. Dia akan mencari jalan sendiri ke pantai atau laut. Di tempat itulah orang yang kau cari berada."
Akhirnya, Nabi Musa memulai perjalanannya. Selama itu, dia ditemani oleh pembantunya yang bernama Yusyi' bin Nun. Nabi Musa berpesan kepadanya,
"Ingatkanlah aku bila ikan ini lepas dan meningglakan kita."
"Baiklah," jawab Yusyi'.
Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan. Dan setelah berjalan cukup jauh, Nabi Musa dan pembantunya merasa lelah. Nabi Musa memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah batu besar.
Karena lelahnya, Nabi Musa dan Yusyi' tertidur lelap dan mereka tidak sadar kalau ikan yang mereka bawa terlepas. Ikan itu meninggalkan mereka menuju ke pantai.
Sesaat kemudian, keduanya terbangun dan melanjutkan perjalanan cukup jauh hingga kemudian keduanya merasa lelah lagi.
Kali ini bukan hanya lelah saja yang mendera, namun juga perut yang mulai terasa sangat lapar.
"Apakah engkau tidak merasa lelah dan lapar Yusyi?" tanya Nabi Musa.
"Ya, saya pun merasa lelah dan lapar," jawab pembatunya itu.
"Kalau begitu, kita berhenti di sini sebentar," pinta Nabi Musa kepada pembantunya.
BERTEMU NABI KHIDIR.
Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Nabi Musa untuk menjadikan ikan yang mereka bawa untuk makan siang.
"Dimanakah ikan yang kita bawa tadi? Daripada kita kelaparan, biarlah ikan itu kita masak dan kita jadikan makan siang," Ujar Nabi Musa.
Yusyi' tersentak kaget, dia baru ingat bila Nabi Musa tadi berpesan untuk menjaga ikan itu dan melihat tempat lepasnya. Tapi kini, ikan itu telah lepas tanpa dia tahu keberadaannya."
"Maaf ya Nabi, aku telah lalai dengan pesanmu. Ikan yang kita bawa tadi telah lepas tanpa sepengetahuanku," kata Yusyi penuh penyesalan.
"Tidak Yusyi', ini juga salahku, setan telah membuat aku lupa dan lalai. Seharusnya aku yang lebih bertanggung jawab dan memperhatikan keadaan ikan itu," sahut Nabi Musa.
"Apakah kamu masih bisa mengingat kapan terkahir ikan itu bersama kita?" tanya NabiMusa.
"Kalau tidak salah, sewaktu kita beristirahat di bawah batu besar tadi ikan itu masih bersama kita. Aku tidak tahu lagi, setelah kita melanjutkan perjalanan, mungkin ikan itu terlepas saat kita tidur," jelas Yusyi'.
"Kala begitu, itulah tempat yang kita cari," seru Nabi Musa sangat senang.
Keduanya pun segera berbalik arah mengikuti jejak pulang ke tempat yang mereka maksud, yaitu batu besar yang sebelumnya jadi tempat peristirahatan mereka.
Setelah keduanya sampai, sesaat kemudian keduanya bertemu dengan Nabi Khidir. Nabi Khidir adalah orang yang dimaksudkan oleh Allah SWT.
Beliau lebih banyak mengetahui rahasia-rahasia Allah dibandingkan dengan Nabi Musa a.s.
Lupa ini bisa membawa petaka. Setan pun sering memanfaatkan titik lemah ini dari manusia. Betapa banyak mereka yang dibuat lupa dalam urusan dunia apalagi agama.
BERIKUT KISAHNYA.
Pada suatu waktu Nabi Musa pernah bertanya kepada kaumnya, siapa manusia yang lebih pintar dan berilmu lebih dari yang ia miliki.
"Wahai kaumku, adakah manusia di muka bumi ini yang kepandaiannya melebihi aku? Yang ilmunya lebih banyak daripada aku?"
(Red: Nabi Musa bertanya demikian semata pasti ingin mempelajari ilmu biar tambah berilmu, bukan bermaksud sombong sedikitpun di hadapan manusia).
Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab, dan akahirnya Nabi Musa membawa pertanyaan pada Allah SWT, pencipta alam semesta.
"Ada. Di muka bumi itu masih ada yang lebih dari dirimu Musa," Allah berfirman.
"Lalu dimanakah tempat orang itu berada, Ya Allah?" tanya Nabi Musa.
"Dia berada di antara pertemuan dua laut," Allah berfirman lagi.
"Dalam perjalananmu nanti, bawalah seekor ikan. Nantinya ikan itu akan meninggalkanmu. Dia akan mencari jalan sendiri ke pantai atau laut. Di tempat itulah orang yang kau cari berada."
Akhirnya, Nabi Musa memulai perjalanannya. Selama itu, dia ditemani oleh pembantunya yang bernama Yusyi' bin Nun. Nabi Musa berpesan kepadanya,
"Ingatkanlah aku bila ikan ini lepas dan meningglakan kita."
"Baiklah," jawab Yusyi'.
Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan. Dan setelah berjalan cukup jauh, Nabi Musa dan pembantunya merasa lelah. Nabi Musa memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah batu besar.
Karena lelahnya, Nabi Musa dan Yusyi' tertidur lelap dan mereka tidak sadar kalau ikan yang mereka bawa terlepas. Ikan itu meninggalkan mereka menuju ke pantai.
Sesaat kemudian, keduanya terbangun dan melanjutkan perjalanan cukup jauh hingga kemudian keduanya merasa lelah lagi.
Kali ini bukan hanya lelah saja yang mendera, namun juga perut yang mulai terasa sangat lapar.
"Apakah engkau tidak merasa lelah dan lapar Yusyi?" tanya Nabi Musa.
"Ya, saya pun merasa lelah dan lapar," jawab pembatunya itu.
"Kalau begitu, kita berhenti di sini sebentar," pinta Nabi Musa kepada pembantunya.
BERTEMU NABI KHIDIR.
Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Nabi Musa untuk menjadikan ikan yang mereka bawa untuk makan siang.
"Dimanakah ikan yang kita bawa tadi? Daripada kita kelaparan, biarlah ikan itu kita masak dan kita jadikan makan siang," Ujar Nabi Musa.
Yusyi' tersentak kaget, dia baru ingat bila Nabi Musa tadi berpesan untuk menjaga ikan itu dan melihat tempat lepasnya. Tapi kini, ikan itu telah lepas tanpa dia tahu keberadaannya."
"Maaf ya Nabi, aku telah lalai dengan pesanmu. Ikan yang kita bawa tadi telah lepas tanpa sepengetahuanku," kata Yusyi penuh penyesalan.
"Tidak Yusyi', ini juga salahku, setan telah membuat aku lupa dan lalai. Seharusnya aku yang lebih bertanggung jawab dan memperhatikan keadaan ikan itu," sahut Nabi Musa.
"Apakah kamu masih bisa mengingat kapan terkahir ikan itu bersama kita?" tanya NabiMusa.
"Kalau tidak salah, sewaktu kita beristirahat di bawah batu besar tadi ikan itu masih bersama kita. Aku tidak tahu lagi, setelah kita melanjutkan perjalanan, mungkin ikan itu terlepas saat kita tidur," jelas Yusyi'.
"Kala begitu, itulah tempat yang kita cari," seru Nabi Musa sangat senang.
Keduanya pun segera berbalik arah mengikuti jejak pulang ke tempat yang mereka maksud, yaitu batu besar yang sebelumnya jadi tempat peristirahatan mereka.
Setelah keduanya sampai, sesaat kemudian keduanya bertemu dengan Nabi Khidir. Nabi Khidir adalah orang yang dimaksudkan oleh Allah SWT.
Beliau lebih banyak mengetahui rahasia-rahasia Allah dibandingkan dengan Nabi Musa a.s.
USTAZ TIDAK BERJANGGUT DAN BERJUBAH
Soalan; salam, ustaz;
1. ustaz seperti yg di maklum kpd saya... ulma 4 mazhab meletakkn hukum wajib untuk org islam b'janggut...sya agk kecewa dengan ustaz2 @ ulama malaysia yg tidak menhirau kan sunnah ini...melalui pemerhatian saya ada yg sggp mencukur janggt tsbt dgn sengaja...bila bab hukum ahkam bukan main lagi ustaz...bila ceramah bab keperibadian rasulullah...sampai nmpk urat leher...mcm mana sya nk ikut kata2 seorng sendiri tak mgamalkn yg apa dia katakan...ada yg misai lbh pjg dr janggut...ini kah ulama kita masa kini ustaz.....bila b'pakaian mereka lbh rela memakai baju kot dari memakai baju jubah...adakah mereka lbh bgga dgn bju yg d reka oleh org yahudi dr bju yg d reka oleh kekasih kita....sepatut nya mereka yg menunjukn kepada kami(org jahil ttg agama) ttg keperibadian rasulullh...tetapi keperibadian hnya di mulut2 mereka shj ustaz...bila saya prgi ke kuliah ustaz2 sya mjadi mrh ttg ini ustz..tapi apakn daya ustaz...ilmu ttg agma sya kurang...dsmping ustaz & ulama adlah pwaris nabi saw...sila terang kn kpd saya ustaz...
2. ustaz...sya da terbca sebuah hadis nabi, klu kita mengikut cara sesuatu bangsa, di akhrat klk kita akn d bangkit kan dgn bangsa tersbt..
dan klu kita mgikut cara hidup bngsa melayu, dan akn d bngkitkn dengan bgsa melayu...dan bukan dibangkit kan di bsama dengan kekasih kita rasulullah saw...sila terangkan kpd saya ustaz..
sekian terima kasih..
Jawapan;
1. Perbuatan/amalan Nabi ada yang wajib dan ada yang mustahab (sunat). Menyimpan janggut adalah amalan yang wajib kerana ada arahan Nabi yang cukup jelas supaya lelaki umatnya menyimpan janggut. Adapun pakaian, yang wajib ialah berpakaian menutup aurat kerana ia adalah perintah yang jelas dari al-Quran dan as-Sunnah. Adapun memakai jubah, ia adalah mustahab (digalakkan dan berpahala jika berniat mengikut pakaian Nabi). Jika tidak memakai jubah tidaklah berdosa kerana tiada dalil al-Quran mahupun as-Sunnah mewajibkan pemakaian jubah. Yang diwajibkan oleh al-Quran dan as-Sunnah ialah berpakaian menutup aurat tanpa ditentukan fesyen tertentu.
2. Ya, terdapat hadis (bermaksud); "Sesiapa menyerupai suatu kaum, ia dari kalangan mereka". Menurut ulamak; penyerupaan yang dilarang ialah yang meniru identiti khusus penganut agama kafir seperti memakai salib, kopiah yahudi atau sebagainya. Adapun perkara yang bersifat umum dilakukan oleh suatu bangsa (yang tidak khusus menjadi identiti agama), ia tidaklah dilarang. Contoh; kain pelikat dipakai oleh orang beragama Islam (di India dan di Malaysia) dan dipakai juga oleh penganut hindu (di benua India). Jubah dan serban pada zaman Nabi dipakai oleh orang Arab yang memeluk Islam dan juga orang Arab yang masih musyrikin, malah hari ini di Negara Arab, orang-orang Arab beragama kristian ada yang berjubah kerana ia telah menjadi pakaian tradisi orang Arab tanpa mengira agama.
3. Tidak sewajarnya para ulamak dan ustaz meninggalkan amalan Nabi yang wajib. Adapun amalan yang mustahab, sebolehnya mereka mempraktikkannya -sekalipun tidak sepanjang masa- agar menjadi contoh kepada orang lain dan agar tidak mati amalan tersebut.
Wallahu a'lam.
1. ustaz seperti yg di maklum kpd saya... ulma 4 mazhab meletakkn hukum wajib untuk org islam b'janggut...sya agk kecewa dengan ustaz2 @ ulama malaysia yg tidak menhirau kan sunnah ini...melalui pemerhatian saya ada yg sggp mencukur janggt tsbt dgn sengaja...bila bab hukum ahkam bukan main lagi ustaz...bila ceramah bab keperibadian rasulullah...sampai nmpk urat leher...mcm mana sya nk ikut kata2 seorng sendiri tak mgamalkn yg apa dia katakan...ada yg misai lbh pjg dr janggut...ini kah ulama kita masa kini ustaz.....bila b'pakaian mereka lbh rela memakai baju kot dari memakai baju jubah...adakah mereka lbh bgga dgn bju yg d reka oleh org yahudi dr bju yg d reka oleh kekasih kita....sepatut nya mereka yg menunjukn kepada kami(org jahil ttg agama) ttg keperibadian rasulullh...tetapi keperibadian hnya di mulut2 mereka shj ustaz...bila saya prgi ke kuliah ustaz2 sya mjadi mrh ttg ini ustz..tapi apakn daya ustaz...ilmu ttg agma sya kurang...dsmping ustaz & ulama adlah pwaris nabi saw...sila terang kn kpd saya ustaz...
2. ustaz...sya da terbca sebuah hadis nabi, klu kita mengikut cara sesuatu bangsa, di akhrat klk kita akn d bangkit kan dgn bangsa tersbt..
dan klu kita mgikut cara hidup bngsa melayu, dan akn d bngkitkn dengan bgsa melayu...dan bukan dibangkit kan di bsama dengan kekasih kita rasulullah saw...sila terangkan kpd saya ustaz..
sekian terima kasih..
Jawapan;
1. Perbuatan/amalan Nabi ada yang wajib dan ada yang mustahab (sunat). Menyimpan janggut adalah amalan yang wajib kerana ada arahan Nabi yang cukup jelas supaya lelaki umatnya menyimpan janggut. Adapun pakaian, yang wajib ialah berpakaian menutup aurat kerana ia adalah perintah yang jelas dari al-Quran dan as-Sunnah. Adapun memakai jubah, ia adalah mustahab (digalakkan dan berpahala jika berniat mengikut pakaian Nabi). Jika tidak memakai jubah tidaklah berdosa kerana tiada dalil al-Quran mahupun as-Sunnah mewajibkan pemakaian jubah. Yang diwajibkan oleh al-Quran dan as-Sunnah ialah berpakaian menutup aurat tanpa ditentukan fesyen tertentu.
2. Ya, terdapat hadis (bermaksud); "Sesiapa menyerupai suatu kaum, ia dari kalangan mereka". Menurut ulamak; penyerupaan yang dilarang ialah yang meniru identiti khusus penganut agama kafir seperti memakai salib, kopiah yahudi atau sebagainya. Adapun perkara yang bersifat umum dilakukan oleh suatu bangsa (yang tidak khusus menjadi identiti agama), ia tidaklah dilarang. Contoh; kain pelikat dipakai oleh orang beragama Islam (di India dan di Malaysia) dan dipakai juga oleh penganut hindu (di benua India). Jubah dan serban pada zaman Nabi dipakai oleh orang Arab yang memeluk Islam dan juga orang Arab yang masih musyrikin, malah hari ini di Negara Arab, orang-orang Arab beragama kristian ada yang berjubah kerana ia telah menjadi pakaian tradisi orang Arab tanpa mengira agama.
3. Tidak sewajarnya para ulamak dan ustaz meninggalkan amalan Nabi yang wajib. Adapun amalan yang mustahab, sebolehnya mereka mempraktikkannya -sekalipun tidak sepanjang masa- agar menjadi contoh kepada orang lain dan agar tidak mati amalan tersebut.
Wallahu a'lam.


