Kamis, 23 Juni 2011

Tobat Sehari Hapus Dosa 40 Tahun

Pada suatu ketika di daerah yang dihuni Bani Israil tidak turun hujan cukup lama. Penyebabnya adalah karena ada salah seorang dari kaum itu yang telah melakukan dosa 40 tahun lamanya.
Setelah orang itu bertobat, akhirnya di daerah itu turun hujan.
Bagaimana Kisahnya?
Berikut Kisahnya.
Pada zaman Nabi Musa, kaum Bani Israil pernah ditimpa musim kemaru yang panjang.
Karena tidak kuat menanggung cobaan dari Allah itu, mereka berkumpul untuk menemui Nabi Musa dan berkata,
"Wahai Musa, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami."

Kemudian berdirilah Nabi Musa a.s bersama kaumnya. Mereka berangkat menuju tanah lapang untuk minta diturunkan hujan. Jumalah mereka kurang lebih 70 ribu orang.

PENGHALANG DOA.
Kepada Nabi Musa, Allah SWT menurunkan wahyu-Nya,
"Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi, bersama denganmu ini, ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama 40 tahun.
Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini. Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya."

Nabi Musa kembali berkata,
"Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini dapat di dengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari 70 ribu orang."
Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka."
Menuruti apa yang diperintahkan Allah, Nabi Musa a.s berseru kepada kaumnya,
"Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya sampai 40 tahun, keluarlah kamu dari rombongan ini, karena kamulah hujan tidak diturunkan Allah SWT."

Mendengar seruan dari Nabi Musa a.s itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian, tahuah dia bahwa yang dimaksudkan Nabi Musa itu adalah dirinya ssendiri. Karena itu dia ingin bertobat, tetapi ia ragu untuk mengakuinya di tempat itu.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun. Walaupun demikian, Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan, maka terimalah tobatku," begitu doanya.

Beberapa saat selepas itu, awan bergumpal di langit, setelah itu hujan pun turun dengan deras. Melihat keadaan demikian, Nabi Musa berkata,
"Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah diantara kami tidak ada seorangpun yang keluar mengakui dosanya?"

HUJAN LEBAT.
Lalu Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga disebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab tidak menurunkan hujan kepada kamu."
Kemudian Nabi Musa berkata,
"Tuhanku, sebenarnya siapakah gerangan dia? Perlihatkanlah dia kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu itu?"

Allah berfirman,
"Wahai Musa, dulu ketika ia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku?
Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?"

Akhirnya Kaum Nabi Musa mengerti bahwa Allah Maha Pemaaf.
Maksiat selama 40 tahun bisa dihapus dengan tobat sehari.

Pohon Tumbuh dari Batu

Atas tantangan petinggi Quraisy untuk menunjukkan mukjizat, Rasulullah SAW mampu membelah batu dan keluarlah pohon besar dari tengah-tengah batu itu.
Par petinggi Quraisy pun takjub dibuatnya.


BERIKUT KISAHNYA.
Abu Jahal dikenal sangat keras menentang dakwah Rasulullah SAW. Maka disebarkanlah isu kontroversial tentang pribadi Rasulullah. Dalih utamanya adalah pelecehan terhadap agama nenek moyang, sehingga meresahkan masyarakat.

Abu Jahal kemudian mencari jalan lain.
Ia berfikir, Abu Thalib tentu bisa menghentikan dakwah kemenakannya tersebut. Maka dengan mengajak beberapa pembesar Quraisy, ia mendatangi rumah Abu Tahlib.

Ketika tiba di rumah Abu Thalib, Abu Jahal pun berkata,
"Hai Abu Thalib, apakah engkau biarkan tindakan kemenakanmu itu?"
Mendengar pengaduan itu, Abu Thalib mempersilahkan tamunya untuk masuk rumah.
"Tuan-tuan yang terhormat, silahkan duduk terlebih dahulu.Akan kupanggilkan Muhammad agar kita bisa mendenagr sendiri apa komentarnya," jawab Abu Thalib sambil bergegas mencari Nabi.

RASULULLAH SAW MENOLAK.
Di hadapan para tamunya, Abu Thalib pun menasehati kemenakannya agar menghentikan dakwahnya. Namun dengan penuh yakin dan tanggung jawab, Rasulullah SAW menolak.

Mendengarkan sumpah yang dilontarkan oleh Rasulullah SAW tersebut, Abu Jahal terdiam.
Kamudian seorang kawannya menyela,
"Hai Abu Thalib, jika apa yang Muhammad dakwahkan itu benar, coba katakan kepadanya agar ia memperlihatkan sebuah mukjizat kepada kami, sebagai bukti kerasulannya, sehingga kita dapat menyaksikan kebenaran dakwahnya."

Abu Thalib berkata,
"Hai kemenakanku, bagaimana pendapatmu menanggapi permintaan mereka itu?" tanya Abu Thalib kepada Rasulullah SAW.
Dengan nada tegas, Rasulullah SAW balik berkata,
"Katakan apa yang kalian minta."

Mendengar jawaban Nabi itu, kawan Abu Jahal tadi pun menoleh ke halaman rumah Abu Thalib. Kebetulan di sana ada sebuah batu besar, maka ia minta agar batu itu terbelah seketika, lalu dari dalamnya keluar sebatang pohon raksasa bercabang dua menjulur sampai ke bumi sebelah timur, dan cabang lain ke ujung bumi sebelah barat.

PERMINTAAN ANEH.
Mendengar tantangan yang disampaikan rekannya, Abu Jahal tersenyum puas, tanda setuju atas permintaan kawannya itu.
"Sebuah permintaan aneh. Mustahil Muhammad dapat melakukan semua itu, karena memang di dunia ini belum pernah ada sabatnag pohon yang tumbuh secara tiba-tiba dan pohonnya jauh lebih besar ketimbang batunya," guman Abu Jahal dalam hati.

Namun hal itu tidaklah mustahil bagi Rasulullah SAW, Beliau dekati batu itu dan berdoa memohon pertolongan Allah SWT.
Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya seraya menunjuk ke arah batu itu.


Tanpa diduga, tiba-tiba batu yang berada di hadapan puluhan orang itu terbelah menjadi dua dan dari dalamnya keluar sebatang pohon. Dalam sekejap, pohon itu membesar dan terus membesar hingga memenuhi halaman rumah Abu Thalib yang sedemikian luasnya.
Bersamaan dengan itu, tumbuh pula dua cabang raksasa seakan membelah langit, satu cabang menjulur ke arah barat sejauh mata memandang, dan satu cabang lainnya menjulur ke timur hingga menutupi pandangan mata.

Melihat kejadian yang sangat menkjubkan dan aneh tersebut, Abu Jahal bersama kawan-kawannya benar-benar tercengang melihatnya.
Dan seornag dari mereka berkomentar,
"Hai Muhammad, kau telah memperlihatkan kehebatanmu. Tapi kami tidak akan beriman sebelum kamu dapat mengembalikan pohon itu seperti sedia kala."

Rasulullah SAW termenung dan berfikir sejenak.
Sejenak kemudian Rasulullah berdoa, dan secara tiba-tiba pula pohon raksasa itu pun mengecil. Ia terus mengecil smapai akhirnya masuk ke dalam batu, dan batu itu kemudian utuh kembali sepertti semula.
Subhanallah.

HUKUM JANGGUT DAN MISAI

Soalan; Assalamu alaikm, ustaz. Minta ustaz jelaskan lanjut tentang hukum mencukur janggut. Misai pula macam mana? Terima kasih.

Jawapan;

HUKUM JANGGUT

1. Terdapat arahan dari Nabi s.a.w.;

خالفوا المشركين: وفروا اللحى، وأحفوا الشوارب
“Hendaklah kamu berbeza dengan orang-orang Musyrikin; kerana itu biarkanlah janggut dan buanglah misai” (HR Imam al-Bukhari dari Ibnu ‘Umar r.a.).

Berdasarkan hadis ini, para ulamak melarang lelaki muslim mencukur janggutnya. Menurut jumhur ulamak (termasuk mazhab-mazhab empat); arahan menyimpan janggut dalam hadis di atas adalah arahan wajib. Berkata Qadhi ‘Iyadh; “Dimakruhkan mencukur janggut. Adapun membuang sebahagian dari panjang atau lebarnya jika terlalu lebat, maka itu adalah baik/elok”. Imam Malik memakruhkan janggut yang terlalu panjang. Sebahagian ulamak menggalakkan dipotong janggut yang melebihi satu genggaman tangan. Dalam Soheh Imam al-Bukhari ada diceritakan; Ibnu Umar r.a. bila mengerjakan haji atau umrah, beliau akan menggenggam janggungnya, yang lebih (dari genggaman) akan dipotongnya” (Riwayat Imam al-Bukhari). Namun ada juga ulamak (antaranya Imam an-Nawawi) yang berpandangan; janggut hendaklah dibiarkan tanpa diganggu kerana Nabi s.a.w. menyebutkan di dalam hadis tadi; “….biarkanlah janggut..”. (Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi).

HUKUM MISAI

2. Berbeza dengan janggut, misai pula diperintahkan (dalam hadis tadi) supaya dibuang (digunting/dicukur); “..buanglah misai..”. Tentang had yang perlu dibuang, para ulamak berbeza pandangan;

a) Pandangan pertama; menurut ulamak-ulamak mazhab Hanafi dan Hanbali; yang terbaik ialah mencukurnya (yakni membuang habis). Mereka berdalilkan beberapa sabda Nabi s.a.w. antaranya;

جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَأَرْخُوا اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Potonglah misai (hingga habis) dan biarkanlah janggut. Hendaklah kamu berbeza dengan orang Majusi”. (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Menurut pandangan ini; Perkataan al-jazz dalam hadis di atas memberi makna menggunting misai dan bulu hingga sampai ke kulit.

Di dalam hadis yang lain, Nabi s.a.w. bersabda;

خالفوا المشركين: وفروا اللحى، وأحفوا الشوارب
“Hendaklah kamu berbeza dengan orang-orang Musyrikin; kerana itu biarkanlah janggut dan buanglah misai”. (Riwayat Imam al-Bukhari)

Berkata Imam Ibnu Hajar; perkataan al-Jazz dan al-Ihfa’ menunjukkan kepada tuntutan agar bersungguh-sungguh dalam membuang misai. Al-Jazz bermaksud; menggunting hingga ke kulit. Al-Ihfa’ pula bermaksud; membuang habis. Kerana itu Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mensunatkan dibuang habis misai dengan mencukurnya. (Faidhul-Qadier, hadis no. 3586. Tuhfah al-Ahwazi)

b) Pandangan kedua; menurut ulamak-ulamak mazhab Syafi’ie dan Maliki; yang disunatkan hanyalah mengguntingnya sahaja supaya kelihatan bibir mulut (yakni menggunting bahagian yang memanjang ke atas bibir mulut). Adapun mencukurnya adalah dilarang, di mana hukumnya adalah makruh. Dalil mereka ialah hadis dari Ibnu ‘Abbas r.a. yang menceritakan; Nabi menggunting sebahagian misainya dan berkata; “Nabi Ibrahim melakukannya” (HR Imam at-Tirmizi. Menurut Imam at-Tirmizi; hadis ini hasan gharib). Imam al-Baihaqi meriwayatkan (dalam Sunannya) dari Syurahbil bin Muslim al-Khaulani (seorang Tabiin) yang menceritakan; Aku telah melihat 5 orang sahabat Rasulullah iaitu Abu Umamah, Abdullah bin Bisr, Utbah bin Abd as-Sulami, al-Hajjaj bin ‘Amir dan al-Miqdam bin Ma’di Yakrib, mereka menggunting misai selari dengan pangkal bibir mulut”. (al-Majmu’, Imam an-Nawawi).

Mengenai hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh pandangan pertama tadi, dijawab; yang dimaksudkan oleh Nabi dengan ucapannya “…buanglah misai..” bukanlah membuang keseluruhannya, akan tetapi membuang sebahagiannya sahaja (iaitu yang melepasi ke bibir mulut) sebagaimana yang ditunjukkan oleh sahabat Nabi tadi.

c) Pandangan ketiga; menurut Imam Ibnu Jarir at-Tabari; harus kedua-duanya, yakni kita boleh memilih sama ada hendak mengguntingnya sahaja atau mencukurnya kerana kedua-duanya sabit di dalam hadis Nabi s.a.w..

Wallahu a’lam.

Rujukan;

1. Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi, 1/152-155 (Kitab at-Toharah, Bab Khisal al-Fitrah).
2. Faidhul-Qadier, Imam al-Munawi, hadis no. 3586.
3. al-Mjamu’, Imam an-Nawawi, Kitab at-Toharah, bab as-Siwak (1/287).
4. Tuhfah al-Ahwazi, Kitab Abwab al-‘Ilmi, bab Ma Ja-a Fi Qassi as-Syarib (8/42).
5. Fiqh al-Albisah Wa az-Zinah, Abdul-Wahhab Abdus-Salam Tawilah, hlm. 276-280.
6. Fiqh al-‘Ibadat, Hasan Ayyub, hlm. 21.
7. Fiqh at-Thoharah, Dr. Abdul-Karim Zaidan, hlm. 42.