Kematian memang menjadi rahasia Allah SWT. Jika disuruh memilih, semua orang pasti memilih mati dalam kondisi Khusnul Khatimah, akhir yang baik.
Seperti yang dialami oleh sahabat Amir bin Abdillah bin Zubair, ia menghembuskan nafas terakhirnya pada saat menjadi makmum shalat.
Kisahnya.
Dalam kitab Taarikh Al-Islaam disebutkan bahwa Mush'ab bin Abdillah bercerita tentang Amir bin Abdillah bin Zubair, yang merupakan pemuda yang ahli ibadah. Betapa tidak, setiap kali terdengar kumandang azan, dirinya langsung meninggalkan semua pekerjaan saat itu dan bergegas menuju masjid untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah.
Bahkan, dalam kondisi sakit parah sekalipun, dirinya masih istikhamah untuk menjalankan shalat secara berjamaah di masjid terdekat. Amir lebih senang menunaikan shalat secara berjamaah dibandingkan harus menjalankannya seorang diri di rumah karena nilai pahalanya lebih sedikit bila di rumah.
Terserang Penyakit.
Sungguh sikapnya ini patut dijadikan teladan bagi setiap pemuda yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Seperti halnya pemuda lain di tempat tinggalnya, Amir pun juga seorang pemuda yang mempunyai cita-cita untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Oleh karena itu, selain belajar, dirinya pun mendapat pelajaran banyak dari cara berdagang yang dilakukan oleh orang tuanya.
Hanya saja, perjalanan kehidupan Amir tak sebahagia yang dibayangkan.
Dalam usia yang masih cukup muda, dirinya sudah terserang suatu penyakit yang cukup aneh. Bahkan penyakit itu membuatnya tak mampu menjalankan rutinitasnya sehari-hari. Amir pun tergolek lemah tak berdaya di atas tempat tidurnya.
Namun demikian, semangat ibadah Amir pantas diacungi jempol dan patutu dicontoh.
Dalam kondisi sedang sakit yang sangat parah, ia yang mendengar muazin mengumandangkan azan utnuk shalat maghrib langsung meminta untuk dibawa ke masjid.
"Pegang tanganku dan antarkan aku menuju masjid," ujar Amir kepada sahabatnya.
"Wahai Amir, engkau dalam kondisi sakit, shalatlah di rumah saja," kata sahabatnya.
"Aku mendengar muazin mengumandangkan azan, sedangkan aku tidak menjawab panggilan-Nya? pegang tanganku dan antarkan aku ke masjid," tutur Amir.
Shalat Maghrib Berjamaah.
"Allah SWT pasti tahu akan keadaanmu saat ini dan memakluminya, shalatlah di rumah saja sehingga engkau tak perlu berjalan jauh ke masjid," kata sahabatnya lagi.
Namun Amir bersikeras meminta diantarkan ke masjid. Maka sahabatnya pun memapahnya ke masjid, kemudian Amir shalat maghrib bersama imam secara berjamaah.
Tak lama berselang, setelah satu rakaat, Amir menghembuskan nafas terakhirnya lalu meninggal dunia dalam keadaan suci.
Seusai shalat, para jamaah saling berebut untuk memuliakan jenazah Amir. Mereka sungguh sangat mengagumi keistikhamahan Amir untuk melakukan shalat berjamaah meskipun dalam kondisi sakit sekalipun.
Amir merupakan seorang alim dan senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin. Bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa shalat berjamaah.
Subhanallah...
Wanita adalah sumber mata air terpenting yang mengalirkan ketenangan, kebahagian, dan Kelembutan, diciptakan dengan keindahan dan tampil sebagai makhluk terindah
Kamis, 14 Juli 2011
Godaan Iblis Kepada Nabi Ayub
Kesabaran Nabi Ayub a.s tidak perlu diragukan lagi. Iblis yang mencoba mengikis kesabarannya pun gagal total. Semua jenis jurus dan siasat Iblis sudah dikerahkan, namun tetap saja keimanan Nabi Ayub tak tergoyahkan.
Sungguh kesabaran yang sulit untuk ditiru manusia untuk saat ini.
Beliaulah Nabi Ayyub.
Nabi Ayyub hidup dalam keadaan yang serba ada dan mewah dengan harta kekayaan yang banyak, hidup rukun dengan anak dan istrinya. Namun begitu Nabi Ayyub tidak terlena sedikit pun dengan kekayaan, anak serta istrinya itu. Siang dan malam bibirnya tidak lepas dari mengingat Allah SWT, bersujud dan bersyukur kepada-Nya.
Dengan tingkah laku yang demikian, membuat Iblis sedih dan berusaha untuk menggoda Nabi Ayyub. Iblis tak pernah putus asa menggodanya siang dan malam, namun masih gagal juga.
Kemudian Iblis pergi menghadap Allah dan berkata,
"Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub tidak beribadah dengan ikhlas, ia hanya takut kehilangan semua hartanya. Andaikan ia ditimpa musibah sehingga hartanya musnah, tentu ia akan berpaling dari-Mu," kata Iblis.
Siasat Iblis.
Ujian Pertama.
Allah mengizinkan keinginan Iblis itu. Maka iblis mengumpulkan kawan-kawannya untuk menguji dan memalingkan keimanan Nabi Ayyub. Untuk pertama kali ia berusaha menghancurkan harta benda Nabi Ayyub. Dengan berbagai cara, akhirnya Iblis berhasil memusnahkan binatang ternak, ladang-ladang serta bangunan-bangunan milik Nabi Ayyub.
Dalam waktu singkat saja, Nabi Ayyub yang sebelumnya kaya raya sekarang menjadi mskin. Setelah itu Iblis pun datang menemui Nabi Ayyub dengan menyamar sebagai orang tua dan berkata,
"Sesungguhnya musibah yang menimpamu ini sangat mengerikan."
Kemudian Nabi Ayyub berkata,
"Ketahuilah, Allah Maha Kuasa yang dapat berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagai hamba, kita harus menerima takdir-Nya."
Ujian Kedua.
Iblis segera meninggalkan rumah Nabi Ayyub dengan rasa kecewa dan hampa. Namun begitu, dia masih berhasrat untuk mencelakakan Nabi Ayyub a.s.
Kembali ia menghadap Allah SWT dan meminta izin untuk meneruskan usahanya.
Iblis berkata,
"Wahai Tuhan, Ayyub tidak mau menerima hasutanku. Tetapi jika anak-anaknya mati, ia pasti berpaling dari-Mu."
Allah SWT mengizinkan Iblis untuk menggoda lagi Nabi Ayyub. Akhirnya rumah yang dihuni oleh putra-putra Nabi Ayyub menjadi hancur dan putra-putranya meninggal semuanya.
Kemudian Iblis pun pergi ke rumah Nabi Ayyub dengan menyamar sebagai sahabat Nabi Ayyub.
Iblis berkata,
"Hai Ayyub, sudahkah engkau melihat putra-putramu mati? Sudah jelas hai Ayyub, bahwa Tuhan tidak menerima ibadahmu selama ini."
Mendengar ucapan iblis itu, menagislah Nabi Ayyub dengan tersedu-sedu sambil berkata,
"Allah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali."
Ujian Ketiga.
Iblis pergi meninggalkan Nabi Ayyub yang sedang dalam keadaan sujud kepada Allah SWT. Kemudian Iblis kembali menghadap Allah SWT dan berkata,
"Wahai Tuhan, izinkan aku ya Tuhan untuk menguji sekali lagi terhadap kesehatannya."
Allah mengizinkan kehendak iblis tersebut.
Iblis memerintahkan kepada pengikut-pengikutnya supaya menaburkan benih-benih penyakit ke dalam tubuh Nabi Ayyub sehingga Nabi Ayyub menderita sakit parah.
Semua orang menjauhinya karena takut tertular dan hanya tinggal istrinya yang setia menjaga dan merawatnya. Namun demikian dalam keadaan yang tidak berdaya itu, Nabi Ayyub masih tetap beribadah kepada Allah SWT dengan biirnya yang terus menyebut Asma Allah.
Kegagalan Iblis.
Iblis pun akhirnya menjadi kesal dengan sikap Nabi Ayyub tersebut.
Iblis gagal dalam menggoda seorang hamba Allah yang selalu taat dan percaya akan Qada dan Qadar Allah, apapun yang terjadi, apa pun yang dialami di dunia ini Nabi Ayyub tetap sabar dan sabar.
Sungguh Nabi yang sangat sabar dalam menerima cobaan, menerima dengan ikhlas cobaan yang diberikan Allah SWT.
Akhirnya iblis pun menyerah karena tak bisa menggoda lagi Nabi Ayyub. Apapun bentuk godaan yang dilayangkan, tetap saja Nabi Ayyub beriman, tak goyah walau hanya sedikitpun.
Berkat kesabaran dan menerima cobaan dengan selalu beribadah, Allah akhirnya memberikan kesembuhan dan semua nikmat-Nya kepada Nabi Ayyub.
Subhanallah.
Sungguh kesabaran yang sulit untuk ditiru manusia untuk saat ini.
Beliaulah Nabi Ayyub.
Nabi Ayyub hidup dalam keadaan yang serba ada dan mewah dengan harta kekayaan yang banyak, hidup rukun dengan anak dan istrinya. Namun begitu Nabi Ayyub tidak terlena sedikit pun dengan kekayaan, anak serta istrinya itu. Siang dan malam bibirnya tidak lepas dari mengingat Allah SWT, bersujud dan bersyukur kepada-Nya.
Dengan tingkah laku yang demikian, membuat Iblis sedih dan berusaha untuk menggoda Nabi Ayyub. Iblis tak pernah putus asa menggodanya siang dan malam, namun masih gagal juga.
Kemudian Iblis pergi menghadap Allah dan berkata,
"Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub tidak beribadah dengan ikhlas, ia hanya takut kehilangan semua hartanya. Andaikan ia ditimpa musibah sehingga hartanya musnah, tentu ia akan berpaling dari-Mu," kata Iblis.
Siasat Iblis.
Ujian Pertama.
Allah mengizinkan keinginan Iblis itu. Maka iblis mengumpulkan kawan-kawannya untuk menguji dan memalingkan keimanan Nabi Ayyub. Untuk pertama kali ia berusaha menghancurkan harta benda Nabi Ayyub. Dengan berbagai cara, akhirnya Iblis berhasil memusnahkan binatang ternak, ladang-ladang serta bangunan-bangunan milik Nabi Ayyub.
Dalam waktu singkat saja, Nabi Ayyub yang sebelumnya kaya raya sekarang menjadi mskin. Setelah itu Iblis pun datang menemui Nabi Ayyub dengan menyamar sebagai orang tua dan berkata,
"Sesungguhnya musibah yang menimpamu ini sangat mengerikan."
Kemudian Nabi Ayyub berkata,
"Ketahuilah, Allah Maha Kuasa yang dapat berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagai hamba, kita harus menerima takdir-Nya."
Ujian Kedua.
Iblis segera meninggalkan rumah Nabi Ayyub dengan rasa kecewa dan hampa. Namun begitu, dia masih berhasrat untuk mencelakakan Nabi Ayyub a.s.
Kembali ia menghadap Allah SWT dan meminta izin untuk meneruskan usahanya.
Iblis berkata,
"Wahai Tuhan, Ayyub tidak mau menerima hasutanku. Tetapi jika anak-anaknya mati, ia pasti berpaling dari-Mu."
Allah SWT mengizinkan Iblis untuk menggoda lagi Nabi Ayyub. Akhirnya rumah yang dihuni oleh putra-putra Nabi Ayyub menjadi hancur dan putra-putranya meninggal semuanya.
Kemudian Iblis pun pergi ke rumah Nabi Ayyub dengan menyamar sebagai sahabat Nabi Ayyub.
Iblis berkata,
"Hai Ayyub, sudahkah engkau melihat putra-putramu mati? Sudah jelas hai Ayyub, bahwa Tuhan tidak menerima ibadahmu selama ini."
Mendengar ucapan iblis itu, menagislah Nabi Ayyub dengan tersedu-sedu sambil berkata,
"Allah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali."
Ujian Ketiga.
Iblis pergi meninggalkan Nabi Ayyub yang sedang dalam keadaan sujud kepada Allah SWT. Kemudian Iblis kembali menghadap Allah SWT dan berkata,
"Wahai Tuhan, izinkan aku ya Tuhan untuk menguji sekali lagi terhadap kesehatannya."
Allah mengizinkan kehendak iblis tersebut.
Iblis memerintahkan kepada pengikut-pengikutnya supaya menaburkan benih-benih penyakit ke dalam tubuh Nabi Ayyub sehingga Nabi Ayyub menderita sakit parah.
Semua orang menjauhinya karena takut tertular dan hanya tinggal istrinya yang setia menjaga dan merawatnya. Namun demikian dalam keadaan yang tidak berdaya itu, Nabi Ayyub masih tetap beribadah kepada Allah SWT dengan biirnya yang terus menyebut Asma Allah.
Kegagalan Iblis.
Iblis pun akhirnya menjadi kesal dengan sikap Nabi Ayyub tersebut.
Iblis gagal dalam menggoda seorang hamba Allah yang selalu taat dan percaya akan Qada dan Qadar Allah, apapun yang terjadi, apa pun yang dialami di dunia ini Nabi Ayyub tetap sabar dan sabar.
Sungguh Nabi yang sangat sabar dalam menerima cobaan, menerima dengan ikhlas cobaan yang diberikan Allah SWT.
Akhirnya iblis pun menyerah karena tak bisa menggoda lagi Nabi Ayyub. Apapun bentuk godaan yang dilayangkan, tetap saja Nabi Ayyub beriman, tak goyah walau hanya sedikitpun.
Berkat kesabaran dan menerima cobaan dengan selalu beribadah, Allah akhirnya memberikan kesembuhan dan semua nikmat-Nya kepada Nabi Ayyub.
Subhanallah.
Jenazah Ulama Bisa Mengaji
Kisah yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar. Dulu mungkin kita sering mendengar cerita ini melalui media radio yang diceritakan oleh Da'i Sejuta Umat, Ustad kondang, Almarhum KH Zainuddin MZ.
Sungguh luar biasa, jenazah bisa mengaji.
Itulah yang terjadi pada kematian Sa'id bin Jubair. Setelah dia divonis mati oleh penguasa zalim dan kepalanya dipenggal, dengan izin Allah SWT mulutnya tetap bisa mengaji, menyebut Asma Allah.
Kisahnya.
Dalam kitab At-Tahrim disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Bani Umayyah ada seorang wakil gubernur yang zalim bernama Hajjaj bin Yusuf. Selama berkuasa, Hajjaj justru menghukum orang yang membela kebenaran, bahkan ia telah memfitnah seorang ulama bernama Sa'id bin Jubair sebagai pemberontak. Akhirnya ia menyuruh pengawalnya untuk menangkap Sa'id.
Setelah beberapa hari dalam pencarian, akhirnya Sa'id dapat ditemukan dan dibawa ke Baghdad untuk dihadapkan kepada penguasa yang lalim itu. Setibanya di istana, terjadi dialog antara Sa'id bin Jubair dan Hajjaj bin Yusuf.
"Siapa nama Anda?" tanya Hajjaj.
"Sa'id bin Jubair (yang bahagia anak orang yang teguh)," jawab Sa'id.
"Tidak, nama yang layak untukmu adalah Syaqiy bin Kusair (Si celaka anak si pecah)," hardik wakil gubernur zalim itu.
"Wahai penguasa, yang memberi nama adalah orang tua, Anda tidak berhak mengubahnya," protes Sa'id.
"Kalau begitu, celakalah kamu dan ibu bapakmu yang memberi nama seperti itu, kamu semua pengkhianat dan wajib dihukum pancung," kata Hajjaj yang mulai terpancing emosi.
"Saya bukan pengkhianat, Anda tidak dapat mencela seperti itu, hanya Allah Yang Maha Kuasa," ujar Sa'id.
"Diam..!! jangan banyak bicara, sekarang ini juga aku akan mengirimmu ke neraka," bentak Hajjaj dengan marah.
"Jika saya tahu bahwa Anda berkuasa menentukan tempatku di akhirat, maka tentu sejak dari dulu saya menyembah Anda," tegas Sa'id.
Penguasa Zalim.
Pernyataan Sa'id membuat Hajjaj makin geram. Lalu Hajjaj menyuruh salah seorang prajuritnya supaya mengeluarkan permata dan mutiara untuk diletakkan di hadapan Sa'id.
"Apakah kamu sudi meminta ampunanku dan menerima permata itu?" kata Hajjaj.
"Tidak, saya hanya mau meminta ampunan kepada Allah, tidak kepada Anda, harta itu tidak dapat menyelamatkan diri Anda dari dahsyatnya hari kiamat," kata Sa'id.
Karena kesal tidak dapat membujuk Sa'id, akhirnya Hajjaj memanggil beberapa pengawal. Hajjaj menyuruh untuk membawa dan membunuh Sa'id. Para pengawal dengan sigap memenuhi titah Hajjaj. Namun ketika mendekati pintu, Sa'id tersenyum. Seorang pengawal memberitahukan hal itu kepada Hajjaj.
"Mengapa kamu tersenyum?" tanya Hajjaj."
"Saya tersenyum karena heran melihat Anda yang berani melawan Allah," ujar Sa'id.
Selanjutnya para prajurit sibuk meyiapkan pedang, hamparan kulit kerbau yang biasa digunakan untuk menampung darah dan bangkai orang yang dihukum pancung di hadapan khalayak ramai.
Sa'id dipegang kuat-kuat, namun ia tidak melawan, malahan dengan tenang ia hadapkan wajahnya ke langit, sedangkan bibirnya tidak henti-hentinya meyebut Asma Allah.
Melihat demikian, Hajjaj semakin geram.
"Tundukkan dan tekan kepalanya," katanya.
Mati Khusnul Khatimah.
Sa'id tidak peduli lagi dengan ocehan Hajjaj. Ketika ia memalingkan wajahnya ke kiblat, Hajjaj menyuruh para pengawal untuk memutar wajahnya sehingga membelakangi kiblat.
Kendati demikian, ia masih saja membaca ayat Al Qur'an,
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya,
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[1]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui."
Makna [1].
Disitulah wajah Allah, maksudnya kekuasaan Allah meliputi seluruh alam, sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.
(QS. Al Baqarah: 115).
"Cepat potong lehernya," teriak Hajjaj.
Pedang itupun dengan cepat memotong lehernya, dan Sa'id meninggal dunia setelah mengucap dua kalimat syahadat.
Namun ada sebuah kejadian aneh tatkala kepala Sa'id terpisah dari badannya. Semua yang hadir tercengang karena menyaksikan kepala Sa'id yang terpisah dari badannya tersebut masih sempat menyebut Asma Allah dengan senyuman yang mengejek dunia.
سبحا ن الله
Beberapa hari kemudian, Hajjaj semakin tersiksa batinnya dan mengalami penyakit gila. Dan tak lama kemudian pula, Hajjaj pun mati.
Sungguh luar biasa, jenazah bisa mengaji.
Itulah yang terjadi pada kematian Sa'id bin Jubair. Setelah dia divonis mati oleh penguasa zalim dan kepalanya dipenggal, dengan izin Allah SWT mulutnya tetap bisa mengaji, menyebut Asma Allah.
Kisahnya.
Dalam kitab At-Tahrim disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Bani Umayyah ada seorang wakil gubernur yang zalim bernama Hajjaj bin Yusuf. Selama berkuasa, Hajjaj justru menghukum orang yang membela kebenaran, bahkan ia telah memfitnah seorang ulama bernama Sa'id bin Jubair sebagai pemberontak. Akhirnya ia menyuruh pengawalnya untuk menangkap Sa'id.
Setelah beberapa hari dalam pencarian, akhirnya Sa'id dapat ditemukan dan dibawa ke Baghdad untuk dihadapkan kepada penguasa yang lalim itu. Setibanya di istana, terjadi dialog antara Sa'id bin Jubair dan Hajjaj bin Yusuf.
"Siapa nama Anda?" tanya Hajjaj.
"Sa'id bin Jubair (yang bahagia anak orang yang teguh)," jawab Sa'id.
"Tidak, nama yang layak untukmu adalah Syaqiy bin Kusair (Si celaka anak si pecah)," hardik wakil gubernur zalim itu.
"Wahai penguasa, yang memberi nama adalah orang tua, Anda tidak berhak mengubahnya," protes Sa'id.
"Kalau begitu, celakalah kamu dan ibu bapakmu yang memberi nama seperti itu, kamu semua pengkhianat dan wajib dihukum pancung," kata Hajjaj yang mulai terpancing emosi.
"Saya bukan pengkhianat, Anda tidak dapat mencela seperti itu, hanya Allah Yang Maha Kuasa," ujar Sa'id.
"Diam..!! jangan banyak bicara, sekarang ini juga aku akan mengirimmu ke neraka," bentak Hajjaj dengan marah.
"Jika saya tahu bahwa Anda berkuasa menentukan tempatku di akhirat, maka tentu sejak dari dulu saya menyembah Anda," tegas Sa'id.
Penguasa Zalim.
Pernyataan Sa'id membuat Hajjaj makin geram. Lalu Hajjaj menyuruh salah seorang prajuritnya supaya mengeluarkan permata dan mutiara untuk diletakkan di hadapan Sa'id.
"Apakah kamu sudi meminta ampunanku dan menerima permata itu?" kata Hajjaj.
"Tidak, saya hanya mau meminta ampunan kepada Allah, tidak kepada Anda, harta itu tidak dapat menyelamatkan diri Anda dari dahsyatnya hari kiamat," kata Sa'id.
Karena kesal tidak dapat membujuk Sa'id, akhirnya Hajjaj memanggil beberapa pengawal. Hajjaj menyuruh untuk membawa dan membunuh Sa'id. Para pengawal dengan sigap memenuhi titah Hajjaj. Namun ketika mendekati pintu, Sa'id tersenyum. Seorang pengawal memberitahukan hal itu kepada Hajjaj.
"Mengapa kamu tersenyum?" tanya Hajjaj."
"Saya tersenyum karena heran melihat Anda yang berani melawan Allah," ujar Sa'id.
Selanjutnya para prajurit sibuk meyiapkan pedang, hamparan kulit kerbau yang biasa digunakan untuk menampung darah dan bangkai orang yang dihukum pancung di hadapan khalayak ramai.
Sa'id dipegang kuat-kuat, namun ia tidak melawan, malahan dengan tenang ia hadapkan wajahnya ke langit, sedangkan bibirnya tidak henti-hentinya meyebut Asma Allah.
Melihat demikian, Hajjaj semakin geram.
"Tundukkan dan tekan kepalanya," katanya.
Mati Khusnul Khatimah.
Sa'id tidak peduli lagi dengan ocehan Hajjaj. Ketika ia memalingkan wajahnya ke kiblat, Hajjaj menyuruh para pengawal untuk memutar wajahnya sehingga membelakangi kiblat.
Kendati demikian, ia masih saja membaca ayat Al Qur'an,
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya,
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[1]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui."
Makna [1].
Disitulah wajah Allah, maksudnya kekuasaan Allah meliputi seluruh alam, sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.
(QS. Al Baqarah: 115).
"Cepat potong lehernya," teriak Hajjaj.
Pedang itupun dengan cepat memotong lehernya, dan Sa'id meninggal dunia setelah mengucap dua kalimat syahadat.
Namun ada sebuah kejadian aneh tatkala kepala Sa'id terpisah dari badannya. Semua yang hadir tercengang karena menyaksikan kepala Sa'id yang terpisah dari badannya tersebut masih sempat menyebut Asma Allah dengan senyuman yang mengejek dunia.
سبحا ن الله
Beberapa hari kemudian, Hajjaj semakin tersiksa batinnya dan mengalami penyakit gila. Dan tak lama kemudian pula, Hajjaj pun mati.

