Minggu, 17 Juli 2011

Kisah Shalat Pertama

Meskipun secara diam-diam, perjalanan dakwah Rasulullah SAW sudah dimulai. Jibril pun mengajarkan kepadanya cara melakukan shalat. Mulanya, hanya Khadijah yang ikut melaksanakan shalat. Hingga akhirnya Ali, sepupu Rasulullah SAW pun berkenan mengikuti ajaran Islam.

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril kembali bersama di sebuah bukit di Makkah. Kali ini Jibril muncul dalam wujud seorang laki-laki. Ternyata Malaikat Jibril akan mengajarkan shalat.

Awalnya, Malikat Jibril terlebih dahulu menghentakkan tumitnya ke rumput hingga air yang beningpun memancar. Jibril kemudian berwudhu, membasuh bagian-bagian terntentu dengan air tersebut. Rasulullah SAW kemudian juga berwudhu seperti yang dilakukan Jibril. Untuk menjalankan shalat, kebersihan adalah hal yang sangat penting, setelah itu, Jibril mengajari Rasulullah SAW cara mendirikan shalat. Mereka pun shalat bersama, tapi tba-tiba Malaikat Jibril menghilang begitu saja.
Rasulullah SAW nampak sangat gembira mendapat ilmu baru. Beliau pun belajar cara berdoa yang dikehendaki Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pulang dengan sangat bahagia.

Rasulullah SAW pun mulai mengajarkan apa yang Beliau pelajari kepada istrinya, Khadijah. Mereka berdua kemudian mendirikan shalat berjamaah untuk pertama kalinya. Ada kebahagiaan yang ak terlukiskan dalam diri mereka berdua karena menjalankan shalat ini sangat indah. Dengan shalat, seseorang bisa berhubungan langsung dengan Allah SWT.

Kemudian pasti banyak yang bertanya, loh kenapa Nabi sudah shalat, padahal seharusnya kan pada waktu Isra' Mi'raj. Jadi janganlah salah, para ulama menjelaskan bahwa sebelum Isra' Mi'raj Nabi sudah shalat, tapi bukan shalat wajib seperti yang kita laksanakan sekarang. Perintah shalat wajib memang diturunkan pada saat Rasulullah SAW Isra' Mi'raj. Tata cara shalat yang diikuti adalah tata cara shlat yang dicontohkan Rasulullah SAW pasca Isra' Mi'raj.

Rela Berkorbam Demi Saudara

Al Barra' bin Malik adalah seorang yang gagah pemberani. Ia bahkan rela mati dan tersiksa demi menyelamatkan saudaranya. Ia juga sangat merindukan mati di dalam peperangan membela Islam.

Kisahnya.
Dia adalah saudara Anas bin Malik, namanya Al Barra' bin Malik. Dia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang juga menjadi pahlawan perang. Walaupun bertubuh kerempeng alias kurus dan berkulit legam, namun ia mampu menewaskan ratusan orang musyrik dalam pertandingan satu lawan satu.

Dalam Perang Yamamah, perang melawan pasukan Musilamah Al Kadzdzab pada masa pemerintatahn Abu Bakar As-Shiddiq, Al Barra' bin Malik menunjukkan kepahlawanannya. Ketika panglima perang Khalid bin Walid melihat pertempuran kian berkobar, ia berpaling kepada Al Barra' seraya berseru,
"Wahai Al Barra', kerahkan kaum Anshar!".
Saat itu juga Al Barra' berteriak memanggil kaumnya,
"Wahai kaum Anshar, kalian jangan berpikir kembali ke Madinah! Tidak ada lagi Madinah setelah hari ini. Ingatlah Allah, Ingatlah surga!".
Setelah berkata demikian, dia maju mendesak kaum musyrikin diikuti prajurit Anshar. Pedangnya berkelebat menebas musuh-musuh Allah yang datang mendekat.

Mengalami Luka-Luka.
Melihat prajuritnya berguguran, Musailamah dan kawan-kawannya menjadi gentar. Mereka lari tunggang langgang dan berlinding disebuah benteng yang terkenal dalam sejarah dengan nama Kebun Maut.
Kebun Maut adalah benteng terakhir bagi Musailamah dan pasukannya. Pagarnya tinggi dan kokoh. Sang pendusta dan pengikutnya mengunci gerbang benteng rapat-rapat dari dalam. Dari puncak benteng, mereka menghujani kaum muslimin yang mencoba masuk dengan panah.

Menghadapi keadaan yang demikian, kaum muslimin sempat kebingungan. Dalam benak Al Barra' muncul ide. Ia pun berteriak,
"Angkat tubuhku dengan galah dan lindungi dengan perisai dari panah-panah musuh. Lalu leparkan aku ke dalam benteng musuh, biarkanlah aku mati syahid untuk membukakan pintu, agar kalian bisa menerobos masuk."
Dalam sekejap, tubuh kerempeng Al Barra' telah dilemparkan ke dalam benteng. Begitu mendarat di benteng bagian dalam, ia langsung membuka pintu gerbang. Kaum muslimin pun banjir menerobos masuk, pedang mereka berkelebat menyambar tubuh dan kepala musuh. Lebih dari 20 ribu orang murtad tewas, termasuk pimpinan mereka, Musilamah Al Kadzdzab.

Berdoa Mati Syahid.
Sebenarnya Al Barra' bin Malik sangat merindukan mati syahid. Dia kecewa karena gagal memperolehnya di Kebun Maut. Sejak itu ia selalu menceburkan diri ke kancahpeperangan. Ia sangat rindu bertemu Rasulullah SAW.
Tatkala Perang Tustar melawan Persia berlangsung, Al Barra' bin Malik tidak mau ketinggalan. Kala itu pasukan musuh terdesak dan berlindung di sebuah benteng yang kokoh dan kuat. Temboknya tinggi besar, namun kaum muslimin mengepunng benteng tersebut dengan ketat.

Dalam keadaan demikian, pasukan Persia menggunakan berbagai car untuk menaklukkan kaum muslimin. Mereka menggunakan pengait-pengait yang diikatkan ke ujung antai besi yang dipanaskan. Rantai tersebut mereka lemparkan kepada kaum muslimin sehingga sebagian dari mereka tersambar pengait panas itu.
Banyak pasukan islam yang tersambar pengait, diantaranya adalah Anas bin Malik, saudara Al Barra' bin Malik. Selama beberapa saat, Anas tidak mampu melepaskan diri dari besi panas yang mengaitnya. Melihat hal itu, Al Barra' bin Malik segera melompat ke dinding benteng dan melepaskan pengait dari tubuh saudaranya.

Tangan Al Barra' bin Malik otomatis melepuh dan terbakar karena memegang pengait yang panas membara. Namun demikian ia tidak mempedulikannya, yang penting baginya adalah keselamatan saudaranya. Akhirnya ia berhasil menyelamatkan Anas walaupun kedua telapak tangannya lepas. Daging kedua lengannya melepuh dan hanya tinggal kerangka.
Sungguh pengorbanan yang luar biasa dahsyatnya.
Dalam Perang Tustar ini juga, Al Barra' bin Malik memohon kepada Allah SWT agar gugur sebagai syahid. Doanya dikabulkan, ia pun gugur sebagai syahid dengan wajah tersenyum bahagia.
(Sampai menetes air mata kala mendengar kata "Sangat rindu bertemu Rasulullah SAW" gan. Selamat Al Barra' doamu dikabulkan Allah SWT berkat sabar dan semangat yang membara).