Jumat, 14 Oktober 2011

Ludah Rasulullah Penawar Bisa Ular

Rasulullah SAW memiliki banyak mukjizat dan kali ini salah satunya adalah ludah Rasulullah SAW yang bisa menjadi obat penawar bisa ular.
Mukjizat itu dibuktikan sendiri oleh sahabatnya, Abu Bakar ketika menemani Rasulullah SAW bersembunyi di Gua Tsur.

Kisahnya.
Ketika Rasululah SAW diburu orang kafir Quraisy dan hendak dibunuh, beliau bersembunyi di Gua Tsur dengan ditemani Abu Bakar. Sebelum masuk gua, Abu Bakar meminta izin masuk terlebih dahulu supaya dapat membersihkan gua itu serta menutup lubang-lubang yang ada di gua itu.

Tak lama kemudian, setalah gua menjadi bersih, Rasulullah SAW masuk dan membaringkan tubuhnya di atas tanah dengan kepalanya berbantalkan paha Abu Bakar. Karena terlihat cukup letih, Rasulullah SAW tertidur di gua itu. Abu Bakar duduk dan tidak berani bergerak karena tidak ingin mengganggu tidur Rasulullah SAW. Abu Bakar memilih tetap waspada dari kejaran kafir Quraisy.

Namun, tak lama berselang, Abu Bakar melihat seekor ular berbisa hendak keluar dari salah satu lubang yang tidak sempat ditutup. Dengan cekatan, Abu Bakar menutup lubang itu dengan salah satu kakinya. Tiba-tiba saja ular itu menggigit kaki Abu Bakar, dan dalam waktu sekejap saja bisa ular itu menjalar ke seluruh tubuh Abu Bakar.


Gigitan Ular Mematikan.
Meskipun demikian, Abu Bakar tidak menjerit. Ia tidak ingin Rasulullah akan terbangun dari tudur akibat jeritannya. Semakin lama bisa ular itu melemahkan tubuh Abu Bakar dan membuatnya menangis. Secara tidak sengaja, tetesan air matanya jatuh mengenai tubuh Rasulullah SAW.




"Mengapa engkau menangis wahai Abu Bakar? Apakah kamu merasa takut dengan orang kafir Quraisy yang mengancam nyawamu?" tanya Rasulullah yang terbangun akibat tetesan air mata Abu Bakar.
"Ya Rasulullah, aku tidak pernah takut mati demi membela agama Allah," jawab Abu Bakar dengan suara melemah.

"Lalu apa yang terjadi hingga kamu menangis?" tanya Rasulullah lagi.
"Kakiku telah digigit ular, tubuhku lemas, aku menangis karena takut tidak akan bisa menjagamu lagi," kata Abu Bakar yang kemudian bersimpuh di hadapan Rasulullah SAW.

Rasululah SAW segera memeriksa telapak kaki Abu Bakar. Setelah melihat adanya bekas gigitan ular, beliau langsung meludahinya.
Ajaib...serta merta rasa sakit di kaki Abu Bakar langsung sirna, hilang serta merta. Tidak lama kemudian Abu Bakar sudah merasa bugar lagi seperti sedia kala.

Sementara itu, para pemuda kafir Quraisy yanmg mencari Rasulullah SAW dan Abu Bakar, akhirnya tiba juga di Gua Tsur. Akan tetapi Allah SWT membantu dengan mengarahkan laba-laba untuk menutupi mulut gua dengan sarangnya. Keadaan sarang laba-laba yang utuh tidak terusik itu menyebabkan mereka yang memburu Rasulullah SAW berpikir, tidak mungkin ada orang di dalam gua itu.

"Janganlah berduka wahai sahabatku, sesungguhnya Allah SWT bersama kita," kata Rasulullah SAW kepada Abu Bakar.
Itulah rangkuman kisahnya kawan.

Tepati Nazar Selamat dari Musibah

Karena menepati nazarnya yang tidak akan memakan daging gajah, akhirnya Abu Abdillah Alqalanisi selamat dari tenggelamnya kapal yang ditumpanginya.
Ahli zikir ini selamat pula dari kelaparan karena ditolong oleh seekor gajah.

Kisahnya.
Dalam kitab Hilyatul Awliya' diceritakan bahwa pada suatu saat Abu Abdillah Alqalanisi dalam sebuah perjalanan ke negeri seberang. Tidak ada transportasi lain selain naik kapal. Akan tetapi pada malam harinya cuaca di tengah lautan tidak bersahabat. Angin kencang tiba-tiba saja datang bersamaan dengan ombak yang begitu besar menghantam kapal tersebut berkali-kali. Seluruh penumpang pun berdoa dengan khusyuk demi keselamatan mereka sambil mengucap nazar.

"Kamu semua sudah bernazar agar Allah SWT menyelamatkan kami. Maka hendaknya kamu juga bernazar kepada Allah," kata salah seorang penumpang kepada Abdillah.
"Aku ini orang yang tidak peduli dengan dunia, aku tidak perlu bernazar," jawab Abdilah singkat.


Kapal Tenggelam.
Penolakan Abdillah ini nampaknya diprotes oleh seluruh penumpang kapal. Mereka takut penolakan itu benar-benar akan mendatangkan bencana bagi mereka. Dengan berbagai alasan, akhirnya mereka memaksa Abdillah untuk bernazar.
"Baiklah, Demi Allah, sekiranya Allah SWT menyelamatkanku dari musibah yang menimpaku ini, maka aku tidak akan makan daging gajah," kata Abdilah sekenanya bernazar.

Semua penumpang kapal heran dengan nazar yang diucapkan oleh Abdillah, karena nazar tesebut sangat asing bagi mereka.
"Apakah boleh bernazar seperti itu? Apakah ada orang yang mau makan daging gajah?" tanya mereka.
"Itulah pilihanku, semoga Allah memberi ganjaran atas lisanku yang mengucapkan kata-kata itu," ucap Abdillah.

Tak lama kemudian, kapal yang mereka tumpangi pecah, tapi anehnya para penumpang semuanya selamat dan terdampar di sebuah pantai yang tanpa ada sesuatu pun yang bisa dimakan.
Ketika semua penumpang merasakan lapar yang amat sangat, tiba-tiba ada seekor anak gajah yang melintas. Mereka langsung menangkap anak gajah itu lalu disembelih. Dagingnya dipotong kecil-kecil lalu disantap beramai-ramai kecuali Abdillah.

Penumpang lainnya mengajukan alasan, bahwa Abdillah dalam keadaan terpaksa, sehingga diperbolehkan untuk membatalkan nazarnya. Namun Abdillah tetap menolak alasan mereka dan Abdillah bersikukuh untuk memenuhi sumpahnya. Setelah makan, para penumpang yang terdampar itu merasa kenyang lalu mereka dapat tidur dengan pulas.




Diselamatkan Gajah.
Pada saat mereka tidur, induk gajah datang mencari anaknya, ia berjalan mengikuti jejak anaknya sambil mengendus-endus. Hingga akhirnya ia menemukan potongan tulang anaknya. Induk gajah itu pun sampai di tempat Abdillah dan para penumpang kapal yang terdampar itu.
Satu orang demi satu orang dia ciumi, dan setiap kali ia mencium bau daging anaknya pada orang itu, maka orang itu diinjak dengan kakinya sampai mati. Akibatnya mereka semua mati dan hanya menyisakan Abdillah.

Tiba saatnya induk gajah mendekati Abdillah. Tetapi karena Abdillah tidak memakan daging gajah, tubuhnya tidak diinjak oleh induk gajah itu. Anehnya, induk gajah itu menggerakkan tubuh bagian belakangnya dan memberi isyarat, kemudian mengangkat ekor dan kakinya.

Dari gerakan tubuh gajah itu, Abdillah mengerti bahwa ia menghendaki dirinya untuk menungganginya. Lalu Abdillah pun naik, duduk di di atasnya. Kemudian gajah itu berlari kencang menuju sebuah perkebunan lalu menurunkannya. Kemudian gajah itu berlari menuju tengah hutan lagi.

Di pagi hari, Abdillah menyaksikan hamparan sawah, perkebunan dan sekelompok orang. Orang-orang tersebut lantas membawanya ke rumah kepala suku. Juru bicara suku itu memintanya untuk bercerita tentang yang dialaminya.
"Tahukah kamu, berapa jauh jarak perjalananmu dengan seekor gajah?" tanya kepala suku.
"Tidak tahu," jawab Abdillah.
"Sejauh perjalanan selama 8 hari, sementara gajah itu membawamu lari hanya dalam satu malam saja," jelas kepala suku.
Selanjutnya Abdillah diperkenankan tinggal bersama penduduk di desa tersebut sehingga ia mendapat pekerjaan. Setelah itu, ia pun pulang ke kampungnya.