Segala cara akan dilakukan setan untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah SWT. Salah satunya adalah dengan mempengaruhi manusia agar menyukai tidur dan melelapkannya hingga manusia tersebut meninggalkan ibadah.
Kisahnya.
Dalam sebuah riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim dikisahkan bahwa Rasulullah SAW pada suatu saat mengetahui seorang pemuda yang gemar tidur. Pemuda tersebut selalu memperbanyak waktu tidurnya sehingga meninggalkan banyak ibadah kepada Allah SWT. Ketika Rasulullah mengetahui bahwa pemuda itu tidur sepanjang malam hingga subuh, bahkan pemuda itu tidak melaksanakan shalat malam, Rasul pun bersabda kepada para sahabat-sahabatnya.
"Sesungguhnya pemuda itu telah dikencingi setan di kedua telinganya," sabda Rasulullah SAW.
Dalam riwayat lain juga diceritakan bahwa setan selalu memberikan tiga ikatan di kepala orang yang tidur. Ketiga ikatan itu berfungsi agar orang tersebut terlelap tidur sehingga banyak meninggalkan ibadah.
Diikat Setan.
Jika orang itu bangun, kemudian teringat kepada Allah SWT, maka lepaslah satu ikatan.
Jika ia bangkit dan berwudhu, maka lepaslah ikatan yang kedua, lalu jika orang tersebut melakukan shalat, maka lepaslah semua ikatan itu.
Pada pagi harinya, orang itu akan terlihat giat dan berseri-seri. Namun, apabila ketiga ikatan itu tidak terlepas, maka pagi harinya orang tersebut terlihat kusut dan bermalas-malasan.
Iblis sangat serius melelapkan setiap manusia dalam tidur yang panjang.
Bahkan iblis memiliki anak buah yang khusus untuk menjalankan misinya tesebut. Anak buah iblis tersebut bernama Haz. Tiap malam setan Haz bekerja dengan mengelilingi barat dan timur demi mendatangi orang yang tidur sembari membisikkan rayuan.
"Tenanglah, tenanglah, malam masih panjang, tidurlah," ucap setan Haz mempengaruhi orang yang tidur.
Namun, agama islam memiliki cara untuk menghindari godaan setan Haz tersbut.
Pertama dengan berwudhu sebelum tidur. Menurut Imam Al Ghazali dalam kitabnya Maraqiy Al Ubudiyyah disebutkan bahwa barang siapa yang tidur dalam keadaan suci, maka ia akan ditunggui malaikat di atas kepalanya. Apabila ia terbangun dari tidurnya, malaikat itu akan berdoa kepada Allah SWT agar memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang tidur dalam keadaan suci.
Serdadu Iblis.
Langkah kedua untuk menghindari godaan iblis dan anak buahnya adalah jangan lupa berdoa sebelum tidur, karena barang siapa yang membaca doa sebelum tidur, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya.
Doa sebelum tidur sudah pada tahu semua kan.
Ini ada doa sebelum tidur yang diambil dari tafsir Al Mansub Ilayh.
"La hawla wala quwwata illa billah al 'aliyyil 'adzim, wa shalallahu 'alamuhammadin wa alihi."
Dalam tafsir tersebut dikisahkan bahwa barang siapa yang berlindung kepada Allah denga membaca kalimat doa tersebut, maka para setan akan lari dan melapor kepada iblis.
Dijaga Ratusan Ribu Malaikat.
Ketika iblis dengan serdadunya menggoda orang tersebut, maka Allah SWT segera memerintahkan kepada ratusan ribu malaikat untuk melawan iblis-iblis itu. Para malaikat itu dilengkapi dengan persenjataan yang lengkap seperti kuda api, pedang, panah dan senjata lain yang semuanya berasal dari api untuk memerangi iblis.
Selanjutnya, iblis dan anak buahnya kalah dan tertangkap. Iblis ditinggal dengan banyak luka. Luka tersebut tidak akan sembuh, kecuali orang yang digoda tersebut berbuat maksiat. Iblis serta setan akan menunggangi punggung orang tersebut untuk terus menggoda supaya berbuat maksiat, dan kalau sudah berbuat maksiat, maka sembuhlah iblis itu.
Jika iblis atau setan berhasil menjerumuskan manusia untuk berbuat dosa, ia akan lari sembari tertawa penuh kemenangan.
Wanita adalah sumber mata air terpenting yang mengalirkan ketenangan, kebahagian, dan Kelembutan, diciptakan dengan keindahan dan tampil sebagai makhluk terindah
Rabu, 19 Oktober 2011
Kaum yang Dihujani Api
Meskipun sudah dikarunia tanah yang subur dan hidup makmur, namun kaum Madyan enggan menyembah Allah SWT. Nabi Syu'aib pun juga telah mengingatkan, tapi mereka lebih memilih menyembah pohon besar. Akibatnya, azab Allah berupa hujan api datang menimpa mereka.
Kisahnya.
Kisah ini dicuplik dari Ayat Al Qur'an Surat At-Taubah ayat 70.
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya:
Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, Maka Allah tidaklah sekali-kali Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.
Dikisahkan, pada saat itu terdapat suatu kaum yang memiliki wilayah yang subur dan hidup makmur. Kaum tersebut adalah Kaum Madyan. Penduduk Madyan juga terkenal pintar dalam berdagang. Pertanian dan perdagangan yang dilakukan penduduk Madyan membuat mereka hidup makmur. Namun sayang, dalam hal urusan ibadah, mereka meninggalkan ajaran yang pernah diajarkan Nabi Ibrahim a.s untuk menyembah Allah SWT.
Mereka menyembah Al-Aikah, yaitu nama sebatang pohon besar dengan cabang dan rantingnya yang rimbun. Burung-burung pun banyak yang mendatangi pohon yang dikeramatkan penduduk Madyan tersebut. Mereka beranggapan bahwa kemakmuran hidup yang mereka dapatkan adalah kemurahan Al-Aikah, bukan datang dari Allah SWT.
Akhlak Tercela.
Tak hanya itu, akhlak kaum Madyan kian tercela. Mereka membenarkan penipuan, perampokan, bahkan pemerkosaan. Mereka tak lagi punya kejujuran dan hati nurani terhadap sesama manusia.
Al-Aikah sesungguhnya tidak berbeda dengan pohon-pohon lainnya. Burung-burung yang berdatangan dan hinggap di Al-Aikah juga burung-burung biasa. Ia mengoceh karena memang begitulah perilakunya, bukan karena diperintah Al-Aikah.
Kerusakan akhlak dan tauhid yang demikian parah, menyebabkan Allah SWT mengutus Nabi Syu'aib a.s untuk menyadarkan Kaum Madyan. Nabi Syu'aib yang keturunan Nabi Luth dengan suara lantang mengingatkan kekeliruan kaum Madyan tersebut. Nabi Syu'aib menyeru agar penduduk Madyan meninggalkan penyembahan kepada Al-Aikah dan kembali menyembah Allah SWT.
"Ingatlah baik-baik, bukankah kalian dulu hanya berjumlah sedikit? Perhatikanlah baik-baik pula bagaimana akhir hidup bagi orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini. Untuk itu, tinggalkan Al-Aikah dan sembahlah Allah," kata Nabi Syu'aib a.s.
"Kami tidak gentar dengan ancaman tersebut dan tetap akan menyembah Al-Aikah," kata seorang pemimpin Madyan.
Mendapati kekerasan hati dan penolakan penduduk Madyan, Nabi Syu;'aib lantas berdoa kepada Allah SWT,
"Ya Allah, Ya Tuhan Kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan adil, karena Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya," doa Nabi Syu'aib a.s.
Udara Panas.
Nabi Syu'aib beserta pengiktunya bergegas meninggalkan daerah Madyan setelah mendapat kepastian akan segera datang azab. Akhirnya azab Allah kepada penduduk Madyan pun datang. Wilayah Madyan diguncang gempa maha dahsyat. Tidak hanya itu saja, penduduk Madyan didera dengan udara yang panas selama 7 hari 7 malam, panas yang menyengat. Meski mereka telah berusaha sekuat tenaga menanggulangi udara panas itu, usaha mereka tetap gagal.
Tak lama kemudian, muncul awan hitam dari langit. Penduduk Ashabul Aikah bersuka cita karenanya. Namun, ternyata yang datang bukanlah air hujan, melainkan hujan api dan bara yang menyala-nyala. Dalam waktu siingkat saja, seluruh penduduk Madyan mati mengenaskan karena kekafiran serta kemusyrikan mereka kepada Allah SWT.
Datangnya azab Allah sesungguhnya bukan karena keinginan Allah menyiksa mereka, tetapi semua itu karena kaum Madyan yang ingin menyiksa dirinya sendiri dan tidak mau bertobat.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Kisahnya.
Kisah ini dicuplik dari Ayat Al Qur'an Surat At-Taubah ayat 70.
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya:
Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, Maka Allah tidaklah sekali-kali Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.
Dikisahkan, pada saat itu terdapat suatu kaum yang memiliki wilayah yang subur dan hidup makmur. Kaum tersebut adalah Kaum Madyan. Penduduk Madyan juga terkenal pintar dalam berdagang. Pertanian dan perdagangan yang dilakukan penduduk Madyan membuat mereka hidup makmur. Namun sayang, dalam hal urusan ibadah, mereka meninggalkan ajaran yang pernah diajarkan Nabi Ibrahim a.s untuk menyembah Allah SWT.
Mereka menyembah Al-Aikah, yaitu nama sebatang pohon besar dengan cabang dan rantingnya yang rimbun. Burung-burung pun banyak yang mendatangi pohon yang dikeramatkan penduduk Madyan tersebut. Mereka beranggapan bahwa kemakmuran hidup yang mereka dapatkan adalah kemurahan Al-Aikah, bukan datang dari Allah SWT.
Akhlak Tercela.
Tak hanya itu, akhlak kaum Madyan kian tercela. Mereka membenarkan penipuan, perampokan, bahkan pemerkosaan. Mereka tak lagi punya kejujuran dan hati nurani terhadap sesama manusia.
Al-Aikah sesungguhnya tidak berbeda dengan pohon-pohon lainnya. Burung-burung yang berdatangan dan hinggap di Al-Aikah juga burung-burung biasa. Ia mengoceh karena memang begitulah perilakunya, bukan karena diperintah Al-Aikah.
Kerusakan akhlak dan tauhid yang demikian parah, menyebabkan Allah SWT mengutus Nabi Syu'aib a.s untuk menyadarkan Kaum Madyan. Nabi Syu'aib yang keturunan Nabi Luth dengan suara lantang mengingatkan kekeliruan kaum Madyan tersebut. Nabi Syu'aib menyeru agar penduduk Madyan meninggalkan penyembahan kepada Al-Aikah dan kembali menyembah Allah SWT.
"Ingatlah baik-baik, bukankah kalian dulu hanya berjumlah sedikit? Perhatikanlah baik-baik pula bagaimana akhir hidup bagi orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini. Untuk itu, tinggalkan Al-Aikah dan sembahlah Allah," kata Nabi Syu'aib a.s.
"Kami tidak gentar dengan ancaman tersebut dan tetap akan menyembah Al-Aikah," kata seorang pemimpin Madyan.
Mendapati kekerasan hati dan penolakan penduduk Madyan, Nabi Syu;'aib lantas berdoa kepada Allah SWT,
"Ya Allah, Ya Tuhan Kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan adil, karena Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya," doa Nabi Syu'aib a.s.
Udara Panas.
Nabi Syu'aib beserta pengiktunya bergegas meninggalkan daerah Madyan setelah mendapat kepastian akan segera datang azab. Akhirnya azab Allah kepada penduduk Madyan pun datang. Wilayah Madyan diguncang gempa maha dahsyat. Tidak hanya itu saja, penduduk Madyan didera dengan udara yang panas selama 7 hari 7 malam, panas yang menyengat. Meski mereka telah berusaha sekuat tenaga menanggulangi udara panas itu, usaha mereka tetap gagal.
Tak lama kemudian, muncul awan hitam dari langit. Penduduk Ashabul Aikah bersuka cita karenanya. Namun, ternyata yang datang bukanlah air hujan, melainkan hujan api dan bara yang menyala-nyala. Dalam waktu siingkat saja, seluruh penduduk Madyan mati mengenaskan karena kekafiran serta kemusyrikan mereka kepada Allah SWT.
Datangnya azab Allah sesungguhnya bukan karena keinginan Allah menyiksa mereka, tetapi semua itu karena kaum Madyan yang ingin menyiksa dirinya sendiri dan tidak mau bertobat.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

