Jumat, 21 Oktober 2011

Orang yang Pernah Beribadah 1000 Bulan

Ternyata di muka bumi pernah terjadi orang yang beribadah selama 1000 bulan lamanya. Dialah Sya'mun Al Ghozi, seorang utusan Nabi Isa a.s.
Berkat pertolongan Allah SWT,, Sya'mun beribadah seribu bulan lamanya.
Kisah ini menjadi kisah tersendiri pada masa lalu. Khususnya terkait dengan yang namanya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada 1000 bulan.


Kisahnya.
Lailatul Qadar adalah hadiah besar yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW, junjungan kita semua. Secara fisik dan umur umat Nabi Muhammad lebih pendek dibandingkan dengan umat-umat terdahulu.

Katakanlah umat Nabi Nuh yang rata-rata berusia 950 tahun, umat Nabi Musa as hingga 500 tahun baru dibilang tua. Coba kalau kita bandingkan dengan rata-rata umur umat Nabi Muhammad SAW yang hanya 60 tahun saja.

Karena kecintaan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, berakibat pula membiasnya kecintaan terhadap umatnya, termasuk kita. Dari kecintaan tersebut, maka setiap tahun Allah SWT memberikan hadiah besar terhadap umat Nabi Muhammad yang bernama Lailatul Qadar.

Siapa saja yang menemukan Lailatul Qadar dan beribadah di malam itu, maka nilai ibadahnya lebih baik daripada 1000 bulan atau 68 tahun bagi umat terdahulu.
Artinya, kalau dalam waktu 10 tahun seseorang dari umat Nabi Muhammad SAW memperoleh Lailatul Qadar, maka nilai ibadahnya lebih baik daripada 680 tahun. Artinya lagi kalau 20 tahun menemukan Lailatul Qadar, maka ia bak beribadah selama 1360 tahun. Hal ini melampaui batas ibadah yang telah dilakukan oleh utusan Nabi Isa as yang bernama Sya'mun tersebut.



Pada Masa Nabi Isa as.
Pada masa Nabi Isa as, ada kampung yang bernama Anthokiah. Negeri itu memiliki Raja yang bernama Al Thoikis, dimana rakyat di sana hidup mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala.

Mendengar hal tersebut, Nabi Isa as mengutus 2 orang mubaligh untuk menyampaikan risalah Allah SWT dengan tidak mempersekutukan-Nya.
Namun, masyarakat di sana menolak mentah-mentah ajakan dari mubaligh ini. Perdebatan terjadi, dan didengar oleh Raja Al Thoikis. Karena khawatir akan kekuasaannya diganggu dengan adanya ajaran baru, maka utusan Nabi Isa as tersebut ditangkap dan dipenjara.

Berita pengakapan tersebut terdengar juga oleh Nabi Isa as, hingga akhirnya diutuslah utusan ketiga yang bernama Sya'mun Al Ghozi.
Sya'mun menghadap raja agar membebaskan para utusan Nabi Isa as. Dengan diplomasi yang cantik dan juga dengan pembuktian medis melalui misi kemanusiaan, pengobatan massal, maka dua utusan tersebut berhasil dibebaskan. Kepada 2 rekannya Sya'mun berpesan agar dalam menjalankan dakwah haruslah dengan kesabaran. Karena sabarlah yang mengundang datangnya pertolongan Allah SWT.

Pengkhianatan Istri.
Setelah perjuangan dakwah ketiga utusan itu sukses, memperoleh kemenangan gemilang di daerah Anthokiah, ditambah lagi dengan Mukjizat Nabi Isa as yang mampu menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara medis, maka pengikut Nabi Isa as menjadi sangat meluas.

Bahkan ketika Nabi Isa as mampu menghidupkan orang yang telah mati (ada pendapat mengatakan seminggu dari kematian, ada yang mengatakan 11 hari dan ada yang 40 hari), maka dimulailah babak baru kehidupan di negeri Anthokiah.

Namun sayang, ada seorang pemgusaha yang kaya raya sangat iri akan kehadiran ajaran baru yang dibawa oleh Nabi Isa as.
Pengusaha itu khawatir kalau kekayaannya akan direbut. Maka disebarkanlah fitnah kepada Sya'mun Al Ghozi dan rekan-rekannya. Kali ini datangnya dari para istri-istri mereka yang tergiur dengan iming-iming limpahan harta dari pengusaha kaya raya tersebut.
Syarat dapat limpahan harta adalah dengan membunuh suami-suami mereka. Hingga akhirnya Sya'mun tertangkap dan diikat di satu tiang di tengah alun-alun kota.

Seluruh bagian tubuh Sya'mun dikuliti dan disaksikan oleh banyak orang agar tidak terpengaruh dengan ajaran yang dibawa Nabi Isa as.
Dalam keadaan dikuliti tersebut, Sya'mun berdoa kepada Allah SWT,
"Ya Allah, kembalikanlah aku seperti sedia kala. Jikalau Engkau kabulkan permohonanku ini, maka aku akan mengabdi dan beribadah kepadaMu selama 1000 bulan," doa Sya'mun.

Akhirnya Allah SWT mengabulkan doa tersebut, Sya'mun Al Ghozi diberikan kehidupan kembali selama 1000 bulan. Selama itu pula, dirinya tidak lupa beribadah kepada Allah SWT. Atas perjuangan gigih dan kecintaannya itu, Sya'mun Al Ghozi dinyatakan sebagai ahli surga Jannatun Na'im.

Wallahu A'lam.

Ahli Ibadah Masuk Neraka

Walaupun sudah beribadah selama ratusan tahun, ternyata Allah memutuskan laki-laki ahli ibadah itu harus masuk neraka. Walau sedih, laki-laki tersebut tetap ikhlas dan justru karena keikhlasannya menerima neraka, ia justru mendapat surga.

Kisahnya.
Suatu saat, Nabi Musa as sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Tak lama kemudian, beliau memutuskan untuk singgah ke sebuah tempat yang biasa digunakan untuk shalat bagi masyarakat setempat. Di tempat itu, Nabi Musa as melihat seseorang sedang beribadah dengan khusyuknya.

Nabi Musa as penasaran, siapakah laki-laki yang sudah menarik perhatiannya itu. Nabi Musa pun akhirnya menanyakan perihal tersebut kepada warga setempat. Menurut beberapa warga, orang tersebut adalah orang yang ahli ibadah.

Nabi Musa a.s. kagum melihat orang tua renta yang masih tetap khusyuk beribadah. Dengan segera, Nabi Musa as mendekatinya dan menyapa,
"Wahai hamba AAllah, apa yang hendak engkau pinta dari Allah sehingga engkau begitu khusyuk dalam beribadah," sapa nabi Musa a.s.

"Wahai Nabiyullah, umurku lebih dari 500 tahun dan aku telah 350 tahun beribadah kepada Allah tanpa melakukan dosa sedikitpun," kata ahli ibadah yang sudah tua itu.

"Subhanallah, apa yang kamu harapkan dari ibadahmu yang sedemikian lama itu?" tanya Nabi Musa a.s lagi.
"Aku hanya ingin tahu, di surga manakah Allah SWT akan meletakkan aku kelak di akhirat?" kata ahli ibadah itu.
"Apakah sudah engkau temukan jawabannya?" tanya Nabi Musa a.s.
"Belum Nabi, tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah SWT," pinta ahli ibadah itu.

Ikhlas.
Karena kagum dengan ibadah yang dilakukan orang tersebut, Nabi Musa as akhirnya mengabulkan permintaan ahli ibadah itu. Nabi Musa as kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar memberitahukan kepadanya dimana umatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar neraku-Ku yang paling dalam."

Meski dengan berat hati, Nabi Musa as tetap mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah Allah Firmankan kepadanya. Saat ahli ibadah itu mendengarkan perkataan Nabi Musa, ahli ibadah itu terkejut. Ia kaget atas apa yang dikatakan oleh Nabi Musa as. Dengan perasaan sedih, ia pun beranjak dari hadapan Nabi Musa as.



Pada malamnya, ahli ibadah itu terus menerus berfikir mengenai keadaan dirinya. Walaupun sedih, tapi ia ikhlas atas takdirnya. Ia tidak ingin menuntut apa-apa atas ibadahnya yang sudah 300 tahun itu. Namun, tiba-tiba terlintas di pikiran mengenai saudara-saudaranya, teman-temannya dan orang lain yang mana mereka baru beribadah selama 100 tahun, 200 tahun dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya. Ahli ibadah itu berfikir, dimana kelak mereka akan di tempatkan. Ia merasa iba pada mereka, mungkin saja tempat mereka juga di neraka.

Masuk Surga.
Keesokan harinya, ia menjumpai Nabi Musa a.s kembali. Ia kemudian berkata,
"Wahai Nabi Musa as, aku rela kalau Allah SWT memasukkan akau ke dalam neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam neraka, maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu neraka tertutup oleh tubuhku dan tidak akan ada seorangpun yang akan masuk ke dalamnya karena tubuhku menutupi pintu neraka," pintanya.

Nabi Musa as. lalu menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa as, maka Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, sampaikanlah kepada umatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di surga-Ku yang paling tinggi."

Karena keikhlasan ahli ibadah itu, akhirnya ia mendapatkan surga. Nabi Musa as pun memberitahukan kabar ini kepada ahli ibadah yang sudah tua itu. Begitu mendengar berita yang menyenangkan itu, si ahli ibadah langsung bersyukur kepada Allah SWT. Ia semakin meningkatkan kualitas ibadahnya dengan ikhlas di sisa hidupnya.