Sabtu, 30 Juni 2012

Peran Ibu Dalam pendidikan Akhlak Anak

Pembiasaan akhlak yang baik tidak perlu menunggu anak dewasa. Dari sini harus sudah dibiasakan. Dari semenjak Ibu mengandung sudah bisa melakukan pendidikan terhadap Akhlak Anak. Dengan cara mendengar dan berbuat sesuatu yang di anjurkan oleh agama, seperti membiasakan membaca dan mendengarkan Al-qur'an sangat mempengengaruhi terhadap pendidikan akhlak anak. 

Sebab kebiasaan yang baik, kalau tidak dibiasakan dalam  waktu  yang  lama,  sangat  sulit  untuk  menjadi  akhlak.  Justru  ketika kebiasaan baik tidak ada dalam diri kita, dengan sendirinya kebiasaan buruk akan menghiasinya tanpa harus dibiasakan

Jika semenjak dalam kandungan seorang anak dibiasakan mencintai orang lain, maka ketika lahir, ia pun akan berusaha untuk mencintai orang lain. Apabila sfat-sifat sabar, tawadlu, itsar, tabah, pemurah, suka menolong orang lain dan sebagainya dibiasakan, insya Allah ketika anak sudah paham dan mengerti, akhlak-akhlak tadi akan menghiasi kehidupannya

Oleh sebab itu, Rasul menganjurkan kepada para pemuda yang sudah waktunya
nikah,  untuk  memilih  calon  istrinya  seorang  wanita  yang  beragama  dan
berakhlak baik. Sebab dari wanita inilah, akan terlahir generasi yang beragama
dan berakhlak baik juga. Ibu seperti inilah yang akan mengajarkan tuntunan
agama yang telah terbiasa dan tertathbiq dalam dirinya. Di antara tuntunan
tersebut adalah akhlak yang mulia. Sedangkan wanita yang cantik, pintar, atau
kaya tidak menjamin akan melahirkan anak-anak yang berakhlak mulia
 

Jumat, 29 Juni 2012

Peran Ibu Dalam Pendidikan Ibadah Anak

Peran seorang ibu mempunyai arti sangat penting bagi pertumbuhan psikologi dan pendidikan ibadah anak. Bahkan seorang ibu di tuntut untuk mendidik anak sejak dalam kandungan, apalagi mengenai tentang pengenalan diri kepada sang pencipta, Seorang ibu benar-benar di tuntut super karena keyakinan seorang anakpun di tentukan oleh keyakinan seorang ibu.
Ketika  ibu  menjalani  kehamilan  sampai  melahirkan,  tidaklah  berat  baginya untuk mengajak si calon bayi untuk ikut serta dalam melakukan ibadah harian. Seperi:  sholat,  puasa,  baca  Alquran,  berdoa,  berdzikir,  dan  lain  sebagainya. Walau mungkin anak tidak paham apa yang dilakukan dan diinginkan ibunya, tapi ketika ia menginjak dewasa (baligh), Insya Allah ibadah-ibadah tadi akan mudah diajarkan. Sebab sudah sering melihat dan mendengar, sehingga takkan terasa berat menjalaninya

Peranan Wanita Dalam Pendidikan Akidah Anak

Seorang wanita mempunyai peran yang sangat penting dalam pendidikan akidah Anak. Dan bisa dikatakan baik buruknya seorang anak tergantung bagaimana peran seorang Ibu mendidik anak tersebut, dalam hal ini tentang pendidikan akidah anak. 
Bagaimana seorang ibu mampu menanamkan akidah sedini mungkin, sehingga anak meyakini bahwa kita hidup tidak semau kita. 
Tapi di sana ada pengatur, pengawas tujuan hidup, akhir dari kehidupan. Kemudian meyakini bahwa apa yang terjadi pada kita, pasti akan kembali pada sang khalik. 
Hal itu terangkum dalam rukun iman yang enam. Ketika ia besar, ia tidak lagi ragu dan bingung mencari jati diri. Siapakah aku? untuk apa aku hidup? siapakah yang harus aku ikuti dan dijadikan idola ? Dan seterusnya

Peranan Wanita dalam Mendidik Umat

Syauqi  mengatakan “Ibu  ibarat  madrasah,  jika  kau  persiapkan  maka sesungguhnya anda sedang menyiapkan bangsa (besar) yang wangi keringatnya. 
Wanita adalah guru pertama bagi sang anak, sebelum dididik orang lain. Sejak ruh ditiupkan ke dalam rahim, proses pendidikan sudah dimulai. Sebab mulai saat itu, anak telah mampu menangkap rangsangan-rangsangan yang dberikan oleh ibunya. Ia mampu mendengar dan merasakan apa yang dirasakan ibunya. Bila ibunya sedih dan cemas, ia pun merasakan demikian. Sebaliknya, bila ibunya merasa senang, ia pun turut senang.  
Kemudian bertambah hari, minggu dan bulan, yang pada wakunya ia terlahir ke muka bumi. Dari enol hari, ia sudah berusaha memahami apa yang diajarkan oleh  seorang  ibu.  Bila  seorang  ibu  membiasakan  anaknya  dari  kandungan sampai dewasa dengan adab-adab Islam, ia pun akan terbiasa dengan hal itu. Tapi sebaliknya, bila ibu membiasakan dengan adab-adab yang tidak Islami, ia pun  akan  ikut  seperti  ibunya.  Saat  inilah  shibgah  seorang  ibu  sangat berpengaruh pada anak. Karena perkembangan otak sangat cepat. Daya ingat masih kuat

Kamis, 21 Juni 2012

Beberapa Nama Khidir dan Kelebihannya

Kisah Islamiah malam dengan Kisah Nabi Khidir as.
Siapa yang tak pernah dengar tentang keunikan Nabi Khidir as, pastinya semua pernah mendengarnya kan.

Nabi Khidir as

Kisahnya.
Asal nama Khidir dan beberapa kelebihannya.
Ada orang yang memanggilnya Khadir, Al-Khadir atau Al-Khidir.
Sesungguhnya nama ini diidentikkan dengan nama Allah SWT yang menyerupai malaikat. Bisa diungkapkan sebagian orang kalau ia berkenan, walaupun tidak semudah siapa yang menginginkan pertemuan dengannya.

Untuk itu, mari kita lihat beberapa riwayat yang menceritakan tentang Nabi Khidir as berikut ini.

Sementara itu, Ibnu Asakir dan sahabat-sahabatnya meriwayatkan, bahwa hamba Allah yang satu ini digelari "Khidir" karena perubahan warna di sekitarnya menjadi kehijauan bila ia sedang shalat di suatu tempat.

Sahabat Nabi yang bernama Ikrimah meriwayatkan yang serupa kepada Ibnu Abi Hatim.
Berkata Ikrimah,
"Dia digelari Khidir karena bila dia duduk di suatu tempat maka cahaya di sekitar tempat itu akan berubah menjadi kehijauan. Mungkin karena pakaiannya yang berwarna hijau."



Berkata As-Sayyidi,
"Apabila Khidir berdiri di atas suatu tanah lapang yan gersang, maka dimana kakinya berpijak akan ditumbuhi rumput yang masih hijau hingga menutupi kedua telapak kakinya. Hal ini terjadi karena kebaikan pribadinya."

Hal serupa diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Rasulullah SAW bahwa jika Khidir duduk di atas tumpukan jerami yang telah kering, maka jerami tersebut akan menjadi hijau kembali.

Bukan main kepribadian yang beliau miliki ini.
Wallahu A'lam..

Minggu, 17 Juni 2012

Awal Pertemuan Nabi Khidir dan Tirmidzi

Kisah islamiah sore dengan Kisah Nabi Khidir as.
Nabi Khidir as merupakan salah seorang nabi yang memiliki rahasia yang hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya secara persis.

Pada kesempatan kali ini, admin kisah islamiah akan sedikit menceritakan bagaimana sebenarnya awal pertemuan antara Nabi Khidir as dan ulama terkenal at-Tirmidzi.


Kisahnya.
Pada suatu kesempatan, Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bersama dengan dua orang lainnya bertekad untuk melakukan pengembaraan mencari ilmu. Namun, ketika mereka hendak berangkat, jadi sedihlah hati ibunya.

"Wahai buah hati ibu," kata sang ibu.
"Aku adalah seorang perempuan yang sudah tua dan lemah. Bila ananda pergi, maka tak ada lagi seorang pun yang ibunda punyai di atas dunia ini. Selama ini anandalah tempat ibu bersandar, kepada siapakah ananda menitipkan ibunda yang sebatang kara dan lemah ini?" tutur ibundanya.

Kata-kata itu menggoyahkan semangat Tirmidzi, dan akhirnya ia membatalkan niatnya. Sementara kedua sahabatnya tetap berangkat mengembara mencari ilmu.

Pada suatu hari, Tirmidzi duduk di sebuah pemakaman meratapi nasibnya.
"Di sinilah aku, tak ada yang peduli kepadku yang bodoh ini," guman Tirmidzi.
Sedangkan dua sahabtanya tadi hanya akan kembali sebagai orang-orang yang terpelajar dan berbeda dari sebelumnya.



Bertemu Orang Tua di Pemakaman.
Tiba-tiba saja muncullah seorang tua dengan wajah berseri menegur Tirmidzi.
"Nak...mengapakah engkau menangis?" tanya orang tua itu.
Akhirnya Tirmidzi menceritakan segala keluh kesahnya selama ini.

"Maukah engkau menerima pelajaran dariku setiap hari sehingga engkau dapat melampau batas kedua sahabatmu itu dalam waktu yang singkat?" tanya orang tua itu.
"Aku bersedia," jawab Tirmidzi.

Maka setiap haru orang tua itu memberikan pelajaran kepada Tirmidzi.
Setelah 3 tahun berlalu, barulah Tirmidzi menyadari bahwa sesungguhnya orang tua itu adalah Nabi Khidir as.
Tirmidzi memperoleh keberuntungan yang seperti itu karena telah berbakti kepada ibundanya.

Itulah sedikit kisahnya, bayangkan kawand dalam waktu tempo tiga tahun barulah disadari Syeikh Tirmidzi kalau sebenarnya orang tua tersebut adalah Nabi Khidir as.

Kamis, 14 Juni 2012


Pengungsi Muslim Srilanka Terlupakan Dunia

29/8/2010 | 20 Ramadhan 1431 H | Hits: 401
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print
Dua keluarga muslim Jaffna, Srilangka utara, selama 20 tahun berada di kamp pengungsian seperti ini di Puttalam, Srilangka barat laut. (ANTARA/Jafar)
dakwatuna.com – Colombo. Jalannya agak terpincang, sementara bola matanya keruh merekam memori pedih yang memang pernah disaksikannya 20 tahun silam.
Dia kini telah berusia 30 dan hidup didampingi seorang istri dengan empat anak yang kondisinya mengundang iba siapapun.
Mohammad Aziz, begitu pria ini memiliki nama, mengisahkan nestapanya kini dan kenangan hitam di masa lalu yang menghantui hidupnya, ketika ANTARA menemuinya Jumat (27/9) di Puttalam, Srilangka barat laut.

“Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri ayah saya ditembak LTTE di kepalanya,” kenangnya dalam Bahasa Tamil, dalam alur yang kadang berat, meninggi, lalu merendah.
LTTE adalah kepanjangan dari Liberation Tigers of Tamil Eelam. Mereka lebih dikenal dengan “Macan Tamil” saja.
Pada Oktober 1990, 80.000 muslim Jaffna, Mannar, Kilinochchi, Mullaithivu, dan Vavuniya di utara Srilangka diberi waktu dua kali 48 jam oleh LTTE untuk angkat kaki, padahal sudah bergenerasi-generasi muslim hidup di situ.
“Mereka menyampaikan pengumuman lewat pengeras suara di mesjid,” kenang S. Marhana, warga Jaffna yang juga diusir LTTE seperti halnya Mohammad Aziz.
Marhana dan Aziz, seperti 90 persen dari total pengungsi muslim lainnya, hanya bisa berbahasa Tamil. Ironisnya, mereka justru dibinasakan LTTE yang juga Tamil. Mereka diusir hanya gara-gara muslim.
Padahal muslim di situ umumnya telah lama hidup berdampingan dengan warga Tamil Hindu, Tamil Kristen, dan warga Sinhala yang umumnya penganut Budha.
“Kami tak pernah menginginkan muslim pergi. Mereka memang berbeda agama, namun kami memakai bahasa yang sama. Pokoknya tak ada batasan di antara kami,” kata Pathmarajah, warga Tamil berkeyakinan Hindu.
Pertikaian politik dan ambisi sejumlah oportunis yang telah merusak harmoni itu. “Ini semua gara-gara uang dan jabatan,” kata Sanjeewa Hewabatagoda, orang Sinhala yang bekerja pada KBRI Colombo.
Mohammad Aziz sendiri bisa berbicara Bahasa Sinhala, bahasa yang digunakan Sanjeewa dan Lalith Candrawansa yang memandu ANTARA ke Puttalam.
Aziz adalah sedikit dari muslim Jaffna yang bisa berbicara Sinhala, namun tidak seperti Sanjeewa dan Lalith, mereka tak dapat berbahasa Inggris.
Kehujanan
Hampir semua muslim Srilangka utara yang diusir LTTE mengaku menyaksikan kekejaman perang, terutama kebengisan Macan Tamil yang menculik anak-anak mereka, tak peduli perempuan atau laki-laki, untuk direkrut menjadi tentara bocah.
Pengusiran muslim oleh LTTE berlangsung cepat dan efisien karena pada praktiknya mereka hanya memberi waktu dua jam kepada muslim untuk menyingkir.
“Jam lima pagi LTTE mendatangi desa kami dan pemimpinnya memerintahkan kami untuk segera meninggalkan Jaffna dalam waktu dua jam,” kata Mohammad Yassin (56 tahun).
“Jika kami menolak perintah ini,” sambung Aziz. “Maka mereka pasti menembak kami.”
Kini, Macan Tamil takluk dan tak lagi mengancam Srilangka, setelah pemimpinnya yang dikenal biadab, Velupillai Prabhakaran, mati mengenaskan dalam kontak senjata dengan pemerintah Srilangka, Mei 2009.
Namun persoalan lain muncul. Pemerintah yang didominasi Sinhala yang menganut Budha dipandang banyak kalangan memarjinalkan kelompok mintoritas termasuk muslim, mungkin karena kebanyakan muslim adalah Tamil, etnis yang merasa diperjuangkan LTTE.
“Pertama mereka memberi kami 2.000 rupee (sekitar Rp150 ribu), kemudian berkurang menjadi 700 rupee (Rp80 ribu), dan lama-lama tak diberi apa-apa,” kata seorang pria yang menolak mengungkapkan jati dirinya.
Dalam beberapa hal marginalisasi pemerintah terhadap minoritas bisa dimengerti, mengingat sebelum konflik, masyarakat Sinhala justru menjadi pihak yang paling diabaikan pemerintah kolonial Inggris dan pemerintahan pertama Srilangka pasca kemerdekaan.
Anehnya, ANTARA mendapati ironi di Puttalam, karena di daerah yang mayoritas muslim itu, para pengungsi asal Jaffna itu diabaikan warga muslim setempat.
Ketika Mohammad Aziz dan 120 keluarga lainnya hidup berhimpit-himpitan di bedeng-bedeng pengap seperti kandang kambing, tiga ratus meter dari situ, warga lama Puttalam yang muslim hidup seolah mengabaikan saudara mereka yang diusir dari kampungnya itu.
“Saya tak tahu, yang jelas kami telah lama hidup di gubuk-gubuk seperti ini,” kata Aziz, lalu mengajak masuk ANTARA ke bedengnya.
Ukuran bedeng itu sekitar 4 X 6 meter, kira-kira empat kali wc terminal Kampung Rambutan, Jakarta. Padahal, di situ, tiga keluarga hidup sekaligus.
Atap bedeng terbuat dari sejenis daun rumbia, sedangkan dindingnya tersusun dari bata hitam seadanya, dipagari batang pohon bakau menyerupai pagar bambu di Indonesia.
“Kalau datang hujan pasti bocor dan kami kerap tak bisa tidur karena kehujanan,” kata Aziz.
Harapkan Indonesia
Pengungsi muslim ini telah beranak pinak, hingga menciptakan dua generasi baru. Salah seorang generasi baru pertama yang lahir dan dibesarkan di kamp Puttalam ini adalah Sasitha Badu.
Perempuan berusia 20 tahun ini ditinggalkan ayahnya yang telah lebih dulu menghuni kamp. Susitha telah dinikahi seorang pria yang juga keturunan pengungsi Jaffna. Mereka berdua telah dikarunia seorang bayi.
Sama seperti Aziz, gubuk milik Susitha dihuni juga oleh lebih dari dua keluarga.
“Kami tergantung pada pemberian orang, karena kebanyakan dari kami bekerja sebagai pembuat garam yang upahnya tak seberapa,” kata Susitha sambil menunjukkan sudut-sudut bedeng yang tak jelas mana dapur, ruang tengah, dan ruang untuk tidur itu.
Sejumlah pengungsi mengutarakan bahwa pemerintah memang membantu mereka, tapi jumlahnya tidak cukup untuk mereka. “Jadinya kami harus berbuat apa saja,” kata Susitha.
Bantuan memang mengalir dari sejumlah negara, termasuk pemerintah Indonesia via KBRI Colombo dan sejumlah negara Timur Tengah. Tapi, jika selama 20 tahun pengungsi-pengungsi itu masih hidup di bedeng mengenaskan, tentu menimbulkan pertanyaan.
Pemerintah Srilangka sendiri menilai keadaan pengungsi muslim di Puttalam membaik. Sebagian telah kembali ke Jaffna dan wilayah lainnya, namun sebagian enggan kembali karena trauma dan khawatir kekejaman bakal menimpa mereka lagi.
Abdul Baiz, Wakil Menteri Pengembangan Peternakan Srilangka, saat buka puasa bersama KBRI Colombo, menyimpulkan bahwa kehidupan pengungsi muslim di Puttalam terus membaik.
“Itu konstituen saya. Telepon saya jika mau ke Puttalam, saya akan berada di sana,” kata Abdul saat ANTARA menyampaikan rencana ke Puttalam keesokan harinya.
ANTARA memutuskan pergi tanpa memberitahu politisi muslim itu, demi mendapatkan gambaran nyata mengenai keadaan pengungsi Puttalam. Faktanya, keadaan memang tak sebaik seperti diceritakan Abdul Baiz.
“Banyak yang berkunjung ke sini dan mereka hanya mencatat dan mencatat, sementara bantuan tak sampai ke tangan kami,” kata Muhammad Aziz, diamini beberapa pria yang mengerubunginya.
Saat mengetahui ANTARA dari Indonesia, Aziz berharap Indonesia membantu mereka memperbaiki kualitas hidupnya sehingga bisa segera meninggalkan gubuk-gubuk yang tak pantas dihuni manusia itu. (*) (ANT/AR09/ART/ant)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2010/08/7567/pengungsi-muslim-srilanka-terlupakan-dunia/#ixzz1xmSeipQP

Sabtu, 09 Juni 2012

Meninggal Tubuhnya Dikafani Malaikat

Kisah Islamiah malam dengan kisah Sakaratul Maut,kisah yang menceritakan tentang dicabutnya roh seorang manusia pecinta Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Kisahnya.
Semasa hidupnya Abu Abdillah adalah seorang yang sangat mencintai Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Apapun yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, dia selalu mentaatinya.
Subhanallah....
Ketika meninggal dunia tubuhnya dikafani sendiri oleh Malaikat.

Sungguh sangat beruntung apa yang dialami oleh Abu Abdillah tersebut.
Dia manusia yang mati dalam kondisi yang baik atau Khusnul Khatimah.

Cerita ini bersumber dari Kitab Al Husayn ibn Sa'id Al Ahwani.
Diceritakan bahwa pada suatu saat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib ra, Malaikat Jibril, Malaikat Mikail dan malaikat Isroil sedang berada di suatu tempat.
Di hadapan mereka terdapat seorang sahabat Nabi SAW, Abu Abdillah yang tengah sakit keras.

"Demi Allah, amalmu akan diterima dan dosamu akan diampuni oleh Allah," ujar Rasulullah SAW kepada Abu.

Pada saat itu Abu tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya terbaring lemah di hadapan mereka. Kemudian Malaikat Jibril mendekati Abu dan berkata kepada Rasulullah SAW,
"Orang ini mencintaimu, maka sayangilah ia."

Mencintai Rasulullah SAW.
Rasul SAW berkata kepada Malaikat Jibril,
"Wahai Jibril, sesungguhnya orang ini telah mencintai Allah, RasulNya, dan aku juga menyayanginya."

Begitu mendengar penuturan Rasulullah yang demikian, maka Malaikat Jibril kemudian mendekati Malaikat Maut,
"Wahai Malaikat maut, orang ini telah mencintai Allah, RasulNya selama hidupnya, maka sayangi dia dan lemah lembutlah terhadapanya."

Kemudian Malaikat Maut tersebut mendekat ke tubuh Abu yang lemah lunglai dan berbisik kepadanya,
"Wahai makhluk Allah, apakah kamu telah mendapatkan kebebasanmu, keselamatanmu dan ampunanmu?"
Terasa aneh, meskipun Abu yang sebelumnya tidak mampu berbicara karena tubuhnya lemah, mendadak saja ia mampu berbicara.
"Ya," jawab Abu.
"Apakah engkau berpegangan pada pegangan besar dalam kehidupan di dunia?" tanya Malaikat Maut lagi.
"Benar," jawab Abu lirih.

Tubuh berbau Harum.
"Siapakah mereka," tanya Malaikat Maut.
"Mereka adalah Nabi Muhammad SAW kekasihku dan Ali bin Abi Thalib," jawab Abu.

Kemudian Malaikat Maut berkata,
"Kamu telah berkata dengan benar. Allah SWT telah menganugerahimu keselamatan dari apa yang menakutkanmu dan kamu telah menerima apa yang kamu dambakan. Terimalah berita baik ini bahwa kamu telah bersama dengan para pendahulumu yang lurus."

Kemudaian Malaikat Maut menarik roh dari Abu dan menurunkan kain kafan serta minyak kasturi dari surga. Tak hanya itu, tubuh Abu dilumuri dengan minyak kasturi dari surga.
"Tidurlah seperti tidurnya seorang pengantin di ranjangnya. Terimalah berita gembira, kesegaran, keharuman dan kenikmatan dari Allah SWT," ujar Malaikat Maut.