Minggu, 05 Februari 2012

Pohon Kurma Surga sebagai Gantinya

Kisah islami Teladan kali tentang kisah sahabat.
Ada sahabat yang sangat kaya raya serta memiliki banyak pohon kurma. Sementara itu, tetangganya seorang miskin, tiap kali ada buah kurma yang jatuh, anak-anak si miskin tadi selalu mengambilnya.

Anehnya, si kaya raya meminta kembali buah kurma yang diambil meski sudah tertelan anak si miskin tadi.
Hingga akhirnya, si miskin mengadu kepada Rasululah SAW.
Kisah ini merupakan Asbabul Nuzul, Surat Al-Lail ayat 1 hingga akhir.


Berikut Kisahnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dan yang lainnya dari al-Hakam bin Abban dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Dalam suatu riwayat, dikemukakan bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang banyak anaknya. Tiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya ia memetiknya dari rumah tetangganya, dan apabila ada kurma jatuh dan dipungut oleh anak-anak itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dikeluarkannya.

Pengaduan Si Fakir kepada Nabi Muhammad SAW
Orang fakir itu mengadukan hal itu kepada Nabi Muhammad SAW dan beliau berjanji akan menyelesaikannya.
Kemudian Rasulullah SAW bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda,
"Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Anu, dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga."

Pemilik pohon kurma itu berkata,"Hanya sekian tawaran tuan?"
Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya," kata pemilik pohon kurma itu yang kemudian bernjak pergi.

Pembicaraan dengan Nabi SAW itu terdengar oleh seorang Dermawan yang langsung menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata,
"Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadai milikku?"
Rasulullah menjawab, "Ya."

Pohon Kurma 1 Diganti dengan 40 Pohon Kurma Baru
Maka pergilah orang itu menemui pemilik pohon kurma itu.
Pemilik pohon kurma itu berkata, "Apakah engkau tahu bahwa Muhammad SAW menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku telah mencatat tawarannya, akan tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma, dan tidak ada satupun pohon yang selebat itu."

Maka berkata orang dermawan itu, "Apakah kau mau menjualnya."
Ia menjawab, "Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak akan ada yang sanggup."
Dermawan itu berkata lagi, "Berapa yang engkau inginkan?"
Ia berkata, "Aku inginkan empat puluh pohon kurma."

Ia pun terdiam kemudian berkata lagi, "Engkau minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh pohon kurma kepadamu, dan aku minta saksi jika engkau benar mau menukarnya."
Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.

Dermawan itu pun menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata,
"Ya Rasulullah, pohon kurma itu telah menjadi milikku dan akan aku serahkan kepada tuan."
Maka berangkatlah Rasulullah SAW kepada pemilik yang fakir itu dan bersabda, "Ambillah pohon kurma ini untukmu dan keluargamu."

Kisah inilah yang melatarbelakangi turunnya Surat Al-Lail.
Maka turunlah ayat ini yang membedakan kedudukan dan akibat orang yang bakhil dengan orang dermawan.

Adapaun Surat Al-Lail adalah:

Allah SWT berfirman,

وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ١
وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى ٢
وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالأنْثَى ٣
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى ٤
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى ٥
وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ٦
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى ٧
وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى ٨
وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى ٩
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى ١٠
وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى ١١
إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى ١٢
وَإِنَّ لَنَا لَلآخِرَةَ وَالأولَى ١٣
فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى ١٤
لا يَصْلاهَا إِلا الأشْقَى ١٥
الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى ١٦
وَسَيُجَنَّبُهَا الأتْقَى ١٧
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى ١٨
وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى ١٩
إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى ٢٠
وَلَسَوْفَ يَرْضَى ٢١
Artinya:
1. demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
2. dan siang apabila terang benderang,
3. dan penciptaan laki-laki dan perempuan,
4. Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
5. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,
6. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),
7. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
8. dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,
9. serta mendustakan pahala terbaik,
10. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
11. dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.
12. Sesungguhnya kewajiban kamilah memberi petunjuk,
13. dan Sesungguhnya kepunyaan kamilah akhirat dan dunia.
14. Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.
15. tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
16. yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).
17. dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
18. yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19. Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20. tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.
21. dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.

Doa Sunan Kudus Usir Wabah Penyakit | Kisah Walisanga

Kisah teladan islami dengan kisah walisanga.
Kali ini dengan kisah Sunan Kudus yang mengembara hingga ke Negeri Arab, kota Makkah. Di sana kedatangan Sunan Kudus disambut dengan sinis oleh penguasa negeri, namun hingga akhirnya beliau mampu mengusir wabah penyakit yang melanda negeri itu.


Kisahnya.
Di dalam riwayat, dikisahkan bahwa Raden Jakfar Shodiq atau Sunan Kudus itu suka sekali dengan pengembaraan dalam hal berdakwah, baik ke tanah Hindustan maupun ke tanah suci Makkah.

Sewaktu berada di Makkah, beliau menunaikan ibadah haji, dan kebetulan sekali di sana ada wabah penyakit yang sulit untuk di atasi. Penguasa negeri mengadakan sayembara bagi siapa saja yang berhasil melenyapkan wabah penyakit itu akandiberi hadiah harta benda yang cukup besar jumlahnya.

Sudah banyak yang mencoba, namun tak membuahkan hasil sama sekali.
Pada suatu hari, Sunan Kudus menghadap penguasa negeri itu, namun kedatangannya disambut dengan sinis sekali.

Disambut Sinis
"Dengan apa Tuan akan melenyapkan wabah penyakit di negeri ini?" tanya sang Amir.
"Dengan doa," jawab Sunan Kudus.
"Kalau hanya dengan doa, kami sudah puluhan kali melakukannya. DI Tanah Arab ini banyak sekali para ulama dan Syeik ternama, tapi mereka tak pernah berhasil mengusir wabah ini," jelas sang Amir.

"Saya mengerti, memamng Tanah Arab ini gudangnya para ulama. Tapi jangan lupa ada saja kekurangannya sehingga doa mereka tidak terkabulkan," ujar Sunan Kudus.
"Hmmm..sungguh berani Tuan berkata demikian," kata sang Amir dengan nada berang.
"Apa kekurangan mereka," tanya sang Amir.

"Anda sendiri yang menyebabkannya," kata Sunan Kudus dengan tenangnya.
"Anda telah menjanjikan hadiah yang menggelapkan mata hati mereka sehingga doa mereka tidak ikhlas. Mereka berdoa hanya karena mengharap hadiah bisa jadi," jelas Sunan Kudus lebih lanjut.

Sang Amir pun terbungkam seribu bahasa dengan jawaban yang diberikan oleh Sunan Kudus.

Dengan Doa Wabah Penyakit Hilang
Akhirnya Sunan Kudus dipersilahkan melaksanakan niatnya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Secara khusus Sunan Kudus berdoa dan membaca beberapa amalan. Dalam tempo singkat, wabah penyakit yang menyerang negeri Arab telah menyingkir. Bahkan beberapa orang yang menderita sakit keras secara mendadak langsung sembuh.

Bukan main senangnya hati sang Amir.
Rasa kagum mulai menjalar di hatinya. Hadiah yang dijanjikannya bermaksud diberikan kepada Sunan Kudus, namun Sunan Kudus menolaknya dengan halus sekali.

Sunan Kudus hanya meminta sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis. Sang Amir pun mengijinkannya. Batu itu pun dibawa ke Tanah Jawa, dipasang di pengimaman Masjid Kudus yang didirikannya sekembali dari Tanah Suci.

Rakyat Kota Kudus pada waktu itu masih banyak yang bergama Hindu dan Budha.
Para wali mengadakan sidang untuk menentukan siapakah yang pantas berdakwah di Kota Kudus. Pada akhirnya, Sunan Kudus lah yang terpilih untuk bertugas dakwah di daerah itu.

Itulah kenapa sebabnya Raden Jakfar Sodiq disebut sebagai Sunan Kudus. Karena beliau berdakwah di kota Kudus tersebut.