Jumat, 29 Juni 2012

Peran Ibu Dalam Pendidikan Ibadah Anak

Peran seorang ibu mempunyai arti sangat penting bagi pertumbuhan psikologi dan pendidikan ibadah anak. Bahkan seorang ibu di tuntut untuk mendidik anak sejak dalam kandungan, apalagi mengenai tentang pengenalan diri kepada sang pencipta, Seorang ibu benar-benar di tuntut super karena keyakinan seorang anakpun di tentukan oleh keyakinan seorang ibu.
Ketika  ibu  menjalani  kehamilan  sampai  melahirkan,  tidaklah  berat  baginya untuk mengajak si calon bayi untuk ikut serta dalam melakukan ibadah harian. Seperi:  sholat,  puasa,  baca  Alquran,  berdoa,  berdzikir,  dan  lain  sebagainya. Walau mungkin anak tidak paham apa yang dilakukan dan diinginkan ibunya, tapi ketika ia menginjak dewasa (baligh), Insya Allah ibadah-ibadah tadi akan mudah diajarkan. Sebab sudah sering melihat dan mendengar, sehingga takkan terasa berat menjalaninya

Peranan Wanita Dalam Pendidikan Akidah Anak

Seorang wanita mempunyai peran yang sangat penting dalam pendidikan akidah Anak. Dan bisa dikatakan baik buruknya seorang anak tergantung bagaimana peran seorang Ibu mendidik anak tersebut, dalam hal ini tentang pendidikan akidah anak. 
Bagaimana seorang ibu mampu menanamkan akidah sedini mungkin, sehingga anak meyakini bahwa kita hidup tidak semau kita. 
Tapi di sana ada pengatur, pengawas tujuan hidup, akhir dari kehidupan. Kemudian meyakini bahwa apa yang terjadi pada kita, pasti akan kembali pada sang khalik. 
Hal itu terangkum dalam rukun iman yang enam. Ketika ia besar, ia tidak lagi ragu dan bingung mencari jati diri. Siapakah aku? untuk apa aku hidup? siapakah yang harus aku ikuti dan dijadikan idola ? Dan seterusnya

Peranan Wanita dalam Mendidik Umat

Syauqi  mengatakan “Ibu  ibarat  madrasah,  jika  kau  persiapkan  maka sesungguhnya anda sedang menyiapkan bangsa (besar) yang wangi keringatnya. 
Wanita adalah guru pertama bagi sang anak, sebelum dididik orang lain. Sejak ruh ditiupkan ke dalam rahim, proses pendidikan sudah dimulai. Sebab mulai saat itu, anak telah mampu menangkap rangsangan-rangsangan yang dberikan oleh ibunya. Ia mampu mendengar dan merasakan apa yang dirasakan ibunya. Bila ibunya sedih dan cemas, ia pun merasakan demikian. Sebaliknya, bila ibunya merasa senang, ia pun turut senang.  
Kemudian bertambah hari, minggu dan bulan, yang pada wakunya ia terlahir ke muka bumi. Dari enol hari, ia sudah berusaha memahami apa yang diajarkan oleh  seorang  ibu.  Bila  seorang  ibu  membiasakan  anaknya  dari  kandungan sampai dewasa dengan adab-adab Islam, ia pun akan terbiasa dengan hal itu. Tapi sebaliknya, bila ibu membiasakan dengan adab-adab yang tidak Islami, ia pun  akan  ikut  seperti  ibunya.  Saat  inilah  shibgah  seorang  ibu  sangat berpengaruh pada anak. Karena perkembangan otak sangat cepat. Daya ingat masih kuat