Jumat, 06 Juli 2012

Peran Istri dalam Mendampingi Suami.

Suami shaleh kebanyakan dibelakangnya ada istri shalehah. Laki-laki dalam menjalankan  tugasnya  baik  di  dalam  atau  di  luar  rumah  sering  mendapat kendala ujian dan cobaan. Kegoncangan jiwanya kadang-kadang tidak mampu menngendalikannya sendiri.

Nah, saat-saat seperti inilah peran dan batuan istri sangat dibutuhkan. Istri yang shalehah selalu memberi dorongan untuk terus maju memberi siraman ruhiyyah agar tetap semangat dalam menapaki duri-duri jalanan, memberi bensin untuk tetap berjalan di atas rel Islam. Ketika suami sedang panas tidak selayaknya istri mengompori, tapi berusaha untuk meredam dan mendinginkan agar suami sadar dan sabar.

Banyak sekali suami terjerumus ke lembah hina disebabkan istrinya tidak bisa membimbing ke arah yang baik. Juga tidak sedikit suami dulunya kurang baik setelah beristri justru ia makin membaik. Oleh sebab itu, wahai para ibu-ibu shalehah marilah kita dukung suami kita untuk menjadi suami yang shaleh.

Mencurahkan tenaga, pikiran, bahkan nyawa untuk tegaknya Islam di muka bumi dengan tidak membebaninya dengan tugas-tugas rumah yang mana pabila kita mengerjakannya dengan ikhlas, kita akan dapat pahala dan suami kita semakin sayang pada kita.
Semangat di medan dakwah dan juang, marilah kita berikan waktu seluas-luasnya pada suami kita untuk mencurahkan waktu hidupnya untuk Islam tercinta.

Istri  selain  sebagai  motor  bagi  suami,  ia  juga  dibebani  kewajiban-kewajiban  terhadap  suaminya  agar  tercipta  keluarga-keluarga  yang  sakinah, mawaddah warohmah. Karena dari keluarga inilah akan terbentuk mujama’
mitsaly  dan  dari  mujtama’  mujtama’  ini  akan  terbentuk  daulah Islamiyyah.

Di antara kewajiban istri terhadap suami adalah : Taat Suami Tidak Keluar rumag tanpa idzin suami
Tidak menjauhi tempat tidur suami Iffah. Qona’ah dan ridlo dengan apa yang Allah berikan. Berhias dan memakai wangi-wangian . Melaksanakan tugas-tugas rumah tangga. Mendidik anak-anak. Berlemah lembutdan berkata-kata manis. Sembilan point ini bila kita mampu untuk menjalankan semua, Insya Allah suami bahagia di rumah dan semangat di medan dakwah. Wahai para ibu, jangalah  engkau  nyalakan  api  di  keluargamu  disebabkan  kelalaiyanmu  atas kewajibanmu terhadap suami

Peran Wanita dalam Peperangan dan Jihad

Peperangan  pada  hakekatnya  diwajibkan  atas  laki-laki,  kecuali  pada  waktu-waktu  darurat.  Tapi  tidak  menutup  kemungkinan  perempuan  ikut  andil  di dalamnya. Di antara perannya dalam hal ini adalah memberikan minuman, mengobati yang luka-luka akibat perang, menyiapkan bekal dan lain-lain. Bila para wanita melakukan hal ini dengan ikhlas, pahalanya sama dengan orang yang berjihad.

Sejarah  pun  telah  menuliskan  dengan  tinta  emas,  peranan  wanita  dalam peperangan.  Ketika  perang  Yarmuk,  Khalid  bin  Walid  sebagai  panglimanya menugaskan wanita, diantaranya Khansa`, untuk berbaris di belakang barisan laki-laki,  tapi  jaraknya  agak  jauh  sedikit.  Tugas  mereka  adalah  menghalau prajurit laki-laki yang melarikan diri dari medan perang. Mereka dibekali pedang, kayu dan batu. Shafiyah binti Abdul Muthalib juga pernah membunuh seorang Yahudi pengintai. Dan banyak lagi contoh-contoh yang nyata yang dapat menjadi suri tauladan bagi kita.

Peran Ibu Dalam Perkembangan Tubuh Anak.

Pendidikan inilah yang sering mendapat perhatian dan jadi topik pembicaraan para ibu yang baru mempunyai anak. Rangsangan-rangsangan ibu berupa olahraga balita, sangat membantu anak dalam perkembangan tubuhnya. Percepatan proses  semenjak  si  anak  tengkurap,  merangkak,  jalan  dan  lari,  tidak  bisa dibiarkan sendiri.

Namun bantuan ibu untuk melakuan gerakan-gerakan itu sangatlah dibutuhkan anak. Karena pada hakikatnya, insting yang dimiliki anak belum mampu menjangkau apa yang harus ia lakukan agar bisa berbuat seperti orang dewasa. Contoh kecilnya, ketika lahir, Rasulullah menyuruh para orang tua untuk mentahniq dengan memijat langit-langit mulut agar mampu mengisap air susu ibunya. Olah raga atau tarbiyyah jasadiyyah ini tidak terbatas pada usia balita, tapi bahkan sampai dewasa dan tua

Peran Ibu Dalam Mencerdaskan Otak Anak.

Peran ibu dalam mencerdaskan otak anak lebih dominan daripada peran seorang ayah, karena Ibu mempunyai kedekatan yang lebih di bandingkan seorang ayah sehingga cerdas tidaknya otak anak sangat ditentukan oleh peranan orang tua perempuan.

Kata seorang penulis puisi, “Otak tidak diasah, akan tumpul”. Pengasahan otak semenjak kecil akan lebih bagus, ketimbang jika sudah besar. Bagai sebuah pisau, semakin lama waktu mengasahnya, maka akan semakin tajam. Dalam nasyid juga disebutkan, “Belajar diwaktu kecil, bagai mengukir di atas batu”. Tapi  seorang  ibu  juga  harus  bijaksana  dalam  hal  ini.  Jangan  sembarangan dalam memberikan buku-buku bacaan, untuk mengasah otak. Cukup banyak buku-buku yang ingin menghancurkan generasi Islam