Kamis, 02 Agustus 2012

Pesan Khidir Kepada Nabi Musa as

Kisah Islamiah menghadirkan kisah nabi.
Nabi Khidir as dan Nabi Musa as tiada jemunya untuk dikisahkan. Sebab pertemuan mereka banyak sekali ilmu yang bisa dipelajari oleh semua orang sampai kini.

Nabi Khidir as

Nabi Khidir as ini merupakan nabi yang misterius, tidak bisa sembarang manusia bisa menemuinya juga menghilang sekehendak hatinya.

Kisahnya.
Dari Al Bidayah Wa An Nihayah halaman 329 serta Ihya Ulumuddin halaman 56.
Ketika Khidir hendak berpisah dengan Nabi Musa as, berkatalah Nabi Musa as,
"Berilah aku wasiat."

Nabi Khidir as menjawab,
"Wahai Musa, jadilah kamu orang yang berguna bagi orang lain. Janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang hanya menimbulkan kecemasan diantara mereka hingga kamu dibenci oleh mereka. Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan janganlah kamu berkeras kepala atau bekerja tanpa tujuan. Janganlah kamu mencela seseorang hanya karena kekeliruannya saja. Kemudian tangisilah dosa-dosamu, wahai Ibnu Imron."

Juga diriwayatkan bahwa setelah khidir as mau meninggalkan Nabi Musa as, dia berpesan kepadanya,
"Wahai Musa, pelajarilah ilmu-ilmu kebenaran agar kamu dapat mengerti apa yang belum kamu pahami, tetapi jangan sampai kamu jadikan ilmu-ilmu itu hanya sebagai bahan omongan."
(HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Asakir).

Riwayat Lain.
Dan pesan yang terakhir dicuplik dari Kitab Tahdzibuk Asma, shahih muslim fi Syarkin Nawawi, Ruhul Mu'ni XV halaman 223.
Sebelum Khidir berpisah dengan Nabi Musa as yang tidak sabar itu, dia berpesan,
Wahai Musa, sesungguhnya orang yang selalu memberi nasehat itu tidak pernah jemu seperti kejemuan orang-orang yang mendengarkannya. Maka janganlah kamu berlama-lama dalam menasehati kaummu.

Dan ketahuilah bahwa hatimu itu ibarat sebuah bejana yang harus kamu rawat dan pelihara dari hal-hal yang memecahkannya. Kurangilah usaha-usaha duniawimu dan buanglah jauh-jauh di belakangmu karena dunia ini bukanlah alam yang akan kamu tempati selamanya. Kamu diciptakan adalah untuk mencari tabungan pahala-pahala akhirat nanti.
Bersikap ikhlaslah dan bersabar hati menghadapi kemaksiatan yang dilakukan kaummu.



Wahai Musa, tumpahkanlah seluruh ilmu pemgetahuanmu, karena tempat yang kosong akan terisi oleh ilmu yang lain. Janganlah kamu banyak mengomongkan ilmumu itu karena kamu akan dipisahkan oleh kaum ulama.
Maka bersikap sederhana sajalah, sebab sederhana itu akan menghalangi aibmu dan akan membukakan taufik hidayah Allah SWT untukmu.

Berantaslah kejahilan kamu dengan cara membuang sikap masa bodohmu (ketidakpedulian) yang selama ini menyelimuti dirimu. Itulah sifat orang-orang yang arif lagi bijaksana, menjadi rahmat bagi semuanya.

Apabila ada orang yang bodoh datang kepadamu dan mencacimu, redamlah ia dengan penuh kedewasaan serta keteguhan hatimu.
Wahai putera Imron, tidaklah kamu sadari bahwa ilmu Allah SWT yang kamu miliki hanya sedikit saja. Sesungguhnya menutup-nutupi kekurangan yang ada pada dirimu atau bersikap sewenang-wenang adalah menyiksa dirimu sendiri. Janganlah kamu buka pintu ilmu ini jika kamu tidak bisa menguncinya. Jangan pula kamu kunci pintu ilmu ini jika kamu tak tahu cara membukanya, hai Putera Imran.

Barang siapa suka menepuk-nepuk harta benda, dia sendiri bakal mati ertimbun dengannya hingga dia merasakan akibat dari kerakusannya itu.
Namun, semua hamba yang mensyukuri semua karunia Allah SWT serta memohon kesabaran atas ketentuan-ketentuanNya, dialah hamba yang zuhud dan patut diteladani. Bukankah orang seperti itu mampu mengalahkan nafsunya dan dapat memerangi bujuk rayu setan?
Dan dia pula yang mengetam buah dari ilmu yang selama ini dicarinya. Segala amal kebajikannya akan dibalas dengan pahal di akhirat.
Sedangkan kehidupan dunianya akan tenteram di tengah-tengah masyarakat yang merasakan jasa-jasanya.

Wahai Musa, pelajarilah oelhmu ilmu-ilmu pengetahuan agar kamu dapat mengetahui segala yang belum kamu ketahui, misalnya masalah-masalah yang tidak bisa diomongkan atau dijadikan bahan pembicaraan saja.
Itulah penuntun jalanmu dan orang-orang akan disejukkan hatinya.

Wahai Musa, putera Imron, jadikanlah pakaianmu bersumber dari dzikir dan fikir serta perbanyaklah amal kebajikan. Suatu hari nanti kamu tidak akan mampu mengelak dari kesalahan, maka pintalah keridhaan Allah SWT dengan berbuat kebajikan karena pada saat-saat tertentu akalmu pasti akan melanggar laranganNya.

Sekarang telah kupenuhi kehendakmu untuk memberi pesan-pesan kepadamu.
Omonganku ini tidak akan sia-sia bila kamu mau menurutinya.
Setelah itu Khidir meninggalkan Nabi Musa as yang sedang duduk termenung dalam tangis kesedihan.

Ujian Malaikat kepada Hakim

Kisah Islamiah dengan kisah hakim dan malaikat.
Malaikat memberikan ujian kepada ketiga hakim, siapakah gerangan yang mau dan tidak menerima sogokan dari malaikat.


Kisahnya.
Pada zaman dahulu di kalangan Bani Israil, hiduplah empat orang hakim. Ketika salah seorang dari mereka meninggal dunia, maka untuk menegakkan hukum secara adil dan jujur sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT, maka diujilah ketiga hakim tersebut.

Setelah itu, turunlah malaikat untuk menguji masing-masing hakim tadi, apakah ketiga hakim itu adil dalam menegakkan hukum atau justru sebaliknya. Selanjutnya, dipanggillah anak sapi, ditarik kerahnya hingga anak sapi itu pun mengikuti di belakang kudanya. Maka terjadilah persengketaan di antara mereka, yaitu yang empunya sapi dengan malaikat yang menyerupai manusia tadi.

Setelah lama berselisih, maka akhirnya mereka sepakat untuk mengajukan permasalahan itu ke hakim pertama.
Dan hakim yang pertama itu, malaikat menyuapnya dengan memberi hadiah intan permata yang dibawanya sambil berkata,
"Wahai hakim, putuskanlah bahwa akulah pemilik anak sapi itu, maka intan permata ini akan aku berikan kepadamu."
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya hakim pertama.
"Lepaskanlah sapi dan anaknya," balas malaikat.

Lalu sang pemilik sapi dan malaikat yang menyerupai manusia itu mengajukan permasalahnnya kepada hakim yang kedua dan hasilnya pun sama untuknya.

Hakim Ketiga.
Akan tetapi ketika malaikat tadi hendak memberikan intan mutiara sebagai sogokan untuknya, hakim itu berkata,
"Saya sedang haid," kata hakim ketiga.
Mendengar jawaban itu malaikat penguji terkejut dan bertanya,
"Subhanallah, haidkah seorang laki-laki," katanya.
"Subhanallah, apakah kuda melahirkan seekor sapi?" kata hakim.

Hakim yang ketiga ini adalah hakim yang saleh, sehingga ia tidak mau salah dalam mengambil keputusan hanya karena adanya sogokan dan suap.
Akhirnya, diputuskanlah oleh hakim itu bahwa sapi itu memang milik empunya, bukan milik malaikat yang menyamar sebagai manusia.