Minggu, 09 Desember 2012

Sikap golongan Syiah terhadap para Sahabat

Dalam buku-buku mereka, terdapat riwayat dari Abu Ja'far Muhammad Al-Baqir bahawa beliau berkata, 

"Manusia adalah murtad selepas Nabi shallallâhu 'alaihi wa âlihi, kecuali tiga orang. Saya (perawi) bertanya, 'Siapakan ketiga orang itu?' Beliau menjawab, 'Al-Miqdad, Abu Dzarr, dan Salman Al-Farisy.' .... "[Raudhatul Kafy 8/198, tahqiq Muhammad Jaafar Shamsuddin, terbitan Darut ta'âruf, Beirut, Lebanon, 1990 M/1411 H]

Mereka meriwayatkan pula dari Amirul Mukmin Ali bin Abi Talib radhiyallâhu 'anhu bahawa beliau berkata kepada Qunbur, "Wahai Qunbur, bergembiralah dan berilah khabar gembira, dan selalulah merasa gembira. Sungguh Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa âlihi meninggal, sedang beliau murka terhadap umatnya, kecuali Syiah. "[Al-Amaly karya Ash-Shaduq hal 726]

Al-Majlisy berkata, "Sesungguhnya, tergolong sebagai keharusan kebenaran agama Imamiyah: penghalalan mut'ah, haji Tamattu ', serta berlepas diri dari Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu'awiyah." [Al-I'tiqadat karya Al-Majlisy hal. 90-91]

Ucapan-ucapan keji kaum Syiah terhadap para sahabat dan isteri-isteri Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam dalam hal ini sangatlah banyak.

Seluruh hal tersebut adalah pengingkaran terhadap Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam yang memuji dan menyanjung para sahabat radhiyallâhu' anhum. Allah 'Azza wa Jalla telah menyifatkan orang yang jengkel terhadap para sahabat sebagai orang kafir dalam firman-Nya setelah menyebutkan sifat para sahabat dalam Taurat dan Injil,
ليغيظ بهم الكفار
"... Kerana Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir." [Al-Fath: 29]

Diterjemahkan dari sumber dzulqarnain.net

Teaching With Love

14/11/2012 | 28 Dhul-Hijjah 1433 H | Hits: 1.079
Oleh: Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi. MSc.

Kirim Print
Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)
dakwatuna.com - Saat masih duduk di bangku sekolah adalah masa indah yang sangat berkesan dan tak terlupakan. Persahabatan yang terjalin indah dengan banyak teman, kompak, akrab, penuh canda tawa, melakukan kegiatan kesenian, olahraga dan berbagai kegiatan lainnya, memperkaya pengalaman batin. Tentu saja yang paling berkesan adalah proses belajar mengajar dan guru-guru yang tulus ikhlas mendidik kami. Pengalaman itu terus membekas dan menjadi bekal yang sangat berharga untuk merintis masa depan.
Dulu, sekitar tahun 70-80 an, kami sangat merasakan betapa guru-guru saat itu mengajar dengan tulus dan sepenuh hati.
Memang terkadang mereka terkesan galak, pemarah dan tegas, tapi kami paham maksudnya, benar-benar agar murid-murid serius belajar, agar pelajaran yang diajarkan betul-betul terpatri di otak peserta didik.
Hingga kini, setelah 40 tahun berlalu, bekal ilmu yang diberikan guru-guru kami tersebut masih berbekas dalam hati dan pikiran, menjadi bekal yang tak ternilai dalam meniti karir sepanjang hidup. Hingga kini, kami selalu rindu untuk bisa berkumpul dengan guru-guru yang umumnya telah tua dan pensiun. Kami sangat menghormati mereka, betul-betul seperti orang tua sendiri. Beberapa di antaranya telah dipanggil menghadap Sang Khaliq, doa selalu kami kirimkan untuk beliau.
Mungkin itulah yang dimaksud Prof. DR. Theodoro Llydon C. Bautista dengan istilah “Teaching With Love”. Tema itu dibahas profesor dari University of Philipine atas prakarsa STKIP Adzkia di aula BI pekan lalu.
Lebih lanjut menurut profesor muda yang baru berusia 40 tahun ini, murid yang dididik dengan rasa cinta dan kasih sayang (Teaching With Love) juga akan memberikan cinta dan kasih sayang kepada lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Saat terjadi bencana besar gempa dan tsunami di Jepang tahun lalu ada belasan ribu warga yang meninggal, ratusan ribu warga mengungsi dan kehilangan tempat tinggal. Suasana waktu itu sungguh-sungguh kacau dan tak bisa dicerna oleh pikiran yang waras.
Namun untunglah ada sekitar 300.000 relawan dari berbagai perguruan tinggi di Jepang terjun langsung ke lokasi bencana. Mereka dengan sukarela ikut membantu dan dengan cinta dan kasih sayang merawat dan menangani para korban yang umumnya lansia dan anak-anak. Musibah itu akhirnya bisa diatasi dengan baik tanpa banyak masalah.  Cinta dan kasih sayang itu telah ditumbuhkan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah.
Bautista juga mencontohkan beberapa pemukiman kumuh, daerah-daerah bronx dan miskin berhasil ditata menjadi pemukiman asri dan nyaman. Semua itu berhasil dilakukan dengan kerjasama, kepedulian dan kasih sayang sesama manusia.
Kini, banyak orang tua murid yang mengeluhkan tak banyak lagi guru yang mengajar dengan cinta, kasih sayang dan ketulusan (Teaching With Love) seperti dulu. Guru seolah-olah mengajar hanya sekadar menjalankan tugas. Siswa sering terlantar karena guru sangat sibuk, menyelesaikan kuliahnya, mengurus akreditasi, mengurus BOS, sampai mengurus pembangunan fisik sekolah dan urusan-urusan lain yang di luar kewajiban mereka.
Ada kekhawatiran fenomena inilah yang merupakan salah satu penyebab seringnya timbul tawuran bahkan yang sangat tragis, yaitu adanya pelajar yang sampai membunuh pelajar lain. Subhanallah…
Apakah apa yang dikeluhkan masyarakat itu benar terjadi? Tentu perlu dievaluasi lagi. Jika memang terjadi, tentu harus segera diperbaiki. Tentu kita ingin mencegah dan memperbaiki agar hal-hal yang lebih buruk tidak terjadi lagi, sebelum terlanjur. Kita semua tentu tidak ingin kehilangan generasi masa depan (lost generation), itu disebabkan karena kesalahan dan dosa kita. Mari berubah dan lakukan yang terbaik.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/24107/teaching-with-love/#ixzz2EXjKEKGI


            قال اللهُ تَعَالَى: )فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا(.
            (Q.S. Al-Kahfi [18]: 6)
            وَقَوْلُه جَلَّ ثَنَاؤُهُ: )فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ(.
            (Q.S. Fathir [35]: 8)
            وَقَوْلُه جَلَّ وَعَلاَ: )وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ(.
            (Q.S. Ali Imran [3]: 176)
            وَعَنِ السَّيِّدّةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ: (مَا خُيِّرَ رَسُوْلُ اللهِ e بَيْنَ أمْرَيْنِ قَطُّ إِلاَّ أَخَذَ أيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إثماً، فَإنْ كَانَ إثماً، كَانَ أبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ. وَمَا انْتَقَمَ رَسُوْلُ اللهِ لِنَفْسِهِ في شَيْءٍ قَطُّ، إِلاَّ أن تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ الله ، فَيَنْتَقِمَ للهِ تَعَالَى). متفق([1]).
Ilustrasi (inet)
       dakwatuna.com - Ada juga dari mereka yang mengangkat suara memperjuangkan hak-hak kaum minoritas muslim (yang minoritas dari muslim selamanya tertindas, tetapi yang minoritas selain dari mereka selalu mendapatkan perlindungan dari human rights) yang tidak mendapatkan kepedulian dari mereka yang mengatasnamakan diri pembela hak-hak asasi manusia. Mereka-mereka itulah pejuang sejati yang membuka belenggu kezhaliman dari tangan-tangan suci dan kaki-kaki tegar umat sehingga dengan sendirinya mereka mampu melangkah ke garda depan peradaban yang bersinar.

            Setiap dari mereka memberikan keteladanan yang dikenang abadi sepanjang zaman oleh generasi umat, meski mereka disiksa dan dianiaya.
            Sejarah mereka seperti sebatang pohon yang akarnya tertanam kuat di padang pasir, tumbuh subur meneduhi hati umat yang haus kesejukan hidayah, pertolongan, dan hikmah-hikmah kehidupan, menyuguhkan buah-buah beraneka ragam yang lezat, mengenyangkan, dan tidak membosankan.
            Akar perjuangan mereka telah dicontohkan dengan baik dan sempurna oleh pemilik tingkat kemanusiaan tertinggi, Rasulullah Saw. Akar itu kokoh karena dipupuk dengan sari pati akhlak Al-Quran yang dicontohkan dan diterapkan ke dunia nyata dengan penuh kedisiplinan para sahabat dan tabiin, dua generasi umat yang sejarah mereka terabadikan sebagai sejarah umat terbaik.
            Oleh karena kemuliaan jihad kemanusiaan yang islami ini, sepenuhnya dikembalikan kepada Rasulullah Saw -dilihat dari risalah yang diembannya untuk mengeluarkan manusia dari alam kehambaan yang tidak mengenal ketuhanan yang esa ke alam yang mengenal keesaan Tuhan-, maka tulisan ini hadir untuk Baginda Rasulullah Saw dan bagi para pecinta dan perindunya.
            Yang diketahui bersama kosa kata kehidupan kita tidak lepas dari kejadian-kejadian yang kadang tidak memuaskan. Tentunya, kita bersedih, sedih karena merasa harga diri diinjak, usaha sia-sia, harapan tidak tercapai, sedih dengan diri sendiri. Tetapi, pernahkah Anda berusaha menepis kesedihan itu dan melihatnya bahwa itu tidak lain kecuali serpihan-serpihan hidup yang tidak perlu menguras porsi pikir yang kadang berakhir dengan tangis dan penyesalan? Pernahkah Anda mengatakan: “kenapa saya sedih dengan diriku sendiri, bukankah di sana ada jutaan problem umat yang patut aku sedihi? Di sana ada kemiskinan, kebodohan, dan hak-hak minoritas muslim yang terinjak-injak hina oleh kejamnya ketidakadilan pemegang kebijakan dan kekuasaan.“ Adakah Anda dari mereka yang berkata: “Kenapa saya sedih dengan diriku sendiri, sementara di sana ada saudara-saudara muslimku yang mati kelaparan teraniaya oleh kaum penjajah, kehilangan tempat tinggal, kerabat, dan keluarga? Apakah di sana ada yang sedih oleh masalah umat, tidak sedih dengan apa yang terjadi terhadap dirinya sendiri?”
            Ya, Rasulullah Saw dan mereka yang dirahmati Allah meneladani perjuangannya. Rasulullah Saw sering terlihat dilanda gundah dan sedih dari kekafiran orang-orang musyrik yang lahir dari keangkuhan dan kebodohan. Ia sedih bukan karena siksaan mereka, tetapi sedih dari kebodohan dan keangkuhan yang membutakan mereka dari kebenaran Islam. Olehnya itu, di salah satu munajatnya ia meminta kepada Allah SWT untuk tidak menurunkan azab kepada kaumnya, karena kekafiran mereka itu datangnya dari kebodohan belaka.
            Yang diabadikan Al-Quran di sini kesedihan Rasulullah Saw yang dapat mencelakai dirinya ([2]) –seperti yang tertera di ketiga ayat di atas-, Olehnya itu, ia mendapatkan teguran langsung dari Allah untuk tidak menyikapi hal tersebut dengan sikap yang berlebihan, sikap yang dapat mencelakai dirinya. Bukankah tugas setiap rasul hanya menyampaikan, keberhasilan setiap dakwah ada di tangan Allah SWT, pemilik risalah.
            Dengan bimbingan qur’ani ini Rasulullah SAW tidak pernah menyimpan dendam kepada siapa pun, meski kepada mereka yang pernah menyakitinya. Jika dia marah dan balas dendam, maka ia marah dan balas dendam karena Allah. Yang demikian itu karena di sana ada larangan-larangan syariat yang telah dilanggar oleh mereka yang menghendaki pencegahan dan hukuman yang setimpal –seperti yang ditegaskan di hadits di atas-.
            Berangkat dari hakikat tersebut, para pecinta dan perindu Rasulullah Saw dari kalangan penafsir senantiasa menyucikan Nabi Saw dari ta’wil-ta’wil batil yang menyalahi hakikat kenabian dan risalah, seperti ta’wil Jarullah az-Zamakhsyari di saat menafsirkan ayat 33 dari Q.S al-An’am [6], di sana beliau berkata:
“firman Allah: (قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكََ) maknanya, sesungguhnya kebohongan mereka itu terhadap dirimu kembali kepada Allah SWT karena engkau adalah rasul-Nya yang memperlihatkan kebenaran dengan mukjizat-mukjizat, mereka itu pada dasarnya tidak mendustakanmu, akan tetapi mereka mendustai Allah dengan mengingkari ayat-ayat-Nya. Yang demikian itu firman Allah yang memberitahu umat tentang kesedihanmu terhadap dirimu sendiri.”([3])
            Pernyataan Az-Zamakhsyari di akhir kalimat yang mengatakan: “Yang demikian itu firman Allah yang memberitahu umat tentang kesedihanmu terhadap dirimu sendiri,” dikomentari pedas oleh penafsir-penafsir lain, di antaranya: Syekh al-Qunuwwi dari pernyataannya berikut ini:
            “Ta’wil seperti ini wajib untuk dihindari karena mengisyaratkan ketidaksempurnaan (cengeng) Nabi Saw dalam mengemban amanah risalah. Sementara itu, maksud dari ayat ini –dilihat dari sistematika yang ada- hiburan terhadap Nabi Saw dari pembangkangan kaumnya yang lebih memilih kesesatan dari kebenaran.”([4])
Tingkat kemanusiaan yang tidak tertandingi ini ditiru dan dicontohkan oleh mereka yang dirahmati Allah dari umatnya, mereka yang senantiasa menunjukkan keprihatinan terhadap kondisi umat yang menyayat hati, kondisi umat yang digerogoti oleh pemikiran-pemikiran kotor yang diusung oleh arus atheisme, positivisme, dan sekularisasi di pelbagai sudut-sudut kehidupan. Bagi mereka penyakit-penyakit umat ini lebih ganas pengaruhnya terhadap tubuh mereka dari penyakit fisik karena yang menderita olehnya adalah batin, yang jika sakit obatnya tidak disembuhkan oleh resep kedokteran.
Di akhir tulisan ini, saya mengajak pecinta dan perindu Rasulullah Saw untuk menarik sebuah kesimpulan seperti berikut:
“Sikapilah kesedihan Anda seperti Rasulullah SAW dan yang dirahmati Allah dari umatnya menyikapi kesedihan mereka, bersedihlah karena derita umat yang butuh uluran tangan, dan hiburlah diri Anda dengan berupaya meringankan derita mereka. Luangkan di pikiran dan hati Anda masalah-masalah mereka yang butuh pemecahan seperti yang telah dicontohkan dengan baik dan sempurna Rasulullah Saw jika Anda ingin meniru sunnah ini. Coba dekati Rasulullah Saw dari pintu sunnah ini setelah Anda mendekatinya dari pintu-pintu lain yang dikoleksi sunnahnya!”


([1])   Hadits riwayat Aisyah R.A di Shahih Imam Bukhari, kitab al-Manaqib, bab Sifati an-Nabi Saw, hadits. no: 3600, vol. 2, hlm. 700, dan di Shahih Imam Muslim, kitab al-Fadhâil, bab Mubâadatihi Saw lil Âtsâm waikhtiyârihi min al-Mubah Ashaluhu wa Intiqâmuh lillahi inda Intihâki Hurumâtih, hadits. no: 6190, vol. 2., hlm. 999
([2])   Yang ditakutkan di sini kesedihan yang dapat menyakiti Rasulullah Saw sehingga ia tidak dapat mengemban risalahnya dengan baik dan sempurna, seperti kesedihan Nabi Ya’qub A.S yang menyebabkan dirinya buta setelah meratapi nasib Nabi Yusuf A.S dan saudaranya. Lihat: Q. S. Yusuf [12]: 84-85
([3])   Al-Kasyyâf, vol. 2, hlm. 339
([4])   Lihat: Hâsyiyah al-Allâmah al-Qunuwwi ala Anwâr at- Tanzili, vol. 8, hlm. 71-72, dan lihat juga Tafsir Syekh Abi Suud, vol. 2, hlm. 357


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25023/meneladani-nilai-nilai-kemanusiaan-rasulullah-saw/#ixzz2EXg2Rfca

Sikap Ulama Islam terhadap Agama Syiah

Pada hari-hari ini, kita melihat bahawa golongan Syiah sibuk menyebarkan lembaran-lembaran dari beberapa tokoh yang mengandungi beberapa kenyataan bahawa agama Syiah tidak sesat. Hal ini sudah menjadi kebiasaan kaum Syiah, di negera tempat mereka menganggap diri-diri mereka sebagai kaum minoriti untuk menyeru pendekatan atau bersatu antara Sunni dan Syiah serta yang seumpamanya. Seluruh hal tersebut adalah usaha untuk mengaburkan sikap ulama Islam terhadap agama Syiah.
 
Berikut beberapa ucapan ulama kaum muslimin tentang agama Syiah agar umat Islam mengetahui bagaimana sikap ulama Islam yang sesungguhnya terhadap agama Syiah.

1. Imam 'Alqamah bin Qais An-Nakha'iy rahimahulllâh (W. 62 H)
Beliau berkata,
لقد غلت هذه الشيعة في علي رضي الله عنه كما غلت النصارى في عيسى بن مريم
"Sungguh kaum Syiah ini telah berlaku ekstrem terhadap 'Ali ra sebagaimana kaum Nashara berlaku ekstrem terhadap Isa bin Maryam." [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]
 
2. Imam 'Amr bin Syarahil Asy-Sya'by Al-Kûfy rahimahulllâh (W. 105 H)
Beliau bertutur,
ما رأيت قوما أحمق من الشيعة
"Saya tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih dungu daripada kaum Syiah." [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/549, Al-Khallal dalam As-Sunnah 1/497, dan Al-Lâlakâ `iy dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah Wa Al-Jam'ah 7/1461]
Beliau juga bertutur,
نظرت في هذه الأهواء وكلمت أهلها فلم أر قوما أقل عقولا من الخشبية
"Saya melihat kepada pemikiran-pemikiran sesat ini, dan Saya telah bercakap dengan penganutnya. Saya tidak melihat bahawa ada suatu kaum yang akalnya lebih pendek daripada kaum (Syi'ah) Al-Khasyabiyah. "[Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah 2/548]
 
3. Imam Thalhah bin Musharrif rahimahulllâh (W. 112 H)
Beliau berkata,
الرافضة لا تنكح نساؤهم, ولا تؤكل ذبائحهم, لأنهم أهل ردة
"(Golongan Syiah) Rafidhah tidak boleh berkahwin dengan kaum perempuan mereka dan tidak boleh memakan daging-daging sembelihannya kerana mereka adalah kaum murtad." [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Ash-Shughra `hal. 161]
 
4. Imam Abu Hanifah Muhammad bin An-Nu'man rahimahulllâh (W. 150 H)
Beliau berucap,
الجماعة أن تفضل أبا بكر وعمر وعليا وعثمان ولا تنتقص أحدا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم
"Al-Jama'ah adalah (bererti) kamu mengutamakan Abu Bakar, Umar, Ali, dan Uthman, dan janganlah engkau mencela seorang pun sahabat Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam. [Al-Intiqa `fi Fadha` il Ats-Tsalatsah Al-A `immah Al-Fuqaha` hal. 163]
 
5. Imam Mis'ar bin Kidam rahimahulllâh (W. 155 H)
Imam Al-Lâlakâ `iy meriwayatkan bahawa Mis'ar bin Kidam dijumpai seorang lelaki dari kaum Rafidhah, kemudian orang tersebut membicarakan sesuatu dengannya, tetapi kemudian Mis'ar berkata,
تنح عني فإنك شيطان
"Jauhkan dariku. Sesungguhnya engkau adalah syaitan. "[Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama'ah 8/1457]
 
6. Imam Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaury rahimahulllâh (W. 161 H)
Muhammad bin Yusuf Al-Firyâby menyebut bahawa beliau mendengar Sufyan ditanya oleh seorang lelaki tentang pencela Abu Bakr dan Umar, Sufyan pun menjawab,
كافر بالله العظيم
"(Pencela itu) adalah kafir kepada Allah Yang Maha Agung."
Orang tersebut bertanya, "(Bolehkah) Kami mensolatinya?"
(Sufyan) menjawab,
لا, ولا كرامة
"Tidak. Tiada kemuliaan baginya. "
Kemudian beliau ditanya, "La ilaha illallah. Bagaimana kami berbuat terhadap jenazahnya? "
Beliau menjawab,
لا تمسوه بأيديكم, ارفعوه بالخشب حتى تواروه في قبره
"Janganlah kamu menyentuhnya dengan tangan-tangan kalian. Angkatlah (jenazah itu) dengan kayu hingga kalian menutup kuburnya. "[Disebutkan oleh Adz-Dzahaby dalam Siyar A'lam An-Nubala` 7/253]
 
7. Imam Malik bin Anas rahimahulllâh (W. 179 H)
Beliau bertutur,
الذي يشتم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم, ليس لهم سهم, أوقال نصيب في الإسلام
"Orang yang mencela sahabat Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam tidaklah memiliki saham atau bahagian apapun dalam keislaman." [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah hal. 162 dan Al-Khatsûl dalam As-Sunnah 1/493]
Asyhab bin Abdul Aziz menyebutkan bahawa Imam Malik ditanya tentang Syi'ah Rafidhah, maka Imam Malik menjawab,
لا تكلمهم ولا ترو عنهم فإنهم يكذبون
"Janganlah kalian meriwayatkan hadis dari mereka. Sesungguhnya mereka itu sering berdusta. "[Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra` sebagaimana dalam Minhâj As-Sunnah karya Ibnu Taimiyah 1/61]
 
8. Imam Abu Yusuf Ya'qub bin Ibrahim rahimahulllâh (W.182 H)
Beliau berkata,
لا أصلي خلف جهمي, ولا رافضي, ولا قدري
"Saya tidak mengerjakan solat di belakang seorang Jahmy (penganut Jahmiyah), Râfidhy (penganut faham Syiah Rafidhah), dan Qadary (penganut faham Qadariyah)." [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ `iy dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah Wa al-Jama'ah 4/733]
 
9. Imam Abdurrahman bin Mahdi rahimahulllâh (W. 198 H)
Beliau berucap,
هما ملتان: الجهمية, والرافضة
"Ada dua agama (yang bukan Islam,-pent.), Iaitu Jahmiyah dan Rafidhah." [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Khalq Af'al Al-'Ibad hal.125]
 
10. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'iy rahimahulllâh (W. 204 H)
Beliau berkata,
لم أر أحدا من أصحاب الأهواء, أكذب في الدعوى, ولا أشهد بالزور من الرافضة
"Saya tidak pernah melihat seorang pun penganut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu melebihi golongan Rafidhah." [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra `2/545 dan Al-Lâlakâ` iy dalam Syarh Ushûl I'tiqad Ahlis Sunnah Wa Al-Jama'ah 8/1457]
 
11. Imam Yazid bin Harun rahimahulllâh (W. 206 H)
Beliau berkata,
يكتب عن كل صاحب بدعة إذا لم يكن داعية إلا الرافضة فإنهم يكذبون
"Boleh mencatat (hadis) dari setiap penganut bid'ah yang menyeru kepada bid'ahnya, kecuali (Syi'ah) Rafidhah kerana mereka sering berdusta." [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah Al-Kubra `sebagaimana dalam Minhâj As- Sunnah 1/60 karya Ibnu Taimiyah]
 
12. Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyaby rahimahulllâh (W. 212 H)
Beliau berkata,
ما أرى الرافضة والجهمية إلا زنادقة
"Saya tidak memandang kaum Rafidhah dan kaum Jahmiyah, kecuali sebagai orang-orang zindiq." [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ `iy dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah Wa Al-Jama'ah 8/1457]
 
13. Imam Al-Humaidy, Abdullah bin Az-Zubair rahimahulllâh (W. 219 H)
Setelah menyebutkan kewajipan mendoakan rahmat bagi para sahabat, beliau berkata,
فلم نؤمر إلا بالاستغفار لهم, فمن يسبهم, أو ينتقصهم أو أحدا منهم, فليس على السنة, وليس له في الفئ حق
"Kita tidak diperintah, kecuali memohonkan ampunan bagi (para sahabat). Siapa saja yang mencerca mereka atau merendahkan mereka atau salah seorang di antara mereka, dia tidak berada di atas sunnah dan tidak ada hak apapun baginya dalam Fa `i." [Ushûl As-Sunnah hal.43]
 
14. Imam Al-Qasim bin As-Sallam rahimahulllâh (W. 224 H)
Beliau berkata,
عاشرت الناس, وكلمت أهل الكلام, وكذا, فما رأيت أوسخ وسخا, ولا أقذر قذرا, ولا أضعف حجة, ولا أحمق من الرافضة ...
"Saya telah hidup dengan seluruh manusia. Saya telah bercakap dengan ahli kalam dan ... demikian. Saya tidak melihat ada yang lebih kotor, lebih menjijikkan, hujahnya lebih lemah, dan lebih dungu daripada kaum Rafidhah .... "[Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah 1/499]
 
15. Imam Ahmad bin Yunus rahimahulllâh (W. 227 H)
Beliau berkata,
إنا لا نأكل ذبيحة رجل رافضي, فإنه عندي مرتد
"Sesungguhnya kami tidak memakan sembelihan seorang Syi'ah Rafidhah kerana dia, menurut Saya, adalah murtad." [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ `iy dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah Wa Al-Jama'ah 8/459]
 
16. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulllâh (W. 241 H)
Banyak riwayat dari beliau tentang celaan terhadap kaum Rafidhah. Di antaranya ialah:
Beliau ditanya tentang seorang lelaki yang mencela seorang sahabat Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam maka beliau menjawab,
ما أراه على الإسلام
"Saya tidak memandang bahawa dia di atas (agama) Islam." [Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah 1/493]
Beliau juga ditanya tentang pencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah maka beliau menjawab, "Saya tidak memandang bahawa dia di atas (agama) Islam." [Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah 1/493]
Beliau ditanya pula tentang orang yang berjiran dengan (Syi'ah) Rafidhah yang memberi salam kepada orang itu. Beliau menjawab.
لا, وإذا سلم عليه لا يرد عليه
"Tidak (dijawab). Bila (orang Syiah) itu memberi salam kepada (orang) itu, janganlah dia menjawab (salam) tersebut. "[Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah 1/494]
 
17. Imam Al-Bukhary, Muhammad bin Ismail rahimahulllâh (W. 256 H)
Beliau berkata,
ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي, أم صليت خلف اليهود والنصارى, ولا يسلم عليهم, ولا يعادون, ولا يناكحون, ولا يشهدون, ولا تؤكل ذبائحهم
"Saya tidak peduli. Baik Saya melaksanakan solat di belakang Jahmy dan Rafidhy mahupun Saya mengerjakan solat di belakang orang-orang Yahudi dan Nasrani, (ketidakbolehannya sama saja). (Seseorang) tidak boleh menjenguk mereka, mengahwini mereka, dan bersaksi untuk mereka. "[Khalq Af'al Al-'Ibad hal. 125]
 
18. Imam Abu Zur'ah Ar-Razy, Ubaidullah bin Abdil Karim rahimahulllâh (W. 264 H)
Beliau berkata, "Apabila engkau melihat seorang lelaki yang merendahkan seorang sahabat Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam, ketahuilah bahawa dia adalah zindiq. Hal itu kerana, di sisi Kami, Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam adalah benar dan Al-Quran adalah benar. Sesungguhnya, penyampai Al-Qur `an ini dan hadis-hadis adalah para sahabat Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam. Orang Syiah yang mencela sahabat) hanya ingin mempercacat saksi-saksi Kita untuk menghasilkan Al-Kitab dan Sunnah, Celaan terhadap (kaum pencela itu) adalah lebih pantas dan mereka adalah para zindiq. "[Diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Al-Kifayah hal. 49]
 
19. Imam Abu Hatim ar-Razy, Muhammad bin Idris rahimahulllâh (W. 277 H)
Ibnu Abi Hatim bertanya kepada ayahnya, Abu Hatim, dan kepada Abu Zur'ah tentang mazhab dan aqidah Ahlus Sunnah maka Abu Hatim dan Abu Zur'ah menyebut pendapat yang disepakati oleh para ulama itu di pelbagai negeri. Di antara perkataan mereka berdua adalah bahawa kaum Jahmiyah adalah kafir, sedang kaum Rafidhah telah menolak keislaman. [Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ `iy dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah Wa Al-Jam'ah 1/178]
 
20. Imam Al-Hasan bin Ali bin Khalaf Al-Barbahary rahimahulllâh (W. 329 H)
Beliau berkata,
واعلم أن الأهواء كلها ردية, تدعوا إلى السيف, وأردؤها وأكفرها الرافضة, والمعتزلة, والجهمية, فإنهم يريدون الناس على التعطيل والزندقة
"Ketahuilah bahawa seluruh pemikiran sesat adalah menghancurkan, mengajak kepada rampasan kuasa. Yang paling hancur dan paling kafir di antara mereka adalah kaum Rafidhah, Mu'tazilah, Jahmiyah. Sesungguhnya mereka menghendaki manusia untuk melakukan Ta'thil dan kezindiqan. "[Syarh As-Sunnah hal. 54]
 
21. Imam Umar bin Syahin rahimahulllâh (W. 385 H)
Beliau berkata, "Sesungguhnya, sebaik-baik manusia selepas Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam adalah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Ali' alaihimus salam, serta sesungguhnya seluruh sahabat Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang pilihan lagi baik. Sesungguhnya Saya beragama kepada Allah dengan mencintai mereka semua, dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari siapa saja yang mencela, melaknat, dan menyesatkan mereka, menganggap mereka khianat, serta mengkafirkan mereka ..., dan sesungguhnya Saya berlepas diri dari semua bid'ah berupa Qadariyah, Murji 'ah, Rafidhah, Nawâshib, dan Mu'tazilah. "[Al-Lathif Li Syarh Madzahib Ahlis Sunnah hal. 251-252]
 
22. Imam Ibnu Baththah rahimahulllâh (W. 387 H)
Beliau bertutur, "Adapun (Syi'ah) Rafidhah, mereka adalah manusia yang paling banyak berselisih, berbeza, dan saling mencela. Setiap di antara mereka memilih mazhab tersendiri untuk dirinya, melaknat penyelisihnya, dan mengkafirkan orang yang tidak mengikutinya. Seluruh dari mereka menyatakan bahawa tidak (sah) melaksanakan solat, puasa, jihad, Jumaat, dua Id, nikah, talak, tidak pula jual-beli, kecuali dengan imam, sedang barangsiapa yang tidak mempunyai imam, tiada agamanya baginya, dan barangsiapa yang tidak mengetahui imamnya, tiada agama baginya .... Andaikata bukan kerana pengutamaan penjagaan ilmu, yang perkaranya telah Allah tinggikan dan kedudukannya telah Allah muliakan, dan penyucian ilmu terhadap percampuran najis-najis penganut kesesatan serta keburukan pendapat-pendapat dan mazhab mereka, yang kulit-kulit merinding menyebutkannya, jiwa merintih mendengarkannya, dan orang -orang yang berakal membersihkan ucapan dan pendengaran mereka dari ucapan-ucapan bid'ah tersebut, tentulah Saya akan menyebutkan (kesesatan Rafidhah) yang akan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil pelajaran. "[Al-Ibanah Al-Kubra` hal. 556]
 
23. Imam Al-Qahthâny rahimahulllâh (W. 387 H)
Beliau menuturkan kesesatan Rafidhah dalam Nuniyah-nya,
إن الروافض شرمن وطيء الحصى ... من كل إنس ناطق أو جان
مدحوا النبي وخونوا أصحابه ... ورموهم بالظلم والعدوان
حبوا قرابته وسبوا صحبه ... جدلان عند الله منتقضان
Sesungguhnya orang-orang Rafidhah adalah sejelek-jelek makhluk yang pernah menapak bebatuan
Dari seluruh manusia yang bercakap dan seluruh jin
Mereka memuji Nabi, tetapi menganggap para shahabatnya melakukan khianat
Dan mereka menuduh para sahabat dengan kezaliman dan permusuhan
Mereka (mengaku) ​​mencintai kerabat Nabi, tetapi mencela para sahabat beliau
Dua perdebatan yang bertentangan di sisi Allah
[Nuniyah Al-Qahthâny hal. 21]
 
24. Imam Abul Qasim Ismail bin Muhammad Al-Ashbahâny rahimahulllâh (W. 535 H)
Beliau berucap, "Orang-orang Khawarij dan Rafidhah, madzhabnya telah mencapai pengafiran sahabat dan orang-orang Qadariyah yang mengkafirkan kaum muslimin yang menyelisihi mereka. Kami tidak berpendapat bahawa boleh melaksanakan solat di belakang mereka, dan kami tidak berpendapat akan kebolehan hukum para qadhi dan mahkamah mereka. Juga bahawa, siapa saja di antara mereka yang membolehkan rampasan kuasa dan menghalalkan darah, tidak diterima persaksian dari mereka. "[Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah 2/551]
 
25. Imam Abu Bakr bin Al-'Araby rahimahulllâh (W. 543 H)
Beliau bertutur, "Tidaklah keredhaan orang-orang Yahudi dan Nashara kepada pengikut Musa dan Isa sama seperti keredhaan orang-orang Rafidhah kepada para sahabat Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam. Yakni, (kaum Rafidhah) menghukum (para shahahabat Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam) bahawa para (sahabat) bersepakat di atas kekufuran dan kebatilan. "[Al-' Awashim min al-Qawashim hal. 192]
 
26. Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulllâh (W. 728 H)
Beliau menyatakan, "... dan cukuplah Allah sebagai Yang Maha Mengetahui bahawa, dalam seluruh kelompok yang bernisbah kepada Islam, tiada yang (membawa) bid'ah dan kesesatan yang lebih buruk daripada (golongan Rafidhah) tersebut, dan tiada yang lebih jahil, lebih pendusta , lebih zalim, dan lebih dekat kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga tiada yang lebih jauh dari hakikat keimanan daripada (golongan Rafidhah) itu. "[Minhâj As-Sunnah 1/160]
Beliau berkata pula, "(Kaum Rafidhah) membantu orang-orang Yahudi, orang-orang Nashara, dan kaum musyrikin terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam dan umat beliau yang beriman sebagaimana mereka telah membantu kaum musyrikin dari kalangan At-Turk dan Tartar akan perbuatan mereka di Baghdad dan selainnya terhadap ahlul bait Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam dan Ma'din Ar-Risâlah, keturunan Al-' Abbâs dan ahlul bait yang lain, berupa pembunuhan, penawanan, dan pemusnahan negeri-negeri. Keburukan dan bahaya (orang-orang Rafidhah) terhadap umat Islam takkan mampu dihitung oleh orang yang fasih berbicara. "[Majmu 'Al-Fatawa 25/309]
 
* Disadur dan diringkas dari Al-Intishar Li As-shahbi Wa Al-Âl Min iftira `ât As-Samâwy Adh-dhal hal. 90-110

sumber dzulqarnain.net