Selasa, 05 Februari 2013

Kisah menakjubkan: Berjiran dengan wanita tua Yahudi

Seorang wanita tua selalu menyakiti Baginda dengan meletakkan duri, najis dan lain-lain halangan di jalan yang selalu dilalui oleh Rasulullah SAW. Namun Rasulullah SAW tidak bertindak balas, Baginda SAW sentiasa bersabar. Akhirnya apabila wanita tua itu sakit, Rasulullah SAW menziarahi dan merawati menunjukkan kasih sayang terhadapnya, dengan keperibadian mulia yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, lalu terbukalah pintu hidayah lantas wanita tua tersebut memeluk Islam di tangan Baginda.

Kisah yang seakan sama berlaku pada masa kini di Amerika Syarikat. Diceritakan oleh Suhaib Webb antara beberapa siri ceramah beliau di Youtube.
Suhaib menceritakan seorang Islam dari Sudan menetap di kediaman yang banyak kes jenayah iaitu di Bronx, New York. Jiran warga Sudan itu ialah seorang wanita tua Yahudi.

Warga Sudan dan isterinya sering menyapa dan memberi makanan kepada jiran Yahudi tersebut. Tetapi wanita Yahudi itu mencampakkan segala pemberian dan sering memarahi mereka. Tetapi keluarga warga Sudan itu tetap menghormati jirannya, kerana ini adalah tuntutan Islam dalam hak berjiran.

Pada satu hari wanita tua Yahudi itu dirompak, lalu warga Sudan tersebut ternampak dan menyelamatkannya. Akibat kecederaan wanita tua Yahudi itu terlantar di hospital. Di hospital tiada siapa yang menziarahinya, hanya warga Sudan itu sahaja. Tetapi wanita tua Yahudi itu masih tetap memarahinya.

Apabila sihat, wanita tua Yahudi itu kembali ke rumah, namun warga Sudan tersebut masih berbuat baik kepada jirannya walaupun wanita tua Yahudi itu tidak menyukainya.

Akhirnya wanita tua Yahudi tersebut jatuh sakit. Sekali lagi dia terlantar di hospital dan tiada sesiapa juga yang menziarahinya hanya warga Sudan dan isterinya sahaja. Dengan keperibadian Islam yang ada pada warga Sudan tersebut menarik perhatian wanita Yahudi itu, lalu bertanyalah kepada warga Sudan tersebut mengenai Islam, Akhirnya terbukalah pintu hidayah lalu wanita tua Yahudi itu memeluk Islam. Subhanallah ....

Tiga hari selepas memeluk Islam, wanita tua Yahudi itu tadi menemui ajal, menghadap Allah SWT.

Apabila dibacakan wasiat, wanita tua Yahudi itu telah menyerahkan semua hartanya kepada warga Sudan tersebut.

Firman Allah yang bermaksud:

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, kerana sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195)

Islam menyeru umatnya berbuat baik sesama makhluk, baik berupa manfaat ilmu, harta benda dan juga yang berbetuk nasihat ke agamaan, sepertimana 

sabda Rasulullah SAW: 

"Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan atas setiap sesuatu."

Dialog Pohon Mangga dan Imam Syibli

Assalamu'alaikum wr. wrb.

Imam Syibli adaalah salah seorang yang mampu berdialog dengan tanaman, salah satu pohon tersebut adalah pohon mangga. Menunjukkan bahwa beliau bukan orang sembarangan di dunia para sufi.
Kisah yang penuh sarat dengan makna buat kita semua sahabat.
Bagaimana kisahnya...

Pohon Mangga

Kisahnya.
Pada suatu hari Imam Syibli sedang berada di kebunnya yang subur.
Ketika sedang asyik bekerja di kebun itu, tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggilnya.
"Syibli...!!! Syibli...!!!"

Imam Syibli segera menghentikan pekerjaannya dan mencari-cari siapa gerangan yang memanggil-manggil namanya.
Ternyata, suara itu datang dari sebuah pohon mangga.
"Ada keperluan apa engkau memanggilku?" tanya Imam Syibli.
"Jadilah makhluk yang memiliki sifat sepertiku," jawab pohon mangga itu.
"Apa maksudmu..." tanya Imam Syibli yang tak mengerti.

"Jika aku dilempari orang dengan batu, aku balas melempari orang itu dengan buahku yang lezat," tutur phon mangga itu.
"Oh...engkau memang baik hati," sahut Imam Syibli.
"Tapi mengapa nasibmu tidak baik pada akhirnya?" tanya Iman Syibli.

Kini, ganti pohon mangga itu yang keheranan, dan tidak mengerti.
"Apa maksudny Syibli?" tanya pohon mangga.
"Kalau engkau sudha tidak ada gunanya lagi, sudah tua, batangmu akan ditebang. Daun-daunmu akan digunduli dan dirimu akan menjadi mangsa api sebagai kayu bakar," kata Imam Syibli.
"Itulah nasibku," kata pohon mangga.

"Jadi mana yang lebih baik, nasibmu atau nasib pohon cemara itu yang di sana?" tanya Imam Syibli.
"Inilah kebangganku, memang phon cemara di sana bisa selamat dengan cara begitu, akan tetapi kalau sudah tua nanti akan roboh begitu saja dan tidak ada yang mengambil batangnya untuk dibuat kayu bakar, apalagi arang. Sedangkan aku, meskipun pada akhirnya aku akan hancur dan dimakan api, tapi dengan cara terhormat. Karena manusia tidak akan sembarangan membakarku jika tidak untuk keperluan yang jelas seperti untuk memasak dan sebagainya," jawab pohon mangga.

Pohon mangga melanjutkan penuturannya.
"Jadi aku nini masi ada gunanya sampai pada akhir hidupku," kata pohon mangga.
"Abu bekas pembakaranku juga masih diperlukan orang untuk menggosok perabotan rumah tangga, dan abuku terkenal mahal serta dapat membuat barang-barang dari logam menjadi bersih dan mengkilap. Jadi nasibku lebih baik daripada pohon cemara," tutur pohon mangga.

Imam Syibli mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menyetujui pendapat pohon mangga.
Lebih baik mati terhormat daripada menjual harga diri dengan bersikap munafik yang bersedia mengikuti arus, kemanapun angin bertiup dia pun mengikutinya.

Waasalam..