Rabu, 13 Maret 2013

Keadaan Roh Setelah Terpisah dari Badan

Kisah yan satu ini bersumber dari hadits-hadits yang ada di bawah ini.
Ketahuiah bahwa kita tidak mengetahui kapan saatnya nanti nyawa harus berpisah dengan badan. Oleh sebab itu, alangkah baiknya segera memperbanyak amal ibadah di dunia sebagai bekal di akhirat nanti.

Mutlak rasanya sebagai orang yang beriman (rukun iman ada 6) untuk mempercayai pada yang gaib, termasuk ruh manusia nanti setela lepas dari raganya. Mutlak juga percaya akan ketetapan Allah SWT pasti akan terjadi menurut Kehendak-Nya.

Hadits yang berasal dari Al-Barra bin Azib ra telah meriwayatkan


"Kami keluar bersama Rasulullah SAW untuk mengurusi jenazah seorang laki-laki dari kalangan sahabat Anshar. Kemudian kami sampai di kuburan yang belum digali. Lalu Rasulullah SAW duduk dan kami pun duduk di sekeliling beliau seakan-akan kepala kami dihinggapi burung."

Beliau Rasulullah SAW bersabda,
"Mohonlah kalian perlindungan kepada Allah SWT dari siksa kubur." (sebanyak dua kali atau tiga kali).

Kemudian beliau bersabda lagi,
"Sesungguhnya seorang hamba yang beriman jika terpisah dari dunia dan menuju ke akhirat, niscaya dia didatangi malaikat dari langit yang wajahnya putih bagaikan mentari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga, lalu duduk di dekatnya. Selanjutnya datanglah malaikat maut dan duduk di samping kepalanya.

Malaikat maut itu berkata,
"Wahai jiwa yang baik. Keluarlah menuju ampunan Allah SWT dan ridha-Nya."
Kemudian nyawanya pun keluar dan mengalir sebagaimana mengalirnya tetesan air dari wadahnya. Ketika malaikat mengambil nyawanya, maka dia tidak membiarkan nyawa tersebut berada di tangannya sekejap mata pun, melainkan mereka meletakkannya di dalam kafan dan wewangian tersebut. Dan dari nyawanya tersebut muncul keharuman bagaikan minyak kasturi terharum yang ada di muka bumi."


Rasulullah SAW melanjutkan Kisahnya

Nabi SAW melanjutkan kisahnya,
"Kemudian mereka membawa nyawa tersebut naik. Mereka tidak melewati sekelompok malaikat melainkan mereka berkata, ‘Ruh siapakah yang wangi ini?’ Mereka menjawab, "Ruh fulan bin fulan," dengan menyebut nama terbaik sebagaimana dia bisa dipanggil di dunia.

Sehingga para malaikat yang membawa nyawa tersebut sampai di langit dunia, lalu mereka meminta agar dibukakan pintu nyawa tersebut. Kemudian dibukakan pintu untuknya. Selanjutnya malaikat muqarrabun dari masing-masing langit mengantarkannya sampai ke langit berikutnya sehingga sampai ke langit ketujuh. Lantas Allah SWT berfirman,
"Tulislah buku catatan amal hambaku ini di Illiyyin dan kembalikan dia ke bumi, ke tanah sebagaimana dahulu Aku menciptakan mereka dari tanah, dan dari sanalah Aku akan mengeluarkan mereka pada waktu yang lain."

ROH ORANG BERIMAN

Beliau Rasulullah SAW melanjutkan kisahnya,

"Selanjutnya ruhnya dikembalikan pada jasadnya, lalu dia didatangi dua malaikat, lalu keduanya mendudukkannya dan bertanya kepadanya,
"Siapa Rabbmu?" Dia menjawab, "Rabbku adalah Allah SWT."
Keduanya bertanya lagi, "Apa agamamu?" Dia menjawab, "Agamaku Islam."
Keduanya melanjutkan, "Siapakah lelaki yang diutus untuk kalian ini?" Dia menjawab, "Dia adalah Rasulullah SAW."

Keduanya bertanya lagi,
"Apa yang menyebabkanmu mengetahuinya?" Dia menjawab, "Saya membaca kitab Allah, lalu saya beriman kepadanya dan membenarkannya."
Lantas di langit ada yang mengumandangkan, "Hambaku benar. Hamparkanlah untuknya permadani dari surga, berilah dia pakaian dari surga dan bukakan untuknya pintu ke arah surga, lalu didatangkan padanya angin dan semerbak keharuman surga."

Kemudian kuburnya dilapangkan sebatas mata memandang. Selanjutnya dia didatangi sesosok yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, dan harum baunya.
Ia berkata,
"Bergembiralah engkau dengan sesuatu yang membuatmu gembira. Ini adalah harimu yang telah dijanjikan untukmu."
Lantas dia bertanya kepadanya, "Kamu ini siapa? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan."
Dia menjawab, "Saya adalah amal kebajikanmu." Lalu dia berkata, "Ya Rabbi... Datangkanlah hari kiamat sehingga saya dapat kembali pada keluargaku dan hartaku."

ROH ORANG KAFIR

Rasulullah SAW melanjutkan kisahnya,

"Sesungguhnya hamba yang kafir apabila terpisah dari dunia dan menuju akhirat, maka turun kepadanya malaikat dari langit yang wajahnya hitam. Mereka membawa pakaian yang kasar, lalu mereka duduk di dekatnya. Selanjutnya malaikat maut datang hingga duduk di samping kepalanya, lalu dia berkata, ‘Wahai jiwa yang buruk! Keluarlah menuju murka dan kemarahan Allah SWT."

Lalu jiwanya terpisah-pisah di dalam jasadnya.
Selanjutnya malaikat mencabutnya sebagaimana mencabut besi yang digunakan membakar daging dari bulu domba yang basah.
Kemudian malaikat mengambil nyawanya. Ketika dia telah mengambilnya, maka dia tidak membiarkan nyawa itu berada di tangannya meskipun sekejap mata melainkan mereka menaruhnya pada pakaian yang kasar itu. Dan dari nyawa tersebut keluar bau bagaikan bau bangkai paling busuk yang ada di muka bumi. Lalu mereka membawa nyawa tersebut naik.

Mereka tidak melewati sekelompok malaikat melainkan mereka berkata, "Ruh siapakah yang busuk ini?" Mereka menjawab, "Ruh fulan bin fulan," dengan menyebut nama terjelek sebagaimana dia biasa disebut di dunia, sehingga dia sampai ke langit dunia.
Lalu dimintakan agar dibukakan pintu untuk nyawa tersebut, tetapi tidak dibukakan pintu untuknya.

Selanjutnya Rasulullah SAW membaca ayat berikut:

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit[540] dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum[541]. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan."
(QS. Al-A’raf: 40)

Kemudian Allah berfirman, "Tulislah buku catatan amalnya di dalam Sijjin di bumi yang paling rendah. Maka, ruhnya dilemparkan begitu saja, kemudian Allah berfirman,

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Artinya:
"dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh."
(QS. Al-Hajja: 31)

Selanjutnya, ruhnya dikembalikan pada jasadnya, lalu dia didatangi dua malaikat.
Lalu keduanya bertanya kepadanya, "Siapa Rabbmu?" Dia menjawab, "Aduh, aduh...! Saya tidak tahu."
Lantas keduanya bertanya lagi, "Apa agamamu?" Dia menjawab, "Aduh, aduh...! Saya tidak tahu."
Keduanya melanjutkan, "Siapakah lelaki yang diutus untuk kalian ini?" Dia menjawab, "Aduh, aduh...! Saya tidak tahu."

Kemduian di langit ada yang mengumandangkan, "Dia dusta. Hamparkanlah untuknya tempat tidur dari neraka dan bukakan untuknya pintu ke arah neraka, lalu didatangkan padanya panas neraka dan angin panas neraka. Kemudian kuburnya disempitkan sehingga tulang rusuknya menjadi bersilangan. Selanjutnya dia didatangi sesosok yang buruk wajahnya, jelek pakaiannya, dan berbau busuk.

Dia berkata, "Bergembiralah engkau dengan sesuatu yang menyusahkanmu. Ini adalah harimu yang telah diancamkan untukmu."
Lantas dia bertanya kepadanya, "Kamu ini siapa? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan buruk."
Dia menjawab, "Saya adalah amal burukmu." Lalu dia berkata, "Ya Rabbi...! Jangan datangkan hari kiamat...!"

(HR. Al-Baihaqi dengan sanad shahih).

Empat api dalam kubur akan dipadamkan oleh empat amalan

Riwayat dalam kitab jauhar Mauhub apabila dihantar mayat ke dalam kubur akan datang kepadanya empat api, maka:


  1. Api pertama akan dipadam oleh solatnya.
  2. Api kedua akan dipadam oleh puasanya.
  3. Api ketiga akan dipadam oleh sedekahnya.
  4. Api yang ke empat akan dipadam oleh sabarnya.

Kadi Kuala Lumpur yang pertama

Syeikh Uthman bin Abdullah, ulama besar asal Minangkabau ini adalah bersaudara dengan seorang lagi ulama besar yang banyak berjasa di Tanah Melayu iaitu Syeikh Muhammad Saleh bin Abdullah al-Minankabawi. Syeikh Muhammad Saleh pernah menjadi Syeikhul Islam negeri Perak ketika Sultan Iskandar Shah memerintah negeri tersebut.

Syeikh Uthman dilahirkan di Batu Sangkar, Minangkabau pada tahun 1267 Hijrah bersamaan dengan 1850 Masihi.

Batu Sangkar pada masa itu adalah merupakan pusat penyebaran Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang diiasaskan oleh Syeikh Ismail bin Abdullah al-Khalidi, seorang lagi ulama besar yang sangat terkenal di Alam Melayu. Menjadi kelaziman alim ulama Alam Melayu pada waktu itu, pengajian kemudiannya dilanjutkan di Mekah.

Antara gurunya di Mekah ialah Syeikh Ahmad al-Fathani, Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani, Syeikh Muhammad bin Ismail @ Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani, Syeikh Wan `Ali Kutan al-Kalantani, Syeikh Nawawi al-Bantani, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Syeikh Abdul Hamid asy-Syarwani dan ramai lagi.

Syeikh Uthman pulang ke tanah Minangkabau pada penghujung tahun 1884 Masihi. Beliau kemudiannya berhijrah ke Kuala Lumpur ketika bandar tersebut sedang mula berkembang.

Pada waktu itu, ramai orang Minangkabau berhijrah ke bandar tersebut. Masyarakat Minangkabau sangat menghormati beliau kerana kealimannya. Ramai di kalangan mereka yang datang berguru kepadanya.

Bagi memudahkan kehidupan beliau ketika berada di Kuala Lumpur, masyarakat Minangkabau telah menyediakan sebidang tanah yang letaknya dari kawasan Masjid Jamek Kuala Lumpur sampai ke kawasan yang berhampiran bangunan Pusat Dagangan Dunia Putra (PWTC) sekarang.

Syeikh Uthman bukan sahaja alim dalam bidang agama tetapi juga mempunyai ketokohan dalam menyelesaikan masalah masyarakat. Sebagai contoh, pernah berlaku perselisihan faham tentang isu solat Jumaat di dua masjid yang berdekatan.

Salah seorang anak muridnya yang juga merupakan pemerintah negeri Selangor pada waktu itu, iaitu Sultan Abdul Samad telah menanganinya secara bijaksana iaitu dengan meminta masyarakat di situ mendirikan solat Jumaat secara bergiliran. Maksudnya, minggu ini di Masjid Melaka, minggu berikutnya di Masjid Minangkabau dan begitulah seterusnya.

Keputusan yang dibuat oleh Sultan Abdul Samad itu sudah tentu melibatkan buah fikiran gurunya itu memandangkan Syeikh Uthman pada waktu itu adalah tokoh yang sangat dihormati di Kuala Lumpur.

Selain Sultan Abdul Samad, tokoh-tokoh Melayu yang lain yang pernah menadah kitab kepada ulama besar Minangkabau ini ialah Raja Mahmud (seorang pembesar negeri Selangor), Sutan Puasa (Ketua Melayu Dato’ Dagang yang pertama di Kuala Lumpur) dan Haji Abdullah Hukum.

Sepanjang hayat beliau tinggal di Kuala Lumpur, beliau pernah memegang jawatan sebagai Imam, Khatib dan Kadi. Diriwayatkan bahawa beliau adalah Kadi Kuala Lumpur yang pertama.

Syeikh Uthman dikurniakan 7 orang anak. Anak perempuannya yang bernama Saodah berkahwin dengan Haji Abdur Rauf bin Syeikh Yusuf al-Minankabawi. Syeikh Yusuf al-Minankabawi adalah seorang ulama besar Minangkabau yang tinggal di Semenanjung.

Salah seorang anak muridnya ialah Syeikh Abdul Wahhab Rokan yang sangat terkenal itu. Diriwayatkan bahawa dua orang anak lelaki iaitu Haji Abdul Rahman dan Haji Abdul Rahim berkecimpung dalam bidang perguruan. Haji Abdur Rahman merupakan seorang guru Bahasa Melayu.

Salah seorang anak muridnya ialah Tan Sri Mubin Sheppard. Haji Abdul Rahim pula merupakan pengasas majalah Guru. Anaknya yang bernama Abu Bakar pernah memegang jawatan Datuk Syahbandar Sungai Ujong, Negeri Sembilan.

Tokoh yang banyak berjasa kepada pembangunan rohaniah masyarakat Kuala Lumpur di zamannya berpulang ke rahmatullah dalam bulan Rabiulawal 1337 Hijrah bersamaan Januari 1919 Masihi.

Jenazahnya dimakamkan di Perkuburan Islam Ampang, bersebelahan dengan saudaranya Syeikh Muhammad Saleh bin Abdullah al-Minankabawi.