Selasa, 30 April 2013

Kisah pembinaan Masjid di kutub utara

Selepas berjaya mendirikan masjid pertama di Kutub Utara, Muslim Kanada berjaya menambah menara di masjid yang berwarna kuning yang terletak di bandar Winnipeg-Inuvik itu.

"Inilah menara masjid yang dibina di Kutub Utara. Menara itu sangat indah ketika kami nyalakan lampu-lampunya di tengah kegelapan, "kata Amier Suliman, ahli jawatankuasa masjid dengan bangga.

Menara itu dengan ketinggian kira-kira 10 meter, menambah kemegahan masjid. Komuniti Muslim di Inuvik-bandar yang terletak 200 kilometer dari Kutub Utara sudah lama mahukan sebuah tempat yang selesa untuk menjalankan ibadah mereka. Tapi impian itu ditangguhkan kerana harga bahan binaan dan kos  pembinaan yang sangat mahal.
Sebuah syarikat pembekal bahan bangunan di Manitoba bersetuju untuk membina struktur masjid itu di kilangnya. Setelah siap dibina, struktur binaan tersebut ditarik dengan kapal ke Inuvik. Syarikat itu hanya mengenakan bayaran separuh daripada harga yang sepatutnya dibayar.
Setelah melalui proses dan perjalanan panjang melalui daratan dan sungai di sepanjang wilayah Barat Kanada, masjid kecil berukuran 140 meter persegi yang diperbuat daripada bahan kayu itu akhirnya tiba di Inuvik. Di bandar itu komuniti Muslim berkembang pesat dan jumlahnya bertambah rama. Oleh demikian mereka merasa perlu memiiki sebuah masjid. Komuniti Muslim di Inuvik yang berpenduduk kira-kira 4000 orang itu, sebahagian besar berasal dari Sudan, Lebanon dan Mesir.
Penambahan menara masjid disambut gembira oleh komuniti Musim di Inuvik. 

"sesetengah orang akan berkata ini adalah sebuah titik permulaan terbaru bagi Islam. Tapi bagi kami, yang penting adalah kaum Muslimin di sini yang biasanya melaksanakan solat Jumaat dengan menumpang di sebuah gereja Katolik, sekarang sudah mempunyai tempat yang selesa untuk beribadah, lengkap dengan menaranya, "terang Amier Suliman ahli jawatankuasa masjid kutub utara. 

Siksa Neraka Bagi Para Pengkhianat

Assalamu'alaikum wr. wb.

Khianat adalah sifat jelek yang terdapat dalam diri manusia. Khianat artinya bahwa seseorang yang menyeru kepada kebaikan tapi dia sendiri tidak melakukan kebaikan itu sendiri. Itulah salah satu ciri-ciri orang yang khianat. Sedangkan para pelaku khianat adalah pengkhianat. Dan kelak di akhirat para pengkhianat tersebut akan mendapatkan azab yang sangat pedih.


Kisahnya

Allah SWT menyukai para hamba-Nya yang selalu memerintahkan pada kebaikan serta mengamalkan kebaikan itu dengan penuh ketakwaan. Sebaliknya, Allah SWT akan murka terhadap orang yang hanya menganjurkan kebaikan kepada orang lain, tetapi justru dirinya sendiri tidak mengamalkan kebaikan seperti yang dikatakannya.

Kelak, orang-orang yang mengkhianati perkataannya sendiri itu akan mendapatkan azab yang sangat pedih di neraka. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Riyadlus Shalihin, buah karya Al Imam Al 'Alamah Al Muhaddits, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an Nawawi ad Dimasqi as Syafi'i.

Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa siksa Allah SWT akan sangat berat kepada orang-orang yang banyak menganjurkan pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, akan tetapi ia sendiri justru lalai untuk mengerjakan kebaikan itu sebagaimana yang dianjurkannya kepada orang lain.

Mereka yang berkhianat atas ucapannya sendiri itu kelak di neraka akan disiksa. Tubuh mereka akan dilempar dengan sangat keras sehingga ususnya keluar dan mereka kekal dengan berputar-putar di nereka.
Astaghfirullah....

Tubuh Dilempar ke Neraka

Ada sebuah hadits yang menguatkannya. Balasan para pengkhianat ini digambarkan dalam hadits dari Abu Zaid (Usamah) bin Zaid bin Harits ra, berkata,
Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,
"Seseorang dihadapkan di hari kiamat. Kemudian dilemparkan ke dalam neraka, maka keluar usus perutnya, lalu berputar-putar di dalam neraka bagaikan himar yang berputar di sekitar penggilingan, maka berkerumunlah ahli neraka paanya sambil berkata, 'Hai Fulan, mengapakah engkau? Tidakkah dahulu menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?'
Fulan itu pun menjawab, 'Benar, aku dahulu menganjurkan kebaikan, tetapi tidak saya kerjakan, dan mencegah mungkar, tetapi saya sendiri kerjakan."
(H.R. Bukhari Muslim).

Dengan demikian, sangatlah jelas bahwa seluas apapun ilmu seseorang tapi jika itu tidak diamalkan, maka semuanya akan menjadi sia-sia. Malah kelak orang-orang seperti itu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,
"Tapak kedua kaki hamba kelak di hari kiamat tidak akan bergeser hingga ia ditanya tentang empat perkara, diantaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan."
(HR. Turmudzi).

Berdasarkan hadits tersebut, jelaslah bahwa ilmu dan pengetahuan yang telah diberikan Allah SWT melalui Al Qur'an dan Hadits, tujuannya adalah untuk diamalkan, bukan hanya untuk diajarkan. Karena memerintahkan kebaikan namun tidak diimbangi dengan pengamalan dari dirinya hal itu sama saja dengan mendustakan.

Dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman,

أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ

Artinya:
"Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?"
(QS. Al Mu'minuun : 105).

Ayat Al Qur'an Menjelaskan

Banyak sekali kandungan ayat Al Qur'an yang menjelaskan tentang kemurkaan Allah SWT pada orang-orang yang hanya bisa berkata dan memerintahkan kebaikan, namun ia sendiri tidak melakukannya. Di antara teguran keras tersebut ada dalam Surat Al Baqarah ayat 44 dan Surat Ash Shaff ayat 2-3.

Allah SWT berfirman,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Artinya:
"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?"
(QS. Al Baqarah : 44).

Allah SWt berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."
(QS. Ash Shaff : 2-3).

Itulah azab yang diberikan Allah SWT terhadap orang-orang yang khianat. Semoga kita dihindarkan dari sifat khianat ini, bisa menasehati kebaikan tapi dia sendiri malah tidak melaksanakannya.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Kisah Tujuh Perjalanan Nabi Musa

1. Safarul Ghazab

Perjalanan Ghazab atau perjalanan kerana murka, adalah perjalanan Musa as. ketika beliau dihanyutkan oleh ibunya ke dalam sungai, kerana takut kemurkaan Fir’un.

Firman Allah SWT bermaksud: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susukanlah dia, dan apabila kamu khuatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke dalam sungai (Nil). Dan janganlah kamu bimbang dan jangan pula bersedih hati, kerana sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang daripada Rasul.”

(Al-Qashash: 7)

2. Safarul Harab

Safarul Harab adalah perjalanan Nabi Musa ketika melarikan diri dari Mesir ke Madyan.
Firman Allah SWT bermaksud: “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan kebimbangan, dia berdoa: Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu. Dan Tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa lagi: Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.”
(Al-Qashash: 21-22)

3. Safarul Thalab

Safarul Thalab adalah perjalanan menuntut sesuatu. Merupakan perjalanan Nabi Musa ketika pulang dari negeri Madyan dan beliau memerlukan api. Kemudia beliau melihat cahaya api, maka dihampirinya.

Firman Allah SWT berbunyi: “Maka Tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnya api di kaki gunung, ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah di sini, sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari tempat api itu atau membawa sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan.”

(Al-Qashash: 29)

4. Safarus Sabab

Safarus Sabab adalah perjalanan yang disebabkan sesuatu. Iaitu perjalanan Musa as. keluar dari Mesir menuju Sungai Nil dikejar oleh Fir’un berserta tenteranya. Perjalanan itu jugalah yang menjadi sebab kebinasaan Fira’un.

Firman Allah SWT bermaksud: “Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain.”

(Asy-Syu’ara: 65-66)

5. Safarul ‘Ujub

Safarul Ujub iaitu perjalanan ujub, yang merupakan perjalanan Musa as. bersama kaumnya ketika tersesat di hutan belantara selama 40 tahun. Mereka diberi Allah makanan berupa ‘manna’ dan ‘salwa’ dan dikeluarkan oleh Allah air dari batu-batu untuk minuman mereka.

Firman Allah SWT bermaksud: “Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu ‘manna’ dan ‘salwa.’ makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu.”

(Al-Baqarah: 57)

Firman Allah SWT lagi yang bermaksud: “Dan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. Makan dan minumlah rezeki yang diberikan oleh Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerosakan.”

(Al-Baqarah: 60)

Diceritakan bahawa kaum Nabi Musa as. yang ikut bersamanya di hutan belantara itu berjumlah tujuh puluh ribu orang. Mereka semua terdiri daripada 12 kaum.

Firman Allah SWT bermaksud: “Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku atau kaum yang masing-masing suku mempunyai jumlah yang ramai dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!”. Maka memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka ‘manna dan salwa’. Kami berfirman: “Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu.” Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri.”

(Al-A’raaf: 160)

6. Safarul Adab

Safarul Adab adalah perjalanan pendidikan, iaitu perjalanan Nabi Musa ke tepi sungai untuk berjumpa dengan Khidir as.

Firman Allah SWT bermaksud: “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun. Maka Tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lupa akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Maka Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan itu, sesungguhnya kita telah merasa letih kerana perjalanan kita ini. Muridnya menjawab: Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Musa berkata: “Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khaidir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.”

(Al-Kahfi: 60-66)

7. Safarut Tharbi

Safarut Tharbi adalah perjalanan suka cita, iaitu perjalanan Nabi Musa ke Bukit Thursina untuk bermunajat kepada Allah SWT.

Firman Allah SWT bermaksud: “Dan Tatkala Musa datang untuk munajat dengan Kami pada waktu yang telah Kami tentukan…”

(Al-A’raaf: 143)

Nabi Musa as. pergi ke Gunung Thursina

Nabi Musa as. pergi ke Gunung Thursina pada hari Isnin. Sesuai dengan firman Allah yang dijelaskan dalam Al-Quran:

“Dan Tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada-Mu.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya, nescaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan. Maka Setelah Musa sedar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

(Al-A’raaf: 143)