Rabu, 22 Mei 2013

Kemarahan yang membuatkan keluarnya Dajjal

Telah menceritakan kepada kami Abdu bin Humaid telah menceritakan kepada kami Rauh bin Ubadah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Ayyub dari Nafi 'berkata: Ibnu Umar bertemu Ibnu shâ'id disalah satu jalanan Madinah lalu Ibnu Umar mengucapkan kata-kata yang membuatnya marah, ia menggelembung hingga meamenuhi jalanan, lalu Ibnu Umar memasuki kediaman Hafshah dan berita itu telah sampai padanya. Hafshah berkata pada Ibnu Umar: Semoga Allah merahmatimu, apa yang kau inginkan dari Ibnu shâ'id? Bukankah kau tahu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam pernah bersabda: "Sesungguhnya ia keluar dari kemarahannya." (HR. Muslim)

Sedang didalam riwayat Imam Ahmad dari dari Ibnu Umar bahwasanya ia melihat Ibnu Shoid berada di salah satu pintu masuk Madinah, kemudian Ibnu Umar mencelanya, dan ia pun menghinanya, ia pun semakin marah hingga menutupi jalan. Kemudian Ibnu Umar memukulnya dengan tongkat yang dibawanya, hingga ia memecahkannya. Lalu Hafshah berkata kepadanya; "Ada masalah apa engkau dengannya, apa yang membuatmu mencelanya? Tidakkah engkau mendengar Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam bersabda:' Bahwasanya Dajjal itu keluar dari kemarahan yang ia lakukan '," Affan berkata ketika ia marah, Yunus berkata pada haditsnya; "Apa yang membuatmu mencelanya."

Kedua hadits tersebut menjelaskan sebab kemarahan Ibnu Umar adalah bahawa dirinya melihat Ibnu shâ'id di salah satu jalan (pintu masuk) Madinah sehingga memukulnya dengan tongkatnya. Setelah itu Ummul Mu'minin Hafshah mengingatkannya dengan hadis Rasulullah saw bahawa dia (dajjal) keluar dari kemarahannya.

Adapun tentang hakikat amarah dajjal apakah disebabkan dirinya dalam keadaan terikat sangat kuat dan kedua tangannya terikat ke bahunya serta antara dua lutut serta kedua buku lalinya terbelenggu dengan besi ataukah kerana sebab-sebab lain? Wallahu A'lam. Yang pasti bahawa amarah itu menjadi tanda yang dijadikan oleh Allah swt sebagai sebab keluarnya dajjal, sebagaimana disebutkan didalam hadis-hadis diatas.

Namun demikian berlaku perselisihan dikalangan ulama apakah Ibnu shâ'id atau juga disebut dengan Ibnu Shayyad ini adalah dajjal akbar yang keluar pada akhir zaman atau bukan?

Imam Nawawi menyebutkan pendapat ulama yang mengatakan bahawa Nabi saw tidaklah turun kepadanya wahyu yang menjelaskan bahawa dia adalah al masih ad dajjal ataupun yang lain. Adapun wahyu yang turun kepadanya hanya tentang sifat-sifat dajjal saja sementara didalam diri Ibnu Shayyad ini terdapat bukti-bukti tersebut. Kerana itulah Nabi saw tidak memastikan bahawa dia adalah dajjal atau bukan. Rasulullah saw berkata kepada Umar, "Jika memang ia (Ibnu Shayyad) itu adalah dajjal maka engkau tidak akan dapat membunuhnya. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XVIII hal 64)

Al Hafizh Imaduddin bin Katsir berkata: Sebahagian ulama berkata bahawa sebahagian sahabat mengira bahawa Ibnu Shayyad itu adalah dajjal akbar (yang paling besar) yang dijanjikan di akhir zaman padahal tidaklah demikian. Seungguhnya dia (ibnu Shayyad) adalah dajjal kecil, seperti yang terdapat dalam potongan hadits Fatimah binti Qais.

Al Baihaqi tentang hadits Fatimah itu mengatakan bahawa dajjal akbar bukanlah Ibnu Shayyad akan tetapi dia hanyalah salah satu dari dajjal pendusta yang dimaklumkan Rasulullah saw yang akan keluar, dan kebanyakan daripada mereka pun telah keluar. Boleh jadi orang-orang yang meyakini bahawa dajjal akbar adalah Ibnu Shayyad tidak mendengar kisah Tamim .... (Aunul Ma'bud juz XI hal 340)

Diantara para sahabat yang mengatakan bahawa Ibnu ash Shayyad adalah dajjal akbar yang keluar pada akhir zaman adalah Umar bin Khattab dan anaknya, Abdullah bin Umar bin Khattab. Didalam hadith yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Muhammad bin Al Munkadir berkata: Aku pernah melihat Jabir bin Abdillah bersumpah dengan nama Allah bahawa sesungguhnya Ibnu Sha `id itu Dajjal. Lalu aku berkata: Apakah kamu bersumpah dengan nama Allah? Ia menjawab: Sungguh aku pernah mendengar Umar bersumpah atas hal itu di depan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam dan beliau tidak mengingkarinya.

Namun pendapat yang paling kuat yang menjadi pendapat kebanyakan para ulama penyelidik adalah bahawa Ibnu shâ'id atau Ibnu Shayyad bukanlah dajjal akbar yang keluar di akhir zaman. Namun tidak disangsikan bahawa Ibnu Shayyad ini adalah salah satu dajjal dari dajjal-dajjal pendusta yang kita diminta oleh Rasulullah agar waspada terhadapnya.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda: "Sebelum datangnya hari kiamat akan muncul kira-kira tiga puluh Dajjal pendusta ... '"

Wallahu A'lam

Diterjemahkan dari sumber fiqhislam.com

Kumpulan Doa Musafir



DOA UNTUK ORANG YANG MENGATAKAN: BAARAKALLAHU FIIKA

وَفِيْكَ بَارَكَ اللهُ.

Semoga Allah juga memberkahimu.”( Ibnu Sunni, hal. 138, no. 278, lihat Al-Waabilush Shayyib Ibnil Qayyim, hal. 304. Tahqiq Muhammad Uyun)

DOA MENOLAK FIRASAT BURUK / SIAL

اَللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ.

.

DOA AGAR TERHINDAR DARI SYIRIK



 DOA KEPADA ORANG BERKATA: AKU MENCINTAIMU  KARENA ALLAH

أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ.

Semoga Allah mencintaimu, karena engkau telah mencintaiku karena-Nya.”( HR. Abu Dawud: 4/333. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 3/965)
.

Detik-Detik Wafatnya Ibunda Nabi Isa as

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ketahuilah bahwa semua manusia, kelak pasti akan mengalami mati. Akan mengalami kehidupan di alam Barzakh.
Begitu pula dengan Maryam, ibu dari Nabi Isa as.
Di alam kubur, Maryam mendapatkan tempat yang nyaman.


Kisahnya

Nabi Isa as ini pernah merasakan kehilangan yang sangat luar biasa.
Bagaimana tidak, pada saat ibunda tercintanya meninggal, Nabi Isa as tidak berada di sisinya.

Maryam menghembuskan nafas terakhirnya di atas sebuah gunung.
Pada saat itu, Nabi Isa as merasakan kehampaan yang luar biasa. Sosok ibu yang sangat beliau sayangi dan selalu menjadi teman curhatnya telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Begitu sedihnya Nabi Isa as, hingga saat dirinya turun gunung untuk meminta bantuan kaum Bani Israil untuk mengurus jenazah ibunya, tapi tak seorang pun dari mereka yang bersedia membantu.
Nabi Isa as pun kembali naik ke atas gunung dimana jenazah ibunya berada.

Maryam Dimandikan Bidadari

Gelisah dan gelisah yang Nabi Isa as rasakan.
Namun tak lama setelah itu, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail agar tutun ke bumi dengan membawa serta bidadari untuk mengurus jenazah ibunda Nabi Isa as.

Setelah bertemu dengan para malaikat dan para bidadari, Nabi Isa as pun segera meminta pertolongan untuk memakamkan jenazah ibunya.
Saat itu, Malaikat Jibril berhadapan dengan Nabi Isa as dan berkata,
"Aku ini sebenarnya adalah Malaikat Mikail dan sahabatku ini adalah Malaikat Jibril. Aku sudah membawakan obat tubuh dan kain kafan dari Tuhanmu dan para bidadari cantik jelita sekarang sedang turun dari surga untuk memandikan dan mengkafani ibumu."

Begitu mendengar penuturan Malaikat Mikail tersebut, Nabi Isa as pun sangat bahagia.
Tak lama kemudian, Malaikat Jibril menggali kubur di atas gunung untuk makam Ibunda Nabi Isa as.

Ketika para bidadari telah sampai di bumi, mereka langsung memandikan dan mengkafani jenazah Maryam.
Setelah itu, jenazah Maryam dishalatkan kemudian dikuburkan.

Nabi Isa as pun berdoa kepada Allah SWT,
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau mendengar kata-kataku dan tidak sedikitpun urusanku yang tersenbunyi dari-Mu. Ibuku kini telah meninggal, sedangkan aku tidak menyaksikan sendiri ketika dia wafat. Olah karena itu, izinkanlah dia (Maryam) berkata sesuatu kepadaku."


Maryam Bahagia Dalam Kubur

Tak lama setelah Ibunda Nabi Isa as dimakamkan, Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya Aku telah memberi izin kepadanya."

Mendengar Firman Allah SWT tersebut, Nabi Isa as pun langsung pergi ke makam ibunya.
Setelah sampai di makam, Nabi Isa as berkata,
"Assalamuualaiki ya ibu, bagaimanakah dengan tempat pembaringanmu dan tempat kembalimu dan bagaiman pula kedatangan Tuhanmu?"

Betapa Sakitnya Saat nyawa Dicabut

Maryam berkata,
"Tempat pembaringanku dan tempat kembaliku adalah sebaik-baik tempat, sedangkan aku menghadap kepada Tuhanku, aku tahu bahwa Dia telah menerimaku dengan rela."
"Wahai ibu, bagaimanakah rasa sakitnya mati?" tanya Nabi Isa as.

"Demi Allah SWT yang telah mengutusmu sebagai nabi dengan sebenar-benarnya, belum hilang rasa pedihnya mati aku rasakan hingga sekarang. Demikian pula rupa Malaikat Maut yang belum hilang dari pandangan mataku. Alaikassalam, wahai kasih sayangku sampai hari kiamat," jawab Maryam yang mengakhiri percakapannya.

Nabi Isa as pun merasa lega karena ibundanya telah mendapatkan nikmatnya kubur.

Nabi Isa pada detik-detik terakhir meninggalnya Maryam, beliau turun gunung untuk mencari kayu bakar dan makanan yang digunakan untuk berbuka puasa nantinya.
Dalam riwayat lain, dijelaskan bahwa Maryam meminta penundaan untuk mati sampai kembalinya Nabi Isa as. namun permintaan tersebut ditolak dengan tegas oleh Malaikat Maut.

Ibunda Maryam meninggal pada saat sedang menunaikan shalat, dikira Nabi Isa as, ibunya tengah menjalankan shalat hingga Nabi Isa pun turut juga melaksanakan shalat hingga pagi menjelang.
Setelah pagi inilah Nabi Isa as baru sadar, bahwa ibunya telah berpulang ke Rahmatullah.
Subhanallah....

Wassalamu'alaikum wr. wrb.